Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb24
Sian uring-uringan menanti kabar Ryn yang tak kunjung pulang ke flatnya. Jun baru saja menerima telepon dari anak buahnya menghampiri Sian.
"Tuan, orang kita melihat kemunculan Vick Zhu di sekitar rumah sakit tampat terakhir nona Ryn berada." Mendengar penjelasan Jun langsung membuat Sian naik pitam. Pasalnya Vick bisa saja menyakiti Ryn meski keduanya memiliki ikatan keluarga.
"Kita ke Villa keluarga Zhu." Putus Sian akhirnya, dia tetap harus menjemput Ryn meski kekasihnya tidak mau.
"Baik tuan." Jawab Jun kemudian memimpin jalan menuju mobil mereka. Sian ternyata tinggal di hotel tak jauh dari restoran.
***
Ryn duduk di balkon di kamar tamu, menikmati pemandangan sore hari menampakkan senja di langit Taichung. Segelas coklat panas Vick letakkan di atas meja lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Papa sangat terpukul dan menyalahkan diri sendiri setelah mengetahui perlakuan ibumu." Vick memulai percakapan tanpa basa-basi. Sekilas ia melirik ingin tahu perasaan Ryn dari raut wajahnya.
"Kau harus percaya kalau papa pasti sangat menyayangimu andai dia tahu kehadiranmu lebih awal Zhu Ryn." Lanjut Vick.
"Namaku Zhao Ryn." Potong Ryn membetulkan panggilan Vick padanya. Vick hanya menghela nafas mendengarnya.
"Minumlah, kau harus tenang menghadapi semuanya." Tepat setelah Vick bicara terdengar suara klakson mobil memekakan telinga. Seakan tidak sabar meminta gerbang segera dibukakan.
"Sepertinya dia sangat takut aku menikahimu." Ryn menatap tajam Vick yang hanya menyeringai menggodanya.
"Biar aku yang turun, lagi pula aku harus pulang." Ryn berdiri dari duduknya kemudian turun ke lantai satu diikuti oleh Vick dibelakangnya.
"Ryn mau kemana?" Nyonya Vennie keluar dari kamar Zhu Ma melihat Ryn terburu-buru.
"Aku harus pulang, nyonya ini bukan rumahku dan aku tidak bisa menginap." Jawab Ryn apa adanya. Lalu perhatian mereka teralihkan oleh kemunculan Zhu Ma dengan tongkat penopang di sebelah kiri.
"Ryn..." Sapanya lemah, Vennie bergeser agar sang suami bisa menatap anak kandungnya. Tangan Zhu Ma terulur ingin menyentuh Ryn yang mundur selangkah menghindarinya.
"Dokter Zhu, aku turut prihatin atas kondisimu. Semoga anda lekas pulih." Setelah mengucapkannya Ryn berbalik pergi meninggalkan mereka.
Rasanya perih, hati Ryn teriris mengingat ayah kandungnya tidak mengetahui kehadiran Ryn di dunia ini. Ryn mungkin tidak bisa membenci Zhu Ma karena sikapnya yang bertanggung jawab. Tapi untuk menerima Ryn juga belum siap.
Sian berdiri di luar gerbang menanti Ryn keluar. Rupanya mereka membiarkan Ryn pergi jadi dia tidak perlu melakukan kekerasan demi membawa Ryn.
"Hey... Ada apa?" Sian menangkup pipi Ryn ketika keduanya saling berhadapan, khawatir melihat kondisi Ryn yang habis menangis.
"Sian, aku memiliki papa. Dia benar papaku?" Ryn terisak mengadu pada Sian layaknya anak kecil minta dibelikan gulali. Sian lantas memeluknya erat memberi ketenangan.
"Ya, kau benar. Kau memiliki ayah yang hebat Zhao Ryn. Dia sangat merasa bersalah tidak mengetahui kehadiranmu di hidupnya selama ini. Dia juga sedih atas perlakuan ibumu." Sian mengusap punggung Ryn beberapa kali. Kekasihnya masih terdengar terisak.
