Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Begitu Darius duduk, William dengan cepat menyodorkan piring yang berisi hidangan kepada Darius. "Ini Kak, dicoba. Koki rumah memasaknya khusus pagi ini."
"Terima kasih, William," balas Darius dengan suara datar saat menerima piring tersebut.
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang kaku. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mewah yang terdengar.
Miranti Adhitama melirik Darius dari sudut matanya dengan tatapan penuh rasa tidak suka. Kehadiran pemuda itu di meja makan keluarga bagaikan sebuah noda kotor di atas kain sutra putih.
Setelah menghabiskan makanan di piringnya, Tuan Besar Hardiman menyeka bibirnya dengan serbet kain premium, lalu meletakkannya di samping piring.
"Darius," panggil Tuan Besar Hardiman dengan suara berat yang dipenuhi wibawa mendominasi.
Darius meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu menatap sang kakek dengan raut wajah yang sepenuhnya tenang. "Iya, Kakek?"
"Jam sembilan pagi nanti... tim desainer akan datang untuk mengukur baju pernikahanmu," ujar Tuan Besar Hardiman tanpa basa-basi.
Tuan Besar Hardiman kemudian menjeda ucapannya sejenak, memberikan jeda yang penuh tekanan. "Dan malam nanti, kita akan makan malam bersama Keluarga Atmadja di The Imperial Hotel."
"Ingat, Darius," sela Miranti Adhitama dengan dingin. "Makan malam nanti akan dihadiri oleh semua anggota Keluarga Atmadja. Jangan sampai kelakuanmu mempermalukan nama besar Adhitama!"
Savina dan Kiara terkekeh pelan di samping ibunya, menikmati setiap patah kata yang ditujukan untuk menyudutkan pemuda berkemeja abu-abu tersebut.
William, yang duduk di samping Darius, dengan cepat memasang raut wajah prihatin. "Ibu, jangan begitu. Kak Darius pasti bisa menyesuaikan diri. Lagipula, ini adalah pernikahannya."
"Dia hanya anak yang dibesarkan di jalanan, William!" tukas Miranti dengan sinis. "Bagaimana bisa dia tahu tata krama keluarga bangsawan dan pejabat tinggi Ibukota?"
"Cukup, Miranti!" tegas Surya Adhitama, mengetukkan jarinya ke meja. Wajahnya mengeras menatap istrinya. "Darius adalah putramu juga, anak kandungku! Hentikan ucapan merendahkan itu!"
Mendengar ucapan suaminya, Miranti Adhitama hanya bisa mendengus keras dan langsung memalingkan wajahnya dengan gusar.
Di tengah ketegangan yang memuncak di meja makan tersebut, Darius hanya mengusap sudut bibirnya dengan kain serbet.
"Aku mengerti, Kakek," sahut Darius pendek, suaranya mengalun tenang. "Aku akan bersiap untuk pengukuran baju jam sembilan nanti, dan menghadiri makan malam tersebut."
Tuan Besar Hardiman memperhatikan ketenangan Darius dengan tatapan yang menyipit. Cucunya yang terbuang ini, seolah menyembunyikan sesuatu di balik sikap tenangnya.
"Bagus kalau kau paham," dengus Tuan Besar Hardiman seraya bangkit berdiri, dibantu oleh tongkat miliknya. "Surya, ikut aku ke ruang kerja. Ada perihal bisnis yang perlu kita bahas."
"Baiklah, Ayah," jawab Surya Adhitama. Sebelum menyusul langkah ayahnya, ia menepuk pundak Darius pelan. "Jangan masukkan ke hati ucapan ibumu, Nak."
Setelah Tuan Besar Hardiman dan Surya Adhitama berlalu dari ruang makan, suasana tidak serta merta langsung mencair.
Miranti Adhitama berdiri, menatap Darius dengan pandangan menghina sebelum melangkah pergi diikuti kedua putrinya yang melemparkan tatapan mengejek.
Kini, hanya tersisa Darius, William, dan Violetta di meja makan mewah tersebut.
William memperbaiki letak jam tangannya, lalu menyunggingkan senyuman ramah. "Kak Darius, aku pamit duluan ya. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan di kantor hari ini."
Darius menanggapi ucapan itu hanya dengan sebuah lirikan tipis. "Selesaikanlah urusanmu, William."
