NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 10: MEMBUKA JALAN DAO

​Di kedalaman lorong batu yang dingin dan lembap, belenggu besi merantai tangan serta kaki Zhao Huo dan dua bawahannya. Hawa dingin dari dinding gua menyerap sisa-sisa energi fisik mereka, tetapi api dendam di dalam dada Zhao Huo justru membakar makin liar.

​Kring! Kring!

​Langkah kaki mereka diseret memaksa menuju kegelapan Tambang Batu Roh Bawah Tanah, tempat di mana para tahanan dipaksa memeras tenaga hingga meneteskan darah terakhir.

​"Semua ini... gara-gara bocah tengik itu!" raung Zhao Huo dengan suara serak, mengertakkan giginya hingga berdarah. Matanya membelalak penuh urat merah. "Tunggu saja... Begitu aku keluar dari tempat terkutuk ini, aku akan mengekstrak darahnya sampai kering!"

Dan 2 junior nya hanya bisa pasrah oleh hukuman ini, dalam benak merekapun merasakan hal yang sama kepada Xuan chen.

​Sementara itu, di pelataran atas Aula Teknik Bela Diri, Xuan Chen baru saja hendak berbalik pergi. Namun, sebuah suara berat dan dalam bergema dari arah ambang pintu paviliun yang rusak.

​"Anak muda, siapa namamu?"

​Xuan Chen menghentikan langkahnya, berbalik dengan tenang menatap pria tua bungkuk yang baru saja menyeret Zhao Huo tadi. Penguasa lantai luar ini menatap Xuan Chen dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

​"Xuan Chen, Tetua," jawabnya singkat tanpa gestur berlebihan.

​Tetua Penjaga Aula mengelus janggut tipisnya, menyapu pandangannya ke arah pilar batu yang retak, lalu menatap sapu bambu di tangan Xuan Chen. Sebuah senyuman misterius terukir di wajah tuanya.

​"Kau tidak melanggar aturan, bahkan secara tidak langsung membantuku membersihkan sampah sekte. Masuklah ke lantai satu. Kau diperbolehkan memilih satu buku teknik Bela Diri untuk Ranah Penempaan Tubuh secara gratis."

"kalau begitu terimakasih Tetua. Ucap Xuan chen singkat.

​Xuan Chen menangkupkan tangan pendek, melangkah menembus ambang pintu kayu berukir naga iblis.

​Interior lantai satu Aula Teknik Bela Diri begitu megah sekaligus menekan. Rak-rak kayu hitam berukuran raksasa berbaris rapi, memuat ribuan gulungan perkamen, lembaran kulit binatang, buku buku teknik beladiri dan batu slip informasi. Aroma kertas tua bercampur pendaran energi spiritual tipis memenuhi seluruh ruangan.

​Xuan Chen mulai melangkah di antara celah rak. Tangannya terangkat, membuka beberapa gulungan secara acak.

​Seni Tinju Penghancur Batu... Terlalu mengandalkan tenaga kasar tanpa efisiensi.

​Langkah Bayangan Iblis... Hanya mengandalkan tipu daya visual, mudah dibaca oleh mata yang tajam.

​Cakar Pemutus Daging... Gerakannya terlalu panjang, membuang momentum saat melawan musuh yang lebih cepat.

Pengektrak darah, pemakan jiwa neraka, tinju gunung kegelapan dan lain lain. Tapi tidak ada yang menarik perhatian nya.

​Satu jam... dua jam... hingga berjam-jam berlalu dalam keheningan aula. Xuan Chen terus berkeliling dari satu bagian ke bagian lain, namun tak satu pun teknik bela diri yang mampu menggerakkan hatinya. Baginya, teknik-teknik di tempat ini terasa kaku, penuh dengan batasan pola yang dibuat oleh praktisi masa lalu.

​Dari sudut ruangan, Tetua Penjaga Aula duduk santai di atas kursi kayu cendana. Matanya yang tajam tidak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Xuan Chen yang terus menggelengkan kepala seraya mengembalikan perkamen ke raknya.

​"Masih belum menemukan yang cocok, Bocah?" tanya Tetua Penjaga Aula, memecah keheningan ruangan.

​Xuan Chen menghentikan tangannya yang sedang memegang sebuah perkamen tua, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada yang sesuai dengan yang kucari, Tetua."

