Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Hutang Penjelasan
"Permisi Tuan, lima menit lagi rapat akan segera dimulai. Beberapa orang sudah ada di ruang meeting."
Sofyan yang tidak mengetahui keberadaan Ayuna di ruangan CEO, dia langsung mengetuk pintunya dan masuk tanpa melihat adanya ketegangan di wajah seorang wanita yang selama ini selalu menghindari pimpinannya. Pria itu melirik sekilas dan kembali fokus pada Erlangga dengan menyodorkan sebuah dokumen yang akan dijadikan bahan meeting.
"Tunggu sebentar, saya akan segera datang," jawab Erlangga.
"Kalau begitu saya permisi pak."
Ayuna beranjak dan segera keluar dari ruangan yang dianggapnya cukup menyeramkan, melebihi rumah hantu. Perasaannya mulai dilanda kegelisahan, karena tanpa kesadarannya pria itu diam-diam mengintainya.
"Apakah aku harus resign dari sini? Tapi bagaimana dengan nasib anak-anakku kelak? Jika sampai aku keluar dari perusahaan ini aku otomatis harus mencari pekerjaan baru, dan itu tidaklah mudah. Terus bagaimana dengan sekolah anak-anak?"
Sepanjang jalan menuju ruangannya Ayuna menggumam. Dia tidak tahu jalan apa yang harus diambilnya.
"Ayuna, kau baik-baik saja?" tanya Mila yang duduk satu kubikel dengannya.
Ayuna menoleh sekilas dengan matanya berkaca-kaca.
"Mila, bisakah kau membantuku?"
Mila mengangguk. "Akan ku usahakan. Bilang saja padaku, apa yang bisa ku bantu?"
"Aku ingin resign dari sini. Tolong carikan pekerjaan baru. Apa saja yang penting halal."
Mila tercengang dan menepuk pundaknya. "Kamu gila ya Yuna. Sudah berapa kali kau ingin resign dari sini. Kau pikir cari pekerjaan itu mudah apa?!"
Bukan hanya sekali atau dua kali Ayuna bilang padanya ingin keluar dari perusahaan Kusuma Group, tapi dia tidak pernah tahu apa alasan yang membuat sahabatnya itu tak nyaman dengan pekerjaan yang sudah digelutinya selama dua tahun ini.
"Iya, aku tahu cari pekerjaan itu tidaklah mudah, tapi bukan berarti nggak dapat kan?"
Mila menarik nafasnya. "Kalau begitu ceritakan dulu apa alasanmu ingin resign dari perusahaan ini. Kalau nggak ada alasan yang tepat, maaf..., aku nggak bisa membantumu."
Ayuna menggigit bibirnya gelisah. Haruskah ia menceritakan semuanya? Biarpun hubungannya dengan Mila terjalin cukup lama, tapi bukan berarti harus mengumbar aibnya sendiri.
"Mila..., aku tidak memiliki alasan untuk resign, tapi aku beneran udah nggak nyaman," cicit Ayuna.
"Tapi nggak nyaman itu karena apa Ayuna?! Apa karena tadi ibumu datang untuk mempermalukanmu, atau karena Pak Iwan yang selalu mengancammu, atau karena ~~
"I—iya dua-duanya," sahut Ayuna dengan terbata-bata. "Ibuku sudah membuatku malu di depan banyak karyawan, selain itu pak Iwan juga sering menyudutkanku. Jadi apa salahnya kalau aku mau resign dan mencari pekerjaan yang membuatku lebih tenang?
"Tapi kurasa itu bukan alasan yang tepat," cicit Mila. "Selama pak Erlangga diam tidak membuat masalah denganmu, kau tidak perlu khawatir. Di sini kamu bekerja untuknya, bukan untuk pak Iwan atau bahkan ibu angkatmu yang tidak tahu diri itu."
Ayuna tertunduk dengan meremas jemarinya gelisah. Dia terlalu lelah dengan posisinya saat ini, dan tak seorangpun yang tahu akan kekhawatirannya.
"Saranku, lebih baik kau fokus saja dengan pekerjaanmu, jangan buat alasan yang nggak masuk akal. Ingat Ayuna, kau masih memiliki tanggungjawab besar kepada anak-anakmu."
Ayuna menarik napasnya yang begitu membuatnya sesak. Setiap ingin menjelaskan alasan yang sesungguhnya lidahnya kelu, tak mampu untuk berkata. Haruskah ia bertahan dengan rasa kekhawatiran?
"Baiklah..., aku pikir-pikir dulu. Kita lanjut bekerja."
Tak ingin bergelut dengan kecemasannya dia gunakan waktunya untuk menyelesaikan desain yang akan diserahkan pada atasannya. Dia sudah berjanji akan memberikan waktu seminggu untuk menyelesaikannya.
