NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Rindu yang Bukan Milikku

Malam itu, tidurku tak lagi tenang. Bukan karena ketakutan — melainkan karena mimpi yang aneh, begitu nyata hingga rasanya bukan lagi sekadar bunga tidur.

Aku berdiri di tempat yang asing namun terasa akrab: langit berwarna ungu kebiruan, bintang-bintang terlihat besar dan bersinar terang, bukan seperti di dunia ini. Di sekelilingku hamparan padang rumput yang luas, tertiup angin yang membawa aroma hujan dan bunga liar. Di kejauhan, ada bayangan sebuah rumah — rumah kecil yang hangat, tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya, namun hatiku berteriak: itu rumahku.

"Kau mulai merasakannya..." suara itu berbisik, lembut dan jauh, seakan datang dari balik cermin. "Duniamu memanggilmu pulang, Freya."

Aku terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi pelipis. Hati terasa perih, rindu yang begitu dalam menyergap — rindu pada tempat yang tak kukenal, rindu pada orang-orang yang tak pernah kutemui. Itu bukan rinduku. Itu rindu dari jiwa yang tertinggal di sana, di dunia asliku.

"Freya?" Arga terbangun karena gerakanku, segera mendekapku erat. "Ada mimpi buruk? Kau menangis..."

Aku menyentuh pipiku — basah. Air mata menetes tanpa kusadari. "Aku... aku tak tahu, Arga. Aku merindukan sesuatu. Sesuatu yang tak ada di sini. Rasanya... seperti ada bagian dari diriku yang terpisah, yang berteriak ingin kembali."

Arga terdiam. Ia mengusap rambutku pelan, tapi tangannya terasa tegang. "Apakah... itu berarti kau harus pergi?"

Pertanyaan itu begitu pelan, namun terdengar begitu berat, seakan kata-kata itu sendiri menyakitkan baginya.

"Aku tak tahu," jawabku jujur, suaraku bergetar. "Tapi aku belum mau pergi. Aku takut... semakin lama aku di sini, semakin kuat tarikannya. Seakan dunia ini bukan tempat yang seharusnya kutempati selamanya."

Pagi itu, suasana di meja makan terasa berat. Aku berusaha tersenyum, tapi pikiranku melayang terus ke mimpi semalam — langit ungu, rumah kecil, rasa rindu yang tak bisa kujelaskan. Ibu Arga menyadari perubahan itu. Setelah sarapan, ia mengajakku duduk di teras, memintaku menceritakan apa yang kurasakan.

"Freya, lihat mataku," ucapnya lembut namun tegas, menggenggam tanganku. "Kau merasa asing di sini, bukan? Seakan kau bukan bagian dari dunia ini, seakan ada tempat lain yang memanggilmu pulang."

Mataku membelalak. "Ibu... bagaimana Ibu bisa tahu?"

Ibu Arga tersenyum sedih, menatap ke arah taman yang mulai disinari matahari. "Dulu... sebelum aku menikah dengan ayah Arga, aku pernah mendengar kisah serupa. Bahwa ada jiwa-jiwa yang tersesat, yang melintasi batas dunia untuk mencari sesuatu — entah itu cinta, entah itu tujuan. Tapi harga yang harus dibayar... adalah keterikatan pada tempat asalnya. Semakin lama di sini, semakin kuat tarikan pulang."

"Apakah... aku harus kembali?" tanyaku, air mata mulai menetes. "Lalu bagaimana dengan Arga? Bagaimana dengan kita?"

"Belum tentu," jawabnya cepat, mengusap air mataku. "Ada cara untuk tetap tinggal. Tapi harganya sering kali mahal. Dan tak semua orang sanggup membayarnya."

Pikiranku menjadi kacau sepanjang hari. Setiap kali menatap cermin, aku bertanya-tanya: siapa aku sebenarnya? Apakah aku Freya dari dunia ini, atau hanya jiwa asing yang meminjam tubuh orang lain? Dan jika aku pergi... apa yang akan terjadi pada Arga? Pada Ibu? Pada kisah ini?

Sore itu, aku duduk sendirian di tepi kolam ikan, membiarkan air yang tenang memantulkan bayanganku. Angin berhembus pelan, dan tiba-tiba — di permukaan air itu — bayanganku berubah. Sekilas saja, tapi aku melihat wajah lain: wajah yang lebih muda, dengan mata yang berwarna lebih terang, pakaian yang berbeda. Itu wajahku... di dunia asliku.

"Freya!"

Suara Arga memecah lamunanku. Bayangan itu lenyap seketika, kembali menjadi wajahku yang biasa. Ia berlari mendekat, tampak cemas luar biasa. "Kau tidak apa-apa? Tadi... tadi seakan kau menghilang."

"Aku baik-baik saja," jawabku pelan, meski hatiku masih berdebar kencang. "Hanya... sedikit pusing."

Arga duduk di sampingku, memeluk bahuku. "Ada sesuatu yang berubah padamu, sejak beberapa hari ini. Kau semakin sering melamun, semakin sering terlihat jauh. Apakah karena mimpi itu?"

Aku mengangguk pelan, lalu menceritakan semuanya — mimpi itu, rasa rindu yang bukan milikku, bayangan di air tadi. Ia mendengarkan dengan saksama, wajahnya perlahan berubah serius.

"Jika kau pergi..." bisiknya setelah aku selesai bercerita, suaranya bergetar. "Aku tak tahu apa yang akan kulakukan. Dunia ini tanpa kau... rasanya tak ada artinya lagi."

"Tapi aku tak mau pergi," potongku cepat, menatapnya dalam. "Aku memilih di sini, Arga. Bersamamu. Bahkan jika harus melawan takdir sendiri."

Ia menunduk, mencium punggung tanganku. "Kalau begitu, kita cari caranya. Apa pun harganya. Kita cari cara agar kau bisa tetap di sini. Bersamaku. Selamanya."

Namun malam itu, mimpi itu kembali — lebih jelas, lebih nyata. Kali ini, aku mendengar suara orang-orang memanggil namaku. Bukan nama yang kukenal di sini, melainkan nama lain — nama asliku. Dan saat aku terbangun, aku merasa tubuhku semakin ringan, seakan bagian dari diriku perlahan mulai memudar.

Aku menatap Arga yang sedang tidur lelap di sampingku, wajahnya yang tenang tampak begitu damai. Dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Bagaimana jika aku harus meninggalkannya? Bagaimana jika cinta kami ternyata tak cukup kuat untuk melawan batas dua dunia?

 

Mau lanjut ke Bab 27? Arga mulai menyadari perubahan pada Freya — suaranya yang terdengar semakin pelan, bayangannya yang kadang menghilang, dan ia bertekad mencari jawaban apa pun risikonya... 🔍✨

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!