NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Pengkhianatan dibalik nama keluarga.

‎Damian melangkah masuk, menutup pintu besi itu perlahan hingga terkunci rapat kembali. Ia berjalan menuju meja baja di tengah ruangan, lalu duduk di kursi di seberang Romano. Dengan tenang, ia meletakkan pistolnya di permukaan meja yang dingin itu, tidak mengarah ke siapa pun, hanya diletakkan di sana, namun kehadirannya terasa menekan.

‎‎"Kau yang minta bicara denganku langsung," kata Damian datar, nada bicaranya rendah, tidak beremosi, namun setiap kata terasa berat. "Sekarang aku di sini. Bicara."

‎‎Romano tertawa pelan, suara tawanya menggema pendek lalu mati di udara dingin ruangan itu.

‎‎"Langsung ya? Tidak ada basa-basi? Tidak ada ancaman penyiksaan dulu? Aku suka gaya kerjamu, Don."

‎‎Ia bersandar ke kursi besi yang keras itu, menatap lurus ke mata Damian tanpa sekalipun memalingkan wajah.

‎‎"Jujur saja. Aku bukan otak utamanya. Aku cuma anjing yang disuruh menggonggong ke arah mana pun tuannya menunjuk. Satu-satunya kesalahanku... aku terlalu rakus, dan terlalu cepat ingin menggigit tangan yang memberi makan."

‎‎Rahang Damian mengeras, urat di pelipisnya menonjol samar.

‎‎"Siapa yang menyuruhmu?"

‎‎Romano menggeleng pelan, rahangnya mengatup rapat seakan kata-kata itu tertahan di kerongkongan karena ketakutan yang lebih besar daripada ancaman Damian.

‎‎"Tidak bisa," bisiknya, suaranya turun setengah nada. "Kalau aku sebut nama itu sekarang, aku mati sebelum matahari terbit. Bukan cuma aku... istriku, anakku... mereka juga ikut mati. Orang itu tidak main-main, Don. Dia tidak segan-segan menghabisi satu keluarga sekaligus hanya untuk menutup mulut satu orang."

‎‎Damian menekan punggung tangannya ke permukaan meja baja hingga buku jarinya memutih. Kesabaran yang biasanya ia jaga dengan baik kini mulai menipis, terkikis oleh ketidakpastian yang semakin lama semakin menyesakkan.

‎‎"Jadi kau lebih memilih diam dan membiarkan orang lain terus jadi korban?" tanyanya, nada bicaranya masih rendah namun kini ada getaran amarah yang tertahan, menandakan batas toleransinya sudah hampir habis. "Kau pikir dengan diam seperti ini, kau melindungi keluargamu? Bagaimana kalau orang itu tetap menyakiti mereka meski kau sudah diam? Sekedar untuk memastikan kau tidak pernah bicara di kemudian hari?"

‎‎Romano menelan ludah, matanya berkedip gelisah, namun ia tetap bergeming. "Aku sudah buat perjanjian... selama aku diam, mereka aman."

‎‎"Perjanjian?" Damian tertawa singkat, getir dan dingin. "Dengan penjahat yang tidak punya prinsip apa pun? Kau percaya itu?" Ia berdiri perlahan, mencondongkan tubuh ke depan, menatap mata Romano tajam tanpa memberi celah sedikit pun. "Baiklah. Kalau kau begitu bersikeras melindungi orang di belakangmu, maka aku akan mengubah cara pandangmu."

‎‎Damian berhenti sejenak, membiarkan keheningan yang menekan itu meresap, sebelum melanjutkan dengan suara yang datar namun mematikan.

‎‎"Jam dua belas malam ini, konvoi akan berangkat. Dan kalau sampai saat itu juga kau masih bungkam... aku tidak akan memindahkanmu sendirian. Aku akan mengirim orang untuk menjemput istri dan anakmu yang masih kecil itu. Aku akan menyeret mereka ke sini, ke ruangan ini, dan membiarkan mereka melihat sendiri siapa ayah yang mereka miliki. Ayah yang lebih memilih melindungi musuh daripada menyelamatkan keluarganya sendiri."

‎Wajah Romano seketika berubah pucat pasi. Darah seakan mengalir keluar dari tubuhnya, meninggalkan ketakutan yang nyata di matanya. Ia menegang hebat, borgol di pergelangan tangannya berdentang keras saat ia menabrakkan punggungnya ke sandaran kursi.

‎‎"Jangan... jangan kau libatkan mereka!" suaranya meninggi, bergetar penuh kepanikan yang tak bisa lagi disembunyikan. "Mereka tidak tahu apa-apa! Anakku masih kecil, Don! Dia tidak bersalah!"

‎‎"Aku juga tidak mau melibatkan mereka," potong Damian tegas, tak bergeming sedikit pun melihat reaksi itu. "Tapi kau yang memaksaku. Kau membuatku tidak punya pilihan. Kau pikir hanya kau yang punya keluarga? Aku juga punya orang yang harus kujaga. Dan kalau kau tidak mau membuka mulut secara sukarela, aku akan membuatmu bicara dengan cara apa pun. Termasuk menggunakan satu-satunya kelemahan yang kau miliki."

