Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
#12
“Terima kasih, Dind. Karena sudah mau menemani Eyang ngobrol sampai larut malam begini,” kata Eyang Tuti.
Dinda tersenyum tulus, tangannya sibuk membantu Eyang Tuti berbaring, lalu merapikan selimutnya. “Sama-sama, Eyang, Dinda juga senang bisa nemenin Eyang ngobrol.”
“Entah kenapa, Eyang, tuh, betah banget kalau sudah ngobrol sama kamu, obrolan kita selalu klik, padahal sama Tari dan mamanya saja Eyang tidak se betah ini,” ungkap Eyang Tuti yang masih betah menggenggam tangan Dinda.
“Mungkin itu perasaan Eyang saja, Mbak Tari dan Mama asik-asik aja, tuh,” sanggah Dinda menengahi.
Eyang menepuk punggung tangan Dinda, “Iya, mungkin usia Eyang tak akan lama lagi, makanya semakin sensitif.”
“Eyang, kok, ngomong begitu? Eyang pasti sehat dan masih bisa menemani kami lebih lama lagi.”
Eyang tersenyum lalu menghembuskan nafas, “Amin, semoga saja, ya? Istirahatlah, besok kamu masih harus bekerja. Lagipula, Bagas pasti menunggumu.”
Gleg!
Bagas pasti menunggumu.
Apa yang dia tunggu? Wong, sudah jelas tak perlu menunggu. Namun, gerutuan itu hanya Dinda ucap dalam hatinya saja.
Wanita itu menutup pintu kamar tamu secara perlahan, agar tidak menimbulkan suara gaduh.
Dinda melangkah gontai mendekati sofa di ruang tengah, malam ini ia akan tidur di sana, ketimbang tidur sekamar dengan mantan suaminya.
Ponselnya berkedip sejenak, sepertinya ada pesan masuk. Ah, ternyata Mama Juwita yang mengirimkan pesan.
📥 Jangan terlalu memforsir dirimu, Nak. Ingat tubuhmu juga butuh istirahat.
Bergetar kedua tangan Dinda, padahal ia berbohong, tapi Mama Juwita justru mengingatkannya untuk beristirahat. Tak ada yang bisa Dinda lakukan selain mengusap air mata yang turun membasahi pipinya. “Maafkan Dinda, Ma.”
Dinda memeluk kedua lututnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga Bagas mendatanginya. “Kenapa menangis?”
Bagas selalu peka, itulah hal pertama yang membuat Dinda jatuh cinta pada pria itu, dulu. Tapi, entah kemana perginya kepekaan itu manakala Dinda memergokinya ada di dalam apartemennya bersama seorang wanita. Dan hal itu pula yang membuat Dinda mantap menggugat cerai Bagas pada saat itu.
Buru-buru Dinda menghapus air matanya, “Tidak ada apa-apa,” jawab Dinda, lalu menata bantal sofa untuk dirinya tidur malam ini. “Pergilah, aku mau tidur.”
“Disini?” tanya Bagas kaget.
“Hmm.” Dinda mulai memejamkan kedua matanya.
“Tidurlah di kamar.”
“Tidak, terima kasih.” Dinda kembali menolak.
“Apa kamu rindu aku gendong ke kamar?” bisik Bagas, dengan seringai jahil di wajahnya.
Bagas mulai mengeluarkan senjata ampuhnya, meski sudah lama berpisah, Bagas tak pernah lupa kebiasaan Dinda yang sengaja tidur di sofa, berharap pria itu akan menggendong dan memindahkannya ke tempat tidur.
Kedua mata Dinda yang semula terpejam, kembali terbuka lebar, “Jangan fitnah, ya!” geram Dinda.
“Kalau begitu, masuklah ke kamar, apa kamu sengaja ingin dilihat Eyang, lalu beliau bertanya?”
Cerewet sekali pria ini, apalagi bila menyangkut soal Dinda, dan kebiasaannya yang menurut Bagas sedikit merepotkan. Meski Bagas berharap Dinda mengiyakannya saja.
“Aku tak mau tidur di kamar yang sama denganmu,” desis Dinda, wajahnya galak penuh permusuhan demi mempertahankan egonya.
“Terus gimana? Kita, kan, sedang bersandiwara sebagai pasangan suami dan istri. Apa kata Eyang bila melihat kita tidur di kamar terpisah?”
Dinda mengepalkan tangannya, geram, kesal, ingin marah, tapi dia sudah terlalu lelah hari ini. Akhirnya Dinda berpindah ke kamar tanpa protes lagi, lalu berbaring di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Kebat-kebit jantungnya, sebab ini kali pertama mereka kembali tidur di kamar yang sama. “Aku rasa kamu sangat merindukan aku,” sindir Bagas karena Dinda menguasai lahan untuk ia tiduri malam ini.
“Duh, apalagi, sih, Mas,” rengek Dinda, mulai jengkel dengan pria berusia 30 tahun itu. Karena sejak tadi tak lelah mengganggu ketenangannya.
“Tidurlah di kasur, biar aku yang tidur di sofa.”
