NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Dan kemampuan orang itu... ternyata juga ruang.

Namun orang itu tidak turun malam itu.

Arka berdiri beberapa detik di halaman Markas Masa Depan, menatap atap gedung seberang yang sudah kembali kosong. Galang Prasetyo pergi secepat ia muncul. Udara sempat bergetar tipis, lalu diam.

Shadow muncul di sisi Arka tanpa bunyi. "Mau kukejar?"

"Tidak." Arka menurunkan pandangannya. "Kalau dia bisa memindahkan jarak, mengejar tanpa persiapan hanya membuang tenaga."

Merah datang sambil membawa mangkuk nasi hangat. "Berarti kita biarkan saja orang ruang misterius itu nonton gratis?"

"Untuk sekarang," jawab Arka. "Orang yang menonton belum tentu musuh. Tapi orang yang menonton terlalu lama pasti punya tujuan."

Elang mencatat arah gedung itu di peta. "Saya pasang pengawasan bergilir. Kalau dia kembali, minimal kita tahu dari sisi mana."

Arka mengangguk. "Besok kita rapikan markas. Kalau Markas Bahari mulai tertarik, berarti ukuran kita sudah tidak bisa seperti kelompok kecil."

Kata-kata itu terbukti lebih cepat dari perkiraan.

Dua hari setelah perburuan di Jalan Megah, jumlah penghuni Markas Masa Depan naik menjadi hampir enam puluh orang. Ada yang datang karena mendengar mereka punya beras. Ada yang datang karena melihat tim Arka pulang tanpa kehilangan anggota. Ada juga yang datang membawa kemampuan, pengalaman, dan masalah masing-masing.

Pagi itu, halaman markas penuh suara orang bekerja.

Karung beras diturunkan dari gudang dalam. Air bersih dibagi dengan antrean. Kotak Kristal diletakkan di meja pencatatan. Di salah satu sudut, Zahra memeriksa luka ringan beberapa anggota sambil menegur mereka karena malas mengganti perban.

Arka berdiri di depan papan putih yang diambil dari kantor kosong.

"Mulai hari ini, kita tidak cuma bertahan," katanya. "Kita membangun struktur. Kalau semua hal harus menunggu aku, markas ini akan runtuh begitu aku pergi dua belas jam."

Kalimat terakhir membuat beberapa orang saling pandang.

Mereka belum tahu tentang Satu Jiwa Dua Tubuh. Bagi mereka, Arka kadang mengunci diri untuk tidur atau istirahat lama. Mereka tidak tahu bahwa selama itu, kesadarannya sudah berada di dunia lain.

Dan rahasia itu tetap tidak boleh terbuka.

"Wiratama," panggil Arka.

Seorang pria berusia akhir tiga puluhan maju. Tubuhnya tidak sebesar Merah, tetapi cara ia merapikan kerah jaket lusuhnya menunjukkan kebiasaan lama yang belum hilang. Sebelum kiamat, David Wiratama adalah manajer bank cabang kecil. Setelah kiamat, ia selamat karena bisa membuat lemari besi bergerak menutup pintu ketika kawanan pertama datang.

Kekuatan Logam.

"Mulai sekarang, Pak Wiratama mengurus pencatatan Kristal, logistik, dan inventaris senjata," kata Arka. "Setiap barang keluar masuk dicatat. Tidak ada sistem ingatan. Tidak ada sistem percaya buta."

Seorang anggota muda mengangkat tangan ragu. "Bang Arka, bukannya terlalu ribet? Kita kan masih sedikit."

Wiratama menjawab sebelum Arka. Suaranya tenang, seperti orang yang terbiasa bicara dengan nasabah marah. "Sedikit hari ini. Besok bisa seratus. Kalau catatan dimulai saat kita sudah kacau, itu terlambat."

Arka menatap anggota itu. "Di markas lama Jagal, barang disimpan di belakang kursi satu orang. Kalian mau kembali ke sistem itu?"

Tidak ada yang menjawab.

