NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Anin Memilih

"...tangan itu palsu."

Suara Anin tidak keras, tetapi mikrofon membawanya ke setiap sudut ruangan.

Senyum Bimo lenyap.

Suryani setengah bangkit dari kursi. "Apa yang kau katakan?"

Anin mencengkeram mikrofon dengan kedua tangan. Wajahnya masih pucat, tetapi kali ini ia menatap lurus kepada semua orang.

"Tanda tangan pada dokumen pengalihan itu bukan tanda tangan Mbak Ratri. Saya tidak pernah melihat Mbak Ratri menandatanganinya. Pernyataan tertulis atas nama saya dibuat karena Mas Bimo menyuruh saya."

Ruangan meledak oleh suara kursi bergeser dan bisik-bisik.

"Pembohong!" Bimo berdiri. "Kau sendiri yang membawa cap dan kartu aksesnya!"

Kata-kata itu terlanjur keluar.

Pengacara keluarga menarik lengan jas Bimo, tetapi terlambat. Mbak Lia telah mengetik pengakuan tersebut ke dalam notula. Kamera di belakang ruangan masih menyala.

Ratri memandang Anin. "Lanjutkan."

Anin menelan ludah. "Saya pernah memberikan kartu akses kepada Mas Bimo. Saya juga mengambil cap dari ruang administrasi. Saya salah. Tetapi saya tidak membuat tanda tangan itu. Mas Bimo berjanji akan menikahi saya dan memberi saham. Tadi malam, dia mengancam akan menyebarkan rekaman lama kalau saya tidak bersaksi bahwa tanda tangan itu asli."

Yuliana menerobos dari baris belakang. "Anin, tutup mulutmu!"

Wira bergerak satu langkah dan berdiri di jalurnya.

"Dia anak saya!"

"Dan dia sedang memberi keterangan," kata Ratri. "Duduk, Tante Yuli."

Yuliana membeku mendengar sapaan dingin itu. Ia melihat Suryani, berharap mendapat bantuan. Perempuan itu justru memalingkan wajah, seolah mereka tidak pernah berbicara soal uang.

Anin melihat semuanya.

Sisa keraguannya runtuh.

"Mama menerima uang dari pihak Mas Bimo," katanya. "Mama meminta saya membantu mereka mengambil perusahaan ini."

Yuliana terduduk kembali. Bibirnya bergetar tanpa suara.

Bimo menunjuk Anin. "Dia mengaku mencuri cap dan memberikan akses. Kesaksiannya tidak bisa dipercaya. Dia hanya ingin menyelamatkan diri."

"Itu bagian pertama yang benar dari mulut Anda pagi ini," kata Ratri.

Ia akhirnya membuka map hitam.

Gerakannya tenang, hampir lambat. Namun, semua orang di ruangan tahu bahwa sesuatu telah berubah. Bimo tidak lagi tampak seperti pemilik masa depan. Ia tampak seperti terdakwa yang baru menyadari pintu di belakangnya sudah dikunci.

Ratri menyerahkan dokumen pertama kepada Mbak Lia.

"Tampilkan halaman tiga."

Layar berganti. Dua tanda tangan Ratri muncul berdampingan, satu dari arsip resmi dan satu dari dokumen pengalihan.

"Pemeriksaan grafis awal dilakukan oleh ahli independen. Pada tanda tangan kiri, tekanan pena berubah alami di tiga tarikan. Pada tanda tangan kanan, seluruh tekanan hampir sama dan terdapat jejak berhenti di dua titik. Itu ciri peniruan lambat, bukan gerak tangan pemilik tanda tangan. Laporan lengkap, identitas pemeriksa, dan rantai penerimaan dokumen tersedia untuk penyidik."

Pengacara keluarga mencoba menyela. "Pemeriksaan sepihak tidak membatalkan akta."

"Benar. Karena itu ada bukti kedua."

Mbak Lia menampilkan rekaman rapat daring dengan penanda waktu.

"Akta menyebut saya menandatangani dokumen di Jakarta Selatan pukul dua siang. Pada waktu yang sama, saya memimpin mediasi daring selama sembilan puluh dua menit. Rekaman disimpan oleh tiga pihak yang saling berlawanan kepentingan. Wajah, suara, dan layar kerja saya terlihat tanpa putus."

Salah satu pemegang saham di sisi kanan menutup salinan surat kuasanya.

Ratri mengangkat lembar berikutnya.