Dinda melengos, lalu kembali berbaring. Baiklah, Bagas tak mau bicara lagi, sebaliknya, pria itu ikut berbaring di belakang punggung Dinda. “Alhamdulillah, aku punya selimut hangat malam ini,” bisik Bagas dengan suara nakal.
Merinding bulu kuduk Dinda, lalu—
Bugh!
Secara reflek ia mendorong tubuh bagas hingga pria itu terjatuh dari sofa, “Akh!” pekik Bagas, meringis sambil mengusap punggungnya yang baru saja membentur lantai. “Kamu, kok, makin galak, sih, Sayang,” rengek Bagas.
“Sukurin!” Dinda bangkit lalu berjalan menuju tempat tidur. Memang paling nyaman tidur di kasur ketimbang di sofa, karena punggungnya mulai rileks hingga kantuk itu datang menghampiri.
Dari tempatnya, Bagas menatap tubuh Dinda yang berbaring memunggunginya. Rasanya tenang sekali, sebab Dinda ada di dekatnya setelah sekian lama. “Selamat tidur, Mamanya Abel,” gumam Bagas yang hanya didengar olehnya.
•••
Dinda tidur pulas sekali hingga ia terbangun karena Bagas yang membangunkannya.
“Dind— bangun, sudah jam delapan.”
Mendengar kata jam delapan kedua mata Dinda segera terbuka lebar, kantuknya menguap begitu saja, tapi pemandangan pagi yang menyambutnya adalah, Bagas yang sedang bertelanjang dada dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya, helaian rambutnya masih meneteskan air hingga menimbulkan kesan seksi.
“Akh! Pakai bajumu!” jerit Dinda heboh, sudah lama ia tak melihat Bagas dengan pose demikian, tentu rasa gugup itu kembali datang.
“Apa, sih, kan aku masih pakai handuk,” Sahut Bagas santai.
Dinda merengut, suka atau tidak, ia pasti akan berhadapan dengan situasi semacam ini, maka Dinda pun bangkit dari pembaringan. Wanita itu mengabaikan perasaan aneh yang kembali hinggap di hatinya, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Ternyata masalah belum selesai.
“Mas Bagas!” Dinda menjerit dengan suara kerasnya.
“Apa!? Ada apa?!” Bagas langsung nyelonong masuk ke kamar mandi yang pintunya belum terkunci.
“Ini,” jawab Dinda, sambil menunjuk ke arah lantai tempat celana dalam pria itu teronggok mengenaskan.
“Oh, itu tadi jatuh pas aku mau pakai, tolong masukkan keranjang laundry, ya?” ujarnya santai, benar-benar tanpa beban hingga membuat Dinda terperangah tak bisa berkata-kata.
“Tapi—”
“Ah, kamu, kan sudah sering juga lihatnya,” sela Bagas memotong ucapan Dinda.
Meski bibir menggerutu, dan hati yang dongkol, Dinda tetap memungut benda pribadi milik mantan suaminya itu, lalu memasukkannya ke tempat pakaian kotor. “Thank you,” ucap Bagas, lalu kembali menutup pintu kamar mandi.
“Kenapa kebiasaannya tak pernah berubah sejak dulu, apa susahnya memasukkan pakaian kotor ke keranjang,” gerutu Dinda.
Tak butuh waktu lama, Dinda pun mulai menyiram sekujur tubuhnya, bahkan wanita itu menyempatkan diri mencuci rambutnya dengan santai. Padahal beberapa saat lalu, ia panik karena bangun kesiangan.
Dua puluh menit kemudian, Dinda keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan bathrobe, dan handuk yang menggulung rambut basahnya. Sudah terlalu hafal dengan tata letak kamar ini, Dinda membuka laci meja rias guna mencari hair dryer.
“Mas, hair dryer aku, mana?” Dinda panik mencari-cari benda keramat tersebut.
“Mama pernah meminjamnya, sepertinya beliau lupa mengembalikan benda tersebut.”
“Matilah kau Dinda,” gerutunya, tak berdaya dengan situasi yang ada.
Dinda pin pasrah membiarkan rambutnya kering secara alami. Ketika hendak berbalik menuju ruang ganti, Dinda kembali melihat pemandangan yang kembali menguras emosi dan menguji kesabarannya.
“Mas Bagas! Kenapa handuk basah itu kamu biaskan diatas kasur, lembab, kasurnya bisa berjamur! Apa susahnya bila langsung dijemur saja. Masa kebiasaan buruk begitu, kok, dipertahankan, heran deh.”
Bagas segera memungut handuk basahnya, lalu menggantungnya di tempat jemuran handuk. “Ya, maaf, namanya juga kebiasaan.”
Dinda kembali mengelus dada memanjangkan sumbu kesabarannya, “Segera keluar, ya, Mama dan Mbak Tari ada di luar. Nanti mereka nyari-nyari kamu.”
Apa lagi ini, Tuhan. Begitulah jeritan Dinda setelah semua drama konyol Bagas.
aku lupa nama Kaka nya bagas