Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Yang Menenangkan
"Kak yena" panggil juvan pelan suaranya terdengar cemas
"Kakak kenapa ada di sini malam-malam begini, dan sendirian. Juvan melihat wajah yena yang basah oleh air mata dan tubuh yang gemetar hebat, dan keteguhan hati yena yang tersisa akhirnya runtuh seketika. Tanpa sadar, seolah ada kekuatan yang menarik yena mendekat, yena melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh Juvan erat-erat. Itu murni refleks hati yang tak lagi sanggup menahan segala rasa sakit, amarah, dan kesepian yang mendesak dari segala arah.
Juvan tertegun sejenak, tubuhnya sedikit kaku karena terkejut. Namun tak berlama-lama, ia perlahan mengangkat tangannya, lalu dengan sangat lembut dan hati-hati membalas pelukan yena. Ia tidak meraba atau berlebihan, hanya menepuk pelan punggung yena seolah memberi izin untuk meluapkan segalanya.
“Menangislah, Kak… lepaskan semuanya,” bisiknya lirih tepat di telinga yena. Suaranya begitu tenang, begitu tulus, seolah memiliki kekuatan ajaib yang mampu meredam badai di dada.
“Aku di sini. Tidak ada yang akan menyakiti Kakak lagi untuk saat ini.”
Mendengar kata-kata itu, isak tangis yang yena tahan sedari tadi akhirnya meledak lepas. Yena memeluknya semakin erat, menyembunyikan wajah di bahu yang wangi.Di sana, di pelukan seorang pemuda yang jauh lebih muda,yena merasakan ketenangan yang tak pernah dia terima dari Arga, bahkan dari papanya sendiri. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepentingan tersembunyi, hanya kehangatan yang tulus tanpa syarat.
Angin malam yang dingin seolah tak lagi terasa. Segala tekanan, ancaman, dan pengkhianatan yang dirasakan malam itu perlahan terasa lebih ringan, karena ada seseorang yang rela berdiri diam dan membiarkan yena bersandar sejenak saat dunia terasa begitu kejam.
Juvan tetap diam, membiarkan yena meluapkan segala perasaannya. Ia hanya diam memeluk dengan lembut, seolah menyadari bahwa saat ini yang yena butuhkan bukanlah pertanyaan atau nasihat, melainkan seseorang yang sanggup menampung dirinya agar tak hancur sendirian.
Setelah cukup lama meluapkan segala rasa, perlahan yena melepaskan pelukan itu. Wajah yena sangat berantakan, basah oleh air mata dan sisa isak tangis. Yena menunduk malu, namun Juvan sama sekali tidak menatapnya dengan pandangan aneh atau kasihan. Matanya justru penuh perhatian dan rasa hormat.
“Maafkan aku…” ucap yena pelan sambil mengusap sisa air mata di pipi.
“Aku tidak bermaksud sembarangan… tadi rasanya aku hampir runtuh.”
“Tidak perlu minta maaf, Kak,” jawab juvan lembut.
“Kakak tidak perlu berpura-pura kuat di depanku. Aku mengerti kalau hari ini sangat berat buat Kakak.”
Juvan segera melepaskan jaket tebal yang ia pakai, lalu dengan sopan dan hati-hati menyampirkannya ke bahu yena yang menggigil kedinginan.
"Pakai ini kak, malam ini sangat dingin aku takut nanti kakak masuk angin"
"Aku antar kakak pulang ya ta... Tapi naik motor gk papa kan"
Yena mengangguk pelan. Juvan menyalakan mesin motornya,Tanpa banyak bicara, yena naik ke belakang.
Saat motor mulai melaju pelan membelah jalanan sepi, angin malam kembali menyapa. Tanpa sadar, tangan yena melingkar erat di pinggang Juvan, memeluknya dari belakang. Perlahan yena juga menyandarkan kepala di punggung juvan yang tegap. Rasanya begitu aman, begitu hangat, seolah semua rasa takut dan sakit tadi perlahan terbawa angin.
Juvan sedikit menegang sejenak, tapi ia tak bergerak menjauh. Justru ia sedikit memperlambat laju motornya, seolah memberi ruang bagi yena untuk bersandar sepuasnya. Tidak ada kata yang terucap, namun keheningan itu terasa begitu nyaman. Setiap getaran mesin dan punggung kokoh di depannya menjadi satu-satunya sandaran yang yena miliki malam itu.
Perjalanan yang biasanya terasa jauh, kini berjalan begitu cepat. Meski sesampainya di depan rumah, yena masih enggan melepaskan pelukan itu,sejenak menikmati sisa ketenangan yang begitu langka.
