"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 10, Ibu Yang Lebih Tahu
Langit Jakarta perlahan berubah warna. Jingga yang semula berani membakar ufuk kini melembut, larut bersama semburat ungu yang menggelayut di antara gedung-gedung tinggi. Sore turun seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan-- tak gaduh, namun cukup untuk mengingatkan bahwa hari hampir selesai.
Di dalam apartemen, aroma bawang putih yang baru di cincang mulai memenuhi udara.
Anna berdiri di depan meja dapur sambil menggulung sedikit lengan kaus rumahan yang di kenakannya. Rambutnya masih di jepit sederhana menggunakan jedai, beberapa helai jatuh menempel di pelipis akibat hawa panas dari kompor.
Di atas talenan, cumi asin telah di potong-potong menjadi ukuran sedang. Cabai hijau besar berjejer rapi, begitu pula dengan tomat hijau yang baru selesai di iris.
Di sampingnya, sepiring tahu dan tempe sudah siap digoreng. Sementara beberapa batang mentimun masih tergeletak di dalam saringan di atas wastafel, menunggu di cuci sebagai pelengkap lalapan.
Ponselnya yang di letakkan di sudut meja sempat menyala beberapa menit lalu.
Pesan singkat dari Jeevan.
From Mas Jeevan;
{Malam ini masak tumis cumi asin pedas ya. Pakai cabai hijau dan tomat besar juga, nanti Mas beli fried chicken sebagai tambahan}
Pesan itu sama sekali tidak ada emoji atau pun kata-kata manis. Tetapi Anna sudah hafal, kalimat itu sudah cukup menjadi tanda bahwa suaminya sedang ingin menikmati masakan favoritnya.
Tanpa sadar, sudut bibir perempuan itu terangkat tipis.
"Baik, tuan kulkas," gumamnya lirih sambil menggeleng kecil.
Ia menuangkan sedikit minyak ke dalam wajan. Suara desisan perlahan memenuhi dapur ketika minyak mulai panas.
Jam dinding menunjukkan pukul 17.32 WIB.
Kalau tidak lembur, biasanya Jeevan baru tiba menjelang adzan magrib. Hari Senin hampir selalu membuat perjalanan menggunakan MRT lebih padat di banding hari-hari lain.
Karena itu, Anna sama sekali tidak terburu-buru.
Baru saja ia hendak memasukkan irisan bawang merah kedalam minyak panas. Suara dari arah pintu apartemen terdengar nyaring.
Tit...tit...tit...
Suara elektronik dari pintu apartemen memecah kesunyian. Tandanya, seseorang sedang memasukkan kata sandi. Anna pun spontan mengecilkan api kompor.
Keningnya sedikit berkerut. "Mas Jeevan?" batinnya.
Tatapannya beralih ke arah jam dinding. "Tumben...masih sore kok udah pulang."
Beberapa langkah cepat membawanya menuju arah pintu apartemen.
Klik.
Pintu itu perlahan terbuka. Namun bukan sosok lelaki berkemeja navy yang berdiri di sana. Melainkan seorang perempuan paruh baya dengan senyum lebar yang telah sangat dikenalinya.
"Anna..." wanita itu berhenti sesaat lalu terkekeh kecil.
Anna tersenyum sopan. "Ibu."
Bu Ratih melangkah masuk sambil membawa sebuah tas berukuran sedang di tangan kanan, sedang tangan kirinya menggenggam kantong plastik putih berisi apel Fuji merah mengilap.
"Bantu ibu, ini lumayan berat." Pintanya.
Tanpa menjawab ucapan ibu mertuanya, Anna langsung mendekat dan langsung mengambil tas serta Kantong plastik tersebut.
"Makasih." Ujar Bu Ratih.
"Sama-sama, Bu."
Tas itu di letakkan di dekat sofa, sementara buah-buahan di pindahkan ke atas meja kaca ruang tengah.
Bu Ratih melepaskan sandalnya lalu mengenakan sandal rumah dan berjalan menuju sofa ruang tengah dan duduk. Wanita paruh baya itu mengembuskan napas panjang.
"Jeevan sudah pulang?"
Anna menggeleng pelan. "Belum, Bu. Paling nanti sampai pas magrib."
"Oh..."
Bu Ratih mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan santai seolah apartemen itu juga rumahnya sendiri.
Awalnya, Jeevan sempat mengganti kata sandi pintu apartemennya. Semenjak menikah, ia rasa sebaiknya pintu itu hanya di ketahui oleh dirinya dan istrinya saja. Jeevan merasa tidak enak jika keluarganya masuk ke dalam apartemen tanpa mengetuk pintu sedangkan dirinya sudah menikah dan memiliki istri.
Awalnya Jeevan memaksudkan untuk memberikan kenyamanan untuk Anna, namun ternyata ibunya langsung bicara kalau apartemen ini kan milik Jeevan, dan Jeevan adalah putranya. Jadi wajar jika dirinya keluar masuk tanpa harus menunggu pintu di buka.
Anna juga sempat berkata. "Gak papa, Mas. Itu kan ibu kamu, jadi gak baik juga kalau misalnya ibu berkunjung dan harus menunggu kita membukakan pintu rumah."
Anna segera berbalik menuju dapur.
"Tunggu sebentar ya, Bu."
Tak lama kemudian ia kembali membawa segelas air putih dingin.
"Minum dulu, Bu. Pasti ibu haus." Ucap Anna seraya menyodorkan gelas itu kepada ibu mertuanya.
"Makasih, Nak." Jawab Bu Ratih seraya menerima gelas tersebut.
