NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Ibra mengambil dua sajadah dari lemari kecil di sudut ruang keluarga. Satu ia bentangkan untuk dirinya. Satu lagi untuk Arjun.

"Arjun."

"Iya, Ayah."

"Ayo wudhu dulu."

"Iya, Ayah."

Beberapa menit kemudian, ayah dan anak itu berdiri berdampingan. Setelah sekian lama, Ibra menjadi imam bagi putranya sendiri.

"Ayah mau lihat dulu gimana kamu kalau rukuk."

"Begini kan Ayah?"

Ibra tersenyum tipis kemudian ia membetulkan posisi tangan putranya. "Kalau rukuk, punggungnya diluruskan sedikit."

"Iya, Ayah."

"Dan alau sujud, dahinya benar-benar menempel sajadah."

"Iya."

"Yaudah ayo kita mulai ya."

Arjun mengangguk antusias.

Suara takbir yang keluar dari lisannya sempat bergetar. "Allahu Akbar."

Arjun mengikuti setiap gerakan ayahnya dengan saksama. Meski gerakannya belum sempurna, Arjun begitu bersemangat menirukan ayahnya.

Usai salam, Ibra mengajarkan beberapa zikir pendek.

Arjun mengikutinya terbata-bata. "Subhanallah..."

"Subhanallah..."

"Alhamdulillah..."

"Alhamdulillah..."

"Allahu Akbar..."

"Allahu Akbar..."

Setelah selesai berdoa, Arjun langsung menoleh kepada ayahnya. Lalu dengan wajah ceria, ia meraih tangan Ibra dan menciumnya.

"Arjun senang."

Ibra tersenyum tipis. "Senang kenapa?"

"Soalnya Ayah udah salat lagi. Nenek pasti senang di atas sana."

Ucapan Arjun membuat dadanya terasa sesak. Almarhum mamanya sering kali mengingatkan dirinya untuk kembali bersujud pada Allah. Tapi ia selalu saja mengabaikannya.

Ibra hanya mengangguk pelan. "Semoga Allah merahmati Nenek."

"Aamiin."

Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. "Sekarang kamu tidur. Besok sekolah."

"Iya, Ayah." Arjun memeluk ayahnya sebentar sebelum berlari kecil menuju kamarnya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Rumah itu kembali sunyi. Ibra masih duduk di atas sajadahnya. Pandangannya terpaku pada tempat dahinya baru saja bersujud.

Entah sudah berapa lama ia meninggalkan kebiasaan itu. Sujud yang dulu terasa begitu menenangkan, perlahan menghilang dari hidupnya.

Ia memejamkan mata. Wajah Bu Zulfa kembali terbayang.

"Nak... Jangan pernah tinggalkan salat. Kalau semua manusia meninggalkanmu, Allah tetap membuka pintu-Nya. Jangan marah kepada takdir karena yang kita anggap musibah bisa jadi cara Allah menyelamatkan kita."

Ibra mengembuskan napas panjang. Selama ini, ia terlalu sibuk menyalahkan keadaan. Menyalahkan ayahnya. Menyalahkan Celine. Bahkan ia pernah melampiaskan kemarahannya kepada Tuhannya sendiri.

Kini ia menyadari, bukan Allah yang berlaku tidak adil kepadanya. Melainkan dirinya yang memilih menjauh ketika ujian datang. Padahal berkali-kali Allah masih memberinya kesempatan.

Masih memberinya rezeki. Masih memberinya pekerjaan. Masih memberinya seorang anak yang saleh.

Dan malam ini melalui pertanyaan polos Arjun. Allah seolah sedang mengetuk kembali pintu hatinya. Ia teringat pesan terakhir Bu Zulfa sebelum mengembuskan napas terakhir. Saat itu tangan ibunya menggenggam erat jemarinya.

"Nak, kalau Mama sudah tidak ada. Pindahlah ke Bandung. Kembalilah ke tempat yang dulu membesarkan imanmu. Kembalilah ke pesantren. Temui guru-gurumu. Jika Kiai Alif masih ada, minta maaf lah. Temui juga Kiai Abidzar. Mintalah ilmu lagi. Perbaiki hidupmu walau hanya selangkah."

Air mata Ibra perlahan jatuh membasahi sajadah. Ia menengadahkan wajahnya.

