"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Malam Tahun Baru
Malam tahun baru di Rumah Anggrek selalu terlihat hangat dari luar.
Lampu taman dinyalakan sejak sore. Meja panjang di ruang makan dipenuhi hidangan yang disusun seolah keluarga Hartono tidak pernah kekurangan apa pun: ikan bakar, sup buntut, daging panggang, kue lapis, buah impor, dan beberapa botol wine yang lebih banyak dipamerkan daripada diminum.
Di balik jendela besar, orang-orang tertawa.
Tetapi Kiara Hartono tahu rumah ini terlalu pandai berakting.
Ia berdiri di dekat tangga ketika Arga Pratama masuk.
Arga memakai kemeja gelap sederhana dan jaket lama yang sama. Tidak ada tanda bahwa video bank, helikopter Cakra, atau laporan militer terkunci pernah membuatnya sedikit pun berubah. Ia tetap berjalan seperti orang yang datang hanya karena diminta.
Kiara yang meminta.
Tiga hari lalu, ia mengirim pesan pendek:
Malam tahun baru, Eyang minta semua keluarga hadir. Kamu bisa datang?
Arga menjawab:
Kalau kamu mau.
Kalimat itu membuat Kiara menatap layar lama. Ia tidak menjawab "keluarga minta". Ia tidak menjawab "aku harus". Ia hanya menulis:
Aku mau kamu datang.
Maka Arga datang.
Ratna melihatnya dari ruang makan dan wajahnya langsung menegang. Namun kali ini ia tidak berani langsung menyebut si numpang. Sejak video helikopter, mulut Ratna masih tajam, tetapi selalu ada setengah detik jeda sebelum ia menghina.
Galang justru sebaliknya. Ia tersenyum terlalu lebar.
"Wah, Mas Arga datang juga. Sibuk tanda tangan dokumen Cakra, masih sempat makan di sini?"
Arga menarik kursi untuk Kiara. "Saya diundang."
"Oleh siapa? Cakra atau Kiara?"
Kiara menatap Galang. "Oleh saya."
Galang mengangkat tangan, pura-pura menyerah. "Santai. Aku cuma bercanda."
Lestari pernah berkata, orang sombong sering menyebut racunnya sebagai candaan. Kiara baru sadar kalimat itu benar.
Bimo masuk dengan senyum kaku. "Sudah, malam tahun baru jangan ribut."
Bu Agung duduk di kursi utama. Rambut putihnya disanggul sempurna, kebaya gelapnya rapi, tongkatnya berada di sisi kursi. Ia tidak banyak bicara selama makan dimulai. Justru diamnya membuat semua orang lebih hati-hati.
Hendra dan Bambang membahas pasar tahun depan. Galang membicarakan peluang proyek revitalisasi yang "direbut orang tidak jelas". Ratna mengeluh tentang tamu arisan yang terlalu banyak bertanya soal video helikopter.
Arga makan sedikit.
Kiara menyadari itu. "Makanannya tidak cocok?"
"Cocok."
"Kamu cuma makan sedikit."
"Aku sudah makan sebelum datang."
Jawaban itu sederhana, tetapi membuat Kiara mengingat dua tahun lalu. Berapa kali Arga makan sisa lauk dingin karena ia sibuk melayani meja keluarga ini? Berapa kali ia sudah kenyang pura-pura supaya tidak ada yang sadar ia sengaja menyisihkan porsi untuk orang lain?
Ratna mengetuk gelas dengan sendok.
"Kiara, kamu jangan terlalu memperhatikan dia. Malam ini keluarga kumpul."
Kiara meletakkan sendok. "Dia juga masih keluarga."
Ruangan hening.
Kata masih lebih berbahaya daripada kata keluarga.
Bambang tertawa pelan untuk mencairkan suasana, tetapi tawanya jatuh sendiri. "Secara hukum mungkin masih, tapi secara praktik..."
"Secara praktik apa, Om?" Kiara bertanya.
Bambang terdiam.
Hendra yang lebih kasar mengambil alih. "Kiara, jangan naif. Dunia bisnis melihat status. Kalau kamu terus menggantung hubungan seperti ini, orang bertanya-tanya siapa yang sebenarnya memegang kendali hidupmu."
Kiara menatapnya. "Orang-orang itu bertanya karena keluarga kita memberi mereka bahan."
Galang menyandarkan punggung. "Atau karena kamu belakangan terlalu sering membela orang yang tidak jelas."
"Orang tidak jelas itu menyelamatkan saya dari Rendra."
Kata Rendra membuat Ratna menegang.
Tidak ada yang suka mengingat malam itu. Ingatan itu membuat pilihan mereka terlihat buruk.
Bu Agung akhirnya mengangkat wajah.