"Iya, Bu."
Anna ikut duduk di sofa tunggal yang tak jauh dari ibu mertuanya.
Dalam hati, pikirannya di penuhi tanda tanya.
Tumben sekali...
Selama ini Bu Ratih hampir selalu datang ketika akhir pekan. Biasanya bersama Pak Surya, suaminya. Atau sekedar mengabari lebih dahulu melalui telepon.
Hari ini berbeda, Bu Ratih datang berkunjung di hari biasa.
Belum sempat Anna bertanya, Bu Ratih sudah lebih dulu membuka suara.
"Ibu mau menginap di sini dua malam." ujarnya tanpa menatap menantunya.
Anna sedikit terdiam.
"Nginep?..." ulang Anna ragu.
"Iya."
Bu Ratih meletakkan gelasnya, lalu menoleh ke arah menantunya.
"Bapak ada acara di kampus sampai lusa." Jelasnya.
Anna mengangguk.
Pak Surya memang menjabat sebagai dekan di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Jadwalnya sering padat ketika memasuki masa penerimaan mahasiswa baru atau pun seminar akademik.
"Terus Evan?" tanya Anna sekenanya.
"Evan?" Bu Ratih mengembuskan napas pelan. "Sejak acara syukuran kemarin, anak itu jarang pulang."
Anna tersenyum kecil. "Sibuk ya, Bu?"
"Iya. Wajar sih...lagi intern di rumah sakit. katanya kalau mau lanjut spesialis memang harus banyak belajar." katanya.
Anna tersenyum kecil. "Iya, Bu."
Bu Ratih tampak menghela napasnya. "Rumah jadi sepi, andai saja kalau ibu punya cucu. Pasti ibu gak bakal kesepian."
Kalimat sederhana itu terdengar sedikit mencubit hati Anna.
Sejenak Anna dapat melihat sisi lain dari seorang perempuan yang selama ini dikenalnya keras dan banyak komentar.
Bagaimana pun juga, seorang ibu tetaplah seorang ibu.
Anak-anak yang mulai sibuk mengejar hidup masing-masing seringkali meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Anna mengangguk pelan.
"Kalau begitu nanti Anna siapin kamar sebelah, Bu."
"Iya."
Perempuan itu segera berdiri.
Ia mengambil seprai bersih dari lemari penyimpanan, mengganti sarung bantal, membuka jendela sebentar agar udara berganti, lalu menyalakan pendingin ruangan.
Beberapa menit kemudian kamar tamu sudah kembali rapi.
"Selesai, Bu. Takutnya ibu mau istirahat di kamar." Kata Anna seraya meraih tas berisi beberapa lembar baju milik mertuanya.
Bu Ratih berdiri dari duduknya lalu mengikuti langkah menantunya menuju kamar yang letaknya di seberang kamar utama yang hanya di halangi oleh rak berisi buku-buku koleksi milik Anna dan juga Jeevan.
Anna meletakkan tas itu.
"Makasih, Na." Ujarnya seraya masuk ke dalam kamar.
"Sama-sama. Kalau begitu, Anna tinggal dulu ke dapur. Mas Jeevan sebentar lagi pulang." Lapor Anna.
Anna kembali menuju dapur, lalu minyak di wajan kembali di panaskan. Bawang merah, bawang putih, cabai hijau, dan tomat hijau telah siap di samping kompor.
Begitu bawang-bawangan mulai masuk ke dalam wajan, aroma harum langsung memenuhi ruangan.
Belum sempat ia memasukkan cabai, Bu Ratih muncul di belakangnya.
"Kamu masak apa?" tanyanya seraya mendekat.
"Tumis cumi asin, Bu." Jawab Anna.
"Oh..." sahutnya.
Tatapan Bu Ratih jatuh pada irisan cabai hijau. "Kok, cabainya banyak begitu?"
"Mas Jeevan yang minta, Bu." Jawab Anna apa adanya.
"Jeevan?" tanyanya seraya mengerutkan dahi.
"Iya."
Bu Ratih terkekeh seraya menggeleng. "Ah...nggak. suamimu itu dari kecil gak suka masakan pedas begitu."
Anna berkedip. "Tapi Mas Je---"
Bu Ratih menyerobot. "Suamimu itu punya magh, Anna. Harusnya kamu tahu dan kamu bisa mengerti."
Anna tampak kikuk. "Iya...Anna tahu, tapi...mungkin sekali-kali Mas Jeevan juga mau makan makanan agak pedas."
Bu Ratih mendelik. "Kamu ini, kalau di kasih tahu kok malah jawab. Ibu ini ibunya, jadi lebih tahu gimana selera suami kamu, Na."
Anna tertunduk. "Maaf..."
"Sini, biar ibu saja yang masak. Kamu siapin yang lain aja." Titahnya seraya mengambil sepatula dari tangan menantunya.
"Eh..Bu...gak papa...biar Anna saja..." ucap Anna tak enak hati.
"Ibu bilang ibu saja. Kamu siapin aja yang lain. Lagian kamu ini, sudah menikah sama Jeevan itu udah mau lima tahu masih saja belum tahu selera suami kamu." Celetuknya seraya mengaduk bawang-bawangan di wajan.
Anna menghela napas, lalu memilih mundur daripada harus mendengar omelan ibunya.
...🌼🌼🌼...
Kalau suka sama novel ini, silakan komen, vote, subscribe, follow, dan jangan lupa beri ulasan yang menurut reader cocok🫶
Selamat membaca ☺️
...BERSAMBUNG...