Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Tempurung Katak
Kepingan salju yang ditinggalkan oleh Su Yue perlahan mencair, namun hawa dingin di alun-alun Klan Ye masih tersisa.
Melihat Ye Chen yang berdiri bersandar pada pedang raksasanya dengan napas memburu, Kepala Klan Ye Zhan akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia segera merapikan jubah kebesarannya dan melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi senyum ramah yang canggung.
"Ye Chen... tidak, Keponakanku," panggil Ye Zhan dengan nada lembut yang belum pernah ia gunakan selama belasan tahun terakhir. "Kau menyembunyikan kekuatanmu dengan sangat baik. Hari ini, kau telah membuka mata klan ini. Sesuai aturan Tantangan Darah, posisi Pewaris Utama Klan Ye kini adalah milikmu. Dan besok, kau berhak memasuki Kolam Spiritual Leluhur untuk menyembuhkan lukamu dan menerobos tingkat kultivasimu."
Mendengar tawaran itu, para tetua yang tersisa di tribun saling berpandangan, namun tak satu pun dari mereka berani protes. Kekuatan Ye Chen sudah cukup untuk membungkam mulut mereka, apalagi dengan intervensi Su Yue yang secara tidak langsung memberikan "perlindungan" pada pemuda itu.
Namun, alih-alih bersukacita, Ye Chen hanya mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap wajah Ye Zhan dan para tetua dengan pandangan datar yang dipenuhi ejekan.
"Pewaris Utama?" Ye Chen tertawa pelan. Tawanya terdengar serak, namun penuh dengan rasa muak. "Kepala Klan yang terhormat, di mana gelar itu saat aku kelaparan di halaman belakang? Di mana keadilan klan saat jatah pil bulananku dirampas dan aku ditendang ke dasar jurang? Sekarang, setelah aku membuktikan bahwa aku bisa membunuh anjing kesayangan kalian, kalian tiba-tiba mengingat ikatan darah?"
Wajah Ye Zhan memerah karena malu. "Itu... masa lalu adalah kesalahan pengawasan kami. Mulai sekarang, seluruh sumber daya klan akan difokuskan padamu—"
"Simpan sumber daya kalian," potong Ye Chen dingin. Ia mencabut Pedang Besi Hitamnya dari tanah dan menyarungkannya kembali ke punggung. "Kolam Spiritual kalian mungkin berharga bagi katak dalam tempurung, tapi bagiku, itu tidak lebih dari kubangan air keruh. Aku tidak butuh gelar pewaris dari klan yang tidak memiliki kehormatan."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah seluruh petinggi klan. Menolak gelar pewaris dan Kolam Spiritual? Bagi pemuda di Puncak Hijau, itu adalah harta yang gila untuk ditolak!
"Kau ingin pergi meninggalkan klan?" tanya Ye Zhan dengan suara bergetar.
Ye Chen tidak mempedulikannya. Ia membalikkan badan dan melangkah menuju sudut alun-alun, tempat seorang pria tua berpakaian pelayan sedang berdiri gemetar dengan air mata berlinang. Itu adalah Paman Lin.
"Paman Lin," suara Ye Chen melembut saat berhadapan dengan satu-satunya sosok keluarga yang ia miliki. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan Kartu Ungu VIP dari Paviliun Seratus Herbal yang berisi belasan ribu koin emas, lalu menaruhnya di tangan pria tua itu yang gemetar. "Uang ini cukup untuk Paman hidup seperti raja di kota ini selama sisa hidup Paman. Belilah rumah yang besar dan pekerjakan pelayan."
"T-Tuan Muda... Anda mau pergi ke mana? Biarkan pelayan tua ini ikut dengan Anda..." isak Paman Lin, menolak kartu tersebut.
"Dunia luar terlalu berbahaya, Paman. Aku akan berjalan di atas lautan darah. Paman akan aman di sini," Ye Chen memaksakan kartu itu ke tangan Paman Lin sambil tersenyum hangat.
