NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Aku Ditulis Mati di Novel Itu

"Dua tahun menikah, tapi telur saja lebih berguna daripada dia."

Ucapan itu meluncur tepat ketika telapak tangan Laras menyentuh lantai rumah sakit yang dingin.

Koper kainnya terguling di dekat pintu. Sebuah botol kecil berisi jamu hitam terlempar dari saku samping, menggelinding melewati sepatu para perawat sebelum berhenti di bawah kursi tunggu. Cairan keruh di balik kaca itu beriak, seperti lumpur yang tak pernah berhasil ia telan sampai habis.

Di sekelilingnya, suara orang-orang berdengung.

"Itu istrinya dr. Rendra, kan?"

"Yang katanya mandul?"

"Kasihan juga. Jauh-jauh datang malah bikin keributan."

Bau disinfektan menusuk hidung Laras. Tulang ekornya berdenyut akibat benturan, tetapi sakit itu kalah tajam dari pemandangan tiga langkah di depannya.

Rendra berdiri dengan satu tangan melindungi Vania. Jemari perempuan itu mencengkeram lengan jas dokternya, wajahnya pucat dan matanya basah. Di sebelah mereka, Bu Marni masih menggenggam tangan Vania seolah takut calon menantu kesayangannya direbut orang.

Mereka tampak begitu serasi.

Seorang ibu, putra kebanggaan, dan perempuan yang ingin dijadikan menantu.

Seperti keluarga kecil yang utuh.

Justru Laras yang tampak seperti orang asing.

Padahal tiga hari terakhir ia duduk berganti-ganti di bus, kapal, lalu travel antarkota demi sampai ke kota perbatasan ini. Pinggangnya nyeri, tenggorokannya kering, dan debu jalanan masih melekat di ujung roknya. Ia meninggalkan pekerjaan di klinik hewan kecil dekat kampung karena Rendra pernah berkata, dengan suara lembut yang selalu membuatnya percaya, bahwa mereka hanya perlu lebih sering bersama jika ingin punya anak.

Ia datang membawa pakaian, ijazah, dan seluruh hidupnya.

Yang menyambutnya adalah punggung suaminya yang merangkul perempuan lain.

"Laras, berdiri." Rahang Rendra mengeras. Suaranya ditekan serendah mungkin, seakan perempuan yang baru saja ia dorong jatuh adalah satu-satunya orang yang mempermalukannya. "Semua orang melihat."

Laras menatap tangan laki-laki itu.

Tangan yang dahulu membawakan obat ketika ia demam. Tangan yang menuliskan jadwal minum vitamin di secarik kertas. Tangan yang beberapa detik lalu mencengkeram bahunya dan mendorongnya tanpa ragu.

"Kau menyuruhku berdiri?" Suaranya pecah. "Setelah aku melihat kalian seperti ini?"

Vania buru-buru melepaskan lengan Rendra. "Mbak Laras, jangan salah paham. Aku tadi hampir terpeleset. Mas Rendra cuma menolongku."

"Hampir terpeleset selama apa?"

"Laras!" bentak Bu Marni. "Jaga mulutmu. Vania sudah repot-repot mengurus Mama sejak tadi pagi. Kamu baru datang, bukannya memberi salam malah menyerang orang. Memang begini caramu jadi istri?"

Baru datang.

Dua kata itu menghantam lebih keras daripada dorongan Rendra.

Selama dua tahun pernikahan, Laras tinggal di rumah Bu Marni di Jawa, melayani perempuan itu sambil menunggu Rendra yang selalu punya alasan untuk tidak membawanya ke NTT. Rumah sakit sibuk. Rumah dinas belum siap. Kota perbatasan terlalu keras untuknya. Tiket mahal. Cuti sulit.

Ia percaya semuanya.

Ketika setiap bulan belum juga ada dua garis, Bu Marni mulai membawanya dari satu pengobatan ke pengobatan lain. Jamu pahit. Ramuan yang membuat perutnya melilit. Air jampi dari Mbah Karyo yang berbau kemenyan. Laras bahkan pernah muntah di lantai dapur, lalu dipaksa menghabiskan sisa cairan karena Bu Marni bersumpah rasa mual adalah tanda ramuan sedang bekerja.

Rendra tahu.

Setiap kali Laras mengadu lewat telepon, suaminya hanya berkata, "Mama ingin yang terbaik. Sabar dulu, ya."

Laras meraih dudukan kursi untuk bangkit, tetapi kepalanya mendadak berdenyut.

Suara-suara di lobi menjauh.

Lampu putih di langit-langit pecah menjadi serpihan cahaya. Dalam satu tarikan napas, potongan kalimat yang bukan miliknya menyerbu benak Laras.

Judul sebuah novel berseri.

Sampul dengan gambar perempuan menangis di depan rumah sakit.

Komentar para pembaca yang memaki seorang mantan istri bodoh karena terus mengejar laki-laki yang tidak pernah membelanya.

Lalu satu paragraf yang pernah dibacanya sambil lalu, entah kapan, entah di kehidupan yang mana.

