NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Bang Codet menyipitkan matanya mencoba mengenali wajah Raka yang kini terlihat sangat bersih dan mewah.

"Lah ini kan si Raka gembel tukang mulung itu? Bajumu bagus juga, habis nyolong jemuran di mana lu?" ejek Codet tertawa keras.

Puluhan anak buah Codet ikut tertawa merendahkan melihat Raka berdiri sendirian menantang mereka.

"Wah ingatan Abang tajam juga ya, kirain otak Abang udah tumpul kebanyakan minum alkohol oplosan," balas Raka santai.

Codet meludah ke tanah dan menatap Raka dengan pandangan meremehkan.

"Lu mau sok pahlawan di sini Raka? Dulu lu gue tendang aja nangis minta ampun."

"Dulu perut saya lapar Bang Codet, wajar kalau saya tidak punya tenaga buat mematahkan leher Abang."

Raka melangkah maju perlahan mendekati kerumunan puluhan preman bersenjata tajam tersebut.

"Sekarang perut saya sudah kenyang dan saya sedang butuh olahraga ringan setelah sarapan."

Suara Sasa tiba-tiba terdengar panik dari dalam earpiece di telinga Raka.

"Raka mereka terlalu banyak! Jangan gegabah, aku akan mengirim Bima sekarang juga!"

"Diam saja bos, tonton pertunjukannya dari jauh," bisik Raka pelan mematikan komunikasi earpiece tersebut.

Melihat kesombongan Raka, urat leher Bang Codet langsung bermunculan menahan marah.

"Habisi gembel sombong ini sekarang juga! Patahkan kedua kakinya!" perintah Codet pada anak buahnya.

Lima orang preman berbadan besar langsung berlari maju menerjang Raka dengan balok kayu dan rantai besi.

Aaaargh.

Raka tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.

Saat preman pertama mengayunkan balok kayu ke kepalanya, Raka menunduk dengan sangat lincah.

Bugh.

Tinju kanan Raka melesat sangat keras menghantam tepat di ulu hati preman tersebut.

Preman itu langsung memuntahkan air liur dan ambruk ke tanah tidak bisa bernapas.

Preman kedua mencoba menyabetkan rantai besi dari arah samping.

Raka menangkap ujung rantai itu dengan tangan kirinya lalu menariknya sekuat tenaga hingga preman itu terhuyung ke depan.

Brak.

Lutut Raka menghantam telak wajah preman kedua itu hingga hidungnya patah berdarah.

Gerakan Raka sangat efisien, brutal, dan tepat sasaran berkat pengalaman bertarung hidup mati di dunia kuno.

Dalam waktu kurang dari dua menit, lima preman berbadan besar itu sudah terkapar mengerang kesakitan di atas aspal.

Suasana pasar Glodok yang tadinya riuh oleh tawa para preman kini mendadak sunyi senyap.

Bang Codet menelan ludah melihat betapa mengerikannya kecepatan dan kekuatan pukulan Raka saat ini.

"Mustahil, gembel kurus ini tidak mungkin sekuat ini," gumam Codet mulai berkeringat dingin.

Raka merapikan jaket kulitnya yang sedikit berantakan lalu kembali menatap Codet.

"Ayo Bang Codet, katanya mau mematahkan kakiku? Kenapa malah diam saja di situ?" tantang Raka melambaikan tangannya.

Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya, Codet berteriak marah dan maju sendirian.

"Mati lu Raka keparat!"

Codet mengayunkan tongkat bisbol besinya dengan sekuat tenaga ke arah kepala Raka.

Wush.

Raka melangkah menyamping menghindari ayunan maut itu dengan sangat mudah.

Tangan kanan Raka merogoh saku jaketnya dengan gerakan kilat yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Bzzzt.

Alat kejut listrik hitam sudah berada di tangan Raka dan menyala terang mengeluarkan kilatan biru.

Raka menempelkan ujung stun gun itu tepat ke leher belakang Bang Codet yang terbuka lebar.

"Aaaakh!"

Jeritan rasa sakit yang luar biasa melengking dari mulut preman penguasa pasar tersebut.

Tubuh Codet langsung kaku kejang-kejang tersengat aliran listrik voltase tinggi dan ambruk ke tanah seperti karung beras.

Bruk.

Pemimpin mereka tumbang dengan mulut berbusa dan mata terbalik ke atas.

Sisa preman yang jumlahnya belasan itu langsung membeku di tempat dengan kaki bergetar hebat.

Mereka melihat senjata kecil di tangan Raka yang bisa mengeluarkan petir menyilaukan dan melumpuhkan bos mereka seketika.

"Ada yang mau mencoba petir mainan ini lagi?" tawar Raka mengarahkan stun gun itu ke arah mereka.

Bzzzt bzzzt.

Suara percikan listrik itu menjadi ancaman paling mengerikan yang pernah didengar oleh para preman pasar tersebut.