Kemudian, Ye Chen memutar tubuhnya. Senyumnya seketika lenyap, digantikan oleh aura membunuh yang sedingin es. Ia menatap Kepala Klan Ye Zhan.
"Dengar baik-baik, Ye Zhan. Aku membiarkan Paman Lin tinggal di kota ini. Jika sampai ada satu helai rambutnya yang jatuh, atau jika ada sisa-sisa anjing dari faksi Ye Tian yang berani mengganggunya..." Ye Chen menyipitkan matanya. "...aku akan kembali, dan aku akan mencabut seluruh garis keturunan Klan Ye dari akar-akarnya. Apakah kata-kataku cukup jelas?"
Aura membunuh murni yang didapat Ye Chen dari Hutan Binatang Buas membuat Ye Zhan, seorang ahli tingkat kesembilan, tanpa sadar menelan ludah dan mengangguk. "Selama aku hidup, tidak akan ada yang berani menyentuh Paman Lin."
"Bagus."
Tanpa menoleh lagi, Ye Chen melangkah pergi. Jubah kulitnya yang sobek berkibar tertiup angin. Ia berjalan menembus kerumunan warga klan yang secara otomatis membelah jalan untuknya, menatap punggungnya dengan rasa hormat, takut, dan penyesalan yang mendalam.
Hari itu, Klan Ye kehilangan naga sejati yang selama ini bersembunyi di pekarangan mereka sendiri.
Matahari mulai terbenam saat Ye Chen melangkah keluar dari gerbang Kota Puncak Hijau. Bayangannya memanjang di atas tanah berdebu.
Ia menoleh ke arah kota untuk terakhir kalinya. Beban belasan tahun yang mengikat hatinya akhirnya terlepas. Namun, wajah dingin Su Yue kembali terlintas di benaknya.
“Jika kau mengira ini cukup untuk berdiri di sampingku... kau salah besar.”
Tangan Ye Chen mengepal erat.
"Hahaha! Berjalan pergi tanpa pamrih, meninggalkan kemunafikan di belakangmu. Pilihan yang sangat bagus, Bocah!" tawa Ao Tian bergema di benaknya dengan penuh kepuasan. "Naga sejati tidak membangun sarang di selokan. Kolam Spiritual klanmu itu memang tidak ada gunanya untuk Meridian Nagamu."
"Lalu ke mana kita sekarang, Senior?" tanya Ye Chen dalam hati. "Su Yue berada di Tahap Pembentukan Fondasi tingkat menengah. Dia mungkin punya akses ke sumber daya Sekte Awan Putih yang tak terbatas. Aku harus segera menerobos tingkat keenam dan mengejar ketertinggalanku."
"Menerobos tingkat keenam tidak akan cukup untuk menutupi jurang antara manusia dan Tahap Pembentukan Fondasi," jawab Ao Tian dengan nada serius. "Bocah, Tahap Pengumpul Qi hanyalah tahap memperkuat fisik dan mengumpulkan energi. Tapi Pembentukan Fondasi adalah tahap di mana kau membangun jembatan antara tubuh fana dan hukum alam.
"Untuk membangun fondasi yang sempurna bagi Meridian Nagamu, kau tidak bisa melakukannya di tempat yang aman. Kita akan pergi ke arah barat daya, melintasi ribuan mil menuju Lembah Darah Merah. Di sana, ada sebuah reruntuhan medan perang kuno yang penuh dengan energi pembantaian dan monster tingkat tinggi. Di sanalah kau akan menempa dagingmu menjadi Besi Naga."
"Lembah Darah Merah..." gumam Ye Chen, matanya berkilat penuh antisipasi. "Berapa lama waktu yang aku butuhkan?"
"Dengan potensimu dan bimbinganku? Mungkin setahun, mungkin dua tahun... atau kau bisa mati di bulan pertama jika kau lengah," kekeh Ao Tian kejam.
"Sempurna," Ye Chen tersenyum tipis.
Ia mengeratkan ikatan Pedang Besi Hitam di punggungnya, dan melangkah masuk ke jalan setapak yang mengarah ke alam liar tak berujung.