Larasati hanyalah mantan istri karbitan yang sengaja diciptakan untuk membuat cinta Rendra dan Vania terlihat lebih agung. Setelah melihat kedekatan mereka, ia membuat keributan, ditinggalkan suaminya, lalu mengakhiri hidup dalam keputusasaan. Kematiannya hanya menjadi satu kalimat pendek sebelum kisah berpindah pada pernikahan mewah pasangan utama.

Napas Laras berhenti.

Ia ingat.

Ia pernah membaca novel itu.

Dan perempuan bodoh yang ditulis mati itu adalah dirinya.

Ujung jemarinya mendingin. Untuk sesaat, rasa takut merambat dari tengkuk sampai ke punggungnya. Ia melihat koridor di sebelah kanan dan mendadak tahu apa yang seharusnya terjadi setelah ini. Ia akan menangis, memohon Rendra memilihnya, lalu lari tanpa arah ketika semua orang menertawakan dirinya.

Cerita itu sudah menyiapkan kematiannya.

"Laras?"

Suara Rendra menariknya kembali ke lobi.

Laki-laki itu akhirnya mengulurkan tangan, tetapi hanya setelah melirik dua dokter yang baru keluar dari lift. Kepedulian yang terlambat itu begitu rapi sehingga hampir tampak tulus.

Hampir.

"Ayo berdiri," katanya lebih lembut. "Kamu kelelahan. Kita bicara di tempat lain."

Laras memandang wajah tampan yang dahulu membuatnya bertahan. Dalam ingatan novel itu, Rendra memang mengejarnya mati-matian sebelum menikah. Bukan karena cinta yang dalam. Ia hanya terpikat wajah Laras, tahi lalat merah di ujung matanya, dan lesung pipi yang membuat banyak orang menoleh.

Setelah kecantikan itu menjadi miliknya, ia menganggapnya biasa.

Setelah Laras gagal memberinya anak, ia menganggapnya beban.

"Dulu dr. Rendra sampai bolak-balik ke rumahnya, ya," bisik seorang perempuan di belakang deretan kursi.

Temannya mendengus lirih. "Katanya tergila-gila karena Laras cantik sekali. Sekarang ada perawat muda, yang lama dibuang. Laki-laki memang begitu."

Rendra pasti mendengarnya. Tatapannya sempat jatuh ke wajah Laras, berhenti sepersekian detik pada tahi lalat di ujung mata kirinya, lalu beralih dengan cepat.

Jeda sekecil itu justru membuat semuanya terasa lebih menjijikkan.

Laras menepis tangannya dan berdiri sendiri.

Nyeri menjalar dari pinggang saat ia menegakkan tubuh. Ia menahannya tanpa suara, lalu menepuk debu di rok satu kali, dua kali. Tangis yang tadi memenuhi dadanya surut, meninggalkan ruang dingin yang sangat luas.

Jika semua ingatan itu benar, memohon hanya akan membawanya menuju akhir yang sudah ditulis orang lain.

Ia tidak mau mati demi laki-laki seperti Rendra.

Ia bahkan tidak mau menangis satu kali lagi untuknya.

"Nah, begitu." Bu Marni mendecakkan lidah. "Jangan duduk di lantai seperti orang kesurupan. Kamu sengaja mau bikin pasien takut?"

Laras menoleh kepadanya. "Botol itu masih Anda kenali?"

Bu Marni mengikuti arah pandangnya. Wajahnya berubah sesaat ketika melihat botol jamu di bawah kursi.

"Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Jamu subur dari Mbah Karyo. Anda memaksa saya meminumnya tiga kali sehari."

"Mama melakukan itu supaya kamu bisa memberi Rendra anak!" Bu Marni kembali meninggikan suara, kali ini dengan telunjuk teracung. "Dua tahun, Laras. Dua tahun kamu jadi istri anakku, tapi perutmu tetap kosong. Perempuan lain mungkin sudah memberiku dua cucu."

Tak seorang pun di lobi itu mengetahui ironi yang sesungguhnya. Bukan tubuh Laras yang membuat dua tahun pernikahan mereka tetap tanpa anak. Sumber masalahnya berdiri di hadapan mereka dengan jas dokter yang rapi, menyembunyikan rahasia yang kelak akan menghancurkan seluruh kebohongannya.

Beberapa ponsel terangkat. Seorang perawat tampak hendak menegur, tetapi temannya menahan lengan perempuan itu. Semua orang ingin mendengar kelanjutannya.

Laras juga mendengar bunyi rekaman dimulai dari suatu tempat.

Bagus.

Untuk pertama kalinya, ia tidak takut aib keluarga mereka keluar dari balik pintu.

"Mama, cukup," kata Rendra. Matanya bukan tertuju pada Laras, melainkan pada ponsel-ponsel di sekitar mereka. "Ini rumah sakit."

