NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Setelah layar ponsel mati dan tak ada balasan lage. Anya menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya.

Bibah yang sejak tadi menyimak interaksi itu dengan polos. tiba-tiba menarik ujung baju Anya. "Kak Anya punya ibu juga toh? Kirain Kakak gak punya ibu."

Anya kembali berjongkok, mengusap lembut puncak kepala anak itu. "Punya dong, Sayang. Ibu Kakak adalah ibu paling hebat di dunia."

Bu Mimi menghapus sisa air mata di sudut matanya menggunakan ujung jilbab. Ketika ia berbalik menatap anak-anak kosnya, sorot matanya telah berubah, penuh tekad dan keberanian. "Sudah! Kita tidak boleh kalah oleh rasa takut ini."

Ia memandangi sekeliling panti; ke arah anak-anak yang masih bermain riang, lalu ke arah pagar besi yang berkarat. "Kalo makhluk itu menggunakan cara licik, dan mengancam lewat anak-anak... maka kita akan melawannya dengan doa."

Bu Mimi mengepalkan tangannya kuat-kuat."kalo dia muncul lagi, kita hadapi dia. Tapi dengan cara kita, bukan mengikuti permainan petak umpetnya."

Tio bertanya dengan nada suara yang merendah, "Caranya bagaimana, Bu?"

Bu Mimi meraba seuntai tasbih kayu yang selalu ada di dalam saku gamisnya. "Ibu punya kenalan seorang ustadz. Nanti siang Ibu akan meminta bantuan beliau. Kita gelar tahlil kecil-kecilan di kosan nanti malam. Sekalian kita pagari rumah dengan doa-doa."

Tio langsung mengangguk mantap. "Berarti, sekarang kita harus menghadapinya secara terang-terangan ya, Bu?"

"Ya! Kita hadapi secara terbuka. Setan itu makhluk yang paling pengecut kalau berhadapan dengan orang-orang yang beramai-ramai menyebut nama Allah."

Wulan dan Tari saling berpandangan. Ada sisa keraguan di mata mereka, Tapi terselip pula rasa lega yang mulai mengembang. "Berarti... nanti kita semua harus naik ke lantai dua, Bu?" tanya Wulan memastikan.

"Iya, kita semua. Tapi kita ke sana bukan untuk bermain," jawab Bu Mimi tegas sambil menatap Anya. "Kita akan membuat majelis zikir di dalam kamar itu. Kita bacakan ayat-ayat Al-Qur'an bersama-sama, dan kita niatkan sedekah atas nama Minar. Biar arwah itu tahu, kita di sini bukan sebagai musuhnya, melainkan untuk membantunya lepas dari ikatan dunia."

Anya menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu Bu Mimi. "Iya, Bu. Aku ikut."

Bibah yang sejak tadi diam mendengarkan, mendadak kembali menarik lengan Anya. "Kak Anya... nanti malam aku boleh ikut naik ke atas tidak? Aku mau bantu berdoa."

Seketika itu juga, suasana di halaman belakang menjadi hening. Anya buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memeluk tubuh kecil Bibah dengan erat. "Gak usah, Sayang. Kamu main di sini saja sama teman-teman yang lain. Cukup doakan Kakak dari sini ya, biar doanya sampai ke langit."

Bibah mengangguk dengan polos khas anak-anak. "Iya, Kak. Bibah doakan Kak Anya menang ya main petak umpetnya!"

Dada Anya terasa nyeri bagai dihantam benda tumpul. namun ia tetap memaksakan seulas senyum terbaiknya. "Amin."

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika mereka berjalan kembali menuju rumah kos. Sepanjang perjalanan menyusuri gang demi gang, tidak ada lagi kejadian aneh yang meneror. Hanya ada sengatan matahari yang terasa kian terik membakar kulit. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Bu Mimi langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor.

"Assalamualaikum, Ustadz Haris... Iya, ini saya, Mimi. Maaf mengganggu waktunya, Ustadz. Apakah nanti malam setelah isya Ustadz bisa meluangkan waktu untuk datang ke kosan saya? Ada hal mendesak yang sepertinya perlu diruquyah."

Dari seberang speaker ponsel, sebuah suara berat dan berwibawa terdengar. "Insya Allah, Bu Mimi. Nanti malam setelah isya saya akan langsung meluncur ke sana."

Bu Mimi mengembuskan napas lega seraya menutup sambungan telepon. "Alhamdulillah..."

Hari itu dihabiskan dengan kesibukan yang padat. Tari bergegas pergi ke pasar terdekat untuk membeli lima kilogram beras dan beberapa ekor ayam untuk diolah, rencananya akan disedekahkan kepada tetangga sekitar kosan. Serra dan Wulan sibuk membersihkan ruang tamu, menyapu sisa debu lalu menggelar tikar pandan berukuran besar. Sementara itu, Tio berjalan menuju masjid jami di ujung gang, menitipkan pengumuman kepada takmir untuk acara tahlilan nanti malam.

Lalu, di mana Anya?

Gadis itu memilih duduk di pojok ruangan yang remang. Jemarinya yang kurus bergerak perlahan, mengelap sampul Al-Qur'an kecil berwana hijau miliknya. Tangannya memang masih menyisakan getaran halus akibat trauma subuh tadi, namun sorot matanya kini jauh lebih tenang. Ia siap menghadapi apa pun yang menunggunya di lantai atas nanti malam.

Malam pun tiba lebih cepat dari perkiraan mereka. Selepas Isya, suasana di kos-an berubah drastis. Wangi gurih semur ayam dan nasi hangat yang dimasak Tari siang tadi. kini memenuhi ruangan, siap dibagikan kepada tetangga sekitar setelah tahlilan selesai. Tikar pandan besar sudah digelar penuh di ruang lantai satu. Tio, Wulan, dan Serra duduk merapat di dekat pintu depan, sementara Bu Mimi dan Anya menunggu dengan gelisah di dekat tangga.

Pukul delapan malam, pintu depan diketuk.

Tok... tok... tok...

Tio bergegas membukanya. Sosok berwibawa dengan baju koko putih, sarung tenun, dan peci hitam berdiri di sana. Di tangannya ada sebuah tas kecil berbahan kain. Dialah Ustadz Haris.

"Assalamualaikum," sapa Ustadz Haris tenang.

"Waalaikumsalam. Silakan masuk, Ustadz," jawab Bu Mimi, wajahnya langsung memancarkan rasa lega yang teramat sangat.

Setelah berbincang singkat dan meneguk teh hangat yang disediakan, Ustadz Haris menatap kelima anak muda dan Bu Mimi secara bergantian. Pandangannya Berhenti agak lama pada Anya. Tatapan mata pria paruh baya itu seolah sedang membaca kabut gelap yang samar-samar mulai mengikat erat di pundak sang gadis.

"Niat kita ke sini untuk beribadah dan menolong sesama makhluk Allah," kata Ustadz Haris. Suaranya berat,Tapi mengalirkan rasa damai yang meneduhkan di dada mereka. "Jangan ada rasa benci, jangan ada rasa dendam. Kita bacakan Yasin untuk membersihkan tempat ini, sekaligus mengirimkan doa untuk almarhumah Minar agar jalannya dilapangkan. Paham?"

"Paham, Ustadz," jawab mereka serentak.

"Baik. Sekarang baru jam delapan lewat. Kita bersihkan lantai satu dulu dengan tahlil bersama tetangga sekitar... Setelah itu, baru kita naik ke atas sebelum jam dua belas malam."

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!