Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 TES NAIK KELAS DAN API DI MENARA
Lapangan tengah Akademi Eldoria.
50 murid Kelas E berbaris. Semua wajah tegang. Keringat dingin.
Karena hari ini... Tes Naik Kelas.
Lulus \= Kelas D + Akses Menara Langit.
Gagal \= Tetap Kelas E 1 tahun lagi.
Aku berdiri di barisan paling belakang. Grom nunggu di luar, dilarang masuk.
Di depan... Aldric. Dengan perban di lengan. Senyumnya miring ke arahku.
"Kael," katanya pelan. "Siap mati lagi?"
"Aku siap kau kalah lagi," jawabku datar.
Aldric mendengus.
Di atas panggung, 3 Profesor duduk. Tengah: Kepala Akademi Magnus. Kanan: Profesor Selene. Kiri: Profesor Garret, guru Tempur.
Selene berdiri. Suaranya menggema pakai sihir.
"Perhatian! Tes Naik Kelas terdiri dari 2 bagian.
Lawan Monster Tiruan Lv.4
Duel 1 vs 1
Yang lolos 2-2nya, naik ke Kelas D."
Kerumunan heboh. Monster Lv.4?! Itu setara Rank D!
Aldric ketawa. "Denger itu Kael? Mana kau 50 doang. Mau lawan apa?"
Aku tidak jawab. Mengecek [STATUS].
[DING!]
[KAEL: E RANK LV.3]
[MPA: 50/100]
[SKILL: FIREBOLT LV.1, MANA CONTROL DASAR LV.1]
[ITEM: 3 RAMUAN MERAH]
Cukup. Harusnya cukup.
"Peserta pertama!" teriak Selene. "Aldric!"
Aldric maju. Jalan sombong.
Ger bang sihir terbuka. Keluar monster tiruan: [GOLEM BATU LV.4]
Tinggi 2 meter. Tinju sebesar drum.
"MUDAH!" teriak Aldric.
"[WATER PRISON!]"
_SHUUUT!_
Air mengurung golem itu. Lalu meledak.
_DUAR!_
Golem hancur dalam 10 detik.
Penonton bersorak. "HEBAT ALDRIC SAMA!"
Aldric menoleh ke aku. Bibirnya membentuk: "Giliran kau."
Selene memanggil: "Peserta ke-17. Kael."
Aku maju. Seluruh lapangan hening.
"Dia? Yang sampah itu?"
"Katanya bisa api. Tapi lawan Lv.4?"
"Mati dia."
Aku masuk ke gerbang sihir.
Gelap. Lalu terang.
Di depanku... [GOLEM BATU LV.4]. Sama persis.
Golem itu mengaum dan langsung lari. Tanah bergetar.
_BUUM BUUM BUUM_
"Terlalu cepat," pikirku. "Gak bisa ngindar."
[DING!]
[PERINGATAN: SERANGAN DATANG]
Aku angkat tangan.
"[FIREBOLT!]"
_SHUUUT!_
Bola api biru menghantam dada golem.
_BRAAK!_
Golem berhenti. Ada lubang di dadanya. Tapi masih jalan.
"Sial. Gak cukup 1," geramku.
Golem mengayunkan tangan.
_WUUSHH!_
Aku menghindar. Guling.
[DING!]
[MPA: 50/100 → 30/100]
20 mana sekali Firebolt. Cuma sisa 1 kali lagi.
Golem maju lagi.
Di luar barrier, aku denger teriakan Aldric: "MATI AJA KAU SAMPAH!"
Aku mengepalkan gigi.
"KALAU CUMA 1 KALI... BUAT YANG TERBESAR!"
Aku menyedot semua mana. 30. Dipaksa.
Tangan kananku melepuh lagi. Sakit.
Tapi di telapakku... bola api biru tumbuh. 2x lipat. 3x lipat.
Golem sudah 2 meter di depanku. Tinjunya mau menghantam.
"INI DIA!!"
"[FIREBOLT!!!]"
_BOOOOOOOOMMMMM!!!!_
Ledakan api biru menelan seluruh arena.
Panasss.
Asap. Debu.
Hening 3 detik.
Lalu...
_CRASH_
Golem itu runtuh. Menjadi kerikil.
Aku terengah-engah. Berlutut. [MPA: 0/100]
[DING!]