"Mah, aku sudah sampai di Bandung. Tapi aku belum punya keberanian."

Ia menundukkan kepalanya kembali. "Apa aku harus datang ke pesantren itu? "Apa Kiai Alif masih mengingatku? Bagaimana dengan Kiai Abidzar? Belasan tahun aku pergi tanpa pernah memberi kabar."

Ia tersenyum pahit. "Mungkin mereka bahkan sudah lupa kalau dulu pernah punya murid bernama Ibrahim."

Namun jauh di dalam hatinya... Ada sebuah kerinduan yang mulai tumbuh. Kerinduan untuk kembali duduk di serambi masjid pesantren. Mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an. Dan kembali menjadi Ibrahim yang dulu. Sebelum dunia membuatnya tersesat begitu jauh.

***

Keesokan harinya...

Seperti biasa, suasana Fakultas Ekonomi dan Bisnis mulai ramai dipenuhi mahasiswa yang lalu-lalang.

Azel, Sekar, dan Bela baru saja keluar dari kelas Manajemen Keuangan.

Jam di ponsel Azel menunjukkan pukul 09.45. Artinya lima belas menit lagi mata kuliah Perpajakan dimulai.

Begitu melihat jadwal di layar ponselnya, Azel langsung mengembuskan napas panjang. "Ya Allah..."

Sekar yang sedang memasukkan buku ke dalam tas menoleh. "Kenapa lagi?"

Azel memonyongkan bibir. "Kenapa sih, Sek harus ketemu sama dosen nyebelin itu lagi?"

Bela langsung tertawa. "Pak Ibra?"

"Iya siapa lagi. Baru kemarin ketemu, sekarang ketemu lagi."

Sekar langsung menyenggol bahu Azel. "Cieee... ketemu di mana, lo?"

Azel mendelik. "Cie apaan. Gue belum cerita, ya?"

"Apa?"

"Ternyata anaknya Pak Ibra itu Arjun."

Sekar dan Bela langsung menghentikan langkah. "Hah?! Arjun yang di daycare Uma lo itu?" tanya Sekar memastikan.

"Iya."

"Beneran?"

"Iya, Sek."

Bela sampai membulatkan matanya. "Buset... Berarti Pak Ibra udah punya anak? Gue kira masih single."

Azel mengangkat bahu. "Ya emang udah punya anak."

Bela langsung bergumam pelan. "Sayang banget..."

Azel spontan menoleh. "Apanya yang sayang?"

"Ya siapa tau kan jodoh gue."

Sekar langsung tertawa terbahak. "Bel! Lagian emang lo kuat hidup sama dosen segalak itu?"

Bela malah mengangguk santai. "Ya kalau ke mahasiswa galak. Belum tentu ke istrinya juga begitu."

Azel langsung menggeleng. "Terserah deh. Kalau gue sih ogah."

Sekar ikut menimpali. "Eh tapi... Kalau lihat Arjun, lasti mamanya cantik banget deh. Anaknya aja ganteng gitu. Iya nggak, Zel?"

Azel mengangkat kedua bahunya. "Mana gue tau. Gue nggak nanya. Lagian itu bukan urusan gue."

Padahal... Ucapan Arjun kemarin kembali terlintas di benaknya.

"Aku mau mama. Ayah nggak bisa ngasih aku mama. Aku cuma tinggal sama Ayah."

Azel terdiam beberapa saat. "Apa Pak Ibra memang sudah bercerai? Atau... Mamanya Arjun sudah meninggal?" batinnya.

Ia segera menggeleng pelan. "Ah, ngapain juga dipikirin. Itu urusan pribadi beliau."

"Loh, Zel." Suara Sekar membuyarkan lamunannya. "Ngelamun aja."

"Hah? Enggak."

"Yuk, nanti telat."

Mereka bertiga kembali berjalan menuju ruang kelas. Dari arah berlawanan, seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam sedang melangkah menuju kelas yang sama. Map berisi materi kuliah berada di tangannya. Tatapannya lurus ke depan.

Begitu Azel menyadari sosok itu, langkahnya spontan melambat. "Astaghfirullah..."

Sekar menoleh. "Kenapa?"

Azel berbisik pelan. "Itu... Pak Kut—"

Belum sempat kalimatnya selesai, Sekar buru-buru menutup mulut Azel dengan telapak tangannya. "Ssst! Lo mau nilai E, hah?"

