"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028 - Tim Baru
Dua hari setelah Herman dibawa Polres, PT Surya Teknologi terasa seperti gedung yang baru dibuka jendelanya.
Udara masih berantakan.
Banyak debu terlihat.
Namun orang-orang mulai bernapas.
Arya memulai pagi dengan tiga keputusan.
Pertama, audit penuh tetap berjalan.
Kedua, bonus tertahan tim support dan R&D dihitung ulang.
Ketiga, struktur manajemen harus dibangun kembali.
Di ruang CEO, Pak Budi, Mega, dan Arya duduk menghadap papan tulis.
Pak Budi menulis divisi yang bermasalah.
Finance: kosong.
R&D: butuh arah produk.
Marketing: lemah.
Supply dan operasional: tersebar.
Mega menambahkan catatan.
"Kalau semua dipegang orang lama, mereka takut bergerak. Kalau semua diisi orang baru, karyawan lama merasa disingkirkan."
Arya mengangguk.
"Kita butuh orang yang saya percaya dan masih mau belajar."
Pak Budi menatapnya. "Bapak punya nama?"
"Tiga."
Telepon pertama ke Rizky Hakim.
Rizky mengangkat pada dering kedua.
"Aku sedang memperbaiki bug di kantor baruku. Kalau ini soal makan malam, aku tidak bisa."
"Keluar dari kantor itu."
Hening tiga detik.
"Kalimatmu berbahaya."
"Datang ke PT Surya Teknologi. Aku butuh kepala R&D."
Rizky tidak langsung menjawab.
Arya menunggu.
"Aku baru lulus."
"Kamu juara kompetisi coding nasional tingkat dua. Kamu menulis library sendiri karena malas pakai punya orang. Kamu membaca dokumentasi seperti orang lain membaca komik."
"Gaji?"
Arya menyebut angka.
Rizky batuk.
"Kirim offer letter."
"Hari ini."
"Aku baca kontrak dulu. Aku temanmu, tapi aku tidak mau masuk tanpa struktur jelas."
"Itu sebabnya aku meneleponmu."
Telepon kedua ke Dimas Saputra.
Suara latar penuh musik iklan.
"Bro! Kalau kamu mau pinjam suaraku untuk video permintaan maaf, tarif teman beda."
"Aku butuh creative director untuk marketing."
Dimas diam.
"Ulangi."
"Marketing PT Surya Teknologi mati. Aku butuh orang yang bisa membuat produk rumit terdengar hidup."
"Aku kerja di agency sekarang."
"Kamu mengeluh setiap malam."
"Itu bagian dari budaya kerja."
"Datanglah."
Dimas menghela napas dramatis.
"Bro, kamu sedang menyelamatkan jiwaku dari brief klien parfum motor."
"Jadi?"
"Aku datang. Tapi aku mau tim kecil sendiri."
"Ajukan rencana."
"Siap, Pak Direktur."
Telepon ketiga ke Bayu Setiawan berlangsung lebih lama.
Bayu mendengar semua penjelasan tanpa memotong.
"Supply chain dan operasional?"
"Ya. Aku butuh orang yang teliti. Orang yang tidak gampang silau."
"Aku perlu pikir."
"Ambil waktu."
"Aku jawab besok."
Besok pagi, Bayu datang ke kantor.
Ia membawa map kecil.
Di dalamnya ada daftar pertanyaan: struktur pelaporan, kewenangan, batas belanja, indikator kerja, dan konflik kepentingan karena ia teman Arya.
Pak Budi membaca daftar itu dengan mata berbinar.
"Pak Arya, orang ini cocok."
Bayu menatap Arya.
"Aku mau masuk dengan satu syarat. Di kantor, kamu bosku. Kalau aku salah, tegur. Kalau aku tidak mampu, turunkan. Jangan lindungi aku karena kita teman kos."
Arya mengulurkan tangan.
"Setuju."
Bayu menjabatnya.
"Kalau begitu aku masuk."
Seminggu kemudian, tiga sahabat itu resmi hadir di Gedung Surya Teknologi.
Rizky memakai kemeja polos dan membawa laptop tua kesayangannya.
Dimas memakai blazer terang dan sepatu yang terlalu mencolok untuk kantor teknologi.
Bayu datang paling rapi, membawa buku catatan hitam.
Sebelum orientasi dimulai, Arya membawa mereka ke ruang CEO.
"Di luar ruangan ini, kalian masuk sebagai pekerja dengan target jelas."
Dimas mengangkat tangan. "Kalau aku tetap tampan, itu bonus perusahaan."
