Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari bersinar terik tepat di atas Arena Puncak Awan yang kini dipadati oleh puluhan ribu tamu undangan dari seluruh penjuru benua.
Sorak sorai penonton terdengar menggelegar menyambut berakhirnya babak penyisihan turnamen generasi muda yang berlangsung sangat cepat dan membosankan.
Namun fokus utama dari semua orang yang hadir di sana bukanlah pertarungan anak-anak muda tersebut.
Semua mata tertuju pada empat singgasana raksasa yang melayang di udara, tempat duduk para dewa yang menguasai Benua Surgawi.
Keempat ketua dari Empat Sekte Suci duduk di sana dengan mata terpejam, memancarkan aura yang membuat ruang dimensi di sekitar mereka melengkung.
Di tribun pelayan yang berada di sudut gelap arena, Lin Xiao menatap keempat sosok itu dengan pandangan yang sangat tajam.
"Kekuatan mereka benar-benar berada di dimensi yang sama sekali berbeda dari kita, Lin Xiao." bisik Xue Mingyue yang berdiri di sampingnya dengan pakaian pelayan.
"Seperti yang pernah kau ceritakan padaku, gelombang kejut dari pedang ahli Transformasi Jiwa saja bisa meratakan sebuah gunung menjadi debu."
Lin Xiao menyilangkan kedua lengannya di dada, sama sekali tidak membantah fakta mengerikan tersebut.
"Perbedaan antara tahap Jiwa Murni milikku dan tahap Transformasi Jiwa milik mereka memang seperti jurang yang tidak berdasar." jawab Lin Xiao dengan sangat objektif.
"Mereka telah menyatu dengan hukum alam, sementara kita masih meminjam energi dari alam." lanjut pemuda itu menjelaskan secara singkat.
"Jika kita berhadapan langsung dengan mereka secara adil, kita berdua akan hancur menjadi serpihan daging dalam hitungan detik."
Meng Shan yang sedang menyamar sebagai kuli angkut minuman ikut mendekat dengan wajah yang sedikit pucat.
"Lalu bagaimana kita bisa membunuh monster-monster yang bisa membelah gunung itu, Tuan?" tanya Meng Shan menelan ludah dengan susah payah.
Lin Xiao tersenyum iblis, matanya memancarkan kegilaan murni yang tidak pernah pudar sedikit pun.
"Siapa yang bilang kita akan bertarung secara adil dengan kakek-kakek tua itu, Meng Shan?" ejek sang Kaisar Bayangan.
"Kita akan menggunakan cara paling kotor, paling licik, dan paling pengecut yang pernah disaksikan oleh dunia kultivasi ini."
Xue Mingyue mendengus pelan, dia sudah sangat terbiasa dengan pola pikir bosnya yang tidak pernah peduli pada kehormatan.
"Acara puncaknya akan segera dimulai, Lin Xiao." ucap gadis es itu menunjuk ke arah tengah panggung.
Di bawah sana, seorang pendeta tinggi dari Sekte Api Nirwana berjalan naik ke atas altar pernikahan yang dihiasi oleh bunga teratai emas.
Di sisi kiri altar, Tuan Muda Kedua dari Sekte Api Nirwana berdiri dengan senyum arogan menggantikan posisi kakaknya yang telah mati.
"Mereka menggunakan adik Yan Huo sebagai pengganti pengantin pria agar aliansi politik ini tetap berjalan." analisis Xue Mingyue dengan sinis.
"Sekte-sekte ini benar-benar tidak peduli pada siapa wanita itu dinikahkan, asalkan kepentingan mereka tercapai."
Pintu gerbang utama altar terbuka, dan sosok Yue Xin yang mengenakan gaun pengantin merah darah melangkah keluar dengan anggun.
Langkah kaki gadis itu terlihat jauh lebih ringan dan tenang dibandingkan saat dia melakukan geladi bersih kemarin.
"Dia terlihat sangat cantik hari ini, tidak ada raut keputusasaan sedikit pun di wajahnya." komentar Meng Shan melihat Putri Suci tersebut.
"Itu karena dia tahu bahwa dewa kematian pribadinya sedang bersiap untuk membakar panggung ini." jawab Lin Xiao dengan suara bariton yang berat.
