NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:57.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Yessika dan Jordan akhirnya keluar dari ruang ganti utama. Rambut Yessika tampak sedikit acak-acakan meski sudah dirapikan seadanya, sementara kemeja hitam yang dikenakan Jordan terlihat kusut di bagian dada.

Vanessa sudah menunggu di luar. Ia duduk anggun di sofa beludru area tunggu sambil menyesap teh chamomile hangat dari cangkir porselennya.

Di jari manisnya, cincin berlian marquise pemberian Alessio berkilau indah, tersembunyi rapat di balik jemarinya yang mendekap cangkir.

Yessika melangkah maju dengan kibasan rambut sombong. Senyum miring yang amat puas terukir jelas di bibirnya.

"Vanessa... maaf ya," pamer Yessika dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin.

"Apa kau sudah menunggu lama?"

Vanessa meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan.

Denting halus porselen memecah keheningan. Pandangan matanya yang dingin beredar menatap Yessika dan Jordan bergantian.

"Apa yang kalian lakukan di dalam?" tanya Vanessa datar, tanpa emosi yang meluap.

"Kenapa lama sekali? Apa memang butuh waktu sesulit dan selama itu hanya untuk mencoba satu gaun pengantin?"

Raut wajah Jordan seketika memucat. Ia salah tingkah, berdehem keras seraya membetulkan kerah kemejanya yang melipat.

"Ehem... Itu... resleting gaunnya agak macet," kilah Jordan cepat. Suaranya terdengar sedikit gugup.

"Kainnya melilit di bagian belakang, jadi aku harus membantu Yessika membetulkannya perlahan."

"Iya, betul sekali!" Yessika menimpalinya dengan nada manja.

Tanpa rasa malu sedikit pun di depan para pegawai butik yang berlalu-lalang, Yessika langsung merapat dan memeluk lengan tegap Jordan. Ia sengaja menggesekkan bahunya pada Jordan, memamerkan kemesraan murahan itu tepat di depan mata Vanessa.

"Resletingnya menyebalkan sekali. Untung ada Jordan yang sangat sabar menolongku di dalam."

Vanessa menatap kebohongan mentah itu dengan rasa jijik yang memuncak di dada. Ia tahu pasti apa yang sebenarnya mereka lakukan di balik pintu terkunci itu. Namun, Vanessa memilih untuk menahan diri.

Belum saatnya membongkar aib pasangan menjijikkan itu.

"Resleting macet sampai memakan waktu hampir satu jam?" sindir Vanessa tipis, memiringkan kepalanya sedikit.

Yessika melangkah satu tapak mendekati sofa Vanessa. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Vanessa dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.

"Kenapa, Vanessa? Kau curiga?" tantang Yessika, bibirnya tersenyum penuh ejekan.

"Atau... kau cemburu melihat Jordan begitu perhatian padaku?"

"Cemburu?" Vanessa terkekeh sinis. "Untuk apa aku cemburu pada pel@cur rendahan sepertimu?"

Mata Yessika mendelik tajam.

"Jaga mulutmu, Vanessa! Aku hanya meminta bantuan Jordan saja. Masa' begitu saja kau harus cemburu, sih?"

"Yessika, cukup," potong Jordan, mencoba menenangkan simpanannya. Namun, Yessika justru makin melunjak.

"Tidak, Jordan! Dia harus sadar diri!" seru Yessika sengit, matanya berkilat memancarkan kebencian. Ia kembali menunjuk Vanessa.

"Kau pikir karena kau calon pengantin resmi, kau bisa memandang kami dengan tatapan menjijikkan seperti itu? Dengar ya Vanessa, di mata Jordan, kau itu tidak ada artinya dibanding aku!"

Vanessa berdiri perlahan dari sofanya. Postur tubuhnya yang tinggi dan anggun seketika membuat posisi Yessika terlihat kerdil.

"Yessika," ucap Vanessa tenang namun sarat akan intimidasi.

"Kau lupa posisi mu ada dimana? Kau di sini hanya penonton. Perlu kuingatkan siapa pemilik asli gaun pengantin itu dan siapa yang merengek seperti pengemis hanya untuk barang bekas orang lain?"

