Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Perasaan Tak Biasa
Reval hanya bisa menghela napas pelan. Kakek Algra melanjutkan, "Kamu tinggal di sini sementara. Pastikan dia makan, minum obat sesuai jadwal, tidak terlalu lelah, dan yang paling penting, tidak ada seorang pun yang mengganggunya."
Tatapan Kakek Algra berubah semakin serius. "Termasuk Vara. Kalau perlu, jangan biarkan mereka bertemu sampai keadaan Jenara benar-benar aman."
"Kakek ingin aku menjaga Jenara?"
"Aku ingin kau bertanggung jawab."
Kalimat itu membuat Reval tidak bisa membantah lagi. "Dia membawa anakmu, Reval. Terlepas dari apa pun yang terjadi di antara kalian, keselamatan Jenara dan bayi itu sekarang menjadi prioritas."
Reval mengangguk pelan, sebab ia tak bisa membantahnya kali ini. "Iya, Kek. Aku akan melakukannya."
Reval pun meninggalkan ruangan kerja itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia langsung berjalan pergi menuju mobil yang masih terparkir di depan. Dhana dengan cepat membukakan pintu, Reval langsung masuk dan menyuruh mobil segera dijalankan. Bahkan sepanjang perjalanan itu, Reval tidak mengatakan apapun selain menatap tajam kearah luar jendela.
...****************...
Kini Reval sudah berdiri di depan pintu Mansion dimana Vara tinggal selama ini. Ia tidak langsung masuk seperti biasanya. Reval hanya berdiri menatap pintu itu dengan ekspresi yang sulit dipahami. Namun tak lama kemudian pintu terbuka perlahan, disambut dengan senyuman Vara langsung mengembang.
“Sayang, kau datang."
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika melihat wajah Reval yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Ada apa?"
"Kita perlu bicara."
Sebelum Vara mempersilakannya masuk, Reval sudah berjalan lebih dulu melewatinya begitu saja. Bahkan Reval tidak berniat duduk sama sekali, ia berdiri membelakangi Vara dalam diam selama beberapa saat.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi pada Jenara."
Wajah Vara seketika berubah. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Jangan bohong." Suara Reval rendah, tetapi keras. "Sudah cukup, Vara."
Perempuan itu terdiam, ia sungguh tidak menyangka Reval akan semarah itu kepadanya. Padahal selama ini Reval akan selalu membelanya ataupun berpura-pura tidak tahu saat ia menindas Jenara. Namun, kenapa kali ini sangat berbeda?
"Jenara hampir kehilangan bayinya karena tekanan dan perlakuanmu."
"Aku tidak melakukan apa-apa sampai membuatnya keguguran."
"Hampir." Satu kata itu membuat Vara terdiam. "Dokter bilang kondisinya berbahaya. Dan sekarang aku tahu kau yang ada di balik semua itu.
Vara mengepalkan tangan."Aku hanya ingin dia tahu bahwa kamu adalah milikku."
"Sejak awal dia bukan penghalang hubungan kita. Dan kau tahu itu lebih dari siapapun."
"Lalu kenapa kau semarah ini padaku? Padahal dia tidak sedang mengandung anakmu, Reval!"
"Dan justru karena itu, aku harus menjaganya. Anak itu akan menjadi anakku… anak kita berdua. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu dengan sangat jelas."
Mata Vara memerah. "Jadi sekarang kamu membelanya?"
"Aku sedang melindungi apa yang menjadi tujuan utamaku."
"Apakah rencanamu itu lebih penting dari aku?"
Reval menatapnya lama. "Kalau kamu masih menganggap Jenara sebagai musuh hanya karena dia mengandung anak yang kelak akan menjadi anakku, berarti kamu tidak memahami apa yang sedang kamu lakukan."
Vara terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya. Air mata yang selalu berhasil membuat Reval luluh setiap kali melihatnya. Dan benar saja, Reval menarik napas. "Mulai sekarang, jangan dekati Jenara tanpa alasan yang jelas. Jangan menghubunginya. Jangan mengirim siapa pun untuk mengganggunya. Dan jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya lagi."
"Kamu mengancamku?"
