"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Perempuan Tidak Punya Harga
Belum genap sehari kartu nama Rayhan tersimpan di saku daster Nadhira, pintu depan sudah digedor sampai kusennya bergetar.
Pagi baru lewat pukul delapan. Nadhira sedang menyuapi Alif bubur encer ketika suara Pak Darmo terdengar dari teras.
"Buka! Bapak tahu kamu ada di dalam!"
Sendok di tangan Nadhira berhenti. Alif langsung turun dari kursi dan memeluk pinggangnya.
"Mama, takut."
Nadhira mengusap rambutnya. "Alif masuk kamar, ya. Bawa mobil merahmu."
Bocah itu menggeleng kuat-kuat.
Gedoran berikutnya membuat kaca jendela berdenting. Dari kamar belakang terdengar Bu Sumini berteriak agar Nadhira membuka pintu dan menyelesaikan urusannya sendiri. Tak ada niat membantu. Bahkan setelah kejadian kemarin, rumah itu tetap menjadi tempat yang bisa dipakai siapa saja untuk menekannya.
Nadhira memasukkan kartu nama lebih dalam ke saku. Ponselnya sedang diisi daya di atas lemari, layar retaknya menghadap ke dinding.
Ia membuka pintu hanya selebar bahunya.
Pak Darmo segera mendorong daun pintu sampai Nadhira terpaksa mundur. Di belakangnya berdiri Suparti dengan kebaya merah marun, seorang perempuan tua yang membawa tas penuh brosur, dan seorang pria berperut besar dengan kemeja batik licin.
Nadhira mengenali pria terakhir dari foto yang pernah ditunjukkan Suparti beberapa bulan lalu.
Pak Hartono. Lima puluh lima tahun. Duda tiga kali.
"Pak Darmo datang tanpa kabar," kata Nadhira.
"Seorang bapak tidak perlu izin untuk menemui anaknya."
Pak Darmo masuk dan langsung duduk di kursi terbaik. Suparti mengikuti sambil memandang ruang tamu yang sederhana dengan bibir mengerucut. Perempuan tua itu tersenyum lebar kepada Nadhira.
"Saya biasa membantu urusan perjodohan," katanya. "Bapakmu sudah cerita semuanya. Kasihan, masih muda sudah menjanda. Untung ada laki-laki mapan yang mau menerima kamu dan anakmu."
Pak Hartono mengusap cincin batu besar di jarinya. Tatapannya menyapu lebam di wajah Nadhira, turun ke daster longgar, lalu berhenti terlalu lama pada tubuhnya.
"Lebamnya nanti hilang, kan?" tanyanya.
Suparti terkekeh. "Pasti, Pak. Nadhira sebenarnya cantik kalau dirawat."
Seolah mereka sedang memeriksa barang di pasar.
Nadhira menarik Alif ke belakang tubuhnya. "Saya tidak mencari suami."
Senyum Bu Marni tidak berubah. Ia membuka tas dan mengeluarkan amplop putih tebal, katalog gedung pernikahan, serta foto rumah dua lantai.
"Jangan menolak dulu. Pak Hartono punya usaha bahan bangunan. Rumahnya besar. Kamu tidak perlu pusing memikirkan makan anak. Mahar dan bantuan untuk keluarga juga sudah dibicarakan."
Pak Darmo mengambil amplop itu sebelum Nadhira sempat menyentuhnya. Ia menepuk-nepuk sisi amplop ke telapak tangan.
"Lihat? Pak Hartono menghargai kamu. Tidak seperti keluarga Wijaya yang membiarkanmu hidup susah."
"Kalau beliau menghargai saya, beliau akan bertanya apakah saya bersedia."
Pak Hartono menyandarkan punggung. "Perempuan yang baru menjanda biasanya masih bingung. Orang tua lebih tahu pilihan yang aman."
"Saya tidak bingung." Nadhira menatapnya lurus. "Jawaban saya tidak."
Udara di ruang tamu mengeras.
Mak comblang itu berdeham. "Mungkin kita bicara pelan-pelan."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
Suparti mencubit lengan Nadhira. "Jangan bikin malu Bapakmu di depan tamu."
Nadhira melepaskan tangannya. "Bu Parti yang datang membawa orang asing tanpa izin. Saya tidak mengundangnya."
Wajah Suparti langsung masam. "Lihat, Pak? Sudah ditolong masih galak."
Pak Darmo berdiri. Amplop putih tadi dimasukkannya ke saku kemeja.
"Kamu menikah dengan Hendra dulu juga karena Bapak setuju. Sekarang suamimu mati. Bapak yang menentukan langkahmu berikutnya."
"Saya sudah dewasa."
"Kamu tetap anak Bapak."
"Bukan berarti Bapak boleh menjual keputusan hidup saya."
