Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : KETIKA REYGA MULAI KEWALAHAN (BAGIAN 1)
...BAB 17...
...KETIKA REYGA MULAI KEWALAHAN...
...(BAGIAN 1)...
Sudah hampir satu bulan sejak Reyga dan Berry menemukan Bintang di tengah malam yang penuh kepanikan itu.
Hampir satu bulan pula bayi kecil tersebut tinggal bersama mereka.
Pagi itu, Reyga dan Berry kembali mendatangi kantor polisi.
Bintang berada dalam gendongan Reyga, sementara Berry berjalan di sampingnya membawa tas berisi perlengkapan bayi.
"Bagaimana, Pak?" tanya Berry setelah mereka berbicara dengan salah satu petugas.
Petugas menggeleng pelan. "Sampai sekarang masih belum ada perkembangan tentang kehilangan bayi ."
Reyga menatap Bintang, lalu menatap Berry. "Belum ada orang tua yang melapor?"
"Ya. Belum ada laporan yang cocok dengan identitas dan ciri-ciri bayi ini."
Berry menghela napas. "Sudah hampir sebulan."
"Tapi kami masih melakukan penelusuran," jawab petugas. "Kalian tetap harus bersabar."
Reyga mengusap kepala Bintang. Bayi itu justru tersenyum sambil memainkan ujung jaketnya. "Dia malah santai," gumam Reyga.
Berry tertawa hambar. "Dia nggak tahu kita yang stres."
Reyga menatap sahabatnya. "Kalau sampai beberapa minggu lagi belum ketemu?"
Berry hanya terdiam. Tidak ada yang bisa menjawab.
Setelah tak ada informasi lanjutan tentang Bintang. Keduanya keluar dari kantor polisi itu dengan wajah lesu.
Mereka hanya bisa membawa Bintang kembali ke apartemen.
Keesokan harinya, Berry mendapat telepon dari salah satu pekerjanya. Wajahnya yang semula santai langsung berubah serius.
"Ada masalah?" Ia mendengarkan beberapa saat. "Jangan ambil keputusan dulu. Gue datang."
Telepon pun ditutup. Reyga yang sedang bermain dengan Bintang menoleh. "Apa begitu parah?"
"Sedikit."
"Berapa lama?"
"Entahlah." Berry mengambil jaketnya yang tergantung di belakang pintu kamar. "Usaha yang gue kelola lagi ada masalah. Ada beberapa urusan yang harus gue bereskan langsung."
Reyga mengangguk. Ia sudah memahami pekerjaan Berry. Selama ini Berry memang lebih banyak mengawasi usaha milik ayahnya dari jauh. Namun kalau ada masalah yang menyangkut operasional, mau tidak mau ia harus turun tangan.
"Berarti gue sama Bintang lagi."
Berry tersenyum. "Lo kan sudah berpengalaman."
Reyga mendelik. "Pengalaman apaan?"
"Pengalaman jadi bapak."
"Ngawur, ngeledek aja Lo."
Berry tertawa. Ia menepuk bahu Reyga. "Gue mungkin beberapa hari nggak bisa balik."
Reyga melihat Bintang. "Terus kebutuhan dia?"
"Sudah gue siapkan."
Berry menunjuk lemari dekat TV "Popok, susu, makanannya, semuanya ada di lemari ini."
Reyga mengangguk. "Ya sudah, pergilah..."
Berry berjalan menuju pintu. Namun sebelum pergi, ia menoleh lagi. "Kalau lo kewalahan, Lo bisa cari Amelia biar dia bisa bantu Lo." tiba-tiba sarannya sambil tertawa.
Reyga mendengus. "Ngapain minta bantuan dia? Gue nggak bakal kewalahan."
Bintang tiba-tiba menangis.
"Baru juga gue mau pergi." Berry tertawa lagi sambil berjalan keluar. Pintu pun tertutup.
Reyga menatap Bintang. Bintang menangis keras. Reyga menghela napas.
"Jangan mulai Bintang..." keluhnya.
Alih mendiamkan. Tangisan Bintang semakin kencang. Reyga mengusap wajah. "Ya ampun."
*****
Di tempat lain, Amelia juga sedang menghadapi kesibukan. Ia masih berusaha mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Alessa.
Namun berkali-kali jadwalnya bentrok. Ternyata Alessa memang sangat sibuk.
Gadis itu bukan sekadar putri keluarga kaya yang bisa menghabiskan waktu dengan pesta dan berbelanja.
Alessa merupakan mahasiswi salah satu universitas ternama di kota itu. Jadwal kuliahnya sangat padat. Tugas dan kegiatan kampus. Pertemuan organisasi. Belum lagi urusan keluarga.
