NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Tepat pukul delapan pagi, deru roda brankar yang dipacu perawat memecah keheningan koridor rumah sakit menuju ruang operasi.

Baskara berbaring dengan tenang, namun tatapan matanya tidak lepas dari Alena yang terus berjalan di sampingnya.

Begitu sampai di depan pintu ganda ruang operasi yang berwarna putih bersih, perawat berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi mereka berdua.

Alena menghentikan langkahnya, tangannya mencengkeram erat punggung tangan Baskara, seolah tidak ingin melepaskan suaminya ke dalam ruang operasi yang dingin itu.

"Bas..." panggil Alena dengan suara yang bergetar hebat. Rasa cemas akan prosedur operasi besar dan trauma atas kejadian kebakaran kemarin membuat dadanya sesak.

Baskara menyadari ketakutan istrinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mencoba sedikit memiringkan tubuhnya dan menarik tangan Alena, lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukan singkat yang hangat.

Ia membisikkan kata-kata penenang tepat di dekat telinga Alena.

"Tidak usah takut, Sayang," bisik Baskara lembut, memberikan tatapan paling meyakinkan yang ia punya.

"Operasi ini hanya langkah awal untuk membuatku kembali kuat. Aku akan baik-baik saja, dan setelah ini, aku akan kembali sepenuhnya untukmu dan si kecil."

Baskara melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Alena dengan lekat.

"Kamu tunggu di sini bersama Tanti dan perawat, ya? Aku berjanji akan keluar dari pintu ini dalam keadaan yang jauh lebih baik."

Alena menunduk, berusaha menahan bendungan air mata di pelupuknya.

Ia menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya, lalu menatap kembali Baskara dan menganggukkan kepalanya dengan perlahan.

"Aku akan menunggu," jawab Alena lirih.

Baskara tersenyum tipis, lalu memberikan isyarat kepada tim medis untuk melanjutkan perjalanan.

Pintu ruang operasi pun terbuka, dan Baskara didorong masuk, meninggalkan Alena yang masih berdiri mematung di lorong, mencoba menguatkan diri sambil terus merapalkan doa demi keselamatan pria yang kini telah menjadi pelindung utama dalam hidupnya.

Alena berdiri mematung di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat, masih terpaku pada titik di mana ranjang Baskara baru saja menghilang.

Setelah beberapa detik hening, ia perlahan menurunkan tangannya ke perutnya yang masih datar, mengelusnya dengan gerakan melingkar yang lembut dan penuh kasih sayang.

"Kita doakan Papa ya, Nak," bisiknya dengan suara yang begitu pelan, nyaris seperti embusan napas, namun sarat dengan doa yang tulus.

Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh satu per satu, namun kali ini bukan karena keputusasaan.

Ia merasa ada secercah kekuatan baru yang tumbuh di dalam dirinya—sebuah tanggung jawab untuk menjaga nyawa yang sedang tumbuh ini sembari menunggu belahan jiwanya berjuang di balik pintu ruang operasi.

Tanti, yang sejak tadi berdiri tak jauh di belakangnya dengan mata sembab karena haru, melangkah mendekat.

Ia meletakkan tangan di pundak Alena, memberikan dukungan diam.

"Ibu, mari duduk dulu," ajak Tanti lembut sambil menuntun Alena ke kursi tunggu di sepanjang lorong.

"Tuan Baskara orang yang sangat kuat. Beliau sudah berjanji, dan beliau tidak pernah ingkar janji."

Alena menganggukkan kepala, masih terus mengusap perutnya seolah ingin memberikan perlindungan dan ketenangan pada janin di dalamnya.

Di bawah lampu koridor rumah sakit yang putih dan dingin, Alena duduk bersandar, memejamkan mata dan terus merapalkan doa keselamatan untuk Baskara, pria yang sedang bertarung dengan rasa sakit demi masa depan mereka bertiga.

Di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat, suasana di dalam ruangan sangat kontras dengan ketegangan di lorong.

Lampu operasi LED yang sangat terang menyorot tepat ke arah meja operasi, menciptakan pencahayaan fokus tanpa bayangan.

Suara detak monitor EKG yang konstan—tit... tit... tit...—menjadi satu-satunya irama di ruangan tersebut, menjadi pengingat bahwa jantung Baskara berdetak stabil di bawah pengaruh obat bius total.

Baskara berbaring tengkurap. Punggungnya yang menjadi fokus utama tampak sangat memprihatinkan; luka bakar derajat dua dan tiga akibat hantaman balok kayu terlihat jelas, dengan sisa jaringan yang rusak dan menghitam di beberapa titik.

Dokter Han berdiri di sisi meja operasi dengan ketenangan seorang ahli.

Ia mengenakan baju operasi steril, masker, dan face shield.

Di sampingnya, dua asisten dokter bedah dan seorang perawat instrumen bergerak dalam kesunyian yang efisien. Bau antiseptik yang tajam menyengat memenuhi udara.

"Mulai prosedur debridement," instruksi Dokter Han dengan suara rendah dan tenang.

Dengan menggunakan pisau bedah khusus, Dokter Han mulai mengangkat jaringan kulit yang mati serta sisa-sisa kontaminasi arang yang menempel dalam.

Setiap gerakannya sangat presisi; ia harus membedakan mana jaringan yang masih memiliki aliran darah yang cukup untuk bertahan dan mana yang harus segera dibuang demi mencegah nekrosis atau pembusukan jaringan.

Di tengah keheningan, hanya terdengar suara alat medis yang beradu halus dan desis alat isap (suction) yang bekerja membersihkan sisa cairan luka.

Dokter Han sesekali menginstruksikan perawat untuk menyesuaikan posisi lampu agar setiap sudut luka bakar di punggung Baskara terlihat jelas.

Ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan memakan waktu, di mana setiap milimeter kulit yang diangkat harus diperhitungkan.

Fokus Dokter Han tidak hanya pada luka bakar, tetapi juga memastikan otot-otot di balik kulit yang terluka tidak mengalami cedera permanen akibat hantaman balok kayu.

Ia bekerja dengan ritme yang stabil, sadar sepenuhnya bahwa di luar sana, seorang wanita yang sedang mengandung tengah menggantungkan harapannya pada keberhasilan operasi ini.

Di ruangan yang dingin dan steril itu, perjuangan Baskara untuk pulih telah dimulai.

Sementara itu di gedung perkantoran pusat terlihat begitu menyilaukan, namun atmosfer di dalamnya terasa dingin dan penuh ambisi.

Billy dan Yanuar melangkah masuk ke lobi perusahaan dengan langkah yang angkuh.

Kemeja mereka disetrika rapi, dan wajah mereka memancarkan aura kemenangan yang menjijikkan.

Bagi mereka, ini adalah hari bersejarah: hari di mana mereka akan mengubur sisa-sisa kekuasaan Baskara untuk selamanya.

"Ingat, Yanuar," bisik Billy sambil membenahi kerah jasnya.

"Begitu kita sampai di ruang rapat, pastikan semua pemegang saham tahu bahwa tidak ada lagi 'CEO' yang bisa menolak keputusan kita. Baskara sudah jadi abu. Sekarang, perusahaan ini adalah mainan kita."

Yanuar menyeringai lebar. "Tentu, Billy. Aku sudah menyiapkan surat pernyataan pengalihan hak suara yang harus ditandatangani hari ini juga."

Namun, tepat saat mereka hendak melangkah menuju lift privat, langkah mereka terhenti.

Kenan berdiri tegak di depan meja resepsionis, menghalangi akses ke lift.

Wajah Kenan tampak datar, sedingin es, dengan tatapan yang sangat sulit dibaca oleh siapa pun.

"Mau apa kau di sini, Kenan?" tanya Billy dengan nada meremehkan.

"Seharusnya kau sudah sibuk mengurus pemakaman bosmu yang tidak berguna itu."

Kenan tidak bergeming. Ia justru mengeluarkan sebuah tablet dari saku jasnya dan menunjukkannya kepada mereka.

Di layar tersebut, terpampang dokumen legalitas perusahaan yang baru saja diperbarui.

"Maaf, Tuan Billy, Tuan Yanuar," suara Kenan tenang namun tegas.

"Sesuai dengan protokol darurat yang telah diatur oleh Pak Baskara sebelum insiden terjadi, seluruh akses ke ruang rapat dan aset perusahaan telah dibekukan sementara untuk proses audit investigasi kematian pemilik sah."

"Apa katamu?!" Yanuar membelalak, wajahnya memerah karena marah.

"Kami adalah keluarga! Kami berhak atas perusahaan ini!"

Kenan membalas tatapan mereka tanpa rasa takut sedikit pun.

Ia teringat perintah terakhir Baskara: Biarkan mereka merasa menang, biarkan mereka merasa aman.

Tapi Kenan juga tahu kapan harus memberikan "pukulan" kecil untuk menjaga sandiwara ini tetap berjalan sesuai skenario.

"Polisi masih membutuhkan keterangan kalian terkait kebakaran tersebut," lanjut Kenan dengan nada dingin yang menusuk.

"Tadi pagi, tim penyidik menemukan beberapa kejanggalan di lokasi kejadian yang mengarah pada sabotase, bukan korsleting listrik biasa. Jadi, untuk saat ini, tidak ada satu orang pun yang boleh mengambil alih saham sebelum penyelidikan selesai."

Mendengar kata 'sabotase', wajah Billy dan Yanuar berubah pucat pasi secara bersamaan.

Seringai mereka lenyap seketika, berganti dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipis.

"S-sabotase?" gagap Billy.

"Ya," jawab Kenan singkat.

"Polisi akan segera menghubungi kalian. Jadi, daripada repot-repot mencoba mengambil alih saham, saya sarankan kalian bersiap-siap untuk memberikan keterangan jujur kepada pihak berwajib."

Kenan melangkah pergi meninggalkan mereka yang terpaku di tengah lobi.

Di dalam hati, Kenan tersenyum tipis. Bermainlah dulu di lubang yang kalian gali sendiri, pikirnya. Baskara benar—membuat mereka panik sebelum kehancuran total adalah awal yang sempurna.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!