"Aku ingin kembali ke Jasata Sian, tolong ajak aku." Putus Rin, dia masih sungkan berada di sekitar Zhu Ma dan keluarganya. Apalagi Ryn memiliki dendam pada Vick karena dia telah melukai Ryn dengan sangat kejam. Ryn sendiri heran pria itu tiba-tiba saja menjadi sok baik terhadapnya.
"Tentu, kita akan pulang bersama Zhao Ryn." Sian lega karena Ryn akhirnya bersedia ikut dengannya. Agar ia lebih mudah menjaga Ryn jika tidak berpisah seperti sebulan yang lalu.
Dalam perjalanan Ryn tertidur dalam pelukan Sian. Sian benar-benar tenang ketika Ryn tidak lagi menyebut perpisahan antara mereka. Karena sampai kapanpun Sian ingin tetap bersama wanita di sampingnya itu.
Tanpa terusik sama sekali, Sian menggendong Ryn menaiki pesawat pribadi yang akan membawa ketiganya ke ibukota. Baru setelah Sian mendudukkan Ryn, wanita hamil muda itu terbangun.
"Kita naik pesawat? Aku tidak mau Sian, lebih baik pakai mobil saja." Ryn takut naik pesawat, jika mengalami turbulensi akan sangat berbahaya bagi kehamilannya.
Sian yang melihat Ryn buru-buru keluar cukup bingung namun tetap menuruti kemauannya. Padahal pesawat sebentar lagi lepas landas.
Usai menempuh empat jam perjalanan darat mobil yang membawa Sian dan Ryn akhirnya memasuki kediaman mewah Lee Sian. Ryn melepaskan rangkulan Sian lalu buru-buru keluar karena rasanya ia sudah tidak tahan ingin muntah.
Sian segera menghampiri, mengambil sebagian rambut Ryn agar tidak terkena kotor.
"Tuan sepertinya nona mabuk kendaraan, perlu aku panggil dokter Lea?" Jun menyerahkan sebotol minuman pada Sian untuk Ryn.
"Tidak perlu." Tolak Ryn cepat, kedua pria di hadapannya memandang heran. "Ini hanya masuk angin, besok aku akan pergi sendiri menemuinya." Lanjut Ryn tak ingin membuat mereka curiga.
"Baiklah, Jun tetap akan mengantarmu. Kita masuk sekarang." Ryn bernafas lega karena Sian maupun sang asisten tidak curiga sedikitpun tentang keadaannya.
'Sian, maafkan aku. Aku terlalu pengecut untuk lebih berani berdiri disampingmu. Biarkan Tuhan menentukan segalanya.'
Tidak ada yang berubah Ryn perhatikan di kediaman Sian, hanya auranya saja yang semakin mencekam mengingat sumber ketenangan sang tuan rumah telah lama pergi. Namun malam itu, wajah Sian memancarkan kebahagiaan malu-malu. Genggaman pada tangan Ryn tak pernah lepas sejak tadi.
"Ingin tidur dimana?" Pertanyaan Sian tentu membuat pipi Ryn bersemu, bagaimana tidak? Mereka, anak buah Sian menyaksikan interaksi keduanya.
"Aku ingin tidur sendiri." Jawab Ryn bergegas naik tangga menuju kamar tamu yang biasa ia tempati.
"Pearly, buatkan sup yang bisa membuat perutnya nyaman. Ryn mabuk perjalanan." Titah Sian sebelum menyusul naik, Pearly tersenyum menunduk lalu menyampaikan pesanan tuan rumah ke juru masak.
Ryn duduk di tepi ranjang menatap kedatangan Sian. Entah siapa yang memberi sinyal hingga mereka kini sudah saling bertukar saliva dengan posisi Sian diatas Ryn.