"Maaf, Mbak Amelia," ujar seseorang yang mengatur jadwal Alessa melalui telepon. "Untuk minggu ini jadwal Nona Alessa benar-benar penuh."
Amelia menghela napas. "Baik. Kalau begitu saya tunggu kabar selanjutnya."
Telepon ditutup. Amelia menatap kalender di mejanya. "Orang sibuk."
Namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia masih punya pekerjaan lain.
Dan dua hari kemudian, perhatian Amelia justru sepenuhnya tertuju kepada kedua adiknya.
Hari pembagian rapor tiba. Amelia datang ke sekolah dengan pakaian sederhana.
Karena ibunya tidak bisa datang karena kondisinya yang masih belum sehat. Amelia yang mewakili keluarga. Amelia berangkat dengan mobil kantor yang sejak dulu dipinjamkan atasannya.
Begitu masuk kelas, ia langsung disambut kedua adiknya.
"Kak Liaaa!" Dika berlari menghampiri.
"Sudah ambil rapornya?"
"Sudah." angguk Dika menyerahkan rapornya.
Amelia membukanya. Matanya langsung membesar. "Kamu juara satu?"
Dika tersenyum bangga. "Iyalah Kak."
Amelia langsung memeluk adiknya. "Hebat!"
Dika tertawa. "Kan Kakak pernah janji sama Dika."
"Janji apa?" tanya Amelia pura-pura lupa.
"Kalau aku juara kelas, Kakak bakalan beliin Dika sesuatu."
Amelia pura-pura berpikir. "Ooh... Masa sih?!"
Dika langsung cemas. "Kak!" kesalnya.
Amelia tertawa. "Iya, iya. Kakak ingat."
Tak lama kemudian Intan juga datang. "Kak, coba lihat raporku!"
Intan juga menyerahkan hasil nilainya. Amelia membacanya. Nilai Intan sangat bagus semua.
Bahkan termasuk yang terbaik dalam kelulusan SMP.
Amelia langsung memeluknya. Matanya berkaca-kaca haru. "Kakak bangga banget sama kalian berdua."
Intan tersenyum. "Kita jadi boleh beli sesuatu kan?" tagih Intan juga.
Amelia tertawa. "Iya boleh."
"Apa saja kan Kak?"
"Iya, asal yang masuk akal."
Dika dan Intan langsung bersorak. "Asyiik kita ke mall!"
Sore harinya, mereka bertiga berada di sebuah pusat perbelanjaan. Amelia tersenyum melihat kedua adiknya sibuk memilih barang yang mereka inginkan.
Meskipun kondisi keluarga mereka tidak berlebihan, Amelia masih memiliki sedikit tabungan.
Ia memang sengaja menyisihkan uang untuk bisa menyenangkan kedua adiknya.
Bagi Amelia, melihat mereka bahagia adalah kepuasan tersendiri.
"Jangan terlalu mahal," pesan Amelia.
Dika dan Intan mengangguk. "Iya."
Namun beberapa menit kemudian...
"Kak, yang ini boleh?"
"Itu berapa?" tanya Amelia.
Dika menyebutkan harga. Amelia langsung menghela napas. "Kakak bilang kan tadi jangan yang mahal."
Dika tertawa. "Kan cuma sedikit."
Intan ikut tertawa. Akhirnya Amelia menyerah juga. "Ya sudah kali ini saja ya." Dika tersenyum senang.
Tak lama kemudian, keduanya mendapatkan apa yang mereka mau.
Tapi tiba-tiba perjalanan pulang, perut Intan terasa lapar dan ingin makan ayam KFC.
Mereka kemudian mencari tempat untuk makan. Sebuah kafe di dalam mall terlihat cukup ramai.
Setelah pesan makanan dan hendak mencari tempat duduk, sontak Dika melihat Reyga.
"Hah, Kak Lia itu kan Reyga?! Tunjuk Dika.
"Mana?!" tanya Intan.
"Itu!" Dika menunjuk ke salah satu meja paling ujung.
Amelia mengikuti arah pandangan mereka. Dan ia langsung terdiam. Reyga... ucapnya dalam hati.
Lelaki itu duduk di meja dengan Bintang di kursi bayi. Di depannya ada semangkuk makanan bayi.
Namun ekspresi Reyga tampak seperti orang yang baru saja menghadapi ujian paling sulit dalam hidup.
Ia memegang sendok. Bintang menutup mulut rapat-rapat.
"Ayo Bin..." Reyga mencoba menyuapkan makanan. Namun Bintang selalu memalingkan wajah.
Reyga menghela napas. "Satu sendok saja ya." rayunya. Bintang tetap menutup mulut. "Setengah sendok."
Namun Reyga juga tidak berhasil menyuapinya.
Bersambung...