Juvan tersenyum tulus, senyum yang selalu mampu mengusir sepi.
"Kakak kita sudah sampai" ucap juvan
Yena yang mendengar itu langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang juvan.
Yena pun turun dari motor.
"Makasih ya juvan kamu udah anter aku pulang" ucap yena sambil tersenyum tipis.
“sama-sama kak Istirahatlah yang cukup, Kak. Kalau Kakak butuh teman bicara, atau sekadar butuh seseorang yang menemani berjalan… aku ada di sini. Selalu.”
Yena mengangguk.
"Aku pulang dulu ya kak"
"Hati-hati di jalan"
Yena berdiri diam menatap punggung juvan yang menjauh, menyadari satu hal: di tengah dunia yang penuh kepura-puraan, yena menemukan satu ketulusan yang tak pernah dia duga—dari seseorang yang tak pernah di sangka akan menjadi tempat bersandar.
Di jendela lantai dua kenzo melihat kakaknya yang di antar pulang oleh seorang laki-laki.
"Kakak pulang sama siapa, kok aku kayak kenal ya sama cowok itu, kayak pernah lihat tapi siapa ya? Ucap kenzo sedikit bingung.
Yena masuk ke rumah dan langsung naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
Tubuh yena terasa sangat lelah seolah berjalan berpuluh kilometer. Punggung terasa pegal, mata terasa perih dan berat sekali untuk dibuka. Begitu pintu tertutup, yena bersandar sejenak di baliknya, menahan napas panjang. Segala rasa sakit, amarah, dan ketakutan tadi kini berganti menjadi kelelahan yang mendalam. Tanpa sempat membersihkan diri dengan sempurna,yena menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Seprai terasa dingin, namun ingatan akan hangatnya punggung Juvan dan pelukan tadi masih tersisa, menjadi satu-satunya penghibur sebelum mata yena akhirnya terpejam lelah dalam kesunyian malam.
Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah gorden, membangunkan yena perlahan. Meski tubuhnya masih terasa lelah,yena memaksakan diri bangun, merapikan penampilan, dan bersiap menuju kampus. Setelah berpakaian rapi, yena melangkah turun ke ruang makan. Di sana Kenzo sudah duduk menunggu, sibuk mengaduk nasi goreng di piringnya.
“Pagi, Kak,” sapanya sambil menoleh sekilas, lalu kembali menyuap makanannya.
“Pagi” jawab yena lembut sambil duduk di hadapan adik nya itu
tatapan kenzo tak lepas dari wajah yena seolah sedang mengamati sesuatu.
“Kakak semalam pulang terlambat. Dan… ada yang mengantar naik motor kan?”
Tangan yang hendak mengambil sendok sempat terhenti sejenak. “Kamu lihat?”
“Iya, aku lihat semalam dari jendela kamar,” jawab Kenzo santai, namun matanya menyelidik.
"dan aku kayak kenal sama cowok itu ,Itu Juvan kan? Kakak kenal dia?”
Hati yena sedikit berdebar, tapi yena berusaha tenang. “Iya… kita sudah kenal beberapa waktu belakangan. Kebetulan semalam aku berpapasan sama dia, jadi dia baik hati mau mengantar pulang.”
Kenzo mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil yang entah kenapa terasa sedikit jahil.
“Dia orangnya baik banget, Kak. Sopan, rajin, dan dia itu sering membantuku kalau ada pelajaran yang susah. Tidak sombong walaupun nilai sekolahnya selalu bagus.tapi aku males temenan sama dia,dia itu terlalu cupu di sekolah,”
" bisa-bisanya kamu gk mau temenan sama dia"ucap yena
"Gk ahh gk mau,dia tu gk masuk di kriteria geng aku"
"Agak laen ya kamu ini"
Kenzo lalu menatap yena lekat.
“Kakak suka sama dia ya?”
Wajah yena memerah seketika mendengar pertanyaan polos namun tepat sasaran itu.
“Jangan sembarangan bicara dek. Kita cuma berteman.”
“Tapi Kakak jarang mau dekat sama cowok lain setelah kejadian sama om jelek itu” celetuk Kenzo santai sambil kembali menyuap makanannya.
“Kalau dia yang bikin Kakak tersenyum lagi… aku dukung kok.walapun aku agak gk suka sama dia,tapi dia jauh lebih baik dari orang yang dulu Kakak pilih.”
Kata-kata kenzo yang polos itu membuat yena terdiam. Di tengah segala kekacauan dan tekanan yang di alami, bahkan adik nya sendiri bisa melihat kebaikan yang ada pada Juvan—sesuatu yang tak dilihat oleh orang dewasa yang penuh kepentingan seperti hendra dan Arga.