"Bukti ketiga. Nomor register dalam salinan akta meloncat ke urutan yang belum diterbitkan pada tanggal tersebut. Kode petugasnya tidak sesuai. Kantor notaris telah melakukan pengamanan register asli dan menyatakan nomor ini sedang diperiksa."

"Itu kesalahan administrasi," kata Bimo cepat.

"Tadi Anda bilang semua dokumen lengkap dan jelas. Sekarang palsu menjadi kesalahan administrasi?"

"Bukan saya yang membuatnya!"

Suryani menoleh tajam. "Bimo!"

Lagi-lagi terlambat.

Ratri tidak tersenyum. "Tenang. Kita belum sampai pada bagian Anda."

Wajah Bimo kehilangan warna.

Mbak Lia membuka tangkapan layar percakapan. Pesan Bimo kepada Anin tampil dengan nomor, waktu, dan salinan data penerimaan yang telah diamankan.

Besok kau naik ke depan, pegang mikrofon, lalu bilang tanda tangan itu asli.

Di bawahnya ada pesan terakhir.

Besok bantu aku, atau hidupmu selesai.

"Percakapan ini palsu!" teriak Bimo.

"Kalau begitu, kita dengarkan suara Anda."

Rekaman dari taman diputar.

Suara Bimo memenuhi ruangan dengan sangat jelas.

Aku juga bilang akan menikahimu. Semua tergantung apakah kau berguna atau tidak.

Tidak ada yang bergerak sampai rekaman berhenti.

Wira meletakkan sebuah benda kecil di depan Anin. Itu kartu penyimpanan yang selama ini dipakai Bimo untuk menakutinya. Di sampingnya ada hasil penelusuran salinan yang telah dikirim ke dua akun penyimpanan tersembunyi.

"Semua aksesnya sudah diamankan," kata Ratri. "Tidak ada yang akan menyebarkannya. Materinya hanya disimpan sebagai bukti pemerasan, dengan akses terbatas untuk penyidik dan dirimu."

Anin menatap kartu itu. Ia tidak pernah menceritakan isinya kepada Ratri. Ia bahkan tidak tahu kapan Wira berhasil mengambilnya dari Bimo. Beban yang selama berbulan-bulan menekan tengkuknya mendadak terangkat, menyisakan rasa malu yang jauh lebih tajam.

"Kenapa Mbak masih menolongku?" tanyanya.

"Saya sedang menghentikan tindak pidana," jawab Ratri. "Soal apakah kau masih pantas saya anggap keluarga, itu ditentukan oleh pilihanmu setelah hari ini."

Anin mengusap air mata dengan punggung tangan. Untuk pertama kalinya, jalan pulang itu tidak datang sebagai hadiah. Ia harus berjalan sendiri dan menanggung semua akibatnya.

Baskara duduk di sudut dengan satu tangan di sandaran kursi. Tatapannya tertuju pada Ratri, bukan pada adik seayahnya. Ia telah mengenal banyak orang yang berkuasa karena kekayaan, ketakutan, atau nama keluarga. Ratri berkuasa dengan cara lain. Ia membiarkan fakta berdiri sendiri, lalu membuat kebohongan mati karena beratnya sendiri.

Kebanggaan di wajah Baskara kini tidak disembunyikan lagi.

Sekar melihatnya. Untuk sesaat, amarahnya berubah menjadi kebingungan. Pria yang selama tiga tahun dianggap hilang itu tidak tampak seperti suami yang dipaksa kembali kepada perempuan kejam. Ia menatap Ratri seperti seseorang yang sedang menyaksikan hal paling berharga di dunia.

Namun, Sekar segera berdiri.

"Semua ini tidak mengubah reputasinya," katanya. "Seorang pemimpin tetap harus menjawab tuduhan kematian kakak saya."

Ratri menutup satu berkas sebelum menoleh. "Apakah Anda memiliki saham atau kuasa suara dalam perusahaan ini?"

"Tidak."

"Apakah agenda rapat mencantumkan pemeriksaan kematian Mbak Larasati?"

Sekar mengatupkan rahang. "Tidak."

"Kalau begitu, keberatan Anda dicatat sebagai pendapat pengamat yang tidak berkaitan dengan keabsahan dokumen. Jika Anda ingin membuka kembali kasusnya, datang kepada saya dengan bukti. Saya juga ingin tahu siapa yang membunuhnya."

"Jangan berpura-pura!"