"Kenapa harus cukup? Biar semua orang tahu istrimu tidak berguna." Bu Marni meraih tangan Vania lagi dan menariknya mendekat. "Coba lihat Vania. Terpelajar, sopan, tahu cara merawat orang tua. Kalau perempuan seperti dia jadi menantuku, hidupku pasti tenang. Bukan seperti ayam yang tidak bisa bertelur ini."

Vania menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis sebelum ia buru-buru memasang wajah prihatin.

"Ibu, jangan bandingkan kami," ucapnya pelan. "Mbak Laras pasti sudah berusaha."

Kalimat manis itu seperti pisau yang dibungkus kain sutra.

Laras menatap Vania tanpa berkedip. Dalam novel, perempuan inilah tokoh utama yang akan dipuji karena sabar, cerdas, dan pantas mendampingi Rendra. Semua luka Laras hanya digunakan sebagai tangga agar Vania terlihat semakin baik.

Namun ada sesuatu yang terasa ganjil pada sorot mata perempuan itu. Terlalu tenang. Terlalu yakin bahwa setiap kejadian akan berjalan sesuai rencana.

Laras menyimpan keganjilan itu di kepalanya.

"Cukup, Vania," kata Rendra, lalu menghadap Laras lagi. "Kamu datang tanpa memberi kabar. Tentu kamu kaget melihat dia bersama kami. Tapi Vania hanya membantu Mama kontrol. Tidak ada hubungan apa pun di antara kami."

"Tidak ada hubungan?"

"Tidak ada." Rendra menghela napas, seolah kesabarannyalah yang sedang diuji. "Kamu istriku. Aku tidak mungkin mempermalukanmu."

Tawa kecil lolos dari mulut Laras.

Pahit, tetapi jernih.

"Kamu sudah melakukannya."

Rendra menegang.

"Aku duduk berhari-hari di perjalanan karena kamu bilang kita harus tinggal bersama." Laras menunjuk koper yang masih tergeletak dekat pintu. "Aku meninggalkan pekerjaanku. Aku membawa semua milikku. Begitu sampai, aku melihat suamiku merangkul perempuan lain sementara ibunya menawarkan posisi menantu kepada perempuan itu di depan umum. Lalu suamiku mendorongku ke lantai karena aku dianggap membuat malu. Bagian mana yang menurutmu belum cukup memalukan?"

Lobi mendadak lebih sunyi.

Seorang pasien tua menggeleng pelan. Dua perawat yang tadi berbisik kini menatap Rendra dengan sorot berbeda.

Wajah Rendra memerah. "Aku refleks mendorongmu karena kamu hendak menyerang Vania. Jangan memutarbalikkan keadaan."

"Benar, Mbak." Vania menyentuh lengan Rendra lagi, lalu seolah baru sadar dan cepat-cepat menarik tangannya. "Mas Rendra cuma melindungiku. Tolong jangan rusak pekerjaannya karena salah paham."

"Lihat?" Bu Marni menyahut. "Vania masih memikirkan karier Rendra setelah kamu hampir mencakarnya. Kamu malah datang membawa drama. Kalau tahu diri, pulang saja ke Jawa."

Pulang.

Dalam cerita lama, itulah yang seharusnya Laras lakukan sebelum akhirnya hancur.

Ia memandang botol jamu yang masih tergeletak di bawah kursi. Cairan hitam itu pernah menjadi lambang kegagalannya, bukti bahwa tubuhnyalah yang dianggap rusak. Sekarang ia melihatnya dengan cara lain.

Itu bukti.

Bukti pemaksaan, penghinaan, dan kelalaian seorang dokter yang membiarkan istrinya menelan ramuan tanpa tahu isinya.

Laras berjalan ke kursi, membungkuk, lalu mengambil botol tersebut. Ia membungkusnya dengan saputangan dan memasukkannya kembali ke tas. Bu Marni mengikuti setiap gerakannya dengan gelisah.

"Untuk apa kamu simpan itu?" tanyanya tajam.

"Supaya saya tidak lupa apa yang keluarga ini lakukan kepada saya."

"Keluarga ini?" Rendra mengulang, suaranya makin rendah. "Laras, jangan bicara seolah kita orang lain."

Laras berdiri tegak di hadapannya.

Ketakutan tadi telah hilang. Begitu pula harapan bahwa laki-laki ini akan berubah jika ia cukup sabar, cukup patuh, atau cukup menderita.

Novel itu boleh saja menulis Laras sebagai perempuan bodoh yang mati setelah dibuang.

Namun hidup ini ada di tubuhnya sekarang.

Ia yang akan menentukan akhir ceritanya.

"dr. Rendra Kusnadi," panggil Laras dengan tenang.

Rendra membeku. Selama dua tahun, Laras tidak pernah menyebut gelarnya dengan jarak sedingin itu.

"Apa?"

Laras mengangkat dagu. Tatapannya menyapu Vania yang menahan napas, Bu Marni yang masih memasang wajah menghina, lalu kembali pada laki-laki yang pernah menjadi pusat dunianya.

"Kita cerai."

Tak ada satu pun suara terdengar di lobi.

Wajah Rendra berubah.

1
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!