[MONSTER TIRUAN LV.4 DIKALAHKAN]
[TES 1: LULUS]
Barrier kebuka.
Seluruh lapangan... DIAM.
Lalu meledak.
"GILA!!!"
"DIA HANCURIN GOLEM 1 SERANGAN?!"
"PENYIHIR API!!"
Aku berdiri sempoyongan. Menatap ke panggung.
Selene mengangguk pelan. Hampir tidak kelihatan. Tapi itu anggukan.
Kepala Akademi Magnus menyipit. Menatapku dalam.
Aldric wajahnya merah padam. Tangannya gemetar pegang tongkat.
"Curang..." gumamnya. "Pasti curang..."
Tes lanjut. 30 menit kemudian giliran duel.
Namaku dipanggil lagi.
"Peserta: Kael VS Aldric"
Dunia seperti berhenti.
Aldric jalan ke tengah. Matanya merah. "Ini. Saatnya."
Aku masuk. Badan masih lemas. Mana belum pulih.
[DING!]
[MPA: 0/100 → 10/100 - PULIH LAMBAT]
Cuma 10.
Aldric langsung nyerang tanpa aba-aba.
"[WATER SPEAR!]"
5 tombak air!
Aku menghindar 4. Yang ke-5...
_SOBEK!_
Lengan ku tergores. Darah.
"HAHA! LEMAH!" teriak Aldric. "ITU SAJA KEKUATANMU?!"
Dia maju. Mau finishing.
Tiba-tiba suara dari tribun atas.
"Dasar pengecut! Serang orang pas lengah!"
Semua noleh.
Luna. Berdiri di tribun. Jubah healer. Marah.
"NGAPAIN KAU DI SINI?!" bentak Aldric.
"Aku asisten penguji," kata Luna dingin. "Dan aku liat kau curang."
Wajah Aldric makin merah. "DIAM KAU ANAK BANGSAWAN SOK SUCI!"
Dia alihkan amarah ke aku. "[WATER CANNON!]"
Serangan besar.
Aku tidak bisa menghindar. Mana habis.
Tutup mata.
Tapi...
_PRAK!_
Sesuatu menahanku.
Aku buka mata.
Luna. Di depanku. Dia bikin [SHIELD CAHAYA].
Serangan Aldric mental.
"Jangan ikut campur!" teriak Aldric.
Luna tidak noleh ke aku. "Aku cuma... gak suka liat kecurangan. Itu saja."
Lalu dia bisik pelan ke aku: "5 mana. Pake itu. Sekarang."
Aku paham.
Aldric sudah kehabisan napas karena spam sihir. Pertahanannya kebuka.
Aku kumpulkan 10 mana terakhir.
"Maaf, Aldric," kataku.
"[FIREBOLT]"
_SHUUUT!_
Tepat di dada.
_BUUM!_
Aldric terpental. Pingsan.
[DING!]
[VICTORY! KAEL]
[DUEL: MENANG]
[STATUS: LULUS TES NAIK KELAS → KELAS D]
Lapangan meledak lagi.
Aku jatuh berlutut.
Luna menghampiriku. Ngingetin luka. Tanpa bilang apa2.
"Kenapa nolong?" tanyaku pelan.
Luna mendengus. "Siapa yang nolong? Aku cuma... jaga biar tesnya adil."
Dia berdiri. "Selamat. Kelas D. Besok ke Menara Langit."
Lalu pergi.
Aku tersenyum.
Di panggung, Kepala Akademi Magnus berbisik ke Selene: "Anak itu... berbahaya. Awasi."
Selene cuma mengangguk.
Dan di atas Menara Langit...
Sepasang mata merah menyipit.
Seolah berkata: "Akhirnya kau datang."
Malam.
Asrama Kelas D.
Kamarnya 2x lebih besar dari Kelas E. Ada meja, lemari, bahkan jendela gede.
Tapi aku gak bisa tidur.
[DING!]
[MISI: BAYANGAN DI MENARA - STATUS: AKTIF]
[LOKASI: MENARA LANGIT LANTAI 1]
"Grom," bisikku. "Bangun."
Goblin itu langsung loncat. "Siap Tuan! Perang?!"
"Belum. Tapi besok."
Aku liat keluar jendela. Menara Langit menjulang di tengah Akademi. 100 lantai. Puncaknya hilang di awan.
