Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Bayangan
Matahari pagi di Manhattan gagal menembus tirai beludru berat yang menutupi jendela kaca raksasa kamar utama penthouse. Di dalam ruangan yang senyap dan terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, Ceisya melangkah perlahan mendekati meja rias marmer hitam yang memantulkan bayangan remang-remang. Jemari lentiknya meraih cangkir teh porselen yang masih mengepulkan uap tipis, merasakan kehangatan yang merambat di ujung jemarinya. Meskipun Sylus berusaha menjaga atmosfer tetap terkendali dan terlihat damai, indra keenam serta insting tajam seorang mantan agen bayangan di dunia lamanya tidak bisa dibohongi begitu saja. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh orang-orang di ring terdekat suaminya, sesuatu yang melibatkan bayang-bayang masa lalu yang mulai merayap mendekati benteng kekuasaan mereka.
Pintu kamar terbuka tanpa suara, memperlihatkan sosok Sylus yang melangkah masuk dengan setelan kemeja hitam legam yang belum dikancingkan sempurna di bagian atas. Pahat otot dada yang kokoh serta guratan bekas luka pertempuran menghiasi tubuh pria itu, menambah kesan berbahaya dari seorang penguasa mutlak dunia hitam. Pria itu baru saja menyelesaikan sesi koordinasi subuhnya dengan Logan di ruang kerja privat, memastikan bahwa setiap bidak catur di papan permainan bawah tanah bergerak presisi sesuai dengan strategi dan kehendaknya.
Melihat wanita yang menjadi candunya berdiri termenung di dekat jendela, langkah Sylus melambat dengan sendirinya. Dalam tiga langkah lebar yang nyaris tanpa suara, ia sudah mendekat dari belakang, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Ceisya dan membenamkan wajah di lekuk leher jenjang istrinya. Kehangatan tubuh pria itu langsung menyelimuti, menciptakan kontras yang tajam dengan dinginnya cuaca pagi di luar sana.
"Pagi, Ratu kecilku," bisik Sylus serak, napas hangatnya menggelitik kulit leher Ceisya. "Kenapa sudah bangun sepagi ini? Apa tempat tidurku kurang nyaman untukmu, atau pelukanku semalam kurang erat hingga membuatmu terjaga di tengah malam?"
Ceisya menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami, menikmati debar jantung pria yang selama ini ditakuti seluruh dunia hitam, namun begitu rapuh dan tunduk hanya kepadanya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan sang raja singa tersebut, tetapi ia juga tahu kapan waktunya untuk menumbuhkan taring yang siap merobek musuh-musuh yang berani mendekat.
"Tempat tidurmu terlalu nyaman, Sylus. Justru itu masalahnya," jawab Ceisya tenang, sudut matanya melirik pantulan manik mata merah menyala pria itu dari cermin di hadapannya. "Biasanya, kau tidak akan meninggalkanku sendirian di atas ranjang kecuali ada hal besar yang sedang bergerak di luar sana. Katakan padaku... siapa yang sedang menggali kubur mereka sendiri pagi ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu tajam, tanpa keraguan sedikit pun. Sylus terdiam sejenak sebelum sebuah tawa rendah yang bergetar lolos dari tenggorokannya. Pria itu memutar tubuh Ceisya agar menghadapnya penuh, menangkup rahang sang istri dengan kedua tangan besar yang terasa begitu panas, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu nyata dan tidak akan pernah bisa direbut oleh siapapun di dunia ini.
"Kau terlalu pintar untuk ukuran seorang figuran dalam cerita novel, Ceisya," puji Sylus, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi istrinya dengan gerakan yang hampir memuja. "Tapi biarkan urusan sampah-sampah di luar sana menjadi makananku. Tugasmu hanyalah tetap berada di sini, menjadi candu yang membuatku kehilangan kewarasan setiap detik."
"Sampah?" ulang Ceisya, sebelah alisnya terangkat menantang. "Artinya, ada yang benar-benar berani mengusik wilayah kita. Apakah itu sisa-sisa pengikut faksi barat... atau bayang-bayang dari masa lalu tubuh ini yang mulai merangkak keluar dari kuburnya?"
