Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Sasaran Empuk
Bobby memilih meja paling belakang di sebuah kafe murah dekat Muara Karang.
Di hadapannya duduk Dimas, teman lama yang mengenal orang-orang keamanan di beberapa kompleks PIK. Dimas mengaduk es kopi terlalu lama, jelas tidak nyaman dengan pertanyaan yang sejak tadi diajukan Bobby.
“Jadi benar dia Sebastian Wijaya?” tanya Bobby lagi.
“Benar. Anak keluarga Wijaya yang pegang banyak proyek.”
“Dia tinggal di mana?”
Dimas meletakkan sendok. “Lo mau cari mati? Waktu di supermarket saja dia bisa bikin laporan lengkap. Sekarang kasus lo belum selesai.”
“Gue cuma tanya.”
“Dia punya orang, pengacara, kamera, semuanya. Jangan ganggu.”
Bobby menyeringai, meski telapak tangannya berkeringat. Sejak insiden cabai, ia berkali-kali membayangkan membalas pukulan yang bahkan tak pernah diberikan Sebastian. Namun, setiap kali ingat lengan yang dipelintir dan suara dingin yang menyuruh polisi mengamankan CCTV, nyalinya turun.
Menyerang Sebastian secara langsung bukan keberanian. Itu kebodohan.
“Perempuan itu siapa?” tanyanya.
“Pekerja rumah.”
“Pacarnya?”
“Gue enggak tahu. Orang kompleks bilang Sebas sering bela dia.”
Bobby membuka foto Lia di ponsel. Dalam gambar buram itu, Lia memegang kantong belanja dan menunduk menghindari kamera.
Pekerja rumah. Tidak punya keluarga berpengaruh. Keluar untuk belanja. Mudah ditakut-takuti.
Jauh lebih aman daripada menyentuh seorang Wijaya.
“Cari tahu jam dia biasa keluar,” kata Bobby.
Dimas langsung berdiri. “Gue enggak ikut.”
“Cuma jam belanja.”
“Itu tetap menguntit. Cari orang lain.”
Dimas pergi setelah melempar uang untuk kopinya. Bobby tidak mengejar. Ia sudah mendapatkan informasi paling penting.
Lia adalah titik lemah Sebastian.
Ia berpindah ke warung rokok di seberang jalan dan membeli kartu nomor baru yang sudah terdaftar atas nama orang lain. Penjual tidak banyak bertanya. Bobby lalu menghubungi dua kenalan yang biasa menjadi penagih utang.
“Gue enggak minta kalian masuk rumah,” katanya. “Cuma foto gerbang, cari tahu kapan perempuan itu keluar, dan bikin dia sadar ada yang mengawasi.”
Salah satu dari mereka meminta bayaran dua kali lipat setelah mendengar nama Wijaya.
“Kalau sampai ada urusan sama polisi lagi, kita enggak kenal,” katanya.
Bobby mentransfer uang muka. Ia merasa cerdik karena tidak menyuruh mereka menyentuh Lia. Menurutnya, rasa takut tidak meninggalkan memar dan sulit dijadikan bukti.
Ia belum mengerti bahwa ancaman tertulis justru lebih mudah disimpan.
Pada sore yang sama, Lia berdiri di halaman belakang Rumah Wijaya, menggantung baju-baju kecil Bryan di bawah matahari. Pergelangan tangannya sudah tidak dibalut, meski warna memarnya belum sepenuhnya hilang.
Bryan tertidur di kereta bayi di bawah kanopi. Sesekali hidung kecilnya bergerak saat angin membawa aroma Lia dari kain yang baru dicuci.
Popo Mei Hoa duduk tak jauh dari sana sambil mengupas jeruk.
“Aho, jangan angkat ember berat.”
“Sudah tidak sakit, Popo.”
“Kalau Sebas lihat, dia ngomel.”
Lia hampir menjatuhkan satu kaus kaki bayi. “Kenapa Popo membawa nama Ko Sebas?”
