NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.1k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Hasil Tes DNA

"Dia berani cerai?! Besok Ibu datang ke sana!"

Bu Sumini tidak menunggu besok.

Pagi belum sampai pukul delapan ketika pintu apartemen Raka dihantam dari luar. Bukan diketuk. Dihantam. Tiga kali, keras, seperti orang yang merasa seluruh gedung harus tahu kemarahannya.

"Raka! Buka pintu!"

Raka berdiri di ruang tengah dengan kemeja lengan pendek dan secangkir kopi hitam. Di meja, map hitam sudah disusun rapi. Kamera di sudut ruangan menyala tanpa suara, menatap pintu seperti mata dingin yang sabar.

Ia membuka pintu.

Bu Sumini masuk lebih dulu tanpa izin. Budi menyusul di belakangnya, masih memegang pergelangan tangan yang kemarin dibuatnya malu. Ratna masuk terakhir dengan wajah pucat, tetapi matanya penuh peringatan.

"Kamu sudah keterlaluan," Bu Sumini langsung menunjuk wajah Raka. "Cerai? Kamu pikir Ratna barang yang bisa kamu buang?"

Raka menutup pintu.

"Duduk."

"Jangan perintah Ibu!"

"Kalau Ibu mau berteriak di lorong, saya panggil satpam."

Budi mendengus. "Mas Raka sekarang hobinya ancam orang, ya?"

Raka menatapnya.

Budi langsung mengalihkan mata.

Bu Sumini duduk dengan kasar, tetapi bukan karena menurut. Ia butuh posisi untuk menyerang lebih lama. Ratna berdiri dekat jendela, tangannya menggenggam ponsel terlalu kuat.

"Kamu sengaja tutup pintu?" Bu Sumini melirik ke arah lorong yang baru saja tertutup. "Kenapa? Takut tetangga dengar?"

"Saya menutup pintu karena ini urusan pribadi."

"Kemarin kamu biarkan orang lihat Budi dipermalukan."

"Kemarin Budi membawa masalah ke lobi."

"Hari ini Ibu bawa kebenaran ke rumahmu."

Raka meletakkan cangkir kopi di meja. Bunyi porselen kecil itu terdengar terlalu jelas.

"Kebenaran?"

"Kebenaran bahwa kamu lupa diri. Dulu kamu datang ke keluarga kami dengan tangan kosong. Ratna menerima kamu. Ibu menerima kamu. Sekarang setelah punya uang, kamu buang istri sendiri."

Budi cepat menyambung, seperti anak kecil yang melihat ibunya mulai menang. "Betul, Mas. Orang kampung kalau tahu, pasti bilang lo nggak tahu balas budi."

Raka memandang Budi sebentar. "Kampung mana yang kamu maksud? Yang kontaknya hampir kamu cemari dengan utang judi?"

Wajah Budi langsung menutup.

Ratna menggigit bibir. "Raka, jangan bawa itu lagi."

"Kalian datang untuk bicara moral. Aku hanya memastikan semua contoh moral lengkap."

Bu Sumini memukul sandaran sofa. "Jangan putar balik! Masalah Budi beda. Masalah utama, kamu mau meninggalkan istri dan anak."

Di luar pintu, langkah seseorang berhenti sebentar. Mungkin tetangga. Mungkin satpam yang lewat. Bu Sumini sengaja menaikkan volume, berharap dinding tipis apartemen bekerja seperti pengeras suara.

Raka berjalan ke pintu, membuka sedikit, lalu berkata ke lorong, "Tidak ada masalah keamanan. Terima kasih."

Langkah di luar menjauh.

Ia menutup pintu lagi dan menguncinya.

Bu Sumini tampak kesal karena panggung kecilnya hilang.

"Cabut permohonan itu," kata Bu Sumini. "Kamu masih suami Ratna. Kamu wajib menafkahi istri dan anak."

"Anak?"

Satu kata itu membuat Ratna tersentak.

Bu Sumini tidak menyadarinya. "Nila! Anakmu! Kamu mau lari dari tanggung jawab? Laki-laki macam apa kamu?"

Raka berjalan ke meja.

Ia tidak menaikkan suara.

Justru karena itu, ruang tengah terasa semakin sempit.

"Saya beri kesempatan terakhir. Jangan pakai Nila untuk menekan saya."

Bu Sumini tertawa sinis. "Dengar itu, Ratna. Dia mulai tidak mengakui anak sendiri."

Ratna membuka mulut. "Bu..."

"Diam dulu!" Bu Sumini membentak anaknya, lalu kembali ke Raka. "Kamu pikir dengan punya mobil dan uang, kamu bisa buang keluarga? Nila itu darah dagingmu!"

Raka membuka map hitam.

