Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Dia Orangmu?
Kotak rendang pesanan Kolonel Sutrisno baru saja ditutup ketika beliau menahan tangan ajudannya.
“Sebentar.”
Suara percakapan di meja utama mereda. Kolonel menunjuk kotak itu, lalu memandang Parjo yang berdiri kaku di dekat pintu aula.
“Siapa sebenarnya yang membuat rendang ini?”
Parjo membuka mulut, tetapi Bima menjawab lebih dulu.
“Orang dapur yang membantu kami, Kolonel. Tangannya lumayan.”
Kata lumayan membuat beberapa staf menunduk untuk menyembunyikan senyum. Rendang yang baru saja disebut lebih baik daripada hidangan Korem tentu tidak pantas disebut lumayan.
Kolonel Sutrisno tidak ikut tersenyum. Tatapannya berpindah dari Bima ke arah pintu samping, tempat Laras sedang mengangkat baki kosong.
“Orang dapurmu?” tanyanya.
“Pelatih teknis dapur batalyon.”
“Itu jawaban jabatan.” Kolonel mengetuk tutup kotak dengan satu jari. “Saya bertanya siapa.”
Bima berdiri tegak. “Laras, Kolonel. Janda almarhum Sertu Wahyu. Sekarang tinggal di rumah dinas untuk merawat Satya dan membantu dapur.”
Kolonel mengangguk lambat. Tatapan penuh arti itu kembali singgah di wajah Bima, seolah jawaban yang diterimanya masih menyisakan satu bagian yang tidak diucapkan.
“Jaga orang yang tangannya bagus,” katanya. “Kalau tidak, satuan lain akan mengambilnya.”
“Siap.”
Jawaban Bima terlalu cepat.
Kolonel akhirnya tertawa pendek. Ajudan membawa kotak rendang keluar, diikuti rombongan tamu. Namun sebelum naik ke kendaraan, beliau menoleh kepada Parjo.
“Untuk lomba, jangan hanya kirim nama kepala dapur. Kirim orang yang benar-benar memegang rasa.”
Parjo menghentakkan tumit. “Siap, Kolonel.”
Deretan mobil meninggalkan halaman. Debu tipis naik di bawah cahaya lampu, sementara orang-orang di aula mulai membereskan kursi.
Di dekat meja minuman, beberapa istri perwira berbisik.
“Ternyata dia yang memasak.”
“Bukan cuma memasak. Katanya semua pembagian kerja juga dia yang atur.”
“Pantas Komandan membelanya di rapat.”
“Membela staf atau membela orangnya?”
Tawa kecil segera terputus ketika Bu Wati melintas sambil membawa tumpukan piring. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang mereka satu per satu sampai tangan-tangan itu ikut mengambil baki kotor.
Laras tidak mendengar bisikan tersebut. Ia sudah kembali ke dapur dan sedang menghitung wadah yang tersisa bersama Parjo.
“Empat tampah kembali. Dua puluh tujuh mangkuk besar lengkap. Satu sendok sayur belum ketemu,” katanya.
“Biarkan sendok itu lari merayakan kemenangan.” Parjo menjatuhkan tubuhnya ke bangku. Kedua matanya merah karena kurang tidur. “Bu Guru, saya sudah dua belas tahun di dapur batalyon. Baru kali ini Kolonel minta makanan dibawa pulang.”
“Bukan pekerjaan saya sendiri.”
“Tapi tanpa Bu Guru, rendang itu mungkin sudah jadi bubur santan gosong.”
Laras meletakkan daftar di depannya. “Kalau ada yang bertanya, jawabannya tetap sama. Perbekalan mengadakan bahan, Bapak memimpin pelaksanaan, saya melatih teknik. Semua orang bekerja.”
Parjo mengembuskan napas melalui hidung. “Kemenangan begini masih harus dibagi rata?”
“Justru kemenangan begini yang harus dibagi. Kalau hanya satu nama yang berdiri, satu nama itu mudah dijatuhkan.”
Senyum Parjo menghilang. Ia melirik ke arah aula, tempat Sudibyo tadi berdiri cukup lama di belakang Kolonel.
“Bu Guru takut pada Pak Dibyo?”
“Saya takut pada orang yang menganggap bantuan selalu punya harga tersembunyi.”