Bela langsung menahan tawa.

Sementara Ibra yang melintas di depan mereka sempat melirik sekilas ke arah ketiga mahasiswinya. Tatapannya berhenti sepersekian detik pada Azel yang mulutnya masih dibekap Sekar. Alisnya sedikit terangkat.

"Ada masalah?"

Sekar buru-buru melepaskan tangannya dari mulut Azel. "T-tidak ada, Pak."

"Baik." Ibra mengangguk singkat lalu melanjutkan langkahnya memasuki ruang kelas.

Begitu pria itu menghilang di balik pintu, Azel langsung mengembuskan napas panjang.

"Hampir aja..."

Sekar menunjuk wajah Azel. "Gue ingetin ya. Jangan sekali-kali nyebut julukan itu di kampus."

Azel mengangguk cepat. "Iya... iya demi nilai perpajakan gue."

***

Suasana kelas kembali tenang setelah semua mahasiswa selesai mencatat materi yang dijelaskan Ibra. Ibra menutup spidolnya, lalu berbalik menghadap seluruh mahasiswa.

"Hari ini kita akan membahas satu topik yang sering menjadi perdebatan. Bahkan di kalangan konsultan pajak, auditor, maupun praktisi."

Ia menulis dua istilah besar di papan tulis.

TAX AVOIDANCE & TAX EVASION

Ibra meletakkan spidol. "Kira-kira mana yang boleh dilakukan oleh perusahaan?"

Beberapa mahasiswa langsung mengangkat tangan. Sekar menjadi salah satunya.

"Iya, Sekar."

"Tax avoidance, Pak. Sedangkan tax evasion tidak boleh."

Ibra mengangguk tipis. "Jawaban yang sering kita dengar. Lalu kenapa?"

Sekar terdiam. "Karena... Emm... Itu..."

Ia melirik buku catatannya. "Karena tax avoidance legal, Pak. Sedangkan tax evasion ilegal."

Ibra mengangguk. "Itu benar. Tapi belum menjawab pertanyaan saya. Kok bisa yang satu legal dan yang satu ilegal?"

Sekar mulai gugup. "Karena..."

"Ya..."

Beberapa detik berlalu. Sekar akhirnya menggeleng pelan. "Maaf Pak. Saya belum bisa menjelaskan."

Ibra mengangguk singkat. "Baik."

Tatapannya kemudian menyapu seluruh kelas. Lalu berhenti pada seseorang.

"Arzelia."

Azel yang sedang menulis langsung membeku. "Ya Allah... Kenapa lagi gue?"

"Iya, Pak."

"Coba jelaskan."

Azel mengembuskan napas pelan. "Menurut saya... Tax avoidance itu upaya mengurangi beban pajak dengan memanfaatkan celah atau ketentuan yang memang masih diperbolehkan dalam undang-undang. Sedangkan tax evasion dilakukan dengan melanggar hukum, misalnya menyembunyikan penghasilan, membuat faktur fiktif, atau memalsukan laporan keuangan."

Ibra mengangguk. "Bagus. Tapi..."

Ia melangkah perlahan mendekati meja Azel. "Kalau begitu, menurut kamu... Tax avoidance itu tindakan yang etis?"

Azel berpikir sejenak. "Tergantung, Pak."

Ibra mengangkat alis. "Tergantung?"

"Iya. Selama perusahaan masih mematuhi aturan perpajakan yang berlaku, menurut saya tidak bisa langsung dikatakan salah. Karena wajib pajak juga memiliki hak untuk melakukan efisiensi pajak."

Beberapa mahasiswa mengangguk.

Ibra kembali bertanya. "Kalau begitu... Misalnya ada perusahaan memindahkan pusat usahanya ke negara dengan tarif pajak lebih rendah agar pajaknya berkurang. Legal. Tapi tujuan utamanya hanya membayar pajak sekecil mungkin. Menurut kamu itu masih etis?"

Azel menjawab mantap. "Kalau memang tidak melanggar hukum negara tersebut, menurut saya tetap sah."

Ibra tersenyum tipis. "Sah secara hukum. Belum tentu benar secara moral."

Azel langsung menyahut. "Tapi perusahaan juga punya tanggung jawab kepada pemegang saham untuk mengelola biaya seefisien mungkin, Pak. Termasuk biaya pajak."