‎‎Damian melangkah mundur perlahan, mengambil pistolnya kembali dan menyelipkannya ke pinggang. Langkah kakinya terdengar berat dan pasti menuju pintu baja itu.

‎"Kau punya waktu sampai jam dua belas malam, Romano. Pikirkan baik-baik. Apakah lebih baik menyelamatkan nama orang yang mungkin akan menghancurkanmu juga di kemudian hari... atau menyelamatkan nyawa dua orang yang benar-benar berharga bagimu? Pilihan ada di tanganmu."

‎‎Belum sempat tangan Damian menyentuh gagang pintu, suara Romano meledak membelah keheningan ruangan itu, bergetar, penuh keputusasaan, namun terdengar jelas dan tegas.

‎‎"MATTEO! Adik iparmu dalang di balik semua ini!"

‎‎Damian menghentikan langkahnya seketika. Tubuhnya kaku, punggungnya tegak namun tak berbalik seketika. Napasnya tertahan di kerongkongan, seakan kata-kata itu menembus punggungnya dan menghantam tepat di dadanya. Perlahan, sangat perlahan, ia berbalik badan. Tatapannya bukan sekedar amarah, melainkan campuran antara ketidakpercayaan yang mendalam dan kesedihan yang nyata.

‎‎"Matteo..." ulangnya pelan, hampir berbisik, seakan mencoba memastikan telinganya tidak salah dengar. "Kau yakin dengan apa yang kau katakan ini, Romano? Kau tahu konsekuensinya kalau kau menuduh salah satu keluarga Salvatore tanpa bukti yang kuat."

‎‎Romano menghela napas panjang, seakan beban berton-ton baru saja terangkat dari pundaknya, namun digantikan oleh ketakutan yang kini terlihat di matanya. Ia merosot kembali ke kursi besi itu, lemas namun matanya tak lepas dari wajah Damian.

‎‎"Aku tahu itu terdengar gila, Don. Aku pun awalnya tidak percaya. Tapi dialah yang mendekatiku, dialah yang menawarkan uang, koneksi, dan perlindungan atas nama klan besar yang kau percaya itu. Matteo yang menyuruhku menguasai pelabuhan, menyuruhku melakukan segala cara untuk meruntuhkan kekuasaanmu perlahan-lahan tanpa membuatmu curiga. Dia bilang... dia bilang kau terlalu lemah memimpin, dan dia pantas mengambil alih tempatmu."

‎‎Damian berdiri diam di tempatnya, mencerna setiap kata itu satu per satu. Meskipun ia tahu kecurangan Matteo, tapi ia tidak menyangka Matteo akan bertindak sampai sejauh ini.

‎‎"Di mana buktinya?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah namun serak. "Kau harus punya sesuatu yang lebih kuat dari sekedar kata-kata, Romano. Kalau tidak..."

‎‎"Ada rekaman telepon, ada dokumen perjanjian kerjasama yang ditandatangani namanya, ada transfer uang ke rekening perusahaanku..." Romano menyebutkan satu per satu bukti yang ia simpan di tempat aman. "Semua itu tersimpan di sebuah lokasi yang hanya aku yang tahu. Kalau kau mau melihatnya... kau harus menepati janjimu, Don. Lindungi istri dan anakku. Mereka tidak bersalah dalam semua ini."

‎‎Damian menatapnya lama, menimbang kebenaran yang kini terasa begitu pahit untuk diterima. Ia mengangguk pelan, keputusan itu terasa berat namun harus diambil.

‎"Baik. Aku akan tepati janjiku. Tapi ingat, Romano... kalau kau menambahkan tuduhan palsu untuk melampiaskan dendam pribadi... tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu dari kemarahanku."

‎‎"Semuanya nyata, Don. Kau akan lihat sendiri malam ini."

‎‎Damian berbalik kembali menuju pintu, kali ini langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena ancaman musuh di luar sana, tapi karena kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya ternyata bersembunyi di dalam rumahnya sendiri.

‎‎"Luca," panggilnya begitu pintu terbuka, suaranya kembali tegas namun ada bayangan kekesalan yang tertahan. "Siapkan pasukan pengawal tambahan. Dan pastikan jalur evakuasi aman. Kita pindahkan Romano dan keluarganya sekaligus malam ini. Dan Luca..."

‎‎"Ya, Don?"

‎‎"Jangan sampaikan soal nama Matteo kepada siapa pun dulu. Bahkan kepada adikku sendiri. Aku ingin menghadapinya sendiri... dan mendengar penjelasannya langsung dari mulutnya."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
jangan turutin Val
Mei Mei
semoga hp nya valentine di sadap biar Damian bisa tau Matteo dimn ,
Lembang Azam
udah sana ikuti suamimu yg penghianat itu,, biar kamu bisa melihat kbenaran klw mmg Matteo itu ingin menggantikan posisi damian😤
🔥Violetta🔥: Perlu dikasih faham dulu si Valen kak 🤭😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!