Parjo terdiam, lalu mengangguk. “Baik. Dapur batalyon yang menang. Tapi kami tahu siapa yang mengajari kami.”
“Itu cukup.”
Bu Titin datang membawa Satya yang mulai mengucek mata. Begitu melihat Laras, bayi itu merentangkan kedua tangan dan mengeluarkan suara merengek.
“Sejak tadi mencari ibunya,” kata Bu Titin.
Laras segera menerima tubuh kecil itu. Satya menempelkan pipi ke dadanya, seolah keramaian seharian tidak pernah ada.
“Kita pulang,” bisik Laras. “Ibu juga sudah capek.”
Ia pamit setelah memastikan sisa makanan tercatat dan dibagikan sesuai daftar. Di jalan menuju rumah dinas, angin malam membawa sisa aroma kayu bakar dari dapur. Satya tertidur sebelum mereka sampai di tikungan terakhir.
Sebelum masuk ke halaman, Laras sempat melihat Bima berdiri bersama Iwan di teras kantor. Laki-laki itu masih mengenakan seragam lengkap. Bahunya tegak seperti sejak pagi, meski garis lelah tampak jelas di bawah matanya.
Bima memandang Satya yang tertidur, lalu pandangannya naik kepada Laras.
“Sudah makan?” tanyanya.
“Sisa rendang yang gagal masuk meja Kolonel.”
“Ada yang gagal?”
“Potongannya tidak cukup cantik.”
“Berarti dapur batalyon sekarang terlalu sombong.”
Laras menahan senyum. “Besok saya suruh Parjo menyajikan bagian gosong untuk Komandan.”
“Asal kau yang masak.”
Kalimat itu keluar begitu wajar hingga keduanya sama-sama terdiam. Iwan pura-pura sibuk memeriksa buku jaga, walau buku itu terbalik.
Bima berdeham. “Istirahatlah, Ras. Besok tidak perlu datang pagi.”
Laras mengangguk dan melewati teras. Panggilan singkat itu menghangatkan telinganya, tetapi ia tidak menoleh lagi. Karena itu, ia tidak melihat Sudibyo berdiri di ujung lorong dan menyaksikan seluruh percakapan mereka.
Pada saat yang sama, pintu kantor Bima diketuk dua kali.
“Masuk.”
Sudibyo melangkah ke dalam tanpa membawa map. Dua cangkir kopi sudah tersedia di meja, tetapi ia menolak ketika Bima menunjuk salah satunya.
“Sudah terlalu malam untuk kopi.”
“Kalau begitu langsung saja.” Bima menutup laporan syukuran. “Ada apa?”
Sudibyo duduk tanpa dipersilakan. “Aku ingin mengucapkan selamat. Acara berhasil. Kolonel senang. Persit juga tidak jadi ribut.”
“Itu hasil kerja banyak orang.”
“Kalimat yang sama seperti perempuanmu.”
Jari Bima berhenti di atas map.
Sudibyo menyandarkan punggung. “Laras. Dia sangat pandai menghilang di belakang nama orang lain, padahal semua mata hari ini mencari dia.”
“Dia staf teknis.”
“Staf teknis yang tidak pernah sekolah tata boga, tetapi tahu cara mengatur bahan untuk ratusan orang. Dia mengerti pencatatan, pemisahan bahan rusak, bahkan tahu cara menghadapi rapat Persit seperti orang yang terbiasa berunding.”
“Ayahnya guru. Almarhum suaminya prajurit. Perempuan desa bukan berarti tidak bisa belajar.”
“Aku tidak bilang dia bodoh.” Sudibyo tersenyum tipis. “Justru sebaliknya. Aku penasaran.”
Bima menatapnya datar. “Penasaran bukan urusan dinas.”
“Belum tentu. Kalau seseorang masuk ke lingkungan rumah komandan, merawat anak komandan, lalu memegang teknik dapur batalyon, latar belakangnya perlu jelas.”
“Pemeriksaannya sudah lengkap.”
“Lengkap di atas kertas.”
Rahang Bima mengeras. “Kalau ada keberatan keamanan, ajukan tertulis. Sertakan dasar dan bukti.”
“Kenapa buru-buru marah?”
“Aku sedang menjelaskan prosedur.”