Dan di lantai 1... ada sesuatu.
Pagi datang cepat.
Lapangan depan Menara penuh. Murid Kelas D baru. 20 orang. Termasuk aku.
Dan Aldric. Wajahnya lebam. Menatapku kayak mau makan.
Profesor Selene berdiri di depan pintu Menara. Pintu besi setinggi 10 meter.
"Selamat datang di Menara Langit," katanya. "Tempat ujian sebenarnya."
"Aturannya simpel. Naik setinggi mungkin. Tiap lantai ada monster. Kalahkan, naik. Gagal, turun."
"Tujuan hari ini: Lantai 1. Yang bisa, dapat lencana Kelas D."
Luna berdiri di samping Selene. Pake jubah asisten.
Begitu liat aku, dia langsung buang muka. "Jangan liatin aku!"
"Pintu terbuka!"
_GROOOOOONG_
Di dalam gelap. Tangga spiral ke atas. Bau lembab dan besi.
Satu-satu murid masuk.
Aku masuk paling akhir.
Begitu kaki masuk...
[DING!]
[MEMASUKI: MENARA LANGIT LANTAI 1]
[SUHU TURUN 10 DERAJAT]
[ADA YANG MENGAWASI]
Bulu kuduk berdiri.
Lantai 1. Ruangan besar kosong. Dinding batu. 4 obor menyala.
Dan di tengah...
Sesuatu.
Tinggi 2 meter. Tubuhnya bayangan hitam. Tidak punya wajah.
Cuma 2 mata. Merah. Menyala.
[SHADOW WATCHER LV.4]
[DING!]
[MONSTER: PENGINTAI MENARA]
[KELEMAHAN: CAHAYA DAN API]
[PERINGATAN: JANGAN MENATAP LANGSUNG]
"Grom, di belakangku," bisikku.
Goblin itu gemetar. "Tuan... itu yang di dungeon..."
Shadow Watcher tidak bergerak. Cuma menatap.
Lalu...
_SREEEEK_
Tangannya memanjang. Menjadi cambuk bayangan.
_WUUSSH!_
Aku menghindar. Cambuk itu menghantam lantai. Batu pecah.
[DING!]
[MPA: 50/100]
"Dia ngincer aku," gumamku. "Bukan murid lain."
Di luar, suara Selene: "Waktu 10 menit! Yang belum kalahkan, gagal!"
Murid lain sudah teriak2 lawan monster mereka. Cuma aku yang diem.
Shadow Watcher maju. Kecepatannya gila.
_BUK! BUK!_
Cambuk bayangan spam terus.
Aku cuma bisa ngindar.
[DING!]
[MPA: 50/100 → 40/100 → 30/100]
"Gak bisa gini terus," pikirku. "Harus serang balik."
Aku berhenti. Berdiri.
Shadow Watcher langsung nyerang. Cambuk ke arah leher.
Di detik terakhir aku angkat tangan.
"[FIREBOLT!]"
_SHUUUT!_
Bola api biru menghantam cambuknya.
_SSSSHHH!_
Bayangan terbakar. Monster itu mundur. Mengaum tanpa suara.
Efektif.
Tapi dia makin marah.
Tubuhnya pecah jadi 3 bayangan.
3 Shadow Watcher. Semua mata merah.
"Anjir..."
[DING!]
[MPA: 20/100]
Gak cukup buat 3 Firebolt.
Salah satu bayangan nyerang dari belakang.
_PRAK!_
Punggungku kena. Aku terlempar.
[DING!]
[DARAH: 80% → 60%]
"TUAAAN!!" Grom mau maju.
"Tahan!" teriakku. "Ini urusanku!"
3 bayangan mengepungku.
Di luar aku denger suara Luna: "Waktu 2 menit!"
Aku napas. Fokus.
Api. Kelemahannya api. Tapi manaku gak cukup.
Terus gimana?
Mata merah itu menatapku. Seolah ngetawain.
Tiba-tiba aku inget kata Luna tadi malam: "Api kau mirip punya guruku dulu."
Gurunya. Penyihir api.
Kalau 1 bola api gak cukup... gimana kalau...
Aku meletakkan kedua tangan di tanah.
"Grom. Jauh."
"Siap!"
Aku alirkan semua mana. 20.
Bukan ke atas. Tapi ke bawah.
[DING!]