Kata menjual membuat wajah Pak Darmo berubah merah. Ia mendekat sampai bau rokok dari bajunya membuat Nadhira mual.
"Jaga mulutmu. Pak Hartono bersedia memberi bantuan lima puluh juta untuk keluarga. Kamu pikir ada lelaki lain yang mau menerima janda dengan satu anak?"
Nadhira melirik amplop di sakunya. "Jadi uangnya memang untuk Bapak."
"Itu uang terima kasih."
"Untuk hidup yang akan saya jalani?"
"Kami membesarkanmu!"
Suara itu meledak begitu keras hingga Alif menangis. Pak Hartono memalingkan muka, tetapi tidak pergi. Bu Marni sibuk merapikan brosur yang sebenarnya sudah rapi.
Nadhira merasakan sesuatu di dalam dirinya menjadi dingin.
Kemarin keluarga mendiang suaminya berusaha mengambil warisan Alif. Hari ini ayah kandungnya sendiri datang untuk menjual pernikahannya. Dua keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru bergantian memasang harga pada tubuh dan hidupnya.
"Saya tidak akan menikah dengan Pak Hartono," katanya. "Silakan kembalikan uang itu."
Pak Darmo menamparnya.
Kepala Nadhira terlempar ke samping. Sisi wajah yang sudah lebam membentur bahunya. Dengung memenuhi telinga, dan rasa logam muncul di ujung lidah.
"Mama!"
Alif menjerit. Bocah itu meraih mobil-mobilan merah dari lantai lalu memukulkannya ke lutut Pak Darmo berkali-kali.
"Jahat! Jangan Mama!"
"Bocah kurang ajar!"
Pak Darmo mengangkat kaki seolah hendak menyingkirkannya. Nadhira menerjang maju dan menarik Alif ke belakang. Tubuhnya menjadi tameng tepat ketika ujung sepatu Pak Darmo bergerak.
"Jangan sentuh anak saya!"
Pak Hartono akhirnya berdiri. "Darmo, jangan kasar di depan saya."
Pak Darmo menurunkan kaki, tetapi telunjuknya masih mengarah ke Nadhira. "Dia harus diajar. Sejak kecil kalau tidak dipukul, dia tidak dengar."
Bu Marni mengembuskan napas gelisah. "Mungkin pertemuan ini dijadwal ulang saja."
"Tidak perlu." Nadhira mengusap darah tipis di sudut bibir. "Tidak akan ada pertemuan berikutnya."
Pak Hartono memperhatikannya beberapa detik. Bukannya tersinggung oleh kekerasan itu, ia justru berkata, "Setelah menikah, saya tidak suka istri membantah. Kalau kamu bisa belajar patuh, saya masih bersedia."
Rasa jijik membuat perut Nadhira berpilin.
"Keluar dari rumah ini."
"Nadhira!" Suparti menyambar lengannya. "Minta maaf kepada Pak Hartono!"
Kuku perempuan itu menekan tepat di atas memar yang dibuat Agus kemarin. Nadhira mencoba menarik diri, tetapi Suparti justru menyeretnya mendekati kursi Pak Hartono.
"Lepaskan, Bu Parti."
"Sujud kalau perlu. Jangan hilangkan rezeki keluarga!"
Alif memeluk kaki Suparti sambil menangis, mencoba menghentikannya dengan tenaga kecilnya. "Jangan Mama... jangan..."
Pak Darmo meraih bahu Nadhira dari sisi lain. "Hari ini kamu setuju. Minggu depan akad. Selesai."
Napas Nadhira memendek. Ruang tamu terasa menyusut, dipenuhi tangan yang menariknya ke arah berbeda. Bekas luka di rusuknya berdenyut. Pandangannya sempat berkunang-kunang.
Kemudian ujung jarinya menyentuh kartu kaku di dalam saku.
Rayhan.
Ia berhenti melawan selama satu detik. Suparti mengira Nadhira menyerah dan melonggarkan cengkeraman untuk membetulkan lengan kebayanya.
Nadhira langsung memutar pergelangan, menarik lengannya sekuat tenaga, lalu mendorong kursi ke antara mereka. Suparti terhuyung. Pak Darmo mengumpat.
Nadhira berlari dua langkah menuju lemari. Ia meraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Kabelnya tertarik dan jatuh ke lantai, tetapi layar ponsel sudah menyala di tangannya.
Pak Darmo menyusul. "Mau menelepon siapa?"
Jari Nadhira gemetar ketika membuka riwayat nomor yang semalam ia simpan dari kartu nama. Alif menempel di belakang kakinya, terisak tanpa suara.
Suparti berteriak, "Ambil ponselnya!"
Dengan napas tertahan, Nadhira menekan nomor Rayhan.