NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Mencairnya Tatapan Dingin Gadis Pecinan

Mobil SUV hitam mewah milik Kantor Hukum Sutan & Partners melesat membelah jalanan menuju kaki Gunung Padang, membawa Budiman yang duduk di bangku belakang dengan wajah sepucat kain kafan.

Begitu mobil berhenti di dekat gerbang kompleks Pekuburan Tionghoa, pemandangan di depan mata Budiman langsung membuat jantungnya copot. Ratusan warga keturunan Tionghoa setempat sudah berkumpul membentuk barikade manusia dengan wajah merah padam penuh amarah. Anto dan Elimar merangkak keluar dari dalam mobil sewaan begitu melihat Budiman turun.

"Udaaa! Tolong, Da! Nyawa kami di ujung tanduk!" ratap Anto ketakutan setengah mati.

Di barisan paling depan massa, berdiri seorang gadis muda berpakaian serba hitam modis dengan pembawaan yang sangat kontras.

Kulitnya putih bersih seperti pualam, rambutnya hitam panjang lurus, dan tatapan matanya sedingin es di kutub utara. Dia adalah Vilmey, pengusaha muda terpandang di area Pecinan sekaligus pewaris bisnis keluarga yang ikut turun ke jalan karena makam kakek buyutnya sedang diusik.

Vilmey melangkah maju, melipat tangan di dada, lalu menatap Budiman dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang sangat menusuk.

"Jadi, kamu bos dari Budiman Mart?" tanya Vilmey. Suaranya terdengar renyah, datar, dengan aura intimidasi yang kuat.

"Ternyata, Sultan dadakan ini mulai sombong ya? Berani sekali kamu membawa alat berat ke tanah makam leluhur kami. Ini bukan cuma masalah bisnis, tapi ini penistaan terhadap fengshui dan ketenteraman leluhur kami! Mau kamu kasih makan apa hantu di sini?! Mi instan?! Sabun cuci?!"

Budiman, yang awalnya ngeri, mendadak otaknya menangkap sinyal keuntungan emosional.

'Tunggu ... kalau gadis kaya ini memimpin warga buat menolak keras, berarti proyek ini HARUS BATAL! Uang muka lahan dan sewa ekskavator bakal hangus sia-sia! Awak bakal rugi dengan angka yang sangat besar!'

Seketika, senyum licik Budiman langsung merekah. Dia sengaja memasang wajah menantang agar Vilmey makin murka dan mengusir proyeknya selamanya. Dagunya diangkat dan ia membusungkan dada.

"Iya! Memang awak bosnya! Kenapa?! Suka-suka awak lah mau bangun swalayan di sini! Biar hantu-hantu kalian bisa beli dan bikin kopi sasetan malam-malam!" balas Budiman memprovokasi masih dalam posisi membusungkan dada tepat di depan wajah Vilmey.

Mata Vilmey menyipit tajam. Aura dinginnya sangat menusuk, sempat membuat Budiman merinding beberapa derik.

"Kurang ajar. Jangan harap satu sak semen pun bisa dituang di tanah ulayat ini!" gertaknya, memicu riuh amarah ratusan warga di belakangnya.

Budiman sudah bersorak kegirangan dalam hati. 'Ayo! Usir awak! Boikot awak! Biar awak rugi, kehilangan dana yang sudah keluar.'

Namun, tepat ketika situasi berada di titik didih tertinggi, layar hologram biru di depan mata Budiman mendadak berkedip dengan logo perisai emas yang menyala dengan terang benderang.

[ Ding! ]

[ Protokol 'Kearifan Lokal & Dark Tourism' Memasuki Fase Eksekusi Otomatis! ]

[ Mengonversi Dana CSR Korporat Sebesar Rp200.000.000 menjadi 'Dana Santunan Harmoni Leluhur'! ]

[ Perintah Sistem: Klien Hukum Sutan & Partners diwajibkan membacakan Akta Kontrak Kemitraan Budaya dalam waktu 10 detik! ]

'Hah?! Kontrak apa lagi?!' batin Budiman menjerit panik.

Sutan Chaniago, S.H., M.H., langsung melangkah maju mengabaikan kebingungan Budiman. Dengan suara baritonnya yang menggelegar layaknya hakim agung, dia membuka map merah tebal di depan Vilmey dan para tetua adat.

"Harap tenang semuanya!" seru Sutan Chaniago.

"Berdasarkan Akta Komitmen CSR Nomor 45, Klien kami, Bapak Budiman, SAMA SEKALI TIDAK BERNIAT merusak fengshui! Sebaliknya, Budiman Mart Cabang Dua hadir dengan konsep Heritage & Dark Tourism terintegrasi! Sebagai bentuk penghormatan mutlak, hari ini Budiman Mart secara tunai menyumbangkan dana abadi sebesar Dua Ratus Juta Rupiah untuk perawatan makam, pengecatan ulang seluruh bongpai, dan festival rebutan bulan depan!"

Vilmey tertegun, alisnya yang indah pun bertautan.

"Apa?"

"Tidak hanya itu!" potong Sutan Chaniago, membalik halaman dokumen dengan anggun.

