Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Malam di Balik Dinding Sempit
Angin malam berembus pelan, nyaris tidak bersuara di sela-sela dinding kayu warung yang sudah usang.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Andra duduk tenang di balik meja kasir sambil menatap cangkir kopi hitam di depannya.
Pikiran pria itu melayang jauh menembus keheningan malam di perkampungan padat itu.
Ia tahu betul, hidup damai yang ia jalani sekarang tidak akan berlangsung selamanya.
Masa lalunya sebagai mantan penguasa korporasi besar selalu meninggalkan bayang-bayang gelap.
Di luar sana, para musuh yang ingin balas dendam masih terus mencari celah untuk menghancurkannya.
Tidak lama kemudian, langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dapur belakang.
Kirana berjalan keluar sambil membawa semangkuk kecil makanan hangat di atas nampan.
Senyuman tulus langsung terukir di wajah wanita itu, meski matanya menyiratkan rasa lelah.
Kirana meletakkan mangkuk itu pelan-pelan di hadapan suaminya.
"Makanlah dulu, Mas, biar tidak dingin," kata Kirana dengan suara yang lembut.
Andra mengangkat wajahnya dan menatap sang istri dengan penuh kehangatan.
Seketika itu juga, rasa penat di pundaknya seolah menguap begitu melihat senyum wanita yang dicintainya.
"Terima kasih, ya, Kir," balas Andra sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya sejenak.
Kirana lalu menarik kursi kayu dan duduk tepat di samping suaminya.
Mereka menikmati detik-detik malam yang berjalan lambat dalam kesederhanaan yang menenangkan.
Namun, insting tajam Andra tiba-tiba menangkap ada sesuatu yang tidak beres di luar sana.
Suara derap langkah kaki yang berusaha diredam mulai mendekati area gang sempit.
Andra langsung menyipitkan mata, mempertajam pendengarannya di tengah sunyi malam.
Ada beberapa orang asing yang bergerak terkoordinasi dalam gelap.
Gerakan mereka sangat ter arah, tenang, dan membentuk formasi penyergapan yang rapi.
Andra menarik napas perlahan untuk menjaga ekspresinya tetap biasa di depan Kirana.
Ia sama sekali tidak ingin membuat wanita itu panik atau ketakutan.
"Kir, kamu tetap di sini dulu sebentar ya di ruangan belakang," ujar Andra dengan nada setenang mungkin.
Kirana mengedipkan mata , langsung menangkap perubahan nada bicara suaminya yang mendadak serius.
"Ada apa, Mas?" tanya Kirana pelan, sementara tangannya mulai bergetar karena cemas.
"Nggak apa-apa, cuma ada tamu sebentar di depan," jawab Andra sambil tersenyum tipis untuk meyakinkan.
Pria berjaket usang itu bangkit berdiri dari kursi kayunya secara perlahan.
Ia melangkah mantap menuju bagian depan warung yang tertutup tirai agak tembus pandang.
Di luar gang, bayangan beberapa orang berbadan tegap mulai berhenti tepat di depan pintu warung.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah yang rapi.
Salah satu dari mereka memberi isyarat tangan untuk bersiap mendobrak masuk.
Sebelum tangan kasar itu sempat menyentuh pintu, Andra lebih dulu menariknya dan membukanya lebar-lebar.
Pria-pria berbadan tegap di luar sana langsung terkesiap kaget melihat target mereka muncul begitu saja tanpa rasa takut.
Andra berdiri tegak dengan tatapan mata yang dingin menghujam tajam ke depan.
"Kalian salah tempat kalau mau cari masalah di sini," ucap Andra datar.
Pemimpin kelompok bayaran itu mendengus sinis dari balik penutup wajahnya.
"Ternyata benar laporan itu... Kau memang bersembunyi di lubang tikus ini, Tuan Besar."
Andra sama sekali tidak gentar mendengar ejekan tersebut.
Bagi dirinya, gerombolan di hadapannya ini hanyalah sekumpulan pengganggu yang tidak tahu diri.
Pertarungan malam itu tinggal menunggu hitungan detik untuk meledak.
Namun, tepat saat Andra hendak melangkah keluar, ponsel di saku jaket salah satu penyusup tiba-tiba berdering keras.
Pria berbadan tegap itu mengangkat panggilan sebentar, lalu menatap tajam ke arah Andra sambil menyeringai lebar.
"Tuan Besar... sebaiknya Anda jangan buru-buru melawan kami," ucap sang pemimpin kelompok dengan nada penuh kemenangan.
Andra mengernyitkan dahi, tatapannya semakin tajam menguliti gerombolan orang di hadapannya.
Ia sama sekali tidak mengeluarkan ponsel dari sakunya, namun instingnya memperingatkan ada hal lain yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi.
"Jangan buang-buang waktu saya," dingin suara Andra memecah keheningan malam di lorong sempit itu.
Pemimpin penyusup itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar meremehkan di balik penutup wajah hitamnya.
