Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Asap hitam pekat membakar kerongkongan. Bau daging terbakar dan jeritan warga Desa Lemah Salju menyatu dalam debu utara.
Mu Jin melangkah menembus kobaran api yang merayap di dinding kedai Lao Jiang. Langkahnya pelan, berat, dan tanpa rasa ragu. Di tengah jalan desa yang luluh lantak, sesosok pria bergaun sutra putih bertorehkan benang perak berdiri di atas tumpukan bangkai. Pria itu mengusap pedang gioknya yang bersimbah darah dengan kain bersih.
Feng Xiao.
Saat Feng Xiao memutar badannya dan menatap sosok yang keluar dari balik kabut asap, senyum angkuhnya mendadak membeku. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut yang brutal sebelum berubah menjadi amarah yang meledak-ledak.
“Kau... Cacing dari Lembah Nian?!” jerit Feng Xiao, suaranya melengking menembus deru api. “Bagaimana mungkin kau masih bernapas?! Aku sendiri yang melempar bangkaimu ke dasar jurang!”
Mu Jin tidak membalas. Matanya yang mati terkunci lurus pada wajah Feng Xiao. Tangan kanannya merayap ke belakang punggung, mencengkeram gagang pedang aneh bersegi empat pemberian Xia-er dan Lao Jiang.
SRET!
Besi tebal bersegi empat itu ditarik keluar dari sarung kulit serigalanya. Tanpa aura qi, tanpa pijakan indah, Mu Jin menerjang maju bagai binatang buas yang haus darah.
“Anjing sialan!” teriak Feng Xiao penuh kegetiran. Rasa malu karena pembalasan sang cacing tanah memicu seluruh tenaga dalam di tubuhnya.
BOOM!
Aura qi biru gelap meledak mengelilingi Feng Xiao. Dia melompat ke udara, meluncur turun bagai kilat dengan tebasan pedang giok yang membelah angin utara menjadi tiga gelombang tajam.
KLANG!
Mu Jin mengangkat besi tebalnya secara mendatar, menyanggah tebasan pertama. Benturan qi masif menghantam dada Mu Jin, membuatnya terdorong mundur tiga langkah hingga kakinya melesak ke dalam tanah beku. Darah segar langsung merembes dari sudut bibirnya, tapi matanya tidak berkedip sedikit pun.
Dengan dorongan tumit kirinya yang membumi, Mu Jin memutar pinggulnya secara masif, memanfaatkan tekanan dorongan musuh untuk mengayunkan pedang bersegi empatnya dari samping dalam lintasan setengah lingkaran.
WUSH. BRAK!
Feng Xiao menangkis dengan pedang gioknya, namun berat masif dari besi kaku Mu Jin yang didorong oleh seluruh bobot badannya memicu getaran hebat.
CRACK!
Tulang pergelangan tangan Feng Xiao berderak hebat. Pria bergaun putih itu terlempar dua meter ke belakang, matanya dipenuhi rasa syok yang teramat sangat. Gerakan Mu Jin tidak lagi seperti dua bulan lalu. Ayunan tukang kayu ini kini memiliki kepatuhan mendalam pada gravitasi dan tumpuan fisik yang teramat sempurna.
“Kau pikir bisa menang tanpa qi?!” Feng Xiao meraung gila. Dia memutar tubuhnya di udara, melancarkan Jurus Sembilan Kilat Awan Putih.
Puluhan kilatan tusukan pedang menyapu tubuh Mu Jin.
SRET! SRET! CRASH!
Kain mantel hitam Mu Jin terobek-robek. Daging di bahu, paha, dan rusuknya terbelah oleh angin qi yang tajam. Darah menyembur deras mengotori salju di sekitarnya. Namun, di tengah gempuran tusukan yang merobek fisiknya, Mu Jin tidak mundur satu tapak pun. Dia menggunakan rasa sakit itu sebagai penanda posisi musuh.
Saat pedang giok Feng Xiao menusuk dalam ke pundak kiri Mu Jin hingga menembus ke belakang, Mu Jin justru memajukan badannya.
Dia membiarkan pedang musuh tersangkut di dalam daging pundaknya.
“Apa?!” Feng Xiao terperanjat, matanya membelalak panik saat menyadari pedang gioknya tidak bisa ditarik kembali karena dijepit oleh otot keras dan jaringan luka Mu Jin.
Dengan senyum dingin tanpa rasa bersalah pada dirinya sendiri, Mu Jin mencengkeram lengan baju Feng Xiao memakai tangan kirinya yang bersimbah darah.
“Dua bulan di dasar jurang...” desis Mu Jin serak tepat di depan wajah Feng Xiao, “...mengajariku cara membunuh iblis.”
Mu Jin mengangkat pedang bersegi empatnya tinggi-tinggi dengan tangan kanan. Tanpa memedulikan rasa sakit di pundaknya, dia menghantamkan besi tebal itu lurus ke bawah, menggunakan seluruh hentakan punggung dan pinggulnya.
CRACK. SPLASH!
Sisi tumpul besi tebal itu menghantam bahu kanan Feng Xiao hingga remuk total. Feng Xiao menjerit histeris saat tulang belikatnya hancur menembus kulit.
Namun Feng Xiao belum menyerah. Dalam keputusasaan maut, dia melepaskan pukulan telapak tangan berselimutkan qi murni tepat ke dada Mu Jin.
DUK!
Mu Jin terlempar menghantam dinding gubuk yang terbakar hingga kayu-kayunya roboh menimbun tubuhnya.
Feng Xiao berdiri limbung, memuntahkan darah kental, memegang bahunya yang hancur dengan wajah pucat pasi. “Mati... kau harus mati...”
BAM!
Reruntuhan kayu terbakar itu meledak. Dari balik kobaran api, Mu Jin bangkit kembali. Baju hitamnya telah robek total, memperlihatkan dadanya yang berdarah dan hancur, namun genggamannya pada pedang bersegi empat itu sedikit pun tidak goyah.
Mu Jin melangkah maju menembus lidah api. Langkahnya tidak lagi menyerupai manusia, melainkan monster dari neraka yang menolak untuk tumbang.
Feng Xiao mencoba menarik pedangnya, namun tangan kanannya yang patah tak lagi bisa digerakkan. Ketakutan abadi merayap naik mencekik leher sang ahli beladiri elit.
Mu Jin mengayunkan besi tebalnya dalam jarak dekat.
BANG!
Tebasan horizontal kaku itu meremukkan leher dan rahang Feng Xiao. Kepala ahli beladiri elit Puncak Awan Putih itu terputar kaku sebelum tubuhnya tersungkur mati di atas salju yang bernoda darah.
Mu Jin berdiri diam di samping mayat musuhnya. Napasnya memburu parah, dadanya naik turun dengan darah segar yang terus menetes dari setiap luka di tubuhnya. Dia tidak bersorak. Dia hanya menatap ke arah kedai tua Lao Jiang yang kini telah rata dengan tanah ditelan kobaran api.