"Aku memperingatkanmu." Tatapan Reval mengeras. "Karena kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada Jenara atau bayinya, aku sendiri yang akan memastikan kamu bertanggung jawab."
Vara memalingkan wajah. Dia murka, bahkan sangat murka karena Reval memarahinya dan membela wanita itu. Namun kali ini dia tidak membalas. Tidak berteriak. Tidak mengamuk. Dia hanya menggigit bibirnya kuat-kuat sambil menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Reval berbalik hendak pergi.
"Reval." Namun, panggilan Vara seketika membuat langkahnya terhenti.
"Apalagi?"
"Kenapa kamu terlihat seperti akan meninggalkanku?"
Reval terdiam beberapa saat. "Karena sekarang aku harus berada di tempat yang membutuhkanku."
Lalu dia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada Vara. Dhana yang memperhatikan pertengkaran itu hanya diam layaknya patung yang tidak memiliki mata dan telinga. Namun, diam-diam ia memperhatikan setiap sudut Mansion itu dengan teliti. Ia masih ingat dengan jelas perkataan Jenara, bahwa Reval selalu tinggal bersama kekasihnya. Bahkan menyimpan banyak berkas penting di sana. Kini Dhana akhirnya menemukan tempat yang Jenara maksud saat itu.
...****************...
Sepanjang perjalanan kembali, Reval terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggunya. Bahkan sesekali, Reval terus mengumpat tanpa sebab dan memukul kursi kosong disamping. Rupanya Reval sedang terganggu dengan perasaannya sendiri terhadap Jenara yang entah sejak kapan perasaan itu muncul.
“Sialan, aku benar-benar memarahi kekasihku hanya karena wanita itu. Apakah aku sudah gila? Sejak kapan perasaan menjijikan ini muncul? Benar-benar sialan… aku bahkan marah untuknya.” Reval terus mengumpat di dalam hatinya.
Dan tiba-tiba saja bayangan Dhana yang sedang meniduri Jenara kembali terlintas dibenaknya begitu saja. Membuat emosinya semakin memuncak, hingga tanpa sadar Reval menatap punggung Dhana dengan salah satu tangan yang bersiap mengeluarkan senjata apinya.
“Sial…” umpat Reval lagi sembari mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
Sedangkan Dhana dalam hati mencoba menebak-nebak sendiri, “Ada apa dengan bajingan ini? Apakah dia sedang menyesali pertengkarannya dengan kekasihnya itu?”
Beberapa jam kemudian, Reval tiba di rumah Jenara dengan sebuah koper. Ya, ia mampir ke Mansion Utama untuk mengambil sebagian barang pribadi sekaligus beberapa berkas pekerjaannya. Sebab Mansion yang ditinggali Jenara selama ini tidak ada satupun barangnya yang tertinggal di sana.
Reval tiba-tiba masuk ke kamar Jenar dengan menenteng koper yang dibawanya itu. Jenara yang sedang duduk di sofa menatap koper itu dengan bingung. "Reval?"
"Aku akan tinggal di sini sementara."
Jenara langsung mengernyit. "Untuk apa?"
"Perintah Kakek."
Reval meletakkan koper di dekat tangga. "Dia ingin aku memastikan kau dan bayinya baik-baik saja."
Jenara menundukkan pandangan. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu." Reval duduk tidak jauh darinya. "Tapi kali ini aku tidak mau mengambil risiko."
Jenara terdiam. Reval menatap perut Jenara yang masih belum terlalu terlihat. "Terutama setelah apa yang terjadi."
Jenara perlahan mengangkat wajah. "Kau sudah tahu?"
Reval mengangguk. "Aku sudah tahu."
“Dan kau tidak marah padaku untuk membela wanita jalangmu itu seperti biasanya?”
Perkataan Jenara tepat menusuk perasaan Reval. Hingga pria itu terdiam cukup lama sampai akhirnya tiba-tiba berkata, "Aku minta maaf."
Jenara awalnya tersenyum tipis berniat mengejeknya, seketika senyuman itu menghilang saat mendengar. Ia sungguh tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Reval sendiri. Jenara memilih tetap diam tidak menjawab permintaan maaf itu. Dan sepertinya Reval pun tidak berniat memaksanya.
Bersambung….