NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Luka yang Sama

Keesokan harinya pukul dua siang, Karina kembali ke ruko yang dilihatnya kemarin.

Pergelangan kaki kanannya masih dibalut perban elastis, tetapi rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Ia datang bukan untuk menandatangani kontrak. Dokumen tempat itu masih diperiksa Reyhan, dan Tante Mei bahkan belum melihatnya secara langsung.

Pemilik ruko sedang memperbaiki retakan dekat wastafel serta mengganti pipa bocor sebagai tanggung jawab pemilik bangunan. Karina hanya ingin memastikan perbaikan dasar itu dikerjakan benar, mengukur ruang, dan membuat perkiraan tata letak jika tempat tersebut akhirnya lolos pemeriksaan.

Ia menegaskan sekali lagi kepada pemilik bahwa kunjungan itu bukan persetujuan sewa. Biaya perbaikan dasar tidak boleh kelak diam-diam dimasukkan ke harga, dan setiap rencana pemasangan dapur baru hanya akan dibahas setelah dokumen serta keputusan Tante Mei selesai. Pemilik itu mengangguk, lalu menuliskan kondisi tersebut di samping daftar pekerjaan.

Belum sempat masuk, ia melihat pemuda berkaus pudar sedang membantu mengangkat papan dari warung sebelah.

"Julian?"

Pemuda itu menoleh. Wajahnya tampak lebih lelah daripada di dalam video yang kini tersebar di mana-mana. "Kita kenal?"

"Aku ada di gang kemarin. Di belakang kerumunan." Karina menunjuk kaki kanannya. "Mau maju juga susah."

Julian menatap perbannya, lalu mengangguk mengerti.

"Tindakanmu kemarin hebat," lanjut Karina. "Terutama karena kamu berhenti begitu polisi datang."

"Saya cuma kebetulan paling dekat."

Jawaban itu membuat penilaian Karina terhadapnya semakin baik. Orang yang sengaja mencari pujian biasanya tidak akan terlihat sesungkan ini ketika pujian benar-benar datang.

Ia memperkenalkan diri, lalu menjelaskan bahwa ruko tersebut masih calon lokasi kedai milik tantenya. Julian rupanya bekerja di warung dua pintu dari sana. Pemilik ruko kadang memberinya upah tambahan untuk mengangkat barang.

"Kalau jadi buka kedai, berarti kita tetanggaan," kata Karina.

"Kalau jadi," ulang Julian, seolah menghargai bahwa keputusan belum dibuat.

Suara mesin bor dari dalam terlalu bising. Karina masuk untuk memeriksa letak pipa, sedangkan Julian kembali ke warung. Tidak lama kemudian, seorang perempuan bertopi dan bermasker berhenti di depan gerobak makanan.

Karina mengenalinya meski penyamarannya lebih rapi daripada kemarin.

Natasha meminta sebungkus nasi dengan alasan sedang lewat. Namun setelah menerima pesanannya, ia tidak pergi. Pandangannya terus mencari seseorang sampai Julian muncul dari ruko sambil membawa papan terakhir.

"Kebetulan banget," sapa Natasha dengan nada yang sama sekali tidak terdengar kebetulan.

Julian mengusap telapak tangan pada celana sebelum menjawab. "Kamu lagi."

"Kenapa? Nggak boleh beli makan dua hari berturut-turut?"

"Boleh. Tapi kemarin kamu bilang wajahmu pasaran. Sekarang orang dengan wajah pasaran itu pakai masker dan topi lagi."

Natasha tertawa kecil. "Jakarta panas. Aku melindungi kulit."

Julian jelas tidak percaya, tetapi ia tidak mendesak. Karena kursi warung penuh, Karina mempersilakan mereka duduk di dua kursi lipat dekat pintu ruko. Tukang masih bekerja di bagian belakang, sementara ia sendiri sibuk mengukur lebar dinding depan.

Awalnya percakapan mereka terdengar canggung. Natasha menanyakan video yang viral. Julian menjawab seperlunya dan mengaku terganggu karena orang-orang mulai datang hanya untuk mengambil foto.

Sejak pagi, tiga orang berpura-pura membeli minum lalu mengarahkan kamera ke wajahnya. Ada pula akun yang menawarkan wawancara berbayar, tetapi meminta Julian melebih-lebihkan cerita agar tampak lebih dramatis. Ia menolak semuanya. Menurutnya, perempuan yang diserang kemarin sudah cukup malu tanpa harus menjadikan ketakutannya sebagai tontonan tambahan.

