Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##08
Malam makin larut di atas Kota London. Gemericik hujan yang dihantamkan angin ke kaca jendela kamar pengantin bernuansa gothic itu terdengar bagai dentangan melodi yang sunyi. Cahaya temaram dari lampu dinding melemparkan bayangan tebal di atas karpet beludru, menciptakan suasana yang amat intim sekaligus menghimpit.
Di atas sofa kulit yang sempit, Alistair berbaring telentang dengan lengan kanannya tertumpuk di atas dahi. Lengan kemeja putihnya yang digulung memperlihatkan urat-urat menonjol di punggung tangannya—jemari yang terbiasa memegang senjata dan mengendalikan komando militer, kini bergetar tipis di bawah keheningan malam.
Matanya terpejam, namun pikirannya sama sekali tidak bisa beristirahat.
Setiap helai napas teratur yang terdengar dari arah tempat tidur besar—tempat di mana Baxeena berbaring membelakanginya—terasa bagai sengatan halus yang merambat ke seluruh saraf tubuhnya.
Alistair mencoba memaksakan matanya tetap tertutup, namun kegelapan di balik kelopak matanya justru menjelma menjadi kenangan masa lalu yang begitu benderang. Bayangan-bayangan belasan tahun lalu mendadak tumpah ruah, menginvasi kesadarannya tanpa ampun.
°°
Lima belas tahun yang lalu.
Di sebuah apartemen penthouse tersembunyi yang terletak di kawasan Mayfair—sebuah aset pribadi yang dibeli Alistair menggunakan nama samarannya, jauh dari jangkauan pengawasan ketat intelijen kerajaan dan pengawal istana. Tempat itu adalah rahasia terkecil mereka di tengah megahnya Kota London.
Setiap akhir pekan, saat aturan kaku akademi high school melonggar dan memberi izin keluar asrama selama beberapa jam, Alistair muda tidak pernah membawa Baxeena ke restoran mewah atau pesta-pesta bangsawan.
Pria muda yang saat itu berusia Delapan belas tahun hanya menginginkan satu hal: mengisolasi gadis asal Los Angeles itu dari seluruh dunia, mengurungnya di dalam apartemen pribadinya di mana tidak ada protokol dinasti, tidak ada gelar pangeran, dan tidak ada mata-mata kerajaan yang mengawasi.
Alistair ingat betul aroma wangi buah vanila dan bunga mawar yang selalu menguar dari kulit Baxeena tiap kali gadis itu menanggalkan seragam sekolahnya.
Di dalam apartemen itu, di atas tempat tidur berselimut sutra gelap yang menghadap langsung ke hamparan lampu kota melalui jendela kaca raksasa, mereka biasa menghabiskan malam-malam yang membara. Alistair muda yang selalu tampak kaku dan tenang di depan publik, akan berubah menjadi pria yang begitu haus dan posesif saat pintu apartemen itu terkunci.
Ia ingat bagaimana jemarinya menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh Baxeena yang saat itu berusia Tujuh belas tahun—muda, liar, dan penuh gairah yang membakar. Ia ingat bagaimana Baxeena akan mencengkeram bahu tegapnya, menyatukan napas mereka yang terengah-engah di bawah temaramnya lampu ruangan.
Bisikan manja gadis itu, desahan napasnya yang terputus-putus menyebut nama panggilan pribadinya, serta kehangatan tubuh Baxeena yang memeluknya erat seolah tidak ada hari esok.
Malam-malam panas itu selalu diakhiri dengan mereka yang terbaring lemas saling berpelukan hingga fajar menyingsing.
Alistair akan mengecup kening Baxeena berkali-kali, mengusap rambut panjangnya yang berantakan, sementara Baxeena tertidur di atas dadanya sebelum mereka berdua harus merapikan seragam masing-masing dan kembali ke asrama sekolah dengan wajah berpura-pura asing.
Apartemen itu adalah tempat cinta mereka. Tempat di mana Alistair pertama kali menyerahkan seluruh jiwa dan raga mudanya hanya untuk satu nama: Baxeena Valerio Desmon.
Alistair membuka matanya secara mendadak di atas sofa.
Napasnya memburu halus di dalam kegelapan kamar pengantin. Dadanya naik turun secara tidak teratur, berdenyut oleh kombinasi antara hasrat purba yang mendadak bangkit dan rasa sakit yang menghantam ulu hatinya secara bersamaan.
Pria yang biasanya mampu bertahan di bawah tekanan medan perang paling mengerikan itu kini tampak begitu rapuh, hanya karena ingatan akan masa lalunya sendiri.
Ia menolehkan kepalanya perlahan ke arah tempat tidur.
Di sana, di bawah remang lampu dinding, siluet Baxeena terlihat begitu jelas di balik selimut tipis. Gelombang rambut panjangnya yang terurai di atas bantal membangkitkan ingatan manis sekaligus beracun dari malam-malam panas mereka di Mayfair.
Dulu, Baxeena adalah milik penuh dirinya. Dulu, tidak ada rahasia, tidak ada dinding es, dan tidak ada kebencian yang membentang di antara tubuh mereka.
Alistair mengubah posisinya menjadi duduk di tepi sofa. Ia menundukkan kepala, menumpu kedua sikunya di atas paha, lalu menyatukan jemarinya di depan mulut.
Bagaimana bisa aku menghancurkan surga yang kita bangun sendiri, Xeena? batin Alistair dalam jeritan sunyi yang menyiksa dadanya.
