Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 # Sudah siap jadi mertua
Papa Rega, papi Leo dan mi-mom Hana baru saja selesai makan siang.
“Tunggu! Ini kalau aku dan Rhea setuju, berarti bisa di bilang kalian melamar putriku?” papa Rega tiba-tiba kepikiran.
Mi-mom Hana mengangguk. “Anggap saja begitu,” jawabnya.
“Tidak bisa begitu dong,” protes papa Rega.
“Berarti kak Rega setuju, nih? Aku bisa langsung siapkan lamaran dadakannya,” semangat mi-mom Hana.
“Sembarangan! Bukan begitu maksudku, istrinya Leo. Ini baru permisalan,” pusing papa Rega menghadapi mi-mom Hana. “Istrimu luar biasa, Leo. Aku salut padamu,” papa Rega memberikan dua acungan jempol pada sahabatnya.
Papi Leo hanya terkekeh, dia tidak ingin berkomentar soal sang istri dari pada harus tidur di luar.
“Makin tambah pusing kalau terus di sini. Aku pamit dulu, mau jemput Ueena di kampus. Kasihan kalau harus menunggu lama,” papa Rega pamit pergi lebih dulu dari restoran tempat mereka makan siang.
“Terimakasih, Ga. Maaf jadi membuatmu pusing,” ucap papi Leo.
“Jangan lupa jawabannya, kak. Kami sudah siap jadi mertua Ueena,” imbuh mi-mom Hana.
“Hmm,” papa Rega mengacungkan jempol sambil berlalu.
Mi-mom Hana terkekeh melihat reaksi sahabat suaminya tersebut.
“Kamu ini ada-ada saja, yank. Idemu itu bisa bikin orang jantungan, untung ini Rega. Gimana kalau anak orang lain? Bisa di gam par kita,” kadang-kadang istrinya tersebut suka membuat papi Leo ketar ketir. Mi-mom Hana tetaplah mi-mom Hana, si bungsu keluarga Pradipta dengan segala ide dan tingkah randomnya.
“Mas Leo tenang saja. Aku yakin kak Rega pasti setuju untuk menikahkan Ueena dengan Arlo,” yakin mi-mom Hana.
“Lalu bagaimana dengan Arlo, sayang? Dia yang akan menjalaninya nanti,” papi Leo tetap memikirkan putranya, bagaimanapun Arlo berhak mengemukakan pendapatnya.
“Soal Arlo, biar aku yang bicara. Mau tidak mau, dia pasti mau. Percaya padaku, mas. Aku ini mi-momnya,” mi-mom Hana tahu bagaimana caranya agar Arlo bersedia.
Kita tinggalkan kedua orang tua Arlo yang sedang bersuka cita memikirkan Queena dan Arlo. Karena papa Rega saat ini sudah ada di jalan menuju kampus putri tercintanya, mobil mewahnya tersebut membelah jalanan kota Bandung yang sebentar lagi beranjak menuju senja.
Akhir-akhir ini papa Rega memang sedang dekat-dekatnya dengan Queena, mereka berdua lebih sering mengobrol. Meskipun Dean juga kadang ikut nimbrung saat papa dan kakaknya sedang ngobrol santai. Papa Rega mulai merasa kalau putrinya terus tumbuh menjadi dewasa, rasanya waktu bersama putrinya tersebut masih kurang banyak. Hingga ucapan mi-mom Hana benar-benar masuk kedalam pikiran papa Rega.
Lambat laun dan mau tidak mau, hari itu pasti akan datang. Jika bukan saat ini, maka akan datang di waktu depan. Papa Rega harus rela melepaskan tangan putri yang selalu dia genggam tersebut pada orang lain, pada pria yang nantinya berstatus suami untuk Queena.
“Sudah sampai, ya? Kenapa cepat sekali?” monolog papa Rega, bukan tentang dia sudah sampai di tempat biasanya menjemput Queena. Melainkan dia merasa kalau putri sulungnya tersebut sudah dewasa, dan waktu berlalu terlalu cepat untuk dirinya.
***
Enzo sudah lebih dulu pulang setelah Azura tertidur tanpa sengaja di pangkuan Arlo, mereka tadi sempat berkumpul di bawah pohon rindang setelah Arlo dan kedua sahabatnya membersihkan diri.
Azura tertarik dengan games yang ada di tablet Arlo, karena itulah gadis kecil itu duduk anteng di pangkuan pemuda tersebut. Enzo tidak masalah dengan hal tersebut, karena memang dia dan Arlo saling kenal. Mereka juga satu Fakultas, terlebih Queena juga adalah sepupu Enzo. Circle mereka hanya berputar-putar di sekitaran saja.