"Budiman Mart Cabang Dua tidak akan menjual barang ritel biasa. Cabang ini khusus dibangun dengan arsitektur klenteng megah, yang 70% areanya khusus menjual Hio kualitas premium, lilin merah raksasa, kertas sembahyang impor (uang akhirat), baju kertas, hingga replika mobil mewah dari kertas untuk ritual pembakaran leluhur! Dan seluruh karyawan operasionalnya wajib direkrut dari pemuda-pemudi asli warga sekitar!"

Budiman melongo hingga membuat rahang seakan mau copot sampai menyentuh tanah kering.

'Woi! Sistem sialan! Awak mau bikin swalayan umum biar gak laku, kenapa kau malah ubah jadi toko grosir alat sembahyang China terbesar?!'

Mendengar penjelasan rasional, penuh penghormatan, dan sangat menguntungkan komunitas itu, amarah ratusan warga Tionghoa langsung sirna.

"Ondeh ... jadi ini bukan penistaan? Ini pelestarian budaya kami!" seru salah satu tetua adat dengan mata berkaca-kaca.

"Selama ini, kalau kami mau beli hio yang bagus harus memesan ke luar kota dulu."

Warga yang tadinya membawa balok kayu kini malah bertepuk tangan gembira, memuji-muji nama Budiman Mart.

Vilmey berdiri mematung. Matanya yang jernih menatap lembaran dokumen hukum yang disodorkan Sutan Chaniago, lalu beralih menatap Budiman yang saat itu sedang meremas rambutnya sendiri dengan wajah super frustrasi.

Di mata Vilmey, ekspresi frustrasi Budiman justru terlihat seperti wajah seorang pengusaha visioner yang sedang menyembunyikan kebaikan hatinya di balik topeng kesombongan.

'Dia sengaja memprovokasi saya di awal ... hanya untuk menguji seberapa besar kepedulian saya pada leluhur? Dan ternyata dia sudah menyiapkan konsep pelestarian budaya sematang ini bahkan rela menggelontorkan ratusan juta rupiah secara cuma-cuma?' batin Vilmey.

Jantungnya berdesir kecil menatap pria lokal yang sangat kontras dengannya. Sifatnya yang terkenal sedingin es, perlahan mulai mencair.

Vilmey melangkah mendekati Budiman. Sudut bibirnya yang tipis terangkat, membentuk senyuman misterius yang sangat tipis, sebuah senyuman yang belum pernah diperlihatkan pada pria mana pun di Pecinan.

"Strategi yang menarik, Saudara Budiman," ucap Vilmey pelan, membuat Budiman menoleh dengan wajah melongo.

"Kamu sangat sukses membuat saya terkesan. Saya sendiri yang akan membantu dalam memantau tokomu ... dan juga dirimu."

Vilmey membalikkan badannya dengan anggun, memimpin warga untuk membubarkan diri dengan damai sekaligus mengamankan jalannya ekskavator milik Budiman Mart.

Budiman berdiri mematung di bawah terik matahari. Air mata frustrasinya mengalir perlahan.

'Awak kan mau rugi ... kenapa malah dapet proyek monopoli hio? Sudah gitu malah dipuji oleh warga. Kenapa cewek Tionghoa galak itu malah ngeliatin awak macam gitu?! Awak ndak mau cinta-cintaan, awak mau bangkrut, miskin, dan hidup tenang! Sistem sialaaannn!!!' jerit Budiman histeris di dalam batinnya.

Namun, belum sempat Budiman meratapi nasib Cabang Dua yang mendadak berpotensi sukses besar, ponsel di kantong jas Sutan Chaniago berdering keras. Pengacara itu mengangkatnya, mendengarkan sejenak, lalu wajah yang tadi datar, kini mendadak berubah tegang.

Sutan menoleh ke arah Budiman. "Saudara Budiman ... kita punya masalah baru yang jauh lebih besar di Cabang Tiga."

Jantung Budiman mendadak terasa berhenti berdetak, ia hanya bisa menahan napas.

"Ada apa lagi, Pak Sutan?"

"Tim logistik kita yang membawa besi pondasi ke Atas Bukit Sitinjau Lauik baru saja melaporkan ... area proyek kita tertimpa longsor susulan. Tapi, material longsor itu mendadak membuka sebuah ... jalur mata air purba berdebit raksasa tepat di atas lahan kita."

[ bersambung ]

1
Safira Aurora
gimana kelanjutannya?
Aku Rajin Membaca
padahal budiman mau menyerahkan diri 😂
MomyWa
weeeh, udah gak bisa disecrol lagi saking asik bacanya
MomyWa
pahlawan kehancuran ya man?
MomyWa
bagus syekali bukannya?
arielskys
lama2 baca cerita ini bikin otakku makin pinter prinsip2 retail 👍
arielskys
pokoknya kalian harus berjodoh lah
Aku Rajin Membaca: kita lihat gimana ide penulis
total 1 replies
arielskys
walaaaahh, ada2 aja idenya 🤭
Aku Rajin Membaca: wkwkwkw..bikin pouyeng
total 1 replies
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
MomyWa: gmn nasibnya ya
total 1 replies
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!