[MANA CONTROL DASAR LV.1 → SEDANG DIGUNAKAN]
[MENCIPTAKAN: LINGKARAN API]
_WUUUUSHHH_
Api biru keluar dari tanganku. Merambat di lantai. Bentuk lingkaran.
Diameter 3 meter.
3 Shadow Watcher kejebak di dalam.
Mereka meraung. Kepanasan.
"INI DIA!!"
Aku berdiri di tengah lingkaran.
"Mana gak cukup buat nembak. Tapi cukup buat ngebakar!"
Api makin besar.
1 bayangan... _KABUUUR_ ...hancur jadi asap.
2... _KABUUUR_ ...hancur.
Yang terakhir. Yang paling besar. Dia lawan. Maju ke arahku.
Terlambat.
Aku angkat tangan. 0 mana. Tapi api di lingkaran masih ada.
"[FIREBOLT!]"
Paksa. Dengan sisa tekad.
_BOOOOM!_
Bola api terakhir menghantam tepat di kepala.
_KRAAAAK_
Shadow Watcher terakhir meledak. Menjadi abu hitam.
Hening.
[DING!]
[MONSTER: SHADOW WATCHER LV.4 DIKALAHKAN]
[LULUS: LANTAI 1]
[REWARD: LENCANA KELAS D + 200 POIN]
[MISI: BAYANGAN DI MENARA - PROGRESS 30%]
Aku jatuh duduk. Napas ngos2an. Tangan melepuh parah.
Pintu kebuka.
Selene masuk. Mata membelalak liat lantai yang gosong.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kael?"
"Menang, Profesor," kataku sambil senyum lemah.
Luna masuk nyusul. Begitu liat aku, dia langsung lari.
"Bodoh! Tangan kau!" Dia langsung pake [HEAL].
Cahaya hangat. Sakitnya berkurang.
"Kenapa... nolong lagi?" tanyaku.
Luna diam. Lalu dengan suara paling kecil:
"...karena lingkaran apimu. Mirip banget... sama punya guru."
Dia berdiri. "Naik. Lantai 2 besok. Kalau masih hidup."
Dia pergi cepat. Telinganya merah.
Selene menatapku lama. "Kael. Kepala Akademi mau ketemu kau. Sekarang."
Aku berdiri. Dipapah Grom.
Saat jalan keluar, aku noleh ke atas.
Di langit2 lantai 1 yang gelap...
Sepasang mata merah. Kali ini lebih besar.
Lalu menghilang ke lantai 2.
Bisiknya terdengar di kepalaku:
_"Bagus... api biru... akhirnya kau datang..."_
Aku mengepalkan tangan.
"Besok. Kita ke lantai 2."
Ruang Kepala Akademi ada di lantai paling atas Menara Utama.
Luas. Dindingnya penuh buku. Di tengah ada meja kayu raksasa.
Dan di belakang meja itu... Magnus Von Eldoria.
Kepala Akademi. Rank S. Rambut putih. Mata tajam kayak elang.
Di sampingnya berdiri Profesor Selene. Wajah datar.
Aku masuk. Grom nunggu di luar.
"Duduk," kata Magnus. Suaranya berat.
Aku duduk.
Lama. Hening 10 detik.
"Api biru," kata Magnus tiba-tiba. "Dari mana?"
Aku kaget. "Apa maksud Profesor?"
"Jangan bohong," potong Selene. "Di seluruh kerajaan, cuma ada 1 keluarga yang bisa pake api biru. Keluarga Von Ignis. Yang sudah punah 20 tahun lalu."
Jantungku berdegup.
Aku cuma murid sampah. Mana 2. Tiba2 bisa api biru.
"Aku... aku juga gak tau," kataku jujur. "Muncul pas aku hampir mati di dungeon."
Magnus menyipit. "Hampir mati?"
Aku ceritain. Dari diusir, masuk dungeon, ketemu Luna, lawan Goblin Berserker.
Magnus diam dengerin. Jari mengetuk meja.
"Menarik," katanya. "Kau Rank F dengan mana 2. Sekarang Rank D dengan mana 50. Dalam 2 minggu."
"Kau curang?" tanya Selene tajam.
"Tidak," kataku. "Sistemku yang kasih."
"SYSTEM?!" Dua-duanya kaget.
Aku nunjuk dada. "Ada suara di kepala. Kasih misi. Kasih skill. Kasih status."