Kertas pertama keluar.

Logo laboratorium.

Nomor laporan.

Tabel DNA.

Kesimpulan.

Ia meletakkan laporan itu di meja, mengarahkannya kepada Bu Sumini.

"Baca."

Bu Sumini melirik sekilas. "Ibu tidak mau baca omong kosong."

"Budi. Baca keras-keras."

Budi awalnya ingin menolak, tetapi mata Raka membuatnya menelan ludah. Ia mengambil kertas itu dengan tangan ragu.

"Ber... berdasarkan analisis DNA..." Suaranya tersendat.

Ratna memejamkan mata.

Budi membaca lebih pelan, lalu semakin pelan, sampai hampir hanya berupa napas.

"Individu laki-laki yang diuji tidak dapat dinyatakan sebagai ayah biologis dari anak yang diuji."

Ruang tengah mati.

Tidak ada suara jalan.

Tidak ada suara tetangga.

Bahkan napas Bu Sumini seolah berhenti di tenggorokan.

Raka menarik kursi dan duduk.

"Nila bukan anak kandung saya."

Bu Sumini menatap Ratna.

"Ratna?"

Ratna tidak menjawab.

Satu detik diam dari Ratna lebih telak daripada pengakuan panjang.

Budi meletakkan laporan itu seperti kertasnya bisa membakar tangan. "Mbak... ini bener?"

Ratna mulai menangis.

Bukan tangis bersalah. Tangis orang yang akhirnya melihat lubang di bawah kakinya.

"Raka, dengarkan dulu..."

"Aku sudah mendengar bertahun-tahun."

"Aku bisa jelaskan."

"Kamu bisa jelaskan kepada pengacaramu."

Bu Sumini bangkit tiba-tiba. "Tidak mungkin! Pasti palsu! Kamu rekayasa!"

Raka menggeser halaman berikutnya: tanda tangan laboratorium, cap, nomor sampel, dan struk pembayaran resmi.

"Silakan bantah di Pengadilan Agama. Pengacara saya akan membawa dokumen aslinya."

"Kamu jahat!" Bu Sumini memukul meja. "Anak sekecil itu mau kamu telantarkan?"

"Saya tidak membenci Nila."

Suara Raka tetap rendah, tetapi kali ini ada besi di dalamnya.

"Tapi saya tidak akan membiarkan kalian memakai anak yang bukan darah saya untuk memeras nafkah dari saya."

Budi tiba-tiba menyambar laporan itu.

Gerakannya cepat untuk ukuran orang panik.

Tetapi bagi Raka, lambat.

Tangannya bergerak, mendorong dada Budi dengan satu telapak.

Budi terlempar mundur ke sofa dan jatuh terduduk. Tidak luka. Hanya harga dirinya yang pecah untuk kedua kalinya.

"Jangan sentuh bukti."

Budi memegangi dada, wajahnya pucat. "Mas... gue cuma..."

"Kamu cuma mencoba menghilangkan masalah yang tidak bisa kamu bayar."

Ratna akhirnya jatuh berlutut.

"Raka, jangan sebarkan. Tolong. Jangan biarkan orang tahu."

Bu Sumini menatap anaknya dengan mata melebar. "Jadi benar?"

Ratna menangis lebih keras.

Jawaban itu cukup.

Bu Sumini duduk kembali, perlahan, seperti tulang di tubuhnya tiba-tiba kehilangan kawat penyangga.

Wanita yang kemarin masih meneriakkan kewajiban, keluarga, tetangga, dan martabat itu sekarang menatap kertas di meja tanpa suara.

Raka memasukkan laporan kembali ke map, meninggalkan satu salinan ringkas di meja.

"Dengar baik-baik. Mulai hari ini, jangan bicara soal hak asuh dan nafkah."

Ratna menggeleng sambil menangis. "Raka, aku mohon..."

"Kamu masih bisa memilih. Selesaikan perceraian ini dengan tenang, atau buat semuanya masuk catatan sidang."

Ia berdiri.

Ratna meraih ujung celananya.

"Jangan umumkan. Demi Nila."

Raka menarik kakinya pelan, bukan kasar.

"Aku tidak pernah ingin menghukum Nila."

Ia berjalan ke pintu kamar, mengambil jaket, lalu menuju pintu keluar. Sebelum pergi, ia menoleh ke tiga orang yang dulu memakan hidupnya sambil menyebut diri keluarga.

"Yang aku hukum adalah kebohongan."

Pintu tertutup di belakangnya.

Di ruang tengah, Ratna masih berlutut.

Budi duduk kaku di sofa, tidak berani menyentuh kertas lagi.

Bu Sumini duduk sendiri di sisi meja, untuk pertama kalinya tampak seperti orang yang kalah.

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!