Ryn bohong jika tidak merindukan sentuhan Sian. Dia merasa sangat istimewa bisa dekat dengan pria itu. Bahkan kini dirinya tengah mengandung darah dagingnya.
"Kau tahu, aku hampir kehilangan akal dan separuh diriku saat kau pergi. Tetaplah bersamaku Zhao Ryn!"
"Ya Sian, aku tidak akan pergi." Bisik Ryn ditengah rasa menahan sesuatu yang hampir meledak. Sian memeluk Ryn erat ketika menghentakkan miliknya keras dan berkali-kali.
Pergulatan panas itu sangat menguras tenaga keduanya karena Sian tak akan pernah cukup memasuki Ryn sekali. Pearly bahkan tak berani mengetuk pintu usai tanpa sengaja mendengar suara laknat didalam kamar.
"Halo tuan," Sapa Jun setelah panggilannya diangkat Sian.
"Katakan!" Perintah Sian beranjak menuju balkon agar tidur Ryn tidak terganggu olehnya.
"Tuan Zhu Ma mengajukan jaminan untuk Nyonya Zhao Yun." Ucapnya memberi kabar yang bisa dikatakan buruk. Entah apa alasan ayah kandung Ryn melakukannya.
"Apa tanggapan Vennie? Kuharap dia menentangnya." Sian menyalakan korek api dan mulai menghisap nikotin.
"Sepertinya mereka memiliki perjanjian nikah. Proses gugatan cerai nyonya Vennie sudah masuk pengadilan." Terang Jun menjelaskan.
"Jangan biarkan Yuni mendekati Ryn." Jun sangat memahami kekhawatiran Sian terhadap keselamatan Ryn. Hanya Yuni ibu yang tega menyiksa putri kandungnya sendiri.
"Anak buahku akan berada di jarak aman." Jawab Jun tak ingin kecolongan seperti sebelumnya.
"Bagus. Kita lihat apakah kembalinya Zhu Ma bisa merubah sikap Yuni pada Ryn jadi sedikit lebih baik." Kata Sian penuh harap.
***
Sementara itu di sebuah kedai teh di dekat perbatasan kota Jasata, Yuni yang baru beberapa jam menghirup udara segar tampak duduk seperti orang linglung di dekat jendela.
Rupanya selama dikurung oleh Sian Yuni terkena mental. Namun terkadang dia histeris mencari keberadaan Ryn saat masih berada dalam tahanan. Perhatian Yuni teralihkan ketika lonceng pintu masuk berbunyi. Muncul sesosok pria yang sejak dulu sampai sekarang mengisi hati kecilnya.
"Apa kabar Yuni..." Sapanya berdiri di hadapan Yuni, belum ingin duduk sama sekali. Hatinya masih diliputi rasa sesal juga kecewa atas sikap ibu daripada anaknya itu.
Hilang tanpa kabar, menyembunyikan kehamilan hingga menyiksa buah hati mereka secara lahir dan batin.
"Untuk apa kau melakukan semua ini? Bukankah sudah ada istri dan anakmu? Jangan sampai aku di cap sebagai perusak rumah tangga. Aku lelah mendapat gelar madam demi bertahan hidup." Seolah menunggu sekian lama akhirnya Yuni bisa meluapkan emosi terendam pada sumber sakit hatinya secara langsung.
'Kaulah alasan aku menjadi gila, Ryn hanya korban.' gumam Yuni dalam hati tanpa berkedip menatap Zhu Ma.
Bukan Yuni tidak pernah menyayangi atau merasa bersalah pada Ryn. Sejujurnya Yuni sangat ingin Ryn membenci dirinya agar suatu saat nanti Ryn tidak berakhir menjadi sepertinya.
"Ini semua salahku. Tolong jangan lampiaskan pada Ryn,,," Suara Zhu Ma bergetar menahan tangis mengingat kembali setiap cerita yang Ryn sampaikan saat konseling.