Beberapa jam kemudian Ayuna berhasil menyelesaikan desainnya. Dia menggeliat sembari merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Hampir seharian penuh ia berkutat dengan pola dasar dan berakhir dengan hasil yang maksimal. Ia berharap hasil kerjanya tak membuat Erlangga kecewa.
"Bagaimana Ayuna? Apa desainnya sudah selesai?" tanya Mila setelah cukup lama fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
"Hm..., iya ini aku sudah menyelesaikannya Mila," jawabnya dengan tersenyum tipis.
Mila terkekeh dan melempar pujian terhadapnya. "Syukurlah. Tapi ngomong-ngomong kok kamu diminta beberapa desain oleh pak Erlangga. Memangnya buat apa?"
Ayuna mengedikkan bahunya. "Aku sendiri juga kurang tahu, tapi beliau bilang akan mempromosikan desainku. Katanya kalau hasilnya memuaskan aku bakalan dikasih imbalan 40%
"What!" Mila membelalak tersedak air liurnya. "40% kamu serius bakalan dapat bonus 40% Ayuna? Apa menurutmu perusahaan nggak rugi? Apa pak Erlangga nggak mau dapat keuntungan?"
Mila mulai memiliki rasa curiga terhadap pimpinannya. Kenapa hanya Ayuna yang hendak dipromosikan? Padahal masih banyak pegawai lain yang memiliki kemampuan yang sama seperti Ayuna. Mungkinkah ada udang dibalik batu?
"Soal untung ruginya itu tidak ada hubungannya denganku," jawab Ayuna. "Dia sendiri yang menjanjikan keuntungan untukku, bukan aku yang memintanya. Awalnya sih..., aku sudah menolaknya, aku ngerasa nggak enak aja sama pegawai yang lain, bahkan banyak dari mereka memiliki kemampuan yang lebih besar baik dariku, tapi kenapa aku yang dipilih. Berhubung aku juga butuh biaya untuk kelanjutan hidupku bersama anak-anakku, aku terpaksa menerima tawarannya." Ayuna kembali menarik napasnya yang sempat tertahan. "Ya..., semoga saja hasilnya tidak mengecewakan."
"Kalau cara kerjanya macam ini kamu bisa kaya mendadak Yuna," cicit Mila diselingi dengan kekehan. Namun di hati kecilnya sudah pasti terbesit ada rasa iri dan merasa tersaingi oleh Ayuna.
"Aamiin. Doain ya..., kalau aku sukses kamu juga bakalan dapat cipratannya," cicit Ayuna dengan tertawa kecil. Sebenarnya dalam hatinya ia cukup tahu bagaimana perasaan Mila. Wanita itu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi sebenarnya ingin menangis.
"Yaudah. Aku mau anterin desain ini ke ruangan pak Erlangga dulu ya?"
Mila mengangguk. "Hm..., oke."
Meskipun memasuki ruangan CEO menurutnya seperti masuk ke liang lahat, tapi tak membuatnya bisa menolak. Erlangga sendiri sudah berpesan agar tidak mengabaikannya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu, tapi yang jelas membuatnya kurang nyaman.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi pak! Apa Bapak ada di dalam?"
Beberapa detik tak mendapatkan jawaban, dia kembali mengetuknya.
"Permisi pak, saya Ayuna. Saya ingin mengantarkan desain yang Bapak minta. Bolehkah saya masuk?"
Tidak juga ada jawaban, namun sebuah tangan kekar menempel di pundaknya dari arah belakang dan membuat refleks Ayuna menoleh.
"Eh..., ya ampun!"
Wanita itu melotot dengan menggerutu. "Bapak ini ngagetin aja!"
"Kenapa berdiri di sini? Kenapa nggak langsung masuk?"
"A—apa?" Ayuna gugup. "Bagaimana saya mau masuk ke ruangan Bapak? Bapak sendiri dipanggil panggil nggak ada nyaut."
Erlangga membuka pintunya dan melangkah masuk diikuti oleh Ayuna. Di situ Ayuna langsung menyerahkan hasil desain yang dikerjakan selama satu Minggu full, dan berharap hasilnya tidak membuatnya kecewa.
"Ini hasil desain saya, Pak! Mohon diperiksa kembali."
Erlangga membuka map biru yang dibawa oleh Ayuna dan mengeluarkan beberapa sketsa gambar yang sudah dipoles dengan beberapa warna terang dan terlihat begitu mewah.
"Hm..., cukup menarik," gumamnya. "Nanti akan saya usahakan buat ajukan promo. Semoga berhasil."
Ayuna mengulas senyumnya. Ia juga berharap usahanya tidak berakhir sia-sia.
"Em..., terimakasih pak, kalau sudah tidak ada yang dibahas saya ~~
"Tunggu! Kamu masih punya hutang penjelasan. Saya minta jawabannya sekarang!"