"Kau...!" Wajah Yessika memerah padam karena murka. "Dasar wanita sombong! Jordan, lihat dia! Dia menghina aku lagi!"

"Sudahlah, Vanessa! Jangan memperpanjang masalah sepele!" potong Jordan tegas. Ia menatap Vanessa dengan raut wajah tidak sabar dan penuh dorongan memerintah. "Yessika sangat menyukai gaun ini dan pas sekali di tubuhnya. Jadi, gaun putih ini resmi milik Yessika."

Vanessa berpura-pura terkejut. Wajahnya mengeras, bersandiwara seolah dia sangat tidak terima.

"Apa?! Jordan, itu gaun pesanan khususku! Kau tidak bisa memberikannya begitu saja pada wanita lain!"

"Jangan pelit!" bentak Jordan tanpa perasaan, matanya menyipit tajam. "Lagipula, Yessika ini adikmu sendiri! Masa hanya karena selembar gaun kau harus menghitung-hitung? Kau kan bisa memesan gaun lain yang baru!"

Yessika tersenyum puas di balik punggung Jordan. Ia melangkah maju lagi, berdiri tepat di samping Jordan seraya berbisik dengan nada provokatif yang cukup keras untuk didengar Vanessa.

"Lagipula, gaun indah ini lebih cocok melekat di tubuhku daripada di tubuh kaku milikmu, Vanessa," ejek Yessika penuh kemenangan. "Jordan saja bilang aku sangat seksi saat memakainya tadi. Iya kan, Jordan?"

Jordan berdehem canggung, tak menjawab pertanyaan Yessika, namun sikap diamnya sudah cukup menjadi pembenaran.

Vanessa mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap Jordan lurus-lurus tanpa mengabaikan aura permusuhan di antara mereka.

"Ini bukan cuma soal gaun, Jordan. Ini soal sikapmu," desis Vanessa dingin.

"Kau sudah berjanji pada Ayahmu bahwa kau akan menjauhi Yessika dan tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya. Apa kau mau Ayahmu tahu soal keberadaan Yessika di butik ini?"

Mendengar nama ayahnya disebut, raut panik menyambar wajah Jordan. Ketakutan akan kemarahan Arthur membuat emosinya makin tak terkendali.

"Tutup mulutmu, Vanessa!" desis Jordan berbisik menekan. Ia melangkah cepat mengikis jarak, menunjuk tepat di depan wajah Vanessa.

"Aku dan Yessika sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi! Kami hanya murni saling membantu sebagai keluarga! Jadi, kau jangan pernah mencoba menuduhku yang tidak-tidak atau melapor yang aneh-aneh pada Ayah!"

"Murni saling membantu?" Vanessa melirik pakaian Jordan yang kusut dengan tatapan sarat sindiran. "Bantuan yang sangat bagus sekali, Jordan."

"Vanessa! Jaga bicaramu!" bentak Jordan lagi, matanya merah padam. Dia sadar kemana arah tatapan Vanessa tertuju.

"Dengar baik-baik. Pernikahan kita ini terjadi karena keputusan keluarga! Jika kau berani mengacaukan situasi lagi atau mengadu pada Ayahku hanya karena cemburu buta pada Yessika, aku pastikan hidupmu di keluarga Carlton tidak akan pernah tenang!"

Yessika menimpali dengan tawa mengejek.

"Dengar itu, Vanessa? Jordan tidak akan pernah membela wanita dingin seperti dirimu. Kau boleh mendapatkan statusnya, tapi hatinya... dan tubuhnya... akan selalu menjadi milikku."

Vanessa menatap Yessika dengan pandangan penuh kasihan. "Teruslah bermimpi, Yessika! Kenyataannya, posisi sebagai Nyonya muda Carlton hanya akan jadi milikku. Sementara kau? Kau hanya bisa bersembunyi dibalik bayangan dengan sebutan sebagai perempuan sim-pa-nan."

"Jaga mulut mu!" bentak Yessika kesal. Alisnya tampak bertaut tajam.

"Jordan, tunggu saja! Aku akan mengadukan semua ini pada Ayahmu!"