Magnus dan Selene saling pandang. Ekspresinya serius.
"Kael," kata Magnus pelan. "Dengar baik2. Apa yang kau punya itu... berbahaya."
"Berbahaya kenapa?"
"Karena 20 tahun lalu, pemilik api biru terakhir... membakar setengah ibukota. Dia gila. Karena kekuatan."
Darahku dingin.
"Dan sekarang," lanjut Magnus. "Ada 'Pengintai Menara' yang mengincarmu. Itu bukan kebetulan."
Selene maju. "Mulai sekarang kau diawasi. Latihan khusus dengan aku. Tiap malam."
"Aku menolak," kataku.
Dua-duanya melotot.
"Alasannya?" tanya Magnus.
"Karena kalau aku diawasi, aku gak akan pernah kuat. Dan kalau dia beneran ngincer aku..." Aku berdiri. "Biar dia datang. Aku yang habisin."
Magnus terdiam. Lalu... dia tertawa.
"HAHAHA! Sama. Keras kepala nya sama kayak dia."
"Siapa?" tanyaku.
"Tidak penting," kata Magnus. "Baik. Kau boleh latihan sendiri. Tapi 1 syarat."
"Apa?"
"Kalau kau kehilangan kendali. Api itu membakar orang tak bersalah. Aku yang akan membunuhmu duluan."
Hawa dingin. Rank S beneran beda.
"Aku mengerti," kataku.
"Oke. Keluar. Dan Kael..."
"Ya?"
"Hati2 di Menara. Lantai 2 ke atas. Itu bukan tempat untuk main2."
Aku keluar. Kaki lemas.
Di koridor... Luna nunggu. Nyender di dinding.
"Gimana?" tanyanya.
"Disuruh hati2," jawabku.
Luna mendengus. "Pantes. Kepala Akademi pasti takut."
"Kau tau apa2 tentang api biru?" tanyaku.
Luna langsung diem. Wajahnya menegang.
"Aku..." dia gigit bibir. "Guruku dulu. Pake api biru juga."
Aku berhenti jalan. "Guru kau?"
Luna mengangguk pelan. "Dia... dia mati 5 tahun lalu. Melawan 'itu'."
"'Itu' siapa?"
"Yang di Menara." Luna menatap mataku. "Kael. Kau mirip dia. Dari cara pake apinya."
Aku merinding.
"Tapi jangan mati kayak dia," kata Luna cepat. "Karena... karena ribet kalau harus nyembuhin kau terus."
Dia langsung jalan duluan. Pipi merah.
Aku senyum. "Tsundere."
"MALAS!" teriaknya dari jauh.
Malamnya.
Asrama Kelas D.
[DING!]
[MISI: LATIHAN KHUSUS DENGAN SELENE - DITOLAK]
[MISI BARU: KUASAI API BIRU - PROGRESS 0%]
Aku duduk bersila. Coba panggil api.
_WUUP_
Api biru kecil di telapak tangan.
"Lebih tenang," bisikku. "Jangan marah. Kendalikan."
Api berubah jadi bola kecil. Berputar.
[DING!]
[SKILL: MANA CONTROL DASAR LV.1 → LV.2]
Grom tidur di samping.
Tiba2 jendela bergetar.
_DUK_
Aku buka mata.
Di luar... di kegelapan...
Bukan mata merah.
Tapi bayangan. Tinggi. Berjubah.
Dia angkat tangan.
Di telapaknya... api biru. Sama persis kayak punyaku.
Lalu dia bisik. Suaranya masuk ke kepala:
_"Anak... kau penerusku. Datang ke Lantai 10. Aku tunggu."_
_POOF_
Bayangan itu hilang.
Aku berkeringat dingin.
"Grom," bisikku. "Kita punya masalah besar."
Goblin itu bangun. "Apa Tuan?"
"Ada orang lain. Yang bisa api biru."
Aku mengepalkan tangan. Api menyala lebih besar.
"Dan dia nunggu aku di Lantai 10."
[DING!]
[MISI UTAMA UPDATE: TEMUI "SANG PENERUS API" DI LANTAI 10 MENARA]
[REWARD: SKILL TERLARANG + KEBENARAN]
[PERINGATAN: KEMATIAN 90%]
Aku menatap ke arah Menara Langit dari jendela.
100 lantai.