Yue Xin berjalan menaiki altar dan berdiri tepat di hadapan pendeta tinggi tersebut.
"Hari ini, di bawah saksi langit dan bumi, kita menyatukan dua kekuatan besar dari Istana Bayangan Bulan dan Sekte Api Nirwana!" seru pendeta itu dengan suara yang menggema.
Puluhan ribu tamu undangan bertepuk tangan dengan gemuruh, merayakan aliansi yang akan mengukuhkan kekuasaan mutlak di pusat benua.
Ketua Istana Bayangan Bulan dan Ketua Sekte Api Nirwana membuka mata mereka dari atas singgasana melayang, tersenyum puas melihat pemandangan tersebut.
"Putri Suci Yue Xin, apakah kau bersedia menerima Tuan Muda Kedua ini sebagai suami dan pendamping hidupmu?" tanya sang pendeta menjalankan ritual sucinya.
Yue Xin menundukkan kepalanya sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap ke arah kerumunan ribuan pelayan di sudut arena.
Gadis berparas dewi itu menyunggingkan sebuah senyuman yang luar biasa indah dan memikat jiwa siapa pun yang melihatnya.
Senyuman itu adalah sinyal yang telah disepakati, sebuah undangan berdarah yang dikirimkan langsung untuk sang penguasa dari Makam Para Raja.
Lin Xiao yang melihat senyuman itu dari kejauhan langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.
"Waktu pertunjukan sudah tiba." bisik Lin Xiao mengentakkan kakinya ke lantai.
"Hancurkan kandang burung ini sekarang juga!" perintah Lin Xiao melalui telepati bayangan kepada seluruh komandan bawahannya.
Tepat pada detik Yue Xin hendak membuka mulutnya, sebuah suara ledakan yang luar biasa memekakkan telinga meledak dari arah gerbang utama arena.
Duarr.
Gerbang batu giok setinggi lima puluh meter itu hancur berkeping-keping, mengirimkan puing-puing raksasa yang menimpa ratusan tamu undangan di dekatnya.
"Aaaarrghh! Serangan musuh!" jerit kepanikan langsung meledak dari arah pintu masuk.
Namun itu hanyalah hidangan pembuka dari neraka yang sebenarnya.
Bum. Bum. Bum.
Tiga ratus enam puluh pilar penyangga arena yang telah ditanami formasi peledak tingkat tinggi meledak secara serempak dan beruntun.
Ledakan berantai itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan separuh atap arena, mengubah tempat suci itu menjadi lautan api dan debu dalam sekejap mata.
Brak. Krak.
Bongkahan pualam seukuran rumah berjatuhan dari langit, menimpa puluhan ribu tamu elit yang sedang berlarian mencari jalan keluar.
"Tebarkan racunnya, Meng Shan! Buat mereka mati lemas di dalam kepanikan ini!" raung Lin Xiao mencabut pedang peraknya dari sarung.
"Sesuai pesanan, Tuan!" tawa Meng Shan melompat ke udara dengan tubuh raksasanya.
Pemuda botak itu melemparkan puluhan tong kayu ke arah kerumunan tamu yang sedang panik berdesakan di pintu keluar.
Trang.
Tong-tong kayu itu pecah, melepaskan asap racun korosif buatan Kaisar Racun Tanpa Wujud yang langsung menyelimuti area tribun bawah.
Suara jeritan dan batuk darah terdengar bersahutan, mengubah turnamen suci itu menjadi arena pembantaian yang sangat kotor dan kacau.
Di atas singgasana melayang, Ketua Sekte Api Nirwana berdiri dengan wajah yang merah padam karena amarah yang tidak tertahankan.
"Siapa bajingan yang berani mengacau di acara sekte yang suci ini?!" raung sang ketua sekte melepaskan aura Transformasi Jiwa miliknya.
Wush.
Hanya dari tekanan suaranya saja, asap dan debu ledakan di tengah arena langsung tersapu bersih tanpa sisa.
Di tengah-tengah kekacauan dan puing-puing pualam tersebut, sosok Lin Xiao berjalan pelan menuju altar pernikahan dengan jubah hitam yang berkibar.
"Maaf aku sedikit terlambat, apakah pesta potong kuenya sudah dimulai?" ejek Lin Xiao dengan suara bariton yang menggema dengan sangat jelas.