Beberapa mahasiswa mulai saling berpandangan. Bela yang duduk di belakang bahkan mulai memperhatikan serius.

Ibra kembali bertanya. "Kalau semua perusahaan berpikir seperti itu, siapa yang membiayai pembangunan jalan? Rumah sakit? Sekolah negeri? Anggaran kesehatan?"

Azel tidak tinggal diam. "Itu tugas negara mengatur sistem pajaknya, Pak. Kalau ada celah hukum, berarti pemerintah yang harus memperbaiki regulasinya. Bukan perusahaan yang disalahkan."

Ibra mengangguk pelan. "Pendapat yang menarik. Tapi saya ingin bertanya lagi. Kalau seseorang sengaja menyusun transaksi yang sebenarnya tidak memiliki tujuan bisnis nyata hanya supaya pajaknya lebih kecil. Menurut kamu itu masih tax avoidance?"

Azel berpikir beberapa saat. "Kalau transaksinya hanya rekayasa dan tidak punya substansi ekonomi menurut saya sudah mendekati tax evasion."

Ibra langsung tersenyum tipis. "Nah. Di sinilah letak masalahnya."

Seluruh kelas mulai fokus. Ibra kembali menulis di papan.

Substance Over Form. Di dunia perpajakan yang dinilai bukan hanya bentuk hukumnya. Tetapi juga substansi ekonominya."

Ia menatap Azel.

"Kalau sebuah transaksi terlihat legal di atas kertas. Tapi kenyataannya hanya dibuat untuk menghindari pajak. Fiskus dapat mengoreksi transaksi tersebut."

Azel masih bertahan. "Tapi tidak semua tax avoidance seperti itu, Pak."

"Betul." Ibra mengangguk. "Tidak semua. Lalu siapa yang menentukan batasnya?"

Azel terdiam.

Ibra melanjutkan. "Undang-undang? Pengadilan? Direktorat Jenderal Pajak? Atau wajib pajaknya sendiri?"

Ruangan mendadak hening.

Azel mencoba menjawab. "Mungkin melalui pemeriksaan pajak dan ketentuan yang berlaku."

Ibra mengangguk. "Benar. Lalu apa artinya?"

Azel tidak langsung menjawab.

Ibra kembali berkata, "Artinya... Perbedaan antara tax avoidance dan tax evasion tidak selalu sesederhana, yang satu legal, yang satu ilegal. Banyak kasus berada di wilayah abu-abu. Dan seorang akuntan harus mampu menilai substansi transaksi, bukan sekadar membaca pasal."

Azel perlahan menutup bukunya. Ia akhirnya mengangguk kecil. "Saya mengerti, Pak."

Ibra menatapnya beberapa detik. "Jadi... Kalau nanti menjadi akuntan. Jangan hanya berpikir bagaimana pajak menjadi kecil. Tapi pikirkan juga apakah keputusan itu dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan etika."

Azel menghela napas pelan. "Baik, Pak."

Untuk pertama kalinya dalam perdebatan itu, ia tidak lagi membalas. Bukan karena kehabisan kata. Melainkan karena ia menyadari bahwa sudut pandang yang disampaikan Ibra memang melengkapi jawabannya.

Melihat kelas mulai memahami inti pembahasan, Ibra menutup spidolnya.

"Bagus..Perdebatan seperti ini yang saya harapkan..Akuntansi bukan sekadar menghafal. Tetapi melatih cara berpikir kritis."

Di bangku sebelah, Sekar berbisik pelan kepada Bela. "Tuh kan kalau Pak Ibra sama Azel debat kayak sidang skripsi."

Bela menahan tawa. "Untung Azel masih selamat."

***

Jam kuliah baru saja usai. Koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis mulai dipenuhi mahasiswa yang keluar masuk kelas. Beberapa dosen berjalan menuju ruang dosen, sementara sebagian mahasiswa memilih duduk di bangku koridor sambil mengobrol.

Azel berdiri di dekat pintu ruang dosen. Ia sedang menunggu Sekar yang izin ke toilet.

Tak lama kemudian, seseorang menghampirinya.

"Hai, Zel."

Azel menoleh lalu tersenyum ramah. "Eh, Kak Fariz."

