Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Tap tap tap.
Langkah kaki puluhan preman bersenjata menggemakan suasana mencekam di dalam aula bawah tanah kasino Naga Hitam. Sebuah meja beton panjang berbentuk persegi panjang telah disiapkan tepat di tengah ruangan yang disorot lampu terang.
Di atas meja itu, sepuluh bongkahan batu alam dari berbagai tambang di seluruh dunia telah diletakkan secara acak. "Aturan mainnya sangat sederhana Gibran, kalian akan ditutup matanya menggunakan kain hitam tebal berlapis tiga ini," jelas Tuan Naga sambil melemparkan selembar kain ke atas meja.
"Kalian hanya diberi waktu satu menit untuk meraba, lalu harus menyebutkan jenis giok dan taksiran harganya secara akurat." "Pihak yang tebakannya paling melenceng jauh dari hasil potongan mesin akan dinyatakan kalah mutlak pada ronde tersebut," lanjut bos sindikat itu dengan senyum liciknya.
Gibran melangkah maju dan langsung mengambil kain hitam itu tanpa memeriksa ketebalannya sama sekali. "Aturan yang sangat adil untuk sebuah tempat yang dipenuhi oleh para penipu dan pecundang seperti kalian."
Srek.
Gibran mengikatkan kain hitam tebal itu menutupi kedua matanya dengan sangat rapat hingga tidak ada setitik cahaya pun yang bisa masuk.
Kegelapan mutlak langsung menyergap pandangan normal Gibran dalam hitungan detik. Namun sebuah senyum sinis justru mengembang di wajah pemuda itu saat suara mekanis yang dingin menyapa otaknya.
[Mode Pemindaian Taktis diaktifkan.] [Koneksi langsung ke saraf optik Master mengabaikan rintangan fisik pada kelopak mata eksternal.]
Sring.
Dunia yang tadinya gelap gulita seketika berubah menjadi hamparan garis cahaya neon biru dan merah di dalam pandangan batin Gibran.
Kelima master tua itu ikut memakai kain penutup mata mereka dengan wajah sombong dan penuh percaya diri. "Biar aku yang maju pertama untuk memberi pelajaran pada anak sombong ini Tuan Naga!" teriak master giok berjanggut panjang melangkah ke meja.
Master berjanggut itu meraba bongkahan batu pertama yang permukaannya sangat kasar dan penuh tonjolan tajam.
Srek srek.
Tangannya bergerak cepat menyusuri setiap lekukan batu itu selama hampir empat puluh detik penuh. "Suhu batu ini dingin di bagian atas dan memiliki serat kasar khas batu kapur sungai."
"Ini adalah batu zonk yang sama sekali tidak memiliki nilai giok di dalamnya, harganya nol rupiah!" putus master berjanggut itu dengan sangat yakin. Para preman bawahan Tuan Naga langsung bersorak gembira memuji kehebatan analisa buta master mereka.
Hahahaha.
"Hebat sekali Master, bahkan dalam gelap pun tangan Anda setajam pisau bedah!" puji seorang algojo berbadan besar.
Gibran melangkah santai ke arah meja yang sama seolah ia bisa melihat dengan sangat jelas tanpa meraba meja. Ia meletakkan telapak tangannya tepat di atas batu bertekstur kasar tersebut hanya selama satu detik saja.
[Kualitas: Giok Hijau Zamrud tingkat menengah tertutup kerak kalsium tebal. Nilai taksiran: Empat ratus juta rupiah.] "Tanganmu mungkin setajam pisau bedah Master Tua, tapi sayangnya pisau bedahmu itu sudah berkarat dan tumpul," ejek Gibran dengan suara lantang.
"Di dalam batu kotor ini terdapat zamrud hijau bernilai empat ratus juta rupiah yang siap dipoles menjadi perhiasan." Wajah master berjanggut itu langsung memerah padam menahan amarah karena tebakannya disanggah mentah-mentah.
"Jangan banyak membual kau bocah ingusan, potong batu ini sekarang juga dan buktikan siapa yang benar!" bentak master itu menunjuk mesin pemotong. Dua teknisi kasino segera mengangkat batu itu ke atas mesin dan menyalakan pisau potongnya.
Ngiiing. Bzzzt.
Hanya butuh waktu lima belas detik untuk membelah kulit batu kalsium yang sangat tebal tersebut.
Byur.
Begitu teknisi menyiramkan air, sebuah cahaya hijau zamrud yang sangat cantik memancar keluar menembus suasana tegang ruangan itu.
"H-hijau zamrud? Mustahil, serat luarnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda adanya giok hijau!" teriak master berjanggut itu histeris membuka penutup matanya. Tuan Naga langsung berdiri dari kursi kebesarannya dengan rahang yang mengeras menahan keterkejutan.
"Ronde pertama dimenangkan oleh Gibran secara mutlak!" gumam Tuan Naga dengan suara berat yang menahan marah. Gibran menyilangkan tangannya di dada dengan senyum merendahkan yang sangat memuaskan.
"Lanjutkan ke ronde dua Tuan Naga, jangan buang waktuku untuk mengurus para lansia yang tangan dan matanya sudah buta ini," provokasi Gibran tanpa ampun. Master kedua yang bertubuh gemuk melangkah maju dengan napas tersengal-sengal menahan emosi.
Ia meraba batu kedua yang permukaannya sangat halus dan licin seperti kaca.