“Om Rega marah padamu, Queen?” basa basi Arlo bertanya lirih dan diangguki kepala oleh Queena.
Arlo hanya bisa menghela napas, dia tidak melanjutkan pertanyaannya. Karena Arlo paham, Queena tidak ingin membahas kejadian semalam dari respon yang gadis itu tunjukkan atas pertanyaan Arlo padanya.
“Azura sepertinya ketiduran,” ucap Queena tiba-tiba, dia melihat kepala Azura yang sudah menyandar pada dada Arlo.
“Iya. Dia tidur,” jawab Arlo.
Enzo langsung menghampiri sang adik. “Aku bawa dia pulang saja. Takut rewel kalau tiba-tiba bangun,” Enzo dengan hati-hati mengangkat tubuh sang adik dari pangkuan Arlo, dia menggendong Azura. “Terimakasih, bro. Kamu jadi di palak baby Cimol,” Enzo berterimakasih pada Arlo.
“Santai, bro. Lain kali mampir saja kalau dia main ke rumah aunty Rhea,” ucapnya diangguki Enzo.
“Jajan Azura jangan sampai lupa, Zo. Nanti dia nangis,” Queena memberikan kantong plastik hasil Azura merampok isi dompet Arlo.
Enzo mengambil jajanan milik Azura. “Mau bareng?” tanya Enzo di gelengi Queena. “Di jemput papa. Sebentar lagi palingan sampai,” jawabnya.
Enzo pergi dari sana setelah pamit pada yang lain, begitupun dengan mereka semua yang tadi ada di bawah pohon rindang. Karena sudah tidak ada Azura, mereka memutuskan untuk pulang. Raya dan Intan pulang bersama, sedangkan Queena menuju tempat sang papa menjemput. Arlo bersama Jose dan Indra kembali ke Fakultas mereka untuk mengambil kendaraan.
“Nanti malam Rafa sampai rumah,” ucap Arlo sebelum Queena berlalu pergi.
“Oke. Nanti aku ijin papa, atau kalian yang ke rumah. Eh? Jangan! Jangan ke rumah, papa sepertinya masih marah sama kamu. Bisa tambah marah nanti,” jawab Queena.
Arlo mengangguk, mereka berdua kemudian berpisah jalan. Queena menuju arah depan Fakultas Ilmu dan Teknologi. “Semoga papa belum sampai,” monolognya sambil melihat arlojinya, Queena mempercepat langkahnya menuju depan Fakultas.
Kenapa harus papasan mereka, sih?
Queena melihat Bagas dan Andreas berjalan menuju kearahnya, dia tidak mau basa-basi pada keduanya. Tapi tidak mungkin juga Queena balik arah dan mencari jalan lain, karena kedua pemuda itu sudah melihatnya berjalan menuju depan Fakultas.
“Sudah mau pulang, Ueena?” tanya Andreas yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan langkah Queena, begitupun dengan Bagas. Kedua pemuda itu berjalan di samping kanan dan kiri Queena.
“Iya. Aku permisi duluan,” sopan dia pamit pada kedua pemuda tersebut, dia ingin segera keluar dari Fakultas dan berharap papanya sudah menunggu di luar.
“Bagaimana kalau aku antar? Raya dan Intan juga sudah pulang lebih dulu, kan?” basa-basa Bagas.
“Terimakasih, kak. Tapi tidak perlu,” Queena mempercepat langkahnya.
“Mau bareng aku saja, Ueena? Rumahku satu arah denganmu,” tawar Andreas di gelengi Queena. “Terimakasih, Andreas. Tapi ...” ucapan Queena terjeda.
Bim ... bim ... bim
“Ueena!”
Papa Rega ternyata sudah sampai sejak lima menit yang lalu, dia langsung menurunkan kaca mobil saat melihat putrinya berjalan dengan dua pemuda. Papa Rega bahkan membunyikan klakson dan memanggil putrinya tersebut.
“Iya, pa.” Queena tersenyum lebar saat melihat papanya sudah menunggu di tempat biasanya. Aku terselamatkan, papa memang yang terbaik.
“Kak Bagas, Andreas. Aku duluan, ya. Terimakasih untuk tawarannya, tapi aku sudah di jemput papa.” Dengan langkah kaki cepat, gadis itu menuju mobil papanya. Queena langsung masuk dan memasang sabuk pengaman. “Papa memang yang terbaik,” ucapnya setelah salim takzim pada papa Rega.
Papa Rega tersenyum, dia menepuk puncak kepala putrinya.