“Karena sekarang dia lebih cerewet daripada Popo.”
Popo tertawa pelan. Lia pura-pura sibuk merapikan jemuran, tetapi senyum tipis lolos di bibirnya.
Ponselnya bergetar di atas bangku. Nomor tak dikenal mengirim satu foto.
Foto itu memperlihatkan gerbang samping Rumah Wijaya, diambil dari luar.
Pesan berikutnya masuk.
Rumah besar tidak selalu bisa melindungi kamu.
Darah Lia terasa dingin.
Ia menoleh ke arah gerbang. Tak ada siapa pun di gang samping, hanya bayangan pohon dan suara motor lewat.
“Ada apa?” tanya Popo.
Lia buru-buru mematikan layar. “Pesan salah, Popo.”
Ia ingin percaya begitu. Namun, jari-jarinya tidak berhenti gemetar.
Lia memindahkan Bryan dan kereta bayi lebih jauh dari gerbang, lalu memotret layar pesan dengan ponsel lama agar ada salinan. Pelajaran dari insiden supermarket tertanam kuat. Ia tidak menghapus nomor, tidak membalas, dan mencatat jam foto diterima pada halaman belakang buku belanja.
Tetapi ia belum berani memberi tahu Sebastian.
Bayangan wajah lelaki itu saat melihat memar Bobby masih terlalu jelas. Lia takut Sebastian akan menambah penjagaan, melarangnya belanja, dan menganggap dirinya tak mampu mengurus hidup sendiri. Lebih dari itu, ia takut menjadi beban yang terus mengacaukan pekerjaan lelaki tersebut.
“Aho, wajah kamu pucat,” kata Popo.
Lia mengambil napas dan memeriksa kait gerbang dari dalam. “Saya hanya kaget, Popo. Sebentar lagi juga baik.”
Popo tidak memaksa. Ia hanya memindahkan kursinya lebih dekat kepada Lia dan Bryan, seolah kehadiran tubuh tuanya bisa menjadi pagar kedua.
Di luar, seorang pengendara motor berhenti terlalu lama di ujung gang. Kamera pos keamanan merekam pelat belakang yang sebagian ditutup selotip. Petugas jaga keluar untuk menanyakan keperluan, dan motor itu langsung pergi.
Kejadian tersebut masuk ke buku tamu sebagai aktivitas mencurigakan.
Di SCBD, Robby menerima tangkapan layar serupa dari petugas keamanan rumah. Nomor asing yang sama juga menghubungi pos jaga, menanyakan apakah Lia bekerja di sana dan kapan ia libur.
Petugas tidak menjawab, lalu mencatat nomor itu sesuai instruksi Sebastian.
Robby segera menelepon.
“Bos, ada yang mulai menguji pagar.”
Sebastian menutup dokumen proyek. “Siapa?”
“Belum pasti. Nomornya prabayar. Tapi pola bahasanya mirip Bobby, dan dia tanya jadwal Lia ke pos keamanan.”
“Rekam semua. Jangan balas.”
“Sudah. Petugas bilang Lia menerima pesan juga, tapi dia belum melapor.”
Sebastian berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Dia di mana sekarang?”
“Di rumah. Halaman belakang sama Popo dan Bryan.”
Sebastian mengembuskan napas, sedikit lega. “Minta keamanan periksa gang tanpa membuat keributan. Simpan CCTV jalan. Saya akan bicara dengannya.”
“Jangan marah karena dia menyembunyikan,” kata Robby. “Mungkin dia takut dilarang keluar lagi.”
Sebastian terdiam. Peringatan yang sama, dengan bentuk berbeda.
Perlindungan tidak boleh menjadi kandang.
Ia menutup laptop, mengambil kunci mobil, lalu mengirim pesan kepada Lia.
Jangan hapus pesan dari nomor asing. Saya sedang pulang.
Di halaman belakang, Lia membaca pesan itu dan menatap gerbang sekali lagi.
Kali ini, bayangan seseorang bergerak menjauh dari celah pagar.