“Kau selalu bicara prosedur kalau menyangkut dia.” Sudibyo mencondongkan tubuh. “Waktu Bu Ratna menuduhnya, kau turun langsung. Waktu dia pulang ke desa, kendaraan satuan bergerak. Sekarang Kolonel bertanya siapa yang memasak dan kau menjawab sebelum kepala dapur sempat membuka mulut.”
“Kau datang untuk memeriksa laporan kendaraan atau mengurus siapa yang menjawab pertanyaan Kolonel?”
“Aku datang karena ingin tahu satu hal.”
Sudibyo berhenti. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar dengan bunyi berdecit. Di luar, seorang penjaga malam berjalan melewati jendela, lalu suara sepatu itu menjauh.
Sudibyo memandang langsung ke mata Bima.
“Dia orangmu?”
Ruangan seketika terasa lebih sempit.
Bima tidak bergerak, tetapi otot di pipinya menegang. Pertanyaan itu tidak terdengar seperti gurauan sesama perwira. Ada sesuatu yang kotor di balik cara Sudibyo mengucapkannya, seolah Laras adalah barang yang bisa diberi tanda kepemilikan lalu diperebutkan.
“Dia ibu susuan Satya,” jawab Bima. “Itu saja cukup.”
“Cukup untuk apa?”
“Cukup untuk membuatmu menjaga mulut.”
Senyum Sudibyo tidak hilang. “Eh, jangan salah. Aku cuma bertanya supaya tidak menginjak wilayah kawan sendiri.”
“Laras bukan wilayah siapa pun.”
“Kalau begitu dia bebas.”
Bima berdiri. Kursinya bergeser keras ke belakang.
“Pembicaraan selesai.”
Sudibyo ikut bangkit dengan gerakan santai. “Kau belum menjawab.”
“Aku sudah menjawab sebagai atasannya dan sebagai orang yang rumahnya dia tinggali.”
“Bukan sebagai laki-laki.”
Tatapan mereka bertemu di atas meja. Untuk sesaat, tidak ada pangkat, laporan, atau dinding kantor yang bisa menyamarkan permusuhan di antara keduanya.
Bima menunjuk pintu.
“Keluar.”
Sudibyo merapikan ujung lengan seragamnya. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Kalau kau tidak mau mengakuinya, jangan salahkan orang lain karena mencoba mendekat.”
Pintu tertutup.
Bima tetap berdiri. Kopi yang tidak disentuh telah dingin. Tangannya mengepal di sisi tubuh, bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena jawaban yang paling jujur belum berhak ia ucapkan.
Di rumah dinas, Laras tidak mengetahui percakapan itu.
Ia telah menidurkan Satya di kasur kecil dan mengganti bajunya. Setelah semua lampu depan padam, ia berdiri di dekat jendela belakang sambil memegang seikat rambut kecil berwarna merah muda.
Ikat rambut itu dibelinya berbulan-bulan lalu di pasar Girisari. Nala belum memiliki cukup rambut untuk mengikatnya, tetapi Laras tetap menyimpannya. Ia membayangkan suatu hari rambut putrinya tumbuh lebih panjang, lalu tangan kecil Nala menepis-nepis ketika ia mencoba memasangkan ikat itu.
Hari itu selalu ia letakkan di masa depan yang jauh.
Sesudah melihat betapa mudah orang lain mengusik tempatnya di rumah dinas, Laras mengerti bahwa menunggu keadaan menjadi sempurna hanya akan membuat Nala terus tumbuh tanpa dirinya.
Ia sudah memiliki surat tugas. Ia mulai memperoleh tempat di dapur. Orang-orang yang dulu menudingnya kini terpaksa mengakui hasil kerjanya. Belum aman, tetapi untuk pertama kalinya ia punya pijakan.
Di belakangnya, Satya mengeluarkan suara kecil dalam tidur. Laras menoleh, lalu menggenggam ikat rambut itu lebih erat.
Satu anak menunggunya setiap kali ia pulang. Satu anak lagi menunggu terlalu lama di desa.
“Cukup,” bisiknya.
Laras menyelipkan ikat rambut merah muda ke dalam dompet kain bersama kartu kesehatan dan surat tugasnya.
Besok ia akan mulai mencari jalan.
Sudah waktunya membawa Nala ke kota.