Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam semakin larut di sertai rintik gerimis yang membasahi bumi. Udara yang dingin selain menyergap tubuh Raisa----hawa itu juga menyelimuti hatinya. Raisa malam ini pulang dengan langkah gontai, bahu yang kian merosot karena lelah---Nyonya Raharja sudah di ujung tanduk.
Tubuhnya masih mengenakan kaos lengan pendek kombinasi warna merah muda dan hitam, di padukan dengan celana jeans. Rambutnya di biarkan terurai panjang, matanya terlihat menunjukan raut lelah. Saat langkahnya masuk ke dalam rumah mewahnya dengan gontai, dirinya mendapati hal yang tak di inginkan.
Di depan pintu utama, Raisa amat terkejut bahwa di ruang tamu malah mendapati tiga LC. Ruang tamu yang megah dengan lantai marmer ini, penuh dengan canda tawa dan kepulan asap rokok yang di hisap oleh tiga LC berwajah Latino ini.
"Astagfirullah hal azim...cobaan apalagi yang kau berikan untuk hamba," gumam Raisa menatap rumahnya.
Raisa hanya bisa elus dada dan tertegun melihat tiga wanita asing berpenampilan selayaknya LC----dari sebuah club, duduk dengan menantang di sofa mewahnya.
"Maaf Mbak...Mbak ini siapa ya?" tanya Raisa dengan heran.
Sontak ketiga wanita dengan canda tawa, dan tangannya terselip rokok langsung menoleh ke arah Raisa. Wanita pertama---Chelsea yang sudah menjadi simpanan Dion tanpa disadari Raisa. Chelsea mengenakan gaun satin ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya, berwarna biru muda---belahan dadanya terlihat jelas.
Dan dua wanita lagi Cora dan Luna, yang mengenakan gaun satin ketat tanpa lengan berwarna hijau muda sampai lutut. Ketiganya menatap Raisa dari ujung kepala sampai kaki seolah mau menerkamnya hidup-hidup. Raisa menatap ketiganya, dan heran kenapa mereka bisa ada disini. Melihat kedatangan Raisa, ketiga wanita itu justru berdiri menghampirinya. Ketiga bukan merasa sungkan, salah satu dari mereka berani menunjuk Raisa sembari tertawa sinis.
"Oh jadi ini bini g*blok yang Mas Dion omongin?" ejek Luna melirik Cora.
Raisa meremas kedua tangannya, seolah tak terima akan hinaan ketiga wanita yang berpenampilan menjijikan ini.
"Iya keliatan mirip pembantu daripada bini pengacara kondang," timpal Cora dengan nada merendahkan.
Raisa ingin membela diri, namun suara berat yang sangat di kenalnya terdengar dari arah tangga marmer.
"Gimana? Sudah puas menemui Dokter Hassan?" tanya Dion yang turun dengan angkuh.
Mendengar itu keempat wanita itu seketika menoleh ke arah Dion, dan menatapnya. Dion mengenakan kemeja putih dengan lengan di gulung sampai siku, dan celana formal warna navy. Di belakangnya ada Leon yang menyusul dengan mengenakan kemeja biru tua dan celana hitam formal.
"Mas Dion! Apa maksud semua ini Mas? Dan siapa mereka?" tanya Raisa menunjuk ketiga wanita itu.
Dion bukannya menjawab pertanyaan istrinya, malah berjalan santai menuju sofa dengan santai. Dion duduk di sofa, sambil menarik Chelsea duduk di pangkuannya.
"Oh ya Raisa...kenalin ini Chelsea, pacar baruku," kata Dion sambil mengelus dagu Chelsea.
Sementara kedua tangan Chelsea merangkul di leher Dion dengan manja.
"Astagfirullah Mas! Aku masih istri kamu! Kenapa sih kamu nggak bisa hargain aku?!" marah Raisa menatap suaminya.
Di belakang Raisa, Leon berdiri sambil merangkul mesra pinggang Cora dan Luna sekaligus, kanan dan kirinya. Seolah-olah tak ada moral.