"Bagus. Pak Wiratama pegang buku logistik. Shadow boleh audit kapan saja."

Wiratama terlihat terkejut. "Saya diaudit?"

"Semua orang diaudit. Termasuk aku."

Kalimat itu membuat halaman hening sejenak, lalu berubah menjadi bisik-bisik kecil. Bukan protes. Lebih seperti kelegaan yang belum berani terlalu keras.

Arka memanggil nama kedua.

"Fajar."

Fajar Hidayat maju dari belakang tiang. Beberapa orang tersentak karena sebelumnya merasa tidak melihatnya berdiri di sana. Ia kurus, matanya tajam, dan gerakannya selalu setengah langkah lebih pelan dari perhatian orang lain.

"Kekuatan Siluman," kata Arka. "Dipakai untuk mengintai musuh. Jangan dipakai mencuri makanan, mengintip, atau membuat orang takut di markas sendiri."

Fajar mengangkat kedua tangan. "Saya belum melakukan apa-apa, Bang."

"Aku memberi aturan sebelum ada alasan menghukum."

Merah tertawa pendek. "Bagus. Jadi kalau kau tiba-tiba muncul di kamar mandi, aku yang hukum duluan."

Beberapa orang tertawa, termasuk Fajar. Ketegangan turun.

Arka menunjuk Shadow. "Fajar bergabung dengan Shadow. Bentuk regu pengintai. Tugas kalian mencari jalur aman, menghitung gerakan zombi dari jauh, dan memastikan tidak ada orang asing masuk tanpa kita tahu."

Shadow menatap Fajar dari kepala sampai kaki. "Bisa lari?"

"Bisa hilang."

"Aku tanya lari."

Fajar terdiam sebentar. "Bisa dilatih."

"Mulai sore."

"Siap, Bang Shadow."

Nama ketiga membuat halaman lebih penasaran.

"Teguh."

Teguh Prakoso maju sambil menggaruk belakang kepala. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, tetapi wajahnya justru canggung seperti orang yang tidak terbiasa dilihat banyak mata. Kedua tangannya penuh tanah kering meski ia baru saja mencucinya.

"Katanya kau bisa menggerakkan tanah," kata Arka.

"Sedikit, Bang." Teguh menatap lantai. "Biasanya cuma buat lubang kecil atau menutup retakan."

Arka menunjuk sisi timur markas. Di sana, barikade mereka masih berupa mobil rusak, papan reklame, dan besi yang diikat seadanya. Cukup untuk menahan zombi kecil, tetapi tidak cukup untuk markas yang mulai dikenal.

"Buat dinding. Sepanjang lima belas meter. Tinggi setidaknya dua meter. Jangan pikirkan cantik. Pikirkan kuat."

Teguh membelalak. "Sekarang?"

"Sekarang."

"Saya... belum pernah sebesar itu."

Arka mengambil satu Kristal tingkat satu dari meja dan melemparkannya. Teguh menangkapnya dengan dua tangan.

"Gunakan. Aku jaga kalau kau kehabisan tenaga."

Semua orang mundur memberi ruang.

Teguh menelan ludah, lalu menekan Kristal itu ke telapak tangannya. Energi masuk ke tubuhnya perlahan. Ia berlutut, meletakkan kedua tangan di tanah, dan menarik napas panjang.

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Lalu lantai retak halus.

Tanah di bawah aspal terangkat bersama batu, pasir, dan pecahan beton. Dalam tiga puluh menit, sisi timur markas memiliki benteng kasar setinggi lebih dari dua meter.

Benteng itu kasar, namun berdiri kuat.

Merah memukul dinding itu dengan telapak tangan. "Sial, biasanya orang butuh alat berat buat beginian."

Elang memeriksa sudut tembak dari balik dinding. "Kalau dibuat celah kecil di tiga titik, ini bisa jadi posisi bertahan."

Wiratama mendekat, menyentuh pecahan besi di dalam struktur. "Saya bisa bantu mengikat logam bekas di dalamnya. Jadi lebih sulit roboh."