"Kau pikir kami datang ke sini cuma buat cari mati sama kamu, Tuan Besar?" ejek sang pemimpin sambil menekan tombol speaker di ponselnya.
Suara deru mesin mobil mewah yang asing tiba-tiba menderu memecah kesunyian ujung lorong perkampungan.
Sorot lampu mobil yang sangat terang mendadak menyorot langsung ke arah depan warung kecil Kirana.
Andra menoleh sekilas, mendapati sebuah mobil SUV hitam berpelat nomor luar kota berhenti tepat di ujung gang.
Pintu mobil itu terbuka perlahan, menampilkan sesosok pria berjas rapi melangkah keluar dengan payung hitam di tangan.
Meski wajah pria itu tidak begitu jelas terlihat di bawah temaram lampu jalan, postur tubuhnya memancarkan aura kekuasaan yang licik.
Jantung Andra mendadak berdegup lebih kencang bukan karena takut, melainkan karena ia mengenali bau pengkhianatan dari sosok itu.
"Halo, Andra... lama tidak berjumpa di tempat kumuh seperti ini," panggil pria asing itu dari kejauhan dengan nada mengejek.
Di dalam warung, Kirana yang mendengar keributan itu mulai merasa cemas dan melangkah mendekati tirai depan.
"Mas... siapa di luar?" panggil Kirana dengan suara bergetar pelan.
Andra menoleh ke belakang sejenak, menatap mata istrinya yang penuh kecemasan, lalu kembali menatap tajam ke arah pria baru yang datang.
Permainan kotor masa lalu ternyata belum benar-benar selesai malam ini.
Pria berjas rapi itu terus melangkah mendekat, membelah genangan air hujan sisa sore tadi di atas jalanan setapak perkampungan.
Sepatu pantofel nya tampak sangat kontras dengan lingkungan kumuh tempat warung Kirana berada.
Andra tidak bergeming sedikit pun dari ambang pintu, tatapannya menghujam tajam ke arah sosok yang semakin mendekat itu.
"Rian," panggil Andra dengan nada suara yang rendah namun penuh tekanan dingin.
Pria yang dipanggil Rian itu akhirnya berhenti beberapa meter di hadapan Andra, lalu tersenyum miring.
"Wah, ternyata Tuan Besar masih ingat sama mantan tangan kanannya sendiri," ujar Rian sarkastis.
Kelompok penyusup berbadan hitam di sekitar mereka perlahan mundur memberi jalan bagi sang bos baru.
Suasana di lorong sempit itu terasa semakin mencekam dan penuh dengan aura permusuhan yang pekat.
Di dalam warung, Kirana yang mengintip dari balik tirai kain merasa dadanya semakin sesak oleh rasa takut.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi instingnya mengatakan suaminya sedang menghadapi bahaya besar.
"Mau apa kamu datang ke tempat sampah ini, Rian?" tanya Andra to the point tanpa basa-basi.
Rian tertawa kecil sambil merapikan jas mewahnya yang sama sekali tidak terkena kotoran.
"Aku cuma mau menagih sisa urusan kita yang belum selesai di PT Adhikari Corp," jawab Rian tajam.
"Kau pikir dengan menyingkirkan Hartono kemarin, kursi kekuasaan itu bakal selamanya jadi milikmu?"
Andra menyipitkan mata, rahangnya mengeras mendengar ucapan arogan dari mantan bawahannya itu.
"Hartono cuma pion bodoh, dan kamu ternyata jauh lebih tidak tahu diri darinya," balas Andra dingin.
Rian mendengus keras, ekspresi wajahnya berubah menjadi sinis dan penuh amarah tertahan.
"Bacot besar! Kau rampas segalanya dari tangan kami, Andra!" bentak Rian mulai kehilangan kesabarannya.
"Sekarang, pilihannya cuma ada dua: serahkan kembali kendali penuh perusahaan atau wanita di dalam warung itu jadi taruhannya."
Mendengar nama Kirana diseret-seret, mata Andra langsung memancarkan kilatan amarah yang luar biasa mematikan.
Suhu udara di sekitar mereka seakan mendadak turun drastis karena tekanan emosi sang mantan penguasa.
Gerombolan penyusup di belakang Rian bahkan sempat merinding melihat perubahan tatapan mata Andra.
Namun Rian mencoba tetap tenang karena merasa dirinya membawa pasukan dan kartu As yang kuat.
"Jangan pernah berani menyentuh apa pun yang ada di tempat ini," desis Andra pelan namun penuh ancaman nyata.
"Oh ya? Coba saja maju kalau kamu berani," tantang Rian sambil mengangkat sebelah tangannya memberikan aba-aba.
Para pengawal berjas hitam langsung merogoh jaket mereka, bersiap mengeluarkan senjata tajam.
Andra melangkah maju satu langkah keluar dari ambang pintu warung, menepis ketakutan apa pun.
Pertarungan berdarah di lorong sempit itu tampaknya sudah tidak bisa dihindari lagi demi melindungi orang tersayang.