Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Resepsi pernikahan dilangsungkan malam harinya di sebuah ballroom hotel bintang lima milik keluarga Raymond, tempat di mana kemewahan mutlak dipamerkan tanpa batas. Ribuan tangkai mawar putih impor, pilar-pilar es berukir megah, serta ornamen kristal berkilauan menghiasi setiap sudut ruangan yang dipadati oleh kaum elite, pejabat tinggi dan para raja media ibu kota.
Di sudut meja kehormatan, Nenek Fia dan Tante Thania duduk dengan senyum yang terus mengembang lebar, menikmati tatapan iri dan ucapan selamat dari para relasi bisnis yang mengira keluarga Andreas kini telah resmi bersanding dengan dinasti paling berkuasa di negeri ini.
Sedangkan Mama Dania dan Papa Freddy berdiri di panggung utama bersama dengan keluarga Raymond, mereka menyambut para tamu dengan senyuman lebar. Namun, di balik senyum lebar itu, tangan Mama Dania terus meremas gaun bagian belakang karena cemas, menunggu detik-detik di mana Kyra atau pihak Raymond melakukan kesalahan yang membongkar sandiwara busuk mereka.
Sementara itu, Kyra berdiri kaku di samping suaminya. Selama berjam-jam, ia harus memasang senyuman palsu, menyambut ucapan selamat dari ratusan orang asing yang tidak ia kenal dan mengenalkan dirinya sebagai menantu keluarga Raymond.
Kaki Kyra terasa pegal luar biasa karena berdiri mengenakan sepatu hak tinggi berhias kristal, sementara gaun pengantin berat berserat sutra itu membatasi setiap gerakannya.
Disisi lain, Brian tampak begitu menikmati perannya. Pria itu berdiri dengan postur tegap, merangkul pinggang Kyra dengan posesif setiap kali kamera media menyorot ke arah mereka. Namun, di balik senyum sopan yang ia berikan kepada para tamu penting, tangan Brian yang merangkul pinggang Kyra sesekali mencubit pelan kulit pinggang gadis itu, sebuah pengingat tak kasat mata agar Kyra tidak berani berbuat ulah atau menunjukkan ekspresi lelah di hadapan publik.
Setelah itu, pesta dansa pun dimulai dan alunan musik orkestra mengalun lembut memecah keramaian. Brian membawa Kyra ke tengah lantai dansa utama, tangan kokoh pria itu melingkar sempurna di pinggang Kyra dan menarik tubuh gadis itu mendekat, sementara tangan satunya menggenggam jemari Kyra dengan erat.
Mereka berdansa mengikuti irama. Di tengah putaran lampu kristal yang berkilauan, mata Kyra dan Brian kembali beradu dalam keheningan jarak yang begitu dekat.
"Jangan terlalu tegang, Nyonya Raymond," bisik Brian tepat di telinga Kyra di sela-sela dansanya.
Kyra melirik suaminya dengan sudut matanya, "Aku tidak tegang," balas Kyra.
"Baguslah," gumam Brian, tiba-tiba menarik tubuh Kyra semakin dekat dengannya.
Menjelang tengah malam, acara resepsi akhirnya mendekati pimpinan akhir. Para tamu mulai membubarkan diri, meninggalkan aroma parfum mahal dan sisa-sisa kemewahan di dalam ballroom yang luas itu.
Sebuah mobil limosin hitam panjang telah menunggu di pintu keluar utama hotel. Tanpa sepatah kata pun, Brian menggandeng tangan Kyra dengan erat dan membawa sang istri masuk ke dalam mobil, disusul oleh dirinya sendiri.
Pintu limosin tertutup rapat, memisahkan mereka dari keramaian dan kilatan lampu kamera wartawan. Di dalam kabin mobil yang remang-remang dan berpenyejuk udara dingin, suasana seketika berubah menjadi sangat mencekan.
Kyra merapatkan tubuhnya ke sisi jendela mobil, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debar jantungnya yang sejak pagi tadi tidak pernah melambat. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang masih mengenakan sarung tangan renda putih pernikahan.
Brian, yang duduk tepat di sampingnya, membuka kancing jas hitamnya dan melonggarkan ikatan dasi kupu-kupu di lehernya dengan gerakan kasar. Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok kulit mewah, lalu menolehkan kepalanya perlahan untuk menatap tajam ke arah Kyra.
"Apa kau mau mencoba di mobil?" tanya Brian.
"Mencoba? Maksudnya? Mencoba apa memangnya?" tanya Kyra, yang tidak mengerti maksud Brian.
"Malam pertama di mobil, sepertinya akan menyenangkan," ucap Brian.
Darah Kyra mendadak berdesir cepat, rasa panas langsung menjalar ke seluruh permukaan wajahnya. Ia menoleh tajam ke arah Brian, matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat frontal yang baru saja dilontarkan oleh pria berstatus suami sahnya itu.
"Tuan Brian... Anda sedang tidak serius, kan?" cicit Kyra dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga diri dan kewarasannya di dalam kabin mobil yang terasa semakin menyempit.
Brian tidak langsung menjawab, pria itu justru menyunggingkan senyuman miring yang begitu mematikan, tatapan matanya menyapu penampilan Kyra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot penuh selidik, seolah menilai seberapa jauh batas ketahanan mental gadis di hadapannya malam ini.
Dengan gerakan lambat namun penuh dominasi, Brian mengikis jarak di antara mereka. Bau maskulin berpadu dengan aroma wiski tipis langsung menguar memenuhi indra penciuman Kyra.
"Menurutmu, apa aku terlihat sedang bercanda, Nyonya Raymond?" bisik Brian tepat di depan bibir Kyra, membuat napas gadis itu tertahan di tenggorokan.
Sebelum Kyra sempat merangkai kata atau melayangkan protes, tangan besar Brian sudah mencengkeram tengkuknya dengan lembut namun tidak memberi ruang untuk menghindar. Bibir pria itu langsung membungkam bibir Kyra dalam sebuah ci*man yang menuntut, menghapus seluruh jarak dan pertahanan yang sejak tadi coba dibangun oleh Kyra.
Ci*man itu jauh lebih dalam dari apa yang terjadi di altar gereja tadi. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada adalah rasa lapar dan dominasi yang membuat Kyra merasa bagai mangsa tak berdaya di cengkeraman sang predator. Jantung Kyra berdegup liar, jemarinya meremas kain jok kulit mobil, sementara pikirannya berkecamuk antara rasa takut, amarah dan sensasi asing yang membakar sekujur saraf tubuhnya.
Di tengah ci*man yang nyaris merenggut seluruh pasokan oksigennya, mobil limosin mewah itu akhirnya melambat dan berhenti sempurna di depan pelataran sebuah mansion pribadi yang sangat megah, kediaman utama keluarga Raymond di kawasan elit ibu kota.
Brian perlahan melepaskan ci*mannya, menyisakan deru napas yang memburu di antara bibir mereka yang sedikit basah. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Kyra yang berkaca-kaca karena kehabisan napas, lalu menyeringai tipis.
"Simpan tenagamu, Nyonya Raymond. Kita baru saja menikah dan aku tidak mau membuatmu lelah untuk hari ini karena aku tahu kau sudah sangat lelah, lagipula kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya, bukan," bisik Brian seraya menegakkan tubuhnya dan merapikan kancing jasnya, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Kyra terduduk lemas di dalam kabin yang remang, dadanya naik turun tak beraturan. Ia tahu, malam ini bukanlah malam pengantin yang dipenuhi cinta, melainkan awal dari neraka baru atau justru gerbang penentu di mana ia harus bertahan hidup dan membalas dendam pada orang-orang yang telah menghancurkan masa mudanya.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