"Hargain?! Kamu aja nggak bisa hargain aku!" ujar Dion menatap Raisa.
"Mas...aku ama Dokter Hassan nggak ada apapun?! tadi Dokter Hassan bilang mama----"
Kalimat Raisa di potong cepat oleh Dion.
"Alasan klasik!!" marahnya.
"Mama lagi sakit kritis di rumah sakit, Mas! Bisa-bisanya kamu melakukan ini di rumah, di depan aku?" teriak Raisa dengan suara pecah oleh tangisnya yang malang.
Dion terlihat tak peduli, malah dirinya semakin intim dengan Chelsea---tangannya berani meraba paha wanita itu di depan Raisa.
"Kenapa? Kamu nggak suka? Kamu sendiri asyik bermesraan sama dokter itu di rumah sakit, kan? Anggap saja ini balasan yang adil. Saya membawa hiburan saya ke sini karena kamu nggak pernah becus jadi istri."
Mendengar itu, rasanya Raisa tak sanggup lagi bernapas---jantungnya seperti di remas. Air mata sudah menggenang di pipinya membuat pandangannya kabur. Raisa amat tak percaya Dion---pria yang di nikahinya bisa melakukan ini, saat ibunya bertaruh nyawa di rumah sakit, malah memilih bersenang-senang bersama LC.
"Kamu nggak bisa hargain aku sebagai istri kamu! Itu nggak masalah! Tapi pernah nggak sekalipun kamu peduli Mas...sama mama!" teriak Raisa dengan isak tangis.
Dion metapa Raisa dengan pandangan sinis, penuh kebencian.
"Halah kamu di rumah sakit, buat ketemu ama Dokter Hassan 'kan?" tuduh Dion kepada istrinya.
"Mas! sudah aku bilang! Aku nggak bermesraan ama siapapun! Aku menjaga mama yang hampir tiada!" teriak Raisa lagi.
Terlihat Raisa menahan perih di dadanya.
"Aduh sayang....kok, kamu betah sih punya istri cerewet begini," tunjuk Chelsea.
"Yah, makannya aku milih kamu Chel...," ujar Dion di depan Raisa.
Raisa yang sudah muak karena harga dirinya sebagai seorang istri sudah di injak-injak, langsung mendekat dan mau menampar Chelsea. Namun, tangannya di tahan oleh Cora.
"Mau ngapai lo?! Mukul?" tanya Cora dengan menantang.
"Dasar perempuan binal!" balas Raisa melotot.
Mendengar amarah Raisa, Dion membalas Raisa dengan membentak istrinya.
"Halah, jangan berlagak suci!" bentak Dion sambil mengelus rambut Chelsea di pangkuannya dengan sengaja di depan mata Raisa.
"Ingat status kamu di rumah ini tak lebih tinggi dari mereka, mereka bisa menyenangkan saya...sedangkan kamu selalu membuat saya muak," ujar Dion.
Chelsea bersandar di dada Dion sambil menatap Raisa dengan senyum kemenangan. Raisa benar-benar merasa dunianya runtuh, tangannya di lepaskan kasar oleh Cora---salah satu LC teman Chelsea.
"Udah lagi cewek kaya lu ngarep banget jadi istri pengacara," ujar Leon, menatap rendah Raisa.
"Yon, boleh nggak icip bini lo?" lanjut Leon dengan nada merendah.
Dion menatap sinis ke arah Raisa, lalu menjawab.
"Icip aja, gua aja nggak sudi nyentuh dia!" ujar Dion menatap Raisa.
Deg.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan malah menjadi tempatnya menderita, di depan suaminya sendiri---Raisa di hina oleh wanita simpanan suaminya. Bahkan di rendahkan oleh sahabat suaminya. Raisa berlari ke kamar sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri, dirinya menyadari kesalahan masa kecilnya membuat Dion masih menyimpan dendam untuknya.
*
*
*
*