Srek srek.
"Permukaan licin seperti ini adalah ciri khas batu sungai dari tambang utara yang menyimpan giok putih berkualitas tinggi." "Taksiran harganya paling sedikit mencapai dua miliar rupiah!" teriak master gemuk itu dengan penuh kebanggaan.
Gibran bahkan tidak perlu menyentuh batu itu karena sistemnya sudah memindai energi material dari jarak satu meter. [Kualitas: Batu kaca imitasi buatan pabrik yang dipoles mesin. Nilai: Nol rupiah.]
"Dua miliar untuk sebuah kaca palsu cetakan pabrik yang digosok pakai mesin amplas?" tawa Gibran meledak menggelegar. "Kau baru saja menyebut sepotong kaca jendela seharga puluhan ribu sebagai giok putih dua miliar Pak Tua!"
Wajah master gemuk itu langsung berubah pucat pasi dan ia buru-buru membuka penutup matanya. Ia menatap lekat-lekat batu halus itu dan merabanya sekali lagi dengan mata telanjang.
Krak.
Salah satu teknisi iseng memukul batu itu dengan palu besi kecil dan batu halus itu langsung pecah berkeping-keping seperti kaca jendela biasa.
"I-ini benar-benar kaca imitasi? Bagaimana aku bisa tertipu semudah ini!" ratap master gemuk itu jatuh berlutut di lantai. Keringat dingin mulai bercucuran deras dari dahi Tuan Naga membasahi kerah kemejanya yang mahal.
"Kau tidak perlu meraba batu itu sama sekali Gibran, ilmu sihir apa yang kau pakai di dalam sana?!" bentak Tuan Naga panik. "Ini bukan sihir Tuan Naga, ini adalah perbedaan kasta mutlak antara seorang dewa dan sekumpulan serangga kotor," jawab Gibran dengan nada membekukan darah.
Pertandingan judi buta itu berubah menjadi pembantaian mental sepihak yang sangat mengerikan selama sepuluh menit berikutnya. Gibran menebak seluruh delapan batu tersisa dengan akurasi seratus persen tanpa meleset satu rupiah pun dari nilai aslinya.
Master ketiga, keempat, dan kelima hancur lebur harga dirinya hingga ada yang menangis memohon ampun di bawah kaki Gibran. Tuan Naga jatuh terduduk lemas di kursinya menatap sepuluh batu yang sudah terbelah sempurna di atas meja dengan tatapan kosong.
Srek.
Gibran membuka ikatan kain penutup matanya dan menatap lurus ke arah mata Tuan Naga yang kini dipenuhi keputusasaan absolut.
"Pertandingan sudah selesai Tuan Naga, kau kalah telak tanpa bisa membalas satu pukulan pun malam ini." "Sesuai perjanjian kita di awal, seluruh wilayah pasar giok provinsi ini resmi menjadi milikku sekarang," ucap Gibran melangkah maju perlahan.
Tuan Naga menelan ludahnya susah payah dan menatap ratusan pengawalnya yang juga sedang gemetar ketakutan melihat kehebatan Gibran. "K-kau memang menang judi ini Gibran, tapi kau pikir aku akan menyerahkan kekuasaanku begitu saja kepada anak ingusan?" kelit Tuan Naga mengingkari janjinya.
Klak klak klak.
Ratusan pengawal itu kembali menodongkan senjata api mereka ke arah Gibran mengikuti instruksi bos licik tersebut.
"Bunuh dia sekarang juga dan rampas mayatnya! Kita ambil Giok Salju Surgawi itu dari tangan mayatnya!" teriak Tuan Naga beringas. Gibran sama sekali tidak terlihat panik atau terkejut melihat pengkhianatan murahan dari bos mafia kampungan tersebut.
"Aku sudah menduga anjing liar sepertimu tidak akan pernah bisa diajari sopan santun untuk menepati janji." "Kapten Codet, berikan hadiah kejutan yang sudah kita siapkan untuk Tuan Naga ini," perintah Gibran melalui mikrofon kecil di kerah bajunya.
Brak brak brak.
Kaca-kaca ventilasi di langit-langit aula kasino itu mendadak pecah berhamburan ditembus oleh lemparan puluhan tabung kaleng kecil.
Pssssssst.
Asap putih tebal yang sangat pedih di mata langsung menyembur deras memenuhi seluruh ruangan bawah tanah tersebut dalam hitungan detik.
"Ukh! Asap air mata! Mataku perih sekali!" teriak para pengawal Tuan Naga menjatuhkan senjata mereka sambil menggosok mata. Di tengah kebutaan massal akibat gas air mata itu, Gibran melesat maju menembus kepulan asap layaknya hantu pencabut nyawa.
Wush. Krak.
"Aaaargh!"
Jeritan rasa sakit yang sangat melengking dari Tuan Naga menggema mengalahkan suara keributan di dalam aula.
Gibran baru saja mendaratkan tendangan brutalnya tepat ke kedua siku tangan Tuan Naga secara bergantian. "Aku datang menagih janjimu Tuan Naga, kedua tanganmu ini adalah bayaran lunas untuk bemper mobilku hari ini," bisik Gibran sedingin es.
Kehancuran Sindikat Giok Hitam resmi disegel malam itu dengan patahnya tulang lengan sang penguasa dunia bawah ibu kota provinsi.