"Coba saja kalau kau mau pernikahan ini benar-benar batal. Lagipula, ini hanya masalah gaun. Di butik ini masih banyak model gaun yang tak kalah cantik. Tinggal pilih salah satu kan beres. Kenapa kamu harus mempermasalahkan segala hal, hah? Apa kau sengaja ingin mempersulit aku dan Yessika?"

"Terserah apa katamu!"

"Kau benar-benar bebal, Vanessa," geram Jordan. "Jangan menangis jika pernikahan kita benar-benar aku batalkan!" lanjutnya mengancam.

"Kalau kau ingin membatalkannya, batalkan saja! Toh, aku juga tidak harus menikah denganmu, kan?"

Kening Jordan mengerut tajam. "Apa maksudmu?"

Vanessa hanya tersenyum lalu berbalik melangkah meninggalkan area tunggu utama. Setiap langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai marmer, menuju pintu keluar butik.

Yessika yang merasa konfrontasinya belum usai hendak mengejar Vanessa, namun Jordan menahan lengannya.

"Sudah, Yessika! Biarkan dia pergi!" ketus Jordan gusar.

"Tapi Jordan, dia sangat menyebalkan! Apa kau tidak dengar dia bilang apa, hah!? Dia mengancam akan melaporkan kita pada Ayahmu!" protes Yessika sambil merengek kesal.

"Dia tidak akan berani," sahut Jordan mantap, walau dadanya masih berdegup kencang karena cemas. "Vanessa butuh pernikahan ini. Dia tidak akan membatalkannya hanya karena selembar gaun."

1
Umi Zein
makan tuuh kata penyesalan.. klo seandainya Vanesa ga punya apa2 juga elu gak bakalan mau sama Vanesa 😏😏
Umi Zein
Karena faktanya seluruh aset warisan itu milik Ale2 udh seharusnya balik ketangan Ale2 pemilik sah nya. dan atas dasar kesabaran Ale2 akhirnya dia bisa ngambil haknya kembali yg di rampas sma bpak durjana Elu Jordan sampah'. sekarang nikmatin hasil dari niat dan perbuatan busuk elu sm bpk durjana Elu 😠😠
dewi rofiqoh
Lanjuut
Umi Zein
hadeu Jor elu tuh mau mnta maaf mau ngemis sma Vanesa knpa malah jdi elu yg Emosi karna Vanesa udh cinta sm Ale2 😏😏😏

wong edan 🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
semoga segera dapet debay biar joran pancingan gak ngusik2 Vanesa lagi😍😍
ryuka
waaahh bener2 cati mati nih si jordan 🤭🤭🤭🤭
Sari Nilam
jordan 2 halu tingkat dewa ...
Turi77 Turi77
matur nuhun thor,sehat "terus 🫰🥰
Umi Zein
mimpi di siang bolong, bangun Woiii...
halu lu joran pancing🤣🤣🤣🤣Vanesa jijik kali sma elu
idiiiih ke PeDean Lu najiss 😏😏😏
Umi Zein
gak tau aja nih duo makhluk cecunguk, klo Ale2 udh kenal Vanesa bertahun2 lalu 😏🤣🤣
dewi rofiqoh
Jordan... Jordan jangan mimpi ya bisa balik sama vanesa!
ryuka
streess nih si kordan 🫠🫠🫠
rurry Irianty
emg g beres otak anak haram ini,g ngerti apa Vanessa jijik liat mukamu
dewi rofiqoh
Lanjuut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
nah kn benar dugaan sya ,,
Nikolai kokop yg dlu nyelametin Alessio waktu d luar negeri ,,
Muft Smoker
jgn2 pimpinan taiga ,, yg nyelametin Alessio Dan yg mendidik Alessio d luar negeri🤔🤔🤔
Muft Smoker
KEJUTAAAAAAN ,, 😏😏😏🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Muft Smoker
yx ,, yx ,, berencana boleh2 aj Jordan ,,
tp semua keputusan ,, d ACC apa gx tu semua tergantung tangan Tuhan ,, Dan tangan kak author tentu ny ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
good job Ale2 penjarah terlalu nyaman, buat tikus2 haus harta dan kekuasaan. buang semua sampah2 dari lingkungan hidup mu binasakan ✊🏻✊🏻👍🏻😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!