Sebelum Sylus sempat menjawab atau mengalihkan pembicaraan dengan ciuman posesifnya, suara ketukan pelan namun tegas terdengar di ambang pintu kamar yang terbuka. Logan berdiri di sana dengan ekspresi datar yang menyembunyikan ketegangan mutlak, memegang sebuah tablet hologram di tangannya. Kehadiran sang asisten di pagi buta seperti itu sudah menjadi pertanda bahwa situasi di luar benteng penthouse tidak sedang baik-baik saja.
Sylus mendengus pelan, menatap asisten setianya dengan kilatan mata tidak suka karena waktu intim mereka diusik begitu saja. "Masuk, Logan. Dan pastikan laporanmu sepadan dengan rusaknya pagi hariku, atau kau akan menyesal dilahirkan di dunia ini."
Logan melangkah masuk dengan postur tegap tanpa cela, memberikan gestur hormat singkat sebelum membuka data di tabletnya. "Tuan, laporan lapangan dari tim intelijen faksi barat menunjukkan pergerakan yang semakin agresif. Teknisi sewaan Seraphina baru saja menyelinap ke area parkir bawah tanah kita tiga puluh menit lalu, mencoba mendekati jalur hidrolik kendaraan utama yang biasa digunakan Nyonya Ceisya. Sesuai perintah Anda, tim kita membiarkan mereka menyelesaikan modifikasinya tanpa intervensi sedikit pun."
Mendengar kata sabotase kendaraan dan nama Seraphina disebut secara langsung, manik mata hijau Ceisya langsung memancarkan kilat bahaya yang dingin. Seluruh potongan teka-teki di kepalanya langsung terangkai sempurna. Jadi, wanita jalang dari faksi barat itu sudah berani bermain api di belakang punggung mereka, merencanakan pembunuhan terselubung menggunakan metode pengecut yang memuakkan.
Suasana di dalam kamar utama mendadak berubah menjadi medan magnet yang mematikan. Suhu udara seakan merosot drastis, membekukan setiap partikel oksigen di dalam ruangan. Sylus menoleh perlahan ke arah Ceisya, mengantisipasi reaksi kemarahan sang istri. Namun, alih-alih melihat ketakutan di wajah gadis itu, Sylus justru mendapati senyuman predator yang sangat mirip dengan ekspresi miliknya sendiri—senyuman dari seseorang yang menikmati aroma darah sebelum perburuan dimulai.
Ceisya melepaskan diri dari dekapan Sylus secara perlahan, melangkah maju menghadap Logan dengan aura dominasi yang membuat sang asisten senior seketika menunduk hormat, mengakui kehadiran seorang ratu sejati di samping pemimpin mereka.
"Seraphina..." bisik Ceisya pelan, suaranya terdengar begitu dingin namun mematikan, mengiris keheningan pagi. "Sepertinya wanita jalang itu lupa siapa pemilik sebenarnya jalanan Manhattan. Dia pikir aku adalah figuran malang dalam cerita bodoh yang bisa ditindas dan disingkirkan begitu saja?"
Sylus menyeringai lebar, rasa bangga dan cinta yang bercampur dengan obsesi gila membuncah di dadanya melihat sisi lain istrinya yang beringas dan tidak kenal takut. Ia merengkuh pinggang Ceisya kembali dari belakang, menenggelamkan dagunya di bahu sang istri, menghirup aroma tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang.
"Bagus, Ratu kecilku," bisik Sylus di dekat telinga Ceisya, suaranya penuh dengan janji pembantaian yang mutlak. "Kalau mangsa sudah berjalan sendiri masuk ke dalam kandang singa, maka tugas kita bukanlah mengusirnya... melainkan menutup pintu kandang itu rapat-rapat, membuang kuncinya, dan menikmati detik-detik terakhir kepanikan mereka sebelum kita mematahkan leher mereka satu per satu."