"Kabur! Dia bukan manusia biasa!" teriak salah satu preman membuang senjatanya.

Klontang.

Belasan preman itu langsung berhamburan lari terbirit-birit meninggalkan pasar Glodok tanpa berani menoleh ke belakang.

Mereka meninggalkan bos mereka dan teman-temannya yang masih terkapar pingsan di jalanan.

Raka mematikan alat kejut listriknya dan memasukkannya kembali ke dalam saku dengan santai.

Ia berjalan mendekati Koh Ahong yang sedari tadi menonton pertarungan itu dengan mulut menganga lebar.

"Koh Ahong tidak apa-apa?" tanya Raka mengulurkan tangannya untuk membantu pria buncit itu berdiri.

Koh Ahong menyambut uluran tangan Raka dengan tangan yang sangat gemetar karena takut bercampur takjub.

"S-saya tidak apa-apa Tuan Raka, terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawa saya," ucap Koh Ahong menunduk berkali-kali.

"Maafkan sikap saya waktu itu Tuan Raka, saya benar-benar buta tidak mengenali orang hebat seperti Anda."

Koh Ahong merasa sangat bersalah karena pernah mengusir dan menghina Raka saat pemuda itu masih terlihat kumal.

"Santai saja Koh, saya sudah lupa soal kejadian itu, yang penting sekarang pasar ini sudah aman."

Raka menepuk debu di kemeja Koh Ahong lalu menunjuk toko herbalnya yang sedikit hancur etalasenya.

"Hitung semua kerugian akibat perusakan hari ini dan kirimkan tagihannya langsung ke kantor Grup Bintang."

Mata Koh Ahong melebar tidak percaya mendengar tawaran ganti rugi yang sangat dermawan itu.

"T-tapi Tuan Raka, ini murni musibah serangan preman, saya tidak berani menagihnya ke bos Sasa."

"Ini adalah akibat persaingan bisnis kami dengan Kevin Koh Ahong, jadi wajar kalau kami yang menanggung kerusakannya."

Raka membalikkan badannya menghadap ke arah jalanan pasar yang kini mulai ramai kembali oleh pedagang yang keluar dari persembunyian.

"Dengar semuanya para pedagang pasar Glodok!" teriak Raka menggelegar ke seluruh penjuru jalan.

Semua orang di sana terdiam dan memusatkan perhatian mereka pada pemuda yang baru saja mengalahkan Bang Codet itu.

"Mulai hari ini, pasar herbal ini berada di bawah perlindungan pribadiku dan Grup Farmasi Bintang."

"Siapapun yang berani mengganggu pengiriman barang kalian, mereka harus berhadapan langsung denganku!"

Suara tepuk tangan dan sorak sorai langsung pecah dari mulut para pedagang yang selama ini selalu ditindas oleh preman Codet.

Mereka merasa akhirnya mendapatkan pelindung yang benar-benar kuat dan bisa diandalkan.

Raka tersenyum tipis melihat antusiasme para pedagang itu yang mengingatkannya pada warga desa di dunia kuno.

Pola kekuasaan ternyata selalu sama di mana pun ia berada, tawarkan perlindungan mutlak maka kesetiaan akan mengikuti dengan sendirinya.

Raka berjalan kembali menuju mobil Range Rover putihnya meninggalkan Codet yang masih pingsan di jalan.

Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan kembali alat komunikasi di telinganya.

"Halo bos cantik, urusan pasar sudah beres seratus persen tanpa perlu panggil polisi."

Terdengar suara helaan nafas panjang yang sangat lega dari Sasa di seberang sana.

"Kau benar-benar membuat jantungku mau copot Raka, aku melihat semuanya dari kamera pengawas toko Ahong."

"Wah ternyata saya sedang ditonton dari tadi ya, pantas saja saya merasa makin tampan saat memukul mereka," canda Raka tertawa pelan.

"Jangan sombong dulu Raka, Kevin pasti akan semakin murka mendengar anak buah bayarannya dikalahkan lagi."

Sasa kembali ke mode seriusnya dan memperingatkan Raka tentang bahaya yang lebih besar.

"Grup Naga Mas punya pengaruh di kepolisian dan pemerintahan, kita tidak bisa terus-terusan melawan mereka dengan cara jalanan."

"Saya tahu bos, makanya kita harus memukul mereka tepat di jantung bisnis utama mereka."

Raka menatap jalanan ibu kota dengan pandangan penuh rencana licik yang sudah bersarang di kepalanya.

"Kita akan membuat perusahaan properti bayangan Sasa menjadi yang terbesar di kota ini dan menyingkirkan Naga Mas perlahan."

Sasa terdiam sejenak lalu tertawa elegan di ujung telepon menyetujui rencana besar rekan bisnisnya itu.

Perang antara Raka si dewa jalanan melawan Kevin sang pewaris konglomerat baru saja memasuki babak yang paling mematikan.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!