"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Berangkat ke Kota Selatan
Nayla Wicaksana datang sepuluh menit lebih awal.
Arya baru keluar dari Rumah Bukit ketika sebuah SUV hitam berhenti di depan gerbang. Pintu belakang terbuka, dan Nayla turun dengan kemeja linen putih, celana gelap, sepatu rendah, serta tas kecil yang tampak terlalu ringan untuk perjalanan tiga ratus kilometer.
Pak Satria yang sedang memeriksa bagasi menatap tas itu.
"Nona Nayla hanya membawa satu tas?"
Nayla mengangkat dagu. "Saya mau mengambil tanah, bukan pindah rumah."
Pak Satria menahan senyum. "Baik, Nona."
Arya berjalan mendekat. "Kamu yakin ikut?"
"Aku yang meminta."
"Kota Selatan bukan tempat nyaman."
"Aku lahir di keluarga Wicaksana, Arya. Nyaman itu sudah lama tidak jadi syarat hidup."
Jawaban itu membuat Pak Satria benar-benar tersenyum kali ini.
Arya tidak membantah. Ia membuka pintu mobil.
Nayla melihat ke kursi depan. "Aku duduk di depan."
Pak Satria yang sudah hampir masuk ke depan langsung mundur sopan. "Silakan."
Nayla masuk tanpa rasa bersalah.
Arya duduk di belakang bersama berkas. Pak Satria mengemudi.
Mobil meninggalkan Rumah Bukit ketika matahari baru naik. Jalan turun dari bukit masih basah oleh embun. Kota Awan perlahan terbuka di bawah, gedung-gedung kaca, atap rumah, dan garis tol yang memanjang ke selatan.
Di dalam mobil, layar tablet menampilkan peta aset Wicaksana.
"Lahan itu berada di sisi timur pelabuhan lama Kota Selatan," kata Arya. "Nilainya lima puluh delapan miliar berdasarkan appraisal terakhir, tetapi nilai strategisnya lebih besar. Jalan logistik baru akan lewat dua kilometer dari sana."
Nayla menoleh dari kursi depan. "Itu sebabnya PT Pelayaran Jaya menahan sertifikat?"
"Mereka tidak memegang sertifikat asli. Mereka menguasai akses fisik, memalsukan perjanjian pengelolaan, lalu membuat kantor proyek di atas lahan."
"Herman Santoso."
"Pemilik PT Pelayaran Jaya. Di Kota Selatan, dia bukan hanya pengusaha. Dia mengatur kontraktor, vendor pelabuhan, beberapa notaris, dan punya hubungan dengan Geng Macan Hitam."
Nayla memutar tubuh. "Geng?"
"Kelompok preman lokal. Mereka dipakai untuk menekan pemilik tanah, mengusir penyewa, dan memastikan tidak ada yang berani membawa perkara ke pengadilan."
"Jadi ini bukan negosiasi."
"Negosiasi tetap dimulai dulu."
"Dan kalau mereka menolak?"
Arya menatap jendela. "Maka kita berhenti bicara dengan cara yang mereka sukai."
Nayla memperhatikannya beberapa detik.
"Kamu selalu bicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seolah-olah semua risiko sudah kamu ukur, bahkan sebelum orang lain sadar ada risiko."
Pak Satria berkata dari depan, "Tuan Muda memang begitu sejak muda."
"Saya tidak bertanya kepada Bapak, Pak Satria."
"Maaf, Nona. Kebiasaan orang tua yang bangga."
Nayla tertawa pendek.
Arya menggeser satu dokumen ke kursi depan. "Baca halaman tiga."
Nayla mengambilnya. Matanya bergerak cepat, lalu mengeras. "Mereka memalsukan tanda tangan kuasa pengelolaan?"
"Bukan tanda tangan utama. Mereka memakai lampiran yang sengaja dibuat kabur, lalu menggunakannya untuk membuka akses proyek sementara."
"Dan keluarga kami membiarkan?"
"Keluargamu menunggu karena Soedirman tidak mau konflik fisik. Pilihan itu masuk akal saat lawannya masih pengusaha. Tidak lagi saat lawannya memakai geng."
Nayla menutup dokumen perlahan. Api di matanya menjadi lebih tenang, tetapi lebih tajam.
"Kalau begitu aku tidak hanya ikut sebagai cucu Eyang," katanya. "Aku ikut sebagai saksi bahwa Wicaksana berhenti takut."
Perjalanan masuk tol. Sawah, gudang logistik, warung pinggir jalan, dan truk-truk besar berganti di luar kaca. Mereka berhenti sekali di rest area untuk kopi dan sarapan sederhana.
Nayla memilih lontong sayur pedas, lalu menatap Arya yang hanya mengambil kopi hitam.
"Kamu tidak makan?"
"Sudah."
"Kapan?"
"Sebelum kamu datang."
"Jam berapa?"
"Lima."
Nayla menggeleng. "Kamu hidup seperti jadwal operasi militer."
"Membantu saat menghadapi orang yang hidup seperti kriminal."
Ia hampir tersenyum lagi, tetapi menahannya.
Setelah kembali ke mobil, suasana menjadi lebih ringan. Pak Satria memutar radio berita pelan. Di layar ponsel Nayla, beberapa pesan dari Soedirman masuk. Ia membalas satu per satu, memberi kabar bahwa perjalanan aman.
Lalu tiba-tiba ia bertanya, "Kamu dan Andini sebenarnya apa?"
Pak Satria batuk kecil di kursi depan.
Arya mengangkat mata dari berkas. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kak Dini jarang membawa laki-laki ke urusan pribadi. Dia menyebut namamu dengan cara yang... berbeda."
"Kami berteman."
"Teman yang makan malam, membantu proyek, dan membuat wajahnya merah?"
Pak Satria menatap jalan dengan sangat serius, terlalu serius.
Arya menutup map. "Dini orang baik."
"Aku tidak bertanya apakah dia baik."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin tahu apakah selama perjalanan ini aku sedang duduk dengan calon suami sahabatku."
Kali ini Arya benar-benar terdiam.
Nayla menoleh ke jendela, tetapi sudut bibirnya naik sedikit. "Tenang. Aku hanya penasaran. Jangan merasa terlalu penting."
Pak Satria tidak berhasil menahan tawa kecil.
Nayla langsung menoleh. "Pak Satria."
"Saya tidak mendengar apa-apa, Nona."
"Bagus."
Perjalanan berlanjut. Menjelang siang, udara berubah lebih panas. Kota Selatan muncul sebagai bentangan pelabuhan, gudang, jalan sempit, hotel tua yang diperbarui, dan gedung baru yang tumbuh terlalu cepat. Tidak sebersih Kota Awan. Tidak serapi Jakarta. Namun ada uang yang bergerak di setiap sudutnya.
Arya melihat kontainer bertumpuk di kejauhan.
"Kota ini hidup dari arus barang. Siapa yang menguasai jalur bongkar muat, gudang, dan izin lahan, menguasai separuh kota."
"Dan Herman Santoso menguasai itu?"
"Sebagian besar. Sisanya dibuat takut."
Nayla menggenggam ponselnya. "Eyang pernah bilang, Wicaksana terlalu lama membiarkan urusan ini karena tidak mau perang terbuka."
"Orang seperti Herman tumbuh dari ruang yang ditinggalkan orang baik."
"Kalau begitu kita ambil kembali ruang itu."
Arya menatapnya.
Nayla tidak menghindar.
Di wajahnya tidak ada kelembutan Andini, tidak ada keteduhan Ratna. Yang ada adalah api yang rapi disimpan di balik garis dagu tegas.
Mobil berhenti di hotel bisnis dekat pelabuhan.
Pak Satria mengurus kamar dan ruang rapat kecil. Arya naik ke suite yang disiapkan sebagai pos sementara. Belum lima menit ia membuka laptop, ponselnya bergetar.
Pesan anonim.
Arya Suryanegara, selamat datang di Kota Selatan.
Di sini bukan Kota Awan.
Pergi sebelum malam, atau tinggal dan tanggung akibatnya.
Nayla membaca dari belakang bahunya.
"Cepat juga mereka tahu."
Arya memasukkan ponsel ke saku.
"Berarti jaringan mereka gugup."
"Atau percaya diri."
"Dua hal itu sering terlihat sama sebelum orang jatuh."
Nayla melipat tangan. "Apa rencana pertama?"
Arya melihat peta Kota Selatan di layar.
"Kita tidak mendatangi kantor Herman dulu."
"Kenapa?"
"Orang seperti itu tidak selalu bicara jujur di kantor. Mereka bicara jujur di tempat mereka merasa berkuasa."
Pak Satria masuk membawa map lokal. "Klub Pangeran, Tuan Muda. Tempat berkumpul pengusaha pelabuhan, pejabat kecil, dan orang-orang Herman."
Arya berdiri.
"Malam ini kita ke sana."
Nayla mengambil tas kecilnya. "Aku ikut."
"Aku tahu kamu akan mengatakan itu."
"Bagus. Hemat waktu."
Di luar jendela, pelabuhan Kota Selatan bergerak dengan suara besi, mesin, dan uang.
Arya memandang kota itu tanpa senyum.
Ancaman sudah datang sebelum salam.
Itu berarti tuan rumahnya tidak sabar dibuat takut.