Fariz membalas senyumnya. "Besok jangan lupa rapat BEM, ya."

"Iya, Kak. Insya Allah datang."

"Jangan telat."

Azel terkekeh pelan. "Iya, Kak. Nanti dimarahin lagi."

Fariz ikut tertawa. "Bagus kali ini aku yang marahin."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara langkah sepatu terdengar mendekat.

"Fariz."

Fariz menoleh sekilas. "Oh... Sarah."

Sarah menghampiri mereka dengan senyum yang dipaksakan. "Hai, Zel."

"Hai, Kak Sarah."

Sarah kemudian menatap Fariz. "Yuk, ke kantin."

Fariz menggeleng pelan. "Nanti aja."

"Kenapa nanti?"

"Gue lagi ngobrol."

Sarah masih tersenyum, meski sorot matanya mulai berubah. "Dulu kalau gue ngajak, lo langsung ikut."

Fariz menarik napas pelan. "Sekarang lagi ada yang dibahas."

Sarah melirik Azel. "Cuma ngobrol sama anak baru?"

Azel langsung menggeleng. "Nggak kok, Kak. Tadi Kak Fariz cuma ngingetin rapat besok."

Sarah mendecak pelan. "Iya, ngerti. Tapi akhir-akhir ini setiap gue lihat, lo selalu ada di dekat Fariz."

Suasana mulai terasa canggung.

Azel buru-buru menjelaskan. "Kak Sarah jangan salah paham. Aku sama Kak Fariz cuma teman organisasi."

Fariz ikut menegaskan. "Sarah. Jangan mulai."

Sarah mengabaikan ucapan Fariz. Tatapannya beralih memperhatikan penampilan Azel. Mulai dari gamis longgar, kerudung syar'i yang menutupi dada, hingga kaus kaki hitam yang masih dikenakan.

"Lo nyaman pakai baju kayak gitu?"

Azel tersenyum tipis. "Alhamdulillah, nyaman."

"Gerah nggak?"

"Engga kok malah nyaman."

Sarah tersenyum miring. "Kalau gue sih nggak sanggup."

Azel hanya mengangguk. "Setiap orang punya pilihan masing-masing, Kak."

Sarah kembali berkata, "Atau lo biar kelihatan alim di depan cowok?"

Senyum Azel perlahan memudar. Ia jadi keki dibilang seperti itu. "Gue berpakaian begini bukan buat cari perhatian siapa pun. Ini pilihan yang sedang gue usahakan."

Sarah tertawa kecil. "Serius?"

"Iya."

"Terus kenapa sejak lo masuk BEM, Fariz jadi beda?"

Fariz langsung memotong. "Cukup. Jangan bawa-bawa Azel."

Sarah menatap Fariz dengan mata mulai berkaca-kaca. "Kenapa nggak? Dulu lo selalu ada buat gue. Sekarang?Kalau gue ngajak ngobrol aja ditolak."

Fariz menghela napas. "Itu bukan karena Azel."

"Terus karena siapa?"

"Karena gue memang lagi menjaga jarak."

Kalimat itu membuat wajah Sarah berubah. "Jadi selama ini lo sengaja ngehindarin gue?"

Fariz tidak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan. Sarah mengepalkan kedua tangannya.

Azel merasa suasana semakin tidak baik. Ia melangkah setengah langkah ke depan.

"Kak Sarah, beneran gue nggak ada hubungan apa-apa sama Kak Fariz. Kalau Kakak lagi ada masalah sama beliau jangan sangkut pautin sama gue."

Sarah menatap Azel tajam. "Lo nggak usah ikut campur."

"Gue cuma nggak mau ada salah paham."

"Salah paham?" Sarah tersenyum sinis. "Lo pikir gue bodoh?"

"Nggak, Kak. Gue cuma—"

"Cukup!"

Tanpa mampu lagi menahan emosinya, Sarah mendorong bahu Azel.

Bruk!

Tubuh Azel kehilangan keseimbangan.

"Zel!" seru Fariz panik.

Namun sebelum tubuh Azel benar-benar membentur lantai, seseorang lebih dulu menangkapnya. Satu tangan menahan bahunya. Sementara tangan yang lain menopang punggungnya agar tidak terjatuh.

Azel yang sejak tadi memejamkan mata perlahan membukanya.

Deg!

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!