NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Jahat

​Mobil van hitam itu langsung tancap gas, melesat meninggalkan kawasan perumahan dengan kecepatan tinggi, membawa Bu Arma yang terikat ketakutan di dalam jok belakang sementara suaminya terkapar tak berdaya di lantai rumah.

​Kurang dari satu jam kemudian, sebuah taksi online berhenti di depan gang rumah Pak Pamuji. Rafa Sasmita turun dari mobil dengan membawa sekantong belanjaan kecil berisi obat-obatan dan makanan kesukaan ibunya. Hari itu, ia merasa sedikit lebih lega karena dokumen dan strategi hukum bersama Sean Andrew Lee berjalan lancar. Ia tidak sabar untuk menceritakan kemajuan itu kepada kedua orang tuanya.

Namun, begitu ia melangkah mendekati rumah, alisnya berkerut dalam. Pintu depan rumah terbuka lebar, dan ada ceceran darah segar di teras. Jantung Rafa langsung berdegup kencang, firasat buruk menghantam dadanya bagaikan sambaran petir di siang bolong.

​"Bapak? Ibu?" panggil Rafa dengan suara bergetar, ia berlari masuk ke dalam rumah.

​Pemandangan yang menyambutnya di ruang tamu membuat sekujur darah Rafa mendadak membeku.

​"Bapak!" teriak histeris Rafa saat melihat ayahnya tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan genangan darah di sekitar kepalanya.

Rafa menjatuhkan kantong belanjaannya, berlutut di samping ayahnya, dan mengguncang-guncang tubuh Pak Pamuji dengan air mata yang langsung tumpah ruah. "Bapak! Bangun, Pak! Ini Rafa! Ya Allah, siapa yang melakukan ini?!"

​Pak Pamuji mengerang pelan, kelopak matanya perlahan terbuka sedikit dengan wajah yang sangat pucat. "Rafa... ibu..." bisik pria tua itu terbata-bata sebelum kembali kehilangan kesadarannya karena luka benturan yang cukup parah di kepalanya.

​Rafa mendongakkan kepalanya, matanya menyapu seluruh ruangan yang tampak berantakan. Pecahan gelas berserakan, kursi bergeser kacau, dan yang paling membuat jiwanya seolah tercabut dari raga adalah kenyataan pahit:

​Ibunya tidak ada di sana.

"Ibu...?" panggil Rafa dengan suara parau, berlari kecil ke dapur, lalu ke kamar tidur utama, mencari ke setiap sudut rumah. Kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Bu Armayani.

​Rafa terduduk lemas di lantai ruang tamu, napasnya tersengal-sengal, dadanya sesak luar biasa hingga ia kesulitan menghirup oksigen. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Ia tahu persis siapa pelaku di balik teror biadab ini. Tidak mungkin orang lain. Ini adalah pekerjaan Zaskia Mulandari dan keluarga Wirya Negara, yang sudah kehilangan akal sehat karena terdesak oleh bukti-bukti hukum yang mereka miliki.

****

Kemarahan yang membara, jauh lebih panas dari api apa pun, mendadak meledak di dalam dada Rafa. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata yang menyalang tajam penuh dendam kesumat.

​Rafa merogoh saku jaketnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mendial nomor satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini di kota ini.

​"Sean..." ucap Rafa dengan suara bergetar penuh kemarahan saat panggilan itu tersambung di deringan pertama. "Ibu saya... Ibu saya diculik oleh Zaskia. Dan ayah saya... ayah saya sekarat di lantai rumah. Tolong saya, Sean... tolong saya selamatkan ibu saya."

Di ujung telepon, suara Sean Andrew Lee berubah menjadi sangat dingin dan tegas, menyadari bahwa permainan kotor ini telah melewati batas kemanusiaan yang paling dasar.

​"Tenang, Rafa. Saya akan kerahkan seluruh sumber daya saya sekarang juga," jawab Sean dengan nada penuh janji kematian bagi para pelaku. "Kita akan buru mereka sampai ke lubang semut sekalipun."