Rizky menghela napas. "Tolong potong gajinya kalau mulai begitu."
Bayu membuka buku. "Aku setuju dengan aturan jelas. Kita juga perlu mengumumkan ke tim lama bahwa posisi kami punya target dan ukuran kerja."
Arya menatap Bayu.
"Kamu tulis draft pengumuman."
"Siap."
Pak Budi yang baru masuk mendengar kalimat terakhir.
"Bagus. Karyawan lama perlu melihat transparansi sejak awal."
Rizky membuka laptop di meja CEO tanpa diminta.
"Aku butuh akses read-only ke repository utama sebelum menerima serah terima R&D."
Mega menatap Arya.
Arya mengangguk. "Berikan akses terbatas."
Dimas melihat sekeliling ruangan.
"Aku butuh semua materi marketing lama, daftar klien, dan rekaman demo produk. Kalau brand kita selama ini membosankan, aku harus tahu tingkat parahnya."
Pak Budi menjawab, "Saya siapkan."
Bayu menambahkan, "Aku mau daftar vendor yang sudah dibersihkan dan yang masih ditahan audit."
Arya tersenyum tipis.
"Kalian belum resmi mulai, sudah minta data."
Rizky menjawab tanpa melihat dari layar, "Kalau menunggu acara penyambutan, bug tidak hilang sendiri."
Karyawan pertama yang melihat mereka di lorong tampak bingung. Tiga wajah baru berjalan bersama direktur muda. Arya sengaja tidak membuat acara megah. Ia hanya mengirim pengumuman singkat: tiga posisi baru, tiga target, tiga masa evaluasi.
Tidak ada ruang untuk gosip hadiah teman.
Mega memberi mereka kartu akses.
"Pak Rizky, ruang R&D lantai dua belas. Pak Dimas, marketing lantai sepuluh. Pak Bayu, operasional lantai sembilan. Agenda orientasi ada di email."
Dimas menatap kartu akses.
"Dulu kita rebutan kunci kamar mandi kos. Sekarang pakai kartu begini."
Rizky menatap Arya. "Jangan emosional. Aku mau lihat kode."
Bayu mengangguk ke Pak Budi. "Saya minta data vendor aktif hari ini."
Pak Budi tersenyum kecil.
"Saya suka teman-teman Bapak."
Sore itu, setelah orientasi yang melelahkan, Arya membawa mereka ke warung nasi goreng dekat kos lama.
Warung itu masih sama.
Meja plastik.
Kipas angin tua.
Bau kecap manis dan bawang goreng.
Dimas duduk dan langsung berkata, "Pak Direktur makan di sini, saham perusahaan naik atau turun?"
"Naik kalau kamu bayar."
"Turun drastis."
Mereka tertawa.
Rizky memesan teh tawar. Bayu memesan nasi goreng pedas sedang. Dimas memesan dua porsi seolah baru keluar dari perang.
Arya memandang tiga orang di depannya.
Dulu mereka duduk di tempat seperti ini membicarakan tugas kuliah, uang kos, dan dosen killer.
Sekarang mereka membicarakan R&D, marketing, operasional, dan perang bisnis.
Arya mengangkat gelas es teh.
"Untuk tim baru."
Dimas mengangkat gelas. "Untuk gaji baru."
Rizky mengangkat teh. "Untuk kode yang lebih bersih dari laporan finance Herman."
Bayu mengangkat gelas terakhir. "Untuk aturan yang jelas."
Arya tersenyum.
"Untuk zaman kita."
Gelas-gelas itu bertemu.
Panel sistem muncul.
【Terdeteksi: host membentuk tim inti.】
【Hadiah: manajemen tim Lv.3.】
【Aura tim inti aktif: kemampuan anggota inti +15%.】
【Ikatan persahabatan terkunci permanen.】
Arya membaca pesan itu dan menatap sahabatnya.
Ia tidak akan bisa melawan Hartono sendirian.
Sekarang ia tidak perlu sendirian.
Saat mereka kembali ke kantor, Mega menunggu di lobby dengan wajah serius.
"Pak Arya, ada laporan mendadak."
"Apa?"
"Tiga klien besar mengirim surat niat terminasi kontrak minggu ini. Alasan sama: mereka menemukan pemasok yang lebih sesuai."
Rizky berhenti.
Dimas menurunkan senyumnya.
Bayu langsung mengambil map dari Mega.
Arya membuka halaman pertama.
Nama vendor pengganti membuat matanya mengeras.
PT Langit Digital.
Anak usaha Hartono Group.
Herman sudah mulai bergerak dari luar.