Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum move on
Selama meeting dengan klien Arsen, Ananta merasakan kalo Emma Celeste beberapa kali melirik calon suaminya. Tapi Arsen tampak acuh.
Ananta berusan ngga meyakini dugaannya. Tapi feelingnya meyakini ada yang disembunyikan Arsen. Hal itu membuatnya.merasa jengkel.
"Pak Arsen akan bulan madu setelah menikah?" tanya Darya di sela obrolan serius mereka.
"Iya, pak. Satu minggu sepertinya. Nenek saya sudah menyiapkan semuanya," senyum Arsen sambil menoleh pada Ananta.
Memangnya kita mau kemana? batin Ananta penuh tanya. Dia sama sekali belum tau yang sudah diatur neneknya Arsen, juga orang tuanya belum mengatakan apa apa.
Sudrajat tersenyum.
"Pastilah nyonya Widari sudah menyiapkan yang terbaik. Anda satu satunya cucu beliau."
Arsen merasa ngga nyaman mendengar ucapan Darya. Dia tau maksud ucapan laki laki di depannya. Dia ada di sini setelah Ega meninggal. Mungkin kalo Ega masih ada, dia ngga akan tau punya keluarga di negeri asing ini.
Selama ini dia mengabaikan ucapan orang orang yang mengatakan wajahnya berbeda dari papanya, dan sekarang baru dia paham. Orang yang selalu dia panggil papa dulu adalah teman mamanya yang selalu menolong beliau.
Arsen hanya tersenyum tipis. Tiap ada yang membicarakan kalo dia adalah cucu Widari Bintani, selalu muncul perasaan ngga suka dalam hatinya. Mungkin karena teringat kalo neneknya dulu pernah membuangnya yang masih berada dalam kandungan mamanya.
Arsen juga bisa menebak isi pikiran orang.orang itu yang sudah tau tentang siapa dirinya.
"Kalo begitu strategi proyek ini harus kita matangkan dulu," tukas Darya bersemangat.
"Iya. Saya juga berpikir begitu. Tapi jangan khawatir, asisten saya Keto akan menanganinya selama saya bulan madu."
Darya dan Sudrajat mengangguk.
"Tenang saja, Pak Arsen. Jangan terlalu memikirkan urusan pekerjaan selama bulan madu. Lagi pula anda pergi hanya satu minggu." Sudrajat tersenyum maklum
"Iya. Kita ngga akan mengganggu anda selama satu minggu itu," janji Darya kemudian tertawa pelan. Sudrajat juga ikut tertawa.
Ponsel Arsen berdering, dia mohon ijin untuk menerimanya.
"Silakan, Pak Arsen," jawab Darya dan Sudrajat mengerti.
"Aku tinggal sebentar, ya," ucap Arsen lembut sambil mengusap lengan Ananta
Kembali jantung gampangan Ananta berdetak cepat.
"Iya."
Setelah mendengar jawaban Ananta, baru Arsen berjalan agak menjauh untuk menerima telpon dari klien yang lain.
Ngga lama kemudian ponsel Darya dan Sudrajat juga bergetar. Keduanya segera berjalan menjauh setelah mengangguk sopan pada Ananta yang membalasnya dengan senyum maklum.
"Maaf, saya mau ke toilet," pamit Emma.Celeste, kemudian dia melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban Ananta dan Sita.
Ananta sebenarnya menaruh rasa curiga dengan sikap Emma dan ingin mengikuti kemana gadis itu pergi. Dia yakin seribu persen Emma sedang mengikuti Arsen.
Tapi Ananta terpaksa membatalkan keinginannya karena dia merasa ngga enak meninggalkan Sita sendirian. Jadinya Ananta memilih tetap bersama Sita, walaupun dalam hatinya dipenuhi rasa penasaran.
"Tinggal kita berdua saja di sini," cuit Sita dengan bibir yang mengulaskan senyum pada Ananta.
Ananta mengangguk dengan membalas senyum Sita.
"Yang tadi itu istri ketiga Pak Darya," cuitnya lagi, kali ini lebih perlahan.
Gila, kok, dia tau, batin Ananta ngga percaya
Saking terkejutnya Ananta sampai membelalakkan matanya.
"Jangan kaget begitu, Bu Ananta. Biasa ajalah," tawa Sita pelan. Seakan akan reaksi Ananta berlebihan.
"Namanya juga dimanja dengan uang yang berlimpah," cibir Sita lagi.
Ya, Ananta percaya karena sudah banyak kejadian seperti itu.
Tapi yang membuat hatinya cemas; sepertinya istri ketiga itu sekarang mulai mendekati Arsen.
"Hati hati, ya, Bu Ananta. Tadi aku sempat lihat dia lirik lirik Pak Arsen, lho."
DEG
Jantung Ananta berdetak cepat dan keras.
Ternyata Sita juga menyadarinya.
*
*
*
Arsen sudah menyelesaikan obrolannya via telpon dengan kliennya. Dia menyimpan ponselnya di saku sambil membalikan punggungnya, Dia ingin cepat kembali menemui Ananta, karena sudah cukup lama meninggalkan calon istrinya bersama kliennya.