Rasa bersalah atas malam kesalahpahaman belasan tahun lalu kembali merayap bagai racun yang membakar darahnya.
Malam di mana ia terbangun dengan kepala seberat batu di sebuah hotel, menemukan dirinya terjebak dalam skenario aliansi kotor yang merenggut Baxeena dari pelukannya selamanya. Satu malam kekhilafan dan jebakan politik yang membayar seluruh kebahagiaan masa mudanya dengan penderitaan tak berujung.
Suara gesekan kain selimut dari arah tempat tidur mengejutkan Alistair.
Baxeena memutar tubuhnya. Ia ternyata belum tidur. Sepanjang malam, wanita dari Los Angeles itu pun memeluk kegelisahan yang sama. Mata cantiknya terbuka lebar, menatap lurus ke arah Alistair yang duduk termenung di tepi sofa.
Di dalam remang malam yang bisu, pandangan mereka beradu secara langsung.
Tidak ada kata-kata kaku yang terlontar. Tidak ada cemoohan atau makian. Yang tersisa di antara mereka berdua di jam tiga pagi itu hanyalah bayang-bayang masa lalu yang begitu tebal, menggantung di udara bagai kabut yang tak sanggup ditembus oleh alasan apa pun.
Baxeena memiringkan posisinya, menatap punggung tegap Alistair yang agak membungkuk di atas sofa. Dari cara pria itu bernapas dan ketegangan di bahunya, Baxeena—wanita yang pernah mengenal Alistair luar dalam—tahu betul bahwa pria itu sedang menjelajahi labirin kenangan yang sama. Kenangan tentang apartemen rahasia di Mayfair, tentang janji-janji masa muda yang pupus, dan tentang betapa hangatnya tubuh mereka saat pernah menyatu belasan tahun lalu.
Dada Baxeena berdesir heboh. Rasa benci yang dipeliharanya selama puluhan tahun mendadak terasa begitu berat dan melelahkan saat berhadapan dengan bayangan kenangan manis itu.
"Kenapa kau tidak tidur?" suara Baxeena akhirnya memecah keheningan, mengalun begitu pelan, serak, dan hampir tenggelam oleh derai hujan di luar.
Alistair tidak langsung memutar kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menguasai getaran di tenggorokannya. Ketika ia menoleh menatap Baxeena, manik mata hazel-nya memancarkan duka yang begitu telanjang.
"Sofa ini..." bisik Alistair, suaranya merendah bagai bisikan dari masa lalu, "...terlalu dingin jika dibandingkan dengan kenangan yang ada di dalam kepalaku, Xeena."
Ruangan yang temaram itu mendadak hening untuk beberapa detik yang menyiksa. Kata-kata Alistair yang sarat akan luka masa lalu bagai menggantung di udara, bergetar bersama derai hujan di luar jendela.
Baxeena menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menguasai desiran aneh di dadanya.
"Pindahkan bantalmu," kata Baxeena pelan. Suaranya serak, mengalun tanpa ada intonasi dingin atau amarah. "Tempat tidur ini cukup luas untuk dua orang. Kau bisa tidur di sisi kanan."
Alistair menegang di tempat duduknya. Pria itu memutar kepala perlahan, menatap Baxeena dengan manik mata hazel-nya yang sedikit membelalak. Ada rasa terkejut yang nyata terpancar dari raut wajah sang Pangeran yang biasanya selalu tak tersentuh emosi.
Satu detik...
dua detik...
Sebuah kekehan pelan dan renyah mendadak lolos dari tenggorokan Alistair. Suara tawa rendah yang amat langka, bergetar begitu halus di dalam kegelapan kamar. Garis kaku di rahangnya meluruh seketika, berganti dengan sudut bibir yang terangkat tipis, memamerkan senyuman geli yang amat familiar bagi Baxeena.
"Kau yakin?" tanya Alistair, menatap Baxeena dari tepi sofa. Alis tebalnya terangkat sebelah, menyiratkan godaan yang amat halus.
Baxeena merapatkan selimut hingga ke batas dadanya, memasang kembali raut kaku untuk menutupi gejolak di hatinya yang mendadak tak beraturan. "Hanya tidur," potong Baxeena cepat, menatap mata Alistair dengan pandangan menantang. "Gunakan selimut masing-masing dan jangan melewati batas tengah kasur. Kecuali... apa kau berpikir mesum, Pangeran Alistair?"
Kekehan Alistair makin terdengar jelas, kini diiringi oleh gelengan kepalanya yang lambat. Rasa lelah dan beban berat di pundaknya serasa menguap begitu saja mendengar tuduhan konyol itu.
"Sama sekali tidak, Your Grace," sahut Alistair dengan nada jenaka yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun di dunia ini. "Saya adalah seorang perwira tinggi yang sangat menjunjung tinggi disiplin dan batas wilayah. Saya jamin tidak akan ada penyerangan tanpa izin ke area kekuasaan Anda."
Alistair berdiri dari sofa, meraih bantalnya, lalu melangkah menuju tempat tidur besar bernuansa emas itu. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan—menjaga jarak yang sangat aman di batas tepi kasur, seolah benar-benar mematuhi perintah "garis batas" yang ditetapkan Baxeena.
Keheningan kembali melingkupi kamar pengantin itu, namun kali ini atmosfer di antara mereka tak lagi membeku atau mencekam. Ada kehangatan yang amat tipis namun nyata, mengalir perlahan di tengah suara rintik hujan yang tak kunjung reda di luar sana.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