​Tetua Penjaga Aula terkekeh pelan, tawa seraknya bergema di antara pilar-pilar batu. Dia perlahan berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Xuan Chen dengan tangan terlipat di balik punggung.

​"Kalau begitu, jangan mencarinya lagi."

​Xuan Chen mengangkat kepalanya, menatap lurus mata sang Tetua dengan raut bertanya.

​"Di dunia kultivasi ini," lanjut Tetua Penjaga Aula dengan nada datar namun berbobot, "terlalu banyak orang yang menghabiskan seluruh hidup mereka hanya untuk mengikuti jalan yang telah dibuka oleh orang lain."

​Langkah kaki sang Tetua berhenti tepat tiga tapak di hadapan Xuan Chen.

​"Melihat seseorang menjadi kuat dengan pedang, mereka pun memikul pedang. Melihat seseorang mencapai puncak melalui pemurnian tubuh, mereka memeras fisik mereka. Namun mereka meremehkan satu hal..."

​Tatapan Tetua Penjaga Aula mendadak berubah sangat tajam, memancarkan Niat Membunuh dan keteguhan jiwa yang mendominasi.

​"Jalan Dao bukanlah peta yang sudah digambar untuk kau ikuti pelahapannya. Jalan itu... harus kau tebas dan buka sendiri!"

​Xuan Chen tidak menyela. Dia berdiri tegap, menyerap setiap kata yang keluar dari mulut pakar tua tersebut.

​"Terlebih lagi bagi seorang praktisi Jalan Iblis," sang Tetua menunjuk dada Xuan Chen dengan jarinya yang keriput. "Jika kau takut melangkah di jalan yang belum pernah dilalui oleh siapa pun, maka sejak awal kau tidak pantas menyebut dirimu seorang penganut kultivasi demonic!"

​Atmosfer di dalam aula terasa kian berat. Hawa dingin merayap di lantai batu, seolah alam sendiri mendengarkan ajaran tentang jalan kebebasan murni tersebut.

​"Jangan pernah bertanya apakah jalanmu benar atau salah. Jangan pula peduli apakah orang-orang di luar sana menganggap jalanmu sesat !" Tetua Aula tersenyum dingin. "Selama kau mampu berdiri tegap di atas jalan itu dan terus melangkah maju... maka itulah Dao-mu!"

​Pria tua itu memalingkan wajahnya, menunjuk ribuan manual teknik yang berderet di rak-rak raksasa.

​"Teknik-teknik di sini hanyalah senjata, sebuah alat bantu. Jangan biarkan sebuah senjata dikontrol oleh genggamanmu, dan jangan biarkan teknik menentukan siapa dirimu. Temukan terlebih dahulu jalan yang ingin kau tempuh... Setelah itu, barulah cari kekuatan yang mampu membantumu berjalan di atasnya."

​Tetua Penjaga Aula berbalik membelakangi Xuan Chen, melangkah pelan menuju pintunya kembali.

​"Jika tidak ada teknik yang diciptakan orang lain yang cocok untukmu... Maka ciptakanlah teknikmu sendiri."

​Keheningan meliputi lantai satu aula. Xuan Chen berdiri terpaku di tempatnya. Kata-kata sang Tetua bagaikan petir yang menyambar benaknya, menghancurkan keraguan dan pemikiran kaku yang sempat membelenggunya.

​Sebuah seringai dingin dan tajam perlahan mekar di wajah Xuan Chen. Binar keunguan di mata kirinya berkedip samar di balik kegelapan.

​"Teknik ciptaan orang lain memang hanya akan menjadi batasan bagi gerakanku sendiri," bisik Xuan Chen dengan suara tenang namun dipenuhi kepercayaan diri yang absolut.

​Xuan Chen menangkupkan kedua tangannya, membungkuk dalam ke arah punggung Tetua Penjaga Aula dengan rasa hormat murni dari dasar jiwanya.

​"Bimbingan Tetua bagaikan membuka tirai kegelapan di dalam benak hamba. Hamba mengerti... Seorang Penguasa tidak berjalan di bawah bayang-bayang teknik orang lain. Aku akan menempa teknikku sendiri lewat pertarungan darah!"

​Tetua Penjaga Aula menghentikan langkahnya sejenak, sudut bibirnya terangkat puas tanpa berbalik melihat Xuan Chen.

​"Bocah yang menarik... Pergilah. Dunia kultivasi menanti jalan darah yang akan kau ukir sendiri."

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!