​Rafa menutup teleponnya. Ia menatap tubuh ayahnya yang tergeletak lemah, lalu mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan sampai berdarah.

"Zaskia... Nena... Evan..." bisik Rafa dengan suara penuh kutukan yang mengerikan. "Kalian sudah menyentuh orang yang paling berharga di dalam hidupku. Aku bersumpah, demi apapun yang tersisa dalam diriku, aku akan mencabik-cabik hidup kalian tanpa sisa!"

​Di luar, malam mulai merayap turun membawa badai yang sesungguhnya. Permainan hukum telah usai; kini saatnya hukum rimba dan pembalasan mutlak mengambil alih.

****

Udara di kawasan Puncak terasa menusuk tulang, membawa serta hawa dingin yang merayap di sela-sela kabut tebal yang menyelimuti perkebunan teh. Di sebuah gudang tua yang tersembunyi jauh dari jalan utama, tempat yang dulunya mungkin digunakan untuk menyimpan pupuk dan alat tani kini berubah menjadi penjara bagi nyawa yang tak bersalah.

​Bu Armayani duduk terikat di atas kursi kayu yang sudah reyot. Tangannya diikat ke belakang dengan kabel ties yang menyayat kulitnya, sementara mulutnya dibekap rapat dengan lakban hitam yang tebal. Wajah wanita tua itu bengkak dan lebam akibat perlakuan kasar di perjalanan, namun matanya—mata seorang mantan guru yang tegas—masih menatap tajam ke arah dua sosok wanita yang berdiri di depannya: Nena Apriandini dan Zaskia Mulandari.

​Nena, dengan gaya angkuh yang khas, mondar-mandir di depan kursi Bu Arma dengan tawa melengking yang terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Ia berhenti tepat di hadapan Bu Arma, lalu dengan kasar mencengkeram dagu wanita tua itu, memaksanya menengadah menatap wajah penuh kebenciannya.

​"Lihat dirimu sekarang, Bu Guru," ejek Nena dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Di mana martabatmu? Di mana harga dirimu? Kamu hanyalah umpan, umpan untuk menghancurkan anakmu yang mandul itu!"

Nena melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Bu Arma terhentak. "Jangan berharap pria dari Singapura itu bisa menolongmu. Jangan berharap si Rafa yang tidak berguna itu bisa datang menyelamatkanmu. Sean Andrew Lee itu tidak tahu apa yang sedang ia hadapi di Jakarta ini. Dia hanyalah orang asing yang akan berakhir di rumah sakit atau mungkin di kamar mayat!"

​Zaskia, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan sambil memegang ponsel, tertawa membahana. Tawanya terdengar sangat memuakkan, penuh dengan histeria sadis yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa mual.

​"Tante benar," sahut Zaskia, melangkah mendekat dengan senyum yang menyiratkan rencana paling jahat yang pernah ia susun. "Aku sudah mengantisipasi langkah mereka. Aku tahu si janda miskin itu pasti akan melibatkan Sean. Jadi, aku sudah meminta Evan untuk memberikan 'hadiah' perpisahan yang sangat spesial untuk pria Singapura itu."

****

Zaskia menatap Bu Arma dengan tatapan yang sangat dingin. "Evan sekarang sedang berada di jalan tol, mengikuti mobil Sean. Aku sudah menyewa truk besar untuk memastikan mobil Sean tidak akan pernah sampai ke tujuan. Kecelakaan itu akan terlihat seperti tragedi kemanusiaan yang sangat tragis di jalan tol."

​Zaskia tertawa histeris, tawa yang penuh dengan kepuasan akan kehancuran yang ia rencanakan.

"Bayangkan, Rafa akan kehilangan pelindung satu-satunya dalam sebuah kecelakaan maut. Setelah itu, dia akan benar-benar sendirian di dunia ini. Dan di saat itulah, kita bisa menghabisinya dengan cara yang paling lambat dan menyakitkan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!