"Arsen."
Arsen memicingkan matanya pada wajah bule di depannya yang barusan menegur dengan suara bergetar.
Emma Celeste.
"Apa kabar?" tanyanya kemudian. Nada suaranya masih bergetar.
"Baik." Arsen melangkah mendekati Emma yang masih berdiri menatapnya.
Jantung gadis itu berdetak cepat ketika Arsen hampir mendekatinya. Dia kira Arsen akan memeluknya. Tapi ternyata dia salah besar, karena Arsen melewatinya seolah tidak mengenalnya sama sekali.
Dia yang sudah sangat berharap jadi terhenyak. Tapi karena sekitar tempat mereka sepi dan Emma sudah tau kalo suaminya berada di tempat lain, Emma jadi nekat.
"Arsen, ada yang mau aku bicarakan." Emma meraih tangan Arsen. Memegangnya kuat.
"Lepas," sergah Arsen kasar.
"Arsen, Kita harus bicara." Emma tetap mempertahan pegangannya pada lengan Arsen.
"Maafkan aku," mohonnya dengan tatap mata yang memelas.
Tapi Arsen telanjur menarik dengan kasar tangannya dauri pegangan Emma. Dia ngga mau suami Emma salah paham, mengira dia sudah berani menggoda istrinya.
"Aku hanya akan bicara dengan suamimu," ucapnya datar sebelum pergi meninggalkan Emma. Pegangan Ema juga sudah terlepas.
"Arsen, aku minta maaf. Aku menyesal," serunya agak keras untuk menahan langkah Arsen.
Wanita gila, sergah Arsen dalam hati.
Dia ngga takut kalo ada yang mendengar ucapannya.
Arsen mengepalkan tangannya. Sikap gadis ini bisa merusak kepercayaan Ananta terhadapnya. Tadi saja Arsen sadar kalo Ananta sudah mencurigainya. Dia ngga ingin Ananta salah paham.
"Arsen. Jangan pergi. Dengarkan penjelasanku dulu," kejar Emma. Dia ngga percaya Arsen mengabaikannya. Padahal dulu Arsen memujanya.
Dia bodoh. Harusnya dia terima aja Arsen. Ternyata Arsen satu satunya pewaris keluarga super kaya raya yang sempat hilang keberadaannya. Dan sekarang sudah ditemukan. Emma Celeste merutuki ketololannya.
Sementara Arsen menulikan pendengarannya. Dia terus melangkahkan kakinya tanpa menggubris tingkah Emma yang makin menyebalkan. Dia sudah bertekad melupakan gadis itu di hari penolakannya.
Pertemuan mereka memang tak terduga. Tapi Arsen bersyukur, ada Ananta di sampingnya sekarang. Tidak dia sangka gadis itu memohon padanya. Arsen ingin sekali meludahinya.
*
*
*
Arsen dan Emma dulu satu profesi di agensi model yang sama. Karena sempat dekat, Arsen yang waktu itu masih kuliah sambil kerja untuk membiayai dirinya dan pengobatan mamanya, mencoba menjadikan Emma sebagai kekasihnya.
"Arsen, aku ngga tertarik menjadi kekasihmu. Laki laki impianku bukan hanya sekadar tampan. Tapi dia juga harus kaya raya. Kamu ngga masuk dalam daftarku."
Seringan itu Emma mengeluarkan kata kata penolakan yang menyakitkan hatinya. Tapi itu dulu, dan sempat meninggalkan trauma buatnya.
Emma Celeste sangat cantik. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya halus bening, rambutnya pirang seperti boneka barbie. Pokoknya segala yang ada pada diri Emma Celeste sangat membius Arsen.
Bukan Arsen saja yang menyukainya, tapi banyak juga orang lain dengan beragam profesi jatuh cinta dengannya.
Tapi pemenangnya ternyata seorang laki laki Asia yang umurnya cukup jauh di atas Arsen. Laki laki yang berasal dari salah satu negara Asia itu tidak memenangkan hati Emma Celeste dengan cinta. Tapi dengan uangnya.
Takdir menunjukkan hal itu padanya setelah beberapa tahun kemudian. Suami Emma Celeste ternyata menjadi rekan bisnisnya. Sudrajat, laki laki yang berumur empat puluh tahunan yang ternyata dipilih Emma.
Arsen mengenali gadis itu di pertemuan pertama tadi saat mereka bertemu. Tapi perasaannya sudah biasa saja. Arsen ngga tau kenapa dia bisa merasa begini. Arsen dapat melihat keterkejutan Emma saat melihatnya dan dia tidak peduli. Dia sudah bersama Ananta.
Arsen senang melihat wajah shock Emma saat dia mengatakan kalo Ananta calon istrinya dan menunjukkan kemesraannya pada Ananta di depan muka Emma.
Arsen tersenyum miring. Emma sekarang pasti sangat menyesal karena sekarang dia sudah tau kalo laki laki miskin yang ditolaknya dulu ternyata lebih kaya raya dari pada suaminya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?