Natasha terdiam mendengar jawaban itu. Ia terbiasa dengan tim yang menghitung nilai setiap ekspresi, bahkan air mata. Julian justru mendapat perhatian besar dan memilih melindungi orang yang namanya bahkan tidak ia ketahui.

"Bukannya enak jadi terkenal?" tanya Natasha.

"Terkenal nggak bikin piring kotor cuci sendiri."

Natasha tertawa lagi. "Kamu selalu ngomong sesingkat itu?"

"Kalau lawan bicaranya banyak bertanya, iya."

Alih-alih tersinggung, Natasha terlihat semakin tertarik. Ia memperhatikan tangan Julian yang kasar dan kausnya yang telah berkali-kali dicuci.

"Kamu kerja penuh di sini? Nggak kuliah?"

Julian diam cukup lama hingga Natasha buru-buru menambahkan, "Kalau terlalu pribadi, nggak usah dijawab."

"Dulu sempat," katanya akhirnya. "Lalu keadaan keluarga berubah."

Natasha tidak menyela.

Tatapan Julian jatuh pada ponsel di meja. "Waktu itu Mama menerima telepon. Orang di seberang memberi kabar buruk soal keluarga kami. Aku nggak pernah tahu semua kalimatnya. HP jatuh dari tangan Mama, lalu Mama ikut jatuh."

Suaranya tetap datar, tetapi jari-jarinya mengepal di atas lutut.

"Kami membawanya ke rumah sakit. Mama nggak pernah sadar lagi. Setelah itu usaha keluarga habis, orang-orang yang dulu dekat menghilang, dan aku berhenti kuliah. Kalau tetap memaksa kuliah, aku bahkan nggak punya uang untuk makan."

Ia tidak menyebut nama usaha, orang yang menelepon, atau alasan keluarganya runtuh. Namun kehilangan itu terasa nyata justru karena diceritakan tanpa usaha mengundang iba.

Natasha menunduk. Hidungnya memerah, dan ketika mengangkat wajah, matanya sudah basah.

"Maaf," bisiknya. "Aku nggak bermaksud membuka luka."

"Kamu nggak tahu."

"Tetap saja." Natasha menarik napas. Selama ini ia hidup di tengah orang yang tersenyum karena nama keluarganya, popularitasnya, atau manfaat yang bisa mereka peroleh. Julian bahkan belum tahu siapa dirinya. Ia hanya menjawab karena memilih jujur. "Kamu tahu nggak, orang kayak kamu itu langka banget."

Julian tampak tidak nyaman menerima pujian itu. Namun kali ini ia tidak menolaknya.

"Orang kayak aku cuma banyak utang cucian piring."

Natasha tertawa sambil menyeka sudut mata. Ketegangan di antara mereka perlahan mencair.

Dari dalam ruko, Karina sudah selesai mencatat ukuran. Ia melihat keduanya duduk menunduk dalam percakapan yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Karina tidak memanggil. Ia membawa meteran ke ruang belakang dan mulai menyusun papan rak sementara agar mereka mendapat sedikit privasi.

Sebenarnya papan-papan itu hanya contoh material yang dibawa pemilik. Karina memotret warna dan ketebalannya untuk diperlihatkan kepada Tante Mei, lalu memberi tanda pada sketsa bahwa seluruh susunan masih dapat berubah jika mereka memilih tempat lain.

Di depan, Julian mendorong segelas es teh ke arah Natasha.

"Kalau capek jalan-jalan terus buat menyamar, mampir sini aja," katanya. "Aku traktir es teh."

Natasha memegang gelas itu dengan kedua tangan. "Berarti kamu sudah tahu aku menyamar?"

"Aku nggak tahu kamu siapa. Tapi orang biasa nggak panik tiap ada kamera menghadap ke sini."

"Kalau begitu, jangan cari tahu dulu."

Julian mengangguk. "Kalau itu maumu."

Sore mulai turun ketika Natasha berdiri untuk pergi. Bahunya tidak sengaja menyenggol tas yang diletakkan di ujung kursi. Tas itu jatuh, membuat dompet, kotak bedak, dan selembar kertas terlempar ke lantai.

Julian membungkuk untuk membantu.

Tangannya lebih dahulu mencapai kertas berlogo perusahaan manajemen artis. Di bawah daftar jadwal pemotretan dan latihan, tercetak satu nama dengan huruf tebal.

Natasha Santoso.

Julian mengangkat kepala. Kini ia akhirnya tahu bahwa perempuan yang tertawa bersamanya di depan warung adalah penyanyi yang wajahnya terpampang di berbagai layar kota.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!