"Itu yang perlu dibicarakan."
Semua orang berhenti makan.
Bu Agung meletakkan sumpitnya dengan pelan, seperti hakim menutup berkas.
"Besok, hari pertama tahun baru, kalian urus perceraian ke pengadilan. Perjanjian itu seharusnya sudah lama selesai."
Tidak ada suara kembang api di dalam rumah, tetapi Kiara merasa sesuatu meledak di dadanya.
Ratna langsung menunduk, jelas sudah tahu pembicaraan ini akan terjadi.
Bimo menatap piring.
Galang tersenyum kecil.
Kiara memandang neneknya. "Besok tanggal satu. Pengadilan belum tentu buka penuh."
"Kalau tidak bisa selesai besok, setidaknya prosesnya dimulai." Suara Bu Agung dingin. "Keluarga ini terlalu lama digantung oleh status yang tidak jelas."
"Status saya bukan urusan rapat keluarga."
"Semua yang menyentuh nama Hartono adalah urusan keluarga."
Kiara merasakan tangannya di bawah meja mengepal.
Ia ingin menolak. Ingin berkata bahwa ia belum siap. Ingin berkata bahwa semua yang terjadi beberapa minggu terakhir membuatnya tidak bisa lagi menganggap Arga sebagai beban yang harus disingkirkan.
Tetapi di depan seluruh keluarga, kata-kata itu tersangkut.
Ia menoleh ke Arga.
Arga menatapnya balik, tenang.
Bu Agung menangkap arah pandang itu. "Arga, kamu sudah menandatangani perjanjian. Jangan membuat ini lebih sulit."
Arga meletakkan gelasnya.
"Kalau Kiara mau, aku tidak keberatan."
Kiara membeku.
Kalau Kiara mau.
Selama dua tahun, keputusan tentang dirinya selalu dibuat oleh orang lain. Menikah karena perjanjian keluarga. Tinggal di Rumah Anggrek karena kesepakatan. Bercerai karena keluarga ingin membersihkan nama. Bahkan pergi ke acara Rendra pun diputuskan sebelum ia sempat bertanya.
Dan sekarang, laki-laki yang paling berhak marah justru menyerahkan keputusan itu kepadanya.
Di bawah taplak meja, tangan Kiara gemetar.
Ia menggenggamnya, lalu melepaskan, lalu menggenggam lagi.
Ratna menekan. "Kiara, kamu dengar? Dia sendiri tidak keberatan."
Kiara menatap ibunya. "Saya dengar."
"Jadi?"
"Jadi saya akan pikirkan."
Galang mendengus. "Apa lagi yang dipikirkan?"
Kiara berdiri. "Cukup untuk malam ini."
Ia meninggalkan ruang makan sebelum suara mereka mengejarnya.
Arga tidak langsung menyusul. Ia menunggu beberapa detik, lalu berdiri.
Bu Agung berkata, "Jangan buat dia bingung."
Arga menatap perempuan tua itu. "Dia sudah terlalu lama dibuat bingung oleh kalian."
Untuk pertama kalinya malam itu, Bu Agung tidak punya jawaban cepat.
Di halaman depan setelah makan malam bubar, Bimo mendekati Arga ketika yang lain masuk ke ruang keluarga untuk menonton kembang api.
Wajah Bimo terlihat gelisah. Bukan marah. Gelisah.
"Besok kamu datang tepat waktu," katanya.
"Aku akan datang kalau Kiara tetap mau pergi."
Bimo melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada yang mendengar.
"Besok, hati-hati."
Arga menatapnya.
"Maksudnya?"
Bimo mengencangkan rahang. "Jangan macam-macam."
Kalimat itu terlalu cepat ditinggalkan.
Bimo masuk kembali ke rumah sebelum Arga sempat bertanya lagi.
Di langit Jakarta, kembang api mulai naik.
Arga berdiri di halaman Rumah Anggrek, mendengar ledakan warna di atas rumah yang masih menyimpan terlalu banyak rahasia.
Di balkon lantai dua, Kiara berdiri di balik tirai tipis.
Ia melihat Arga di halaman, sendirian di bawah cahaya kembang api, dan untuk sesaat ia ingin turun. Bukan untuk menjelaskan. Bukan untuk bertanya. Hanya untuk berdiri di sebelahnya agar laki-laki itu tidak terus terlihat seperti tamu di semua tempat, bahkan di rumah yang pernah menjadi alamat pernikahan mereka.
Tangannya menyentuh pegangan pintu.
Lalu suara Ratna terdengar dari koridor.
"Kiara, Eyang memanggil."
Kiara melepaskan pegangan itu.
Di halaman, Arga menoleh ke arah balkon seolah merasakan sesuatu, tetapi tirai sudah jatuh kembali.