"Saya tidak berpura-pura. Saya hanya tidak menggunakan kematian kakak Anda untuk menutupi kejahatan orang lain."

Sekar tidak mampu menjawab.

Mbak Lia melanjutkan prosedur. Berdasarkan pernyataan saksi, dugaan pemalsuan, ketidaksesuaian register, serta keberatan atas surat kuasa yang diperoleh melalui pembayaran tersembunyi, dokumen pengalihan tidak dapat dijadikan dasar perubahan kepemilikan. Kuasa suara yang disengketakan dikeluarkan dari hitungan sampai pemeriksaan selesai.

Tanpa kuasa tersebut, pihak pengusul kehilangan jumlah minimum untuk meloloskan keputusan.

Mbak Lia meminta konfirmasi satu per satu. Tiga pemegang saham menarik dukungan setelah melihat rekaman ancaman. Dua lainnya meminta nama mereka dicatat sebagai pihak yang menerima informasi menyesatkan dari Bimo. Semua perubahan suara dibacakan ulang, lalu peserta diminta memeriksa angka di layar sebelum pemungutan dimulai.

Pemungutan suara tetap dilakukan atas permintaan mereka.

Hasilnya muncul di layar.

Usulan perubahan kendali ditolak.

Mbak Lia mengetukkan palu sekali. "Dengan demikian, susunan kepemilikan dan pengurus tidak berubah. Dokumen yang disengketakan dibekukan dari seluruh proses internal. Sekretariat akan menyerahkan berita acara, rekaman rapat, dan salinan barang bukti kepada penyidik setelah laporan diterima."

Kalimat itu mengubah kekalahan bisnis menjadi ancaman pidana yang nyata. Tidak ada lagi senyum di sisi meja Bimo.

Beberapa pemegang saham yang semula berada di pihak Bimo buru-buru menyatakan tidak pernah diberi penjelasan lengkap. Seorang lainnya meminta surat kuasanya dibatalkan saat itu juga. Pengacara keluarga menutup koper, tetapi Wira berdiri di samping meja.

"Dokumen asli tetap di sini untuk dibuatkan salinan dan berita acara," kata Ratri. "Anda tadi menyatakan setuju melampirkannya pada notula."

"Kami tidak pernah menyetujui penyitaan."

"Bukan penyitaan. Belum."

Kata terakhir itu membuat tangannya berhenti.

Suryani bangkit dengan susah payah. "Kau pikir ini selesai? Kau masih menantu keluarga Adiningrat. Harta suamimu tetap milik keluarga kami."

Baskara akhirnya berbicara dari sudut ruangan.

"Harta istriku bukan milikmu."

Suryani menoleh dan baru menyadari bahwa Baskara berada di sana. Wajahnya menegang.

"Mas Baskara," Bimo berkata cepat, "mereka menjebak saya. Anin yang merencanakan semuanya."

"Aku mendengar suaramu sendiri."

Bimo tidak berani menatapnya lagi.

Ratri berdiri. "Bu Suryani, Mas Bimo, hari ini kalian kehilangan satu rapat. Jika menyentuh perusahaan saya lagi, saya akan memastikan yang kalian kehilangan berikutnya bukan sekadar suara."

Ia menoleh kepada Anin.

Gadis itu masih berdiri di dekat mikrofon, napasnya tidak teratur. "Mbak, aku..."

"Keteranganmu akan tetap diperiksa. Kartu akses dan cap yang kau ambil bukan kesalahan kecil."

Anin menunduk. "Aku tahu."

"Tapi catat bahwa kau memilih mengatakan kebenaran sebelum pemungutan suara."

Mata Anin memerah. Ratri tidak memeluknya dan tidak menawarkan pengampunan. Namun, satu kalimat itu cukup untuk memberinya jalan pulang yang semalam tidak ia lihat.

Rapat ditutup. Para peserta mulai meninggalkan kursi, tetapi kerumunan di dekat pintu mendadak terbelah.

Seorang pria berseragam kepolisian berdiri di ambang ruang pertemuan. Pangkat di bahunya membuat beberapa orang langsung membenahi sikap.

Kombes Pol Reza Pratama tidak memandang Bimo atau tumpukan barang bukti lebih dahulu.

Ia mencari Ratri.

Ketika mata mereka bertemu, Reza menundukkan kepala dengan sikap hormat yang terlalu dalam untuk sekadar urusan laporan pemalsuan dokumen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!