Fajar menghilang sebentar, lalu muncul di sisi luar dinding. "Ada titik buta di dekat gang. Cocok untuk jalur pengintai."

Teguh duduk lemas di tanah, napasnya berat. Zahra langsung memberinya air hangat.

Arka melihat semua itu dan merasa satu bagian markas yang sebelumnya kosong akhirnya menemukan bentuknya.

Wiratama menjaga barang.

Fajar menjaga mata.

Teguh menjaga dinding.

Shadow, Merah, Elang, Kirana, dan Zahra mulai menjadi tulang rangka sebuah organisasi.

"Mulai hari ini," kata Arka, "setiap orang punya posisi. Yang bisa bertarung, bertarung. Yang bisa mencatat, mencatat. Yang bisa memasak, memasak. Yang bisa merawat, merawat. Di sini, orang hidup karena kerja bareng."

Sore harinya, pembagian Kristal dilakukan di depan semua orang. Shadow menerima tambahan kecil untuk menjaga kecepatannya tetap stabil. Merah mendapat Kristal api yang membuat telapak tangannya memancarkan panas lebih padat. Elang tidak terburu-buru menelan Kristal; ia meminta bagian peluru dan posisi latihan untuk anggota bersenjata. Kirana hanya mengambil setengah bagian, lalu meminta sisanya ditukar menjadi obat untuk pos Zahra.

Keputusan itu membuat beberapa anggota baru semakin hormat.

Tetapi tidak semua orang puas.

Di belakang gudang, saat malam mulai turun, tiga orang berbicara pelan. Salah satunya Dendi Prawira, pria bertubuh tegap dengan kekuatan fisik tingkat dua yang baru bergabung dua hari lalu. Ia membantu mengangkat batu saat Teguh membuat dinding, tetapi sejak pembagian Kristal, wajahnya tidak pernah benar-benar cerah.

"Kalian lihat sendiri," bisiknya. "Beras keluar terus. Obat ada terus. Peluru juga tiba-tiba ada. Dari mana?"

Seorang anggota menoleh takut. "Bang Arka bilang ada jalur."

"Jalur apa? Di kota mati begini?" Dendi mendengus. "Kalau dia punya sumber sebesar itu, kenapa kita cuma diberi sedikit demi sedikit?"

"Kita makan tiga kali sehari sekarang."

"Kau puas jadi anak kecil yang disuapi?"

Di sudut gelap dekat tangga, Fajar berdiri tanpa terlihat. Napasnya hampir tidak bersuara. Ia tidak menyela. Tidak juga langsung bergerak.

Ia hanya mendengar sampai selesai.

Beberapa menit kemudian, laporan itu sampai ke Arka.

Arka sedang memeriksa peta bersama Kirana ketika Fajar muncul di dekat pintu. Kali ini, Kirana tidak terkejut. Koneksi Mental-nya sudah bisa merasakan titik kosong yang bergerak mendekat.

"Ada yang bertanya soal sumber makanan," kata Fajar.

Kirana menatap Arka. "Cepat atau lambat, pertanyaan itu memang akan muncul."

Arka meletakkan spidol di meja.

Ia tahu.

Membuat orang kenyang lebih mudah daripada membuat mereka percaya. Perut yang penuh bisa melahirkan harapan, tetapi juga bisa melahirkan rasa berhak.

"Besok kumpulkan semua orang," katanya.

Fajar mengangguk. "Kau akan menjelaskan sumbernya?"

"Tidak."

Arka menatap gudang makanan yang pintunya terkunci rapi.

"Aku akan menjelaskan batasnya. Aku punya jalur. Selama mereka bekerja, mereka makan. Selama mereka setia, mereka dapat bagian. Tapi kalau ada yang mengira rahasia markas bisa diperas dengan bisik-bisik..."

Suaranya tetap tenang.

Justru itu yang membuat Fajar berdiri lebih tegak.

"...maka dia harus belajar bahwa kepercayaan lebih mahal daripada Kristal. Dan lebih rapuh daripada kaca."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!