"Terima kasih, Kak. Sampai jumpa nanti malam di makan malam keluarga," ujar William dengan hangat sebelum berdiri, lalu mengusap bahu Violetta dengan lembut. "Aku berangkat dulu, Sayang."
Violetta hanya mengangguk kaku, lalu tersenyum tipis yang terasa dipaksakan. Begitu William melangkah keluar dari ruang makan, keheningan yang canggung seketika menyelimuti ruangan tersebut.
Wanita itu berdiri dari kursinya, menatap Darius dengan sisa-sisa tatapan rumit akibat kejadian semalam. Namun, pria itu sama sekali tidak membalas pandangannya.
Tanpa memedulikan Violetta, Darius bangkit dan melangkah tenang menuju kamarnya di lantai tiga untuk menunggu kedatangan tim desainer.
Tepat pukul sembilan pagi, rombongan desainer papan atas yang disewa khusus oleh Keluarga Adhitama tiba. Beberapa perancang busana sibuk mengukur lingkar dada, bahu, dan panjang lengan Darius.
"Postur tubuh Tuan Muda Darius luar biasa proporsional," puji kepala desainer sambil berdecak kagum. "Jas pengantin ini pasti tampak sempurna begitu dikenakan."
Darius hanya mengangguk pelan sebagai respons singkat, lalu menyuruh mereka untuk segera membereskan peralatan dan meninggalkan kamar.
Setelah tim desainer pamit mundur, Darius segera keluar kamar dan menuruni tangga menuju lantai dasar. Ia berniat berjalan-jalan sejenak menghirup udara segar.
Ketika sampai di lantai dasar, Darius menghentikan langkahnya saat sebuah suara yang renta namun dipenuhi keraguan terdengar menyapanya.
"Tuan Muda Darius..."
Darius segera menoleh dan mendapati Pak Ruslan, kepala pelayan senior yang telah mengabdi di kediaman Adhitama selama puluhan tahun, sedang berdiri kaku tak jauh darinya.
"Pak Ruslan," sapa Darius dengan pendek, suaranya tetap datar namun tidak mengintimidasi.
Pak Ruslan membungkukkan badannya sedikit, berusaha menjaga tata krama. "Maafkan saya jika mengganggu, Tuan Muda. Jika boleh saya tahu... Anda hendak ke mana?"
Pria tua itu lalu melanjutkan dengan nada memohon, "Tuan Besar memberikan instruksi agar Anda tetap berada di dalam mansion hingga jadwal makan malam nanti."
Darius menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap pelayan tua itu.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar, Pak Ruslan," jawab Darius tenang.
"Tapi Tuan Muda..." Pak Ruslan tampak ragu, wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tuan Besar Hardiman sangat ketat soal instruksi ini. Jika beliau tahu Anda keluar tanpa pengawalan..."
"Apakah aku terlihat seperti seseorang yang membutuhkan pengawalan, Pak Ruslan?" potong Darius dengan intonasi rendah namun begitu dingin.
Sorot mata Darius yang tajam membuat Pak Ruslan seketika terdiam. Aura yang memancar dari tubuh pemuda itu membuat sang kepala pelayan senior mengurungkan niatnya untuk membantah.
"S-Saya mengerti, Tuan Muda," ucap Pak Ruslan seraya membungkuk lebih dalam, suaranya sedikit bergetar. "Namun, izinkan saya menyiapkan mobil dan sopir pribadi untuk Anda."
Darius melirik pelayan tua itu sekilas. Ia bisa melihat ketulusan yang bercampur dengan rasa takut di mata Pak Ruslan.
"Tidak perlu, Pak Ruslan," tolak Darius singkat. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi yang bisa dibaca.
"Tapi Tuan Muda, tanpa kendaraan, Anda mungkin akan..."
"Aku bilang tidak perlu," potong Darius dengan suara penuh penekanan dan wajah yang sama sekali tak berekspresi.
Pak Ruslan seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu mengangguk dengan patuh. "Baik, Tuan Muda. Saya mengerti. Hati-hati di jalan."
Mendengar hal itu, Darius mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya melewati pintu utama dan berjalan santai meninggalkan area kediaman megah Keluarga Adhitama.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya