NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 12.

Astaga, kenapa aku bilang istri?

Kenapa bukan calon istri saja?

Sekarang kalau mau membatalkan pernikahan ini, bukankah aku yang akan terlihat seperti pembohong?

Liora ingin sekali memukul mulutnya sendiri, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin ia menarik kembali ucapannya di depan puluhan anggota keluarga Salendra.

Sementara suasana aula masih tegang setelah tamparan itu. Marissa berdiri mematung sambil memegangi pipinya. Wajahnya merah karena marah dan malu sekaligus. Beberapa anggota keluarga menatap Liora dengan tidak percaya. Sementara yang lain justru tampak puas melihat Marissa akhirnya dibungkam karena beberapa dari mereka tidak suka pada wanita sombong itu.

Dewangga berdiri di samping Liora dengan mata berbinar. "Liora hebat, hore! Liora istri Dewangga!"

Pria itu tersenyum lebar, senyuman polosnya membuat kemarahan Liora sedikit mereda. Dewangga bahkan tidak memahami penghinaan yang baru saja diterimanya.

"Tuan Besar berjalan kesini." Suara seorang pelayan membuat semua orang langsung menoleh.

Pria tua itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, tatapannya menyapu seluruh ruangan. Lalu berhenti pada Marissa yang masih memegangi pipinya.

Sebelum Tuan besar bicara, Rafael lebih dulu angkat suara. "Ayah, Marissa menghina Kak Dewangga."

Seketika wajah Tuan Besar berubah dingin.

Marissa mendadak gugup. Selama ini ia terlalu mengandalkan statusnya sebagai keponakan Tuan Besar, padahal di hadapan pewaris keluarga Salendra, posisinya tidak ada apa-apanya.

"Paman, saya hanya—"

"Diam!" Satu kata dari Tuan besar cukup membuat Marissa membeku, tatapan pria tua itu beralih kepada Dewangga.

Dewangga yang sejak tadi berdiri di samping Liora refleks menunduk seperti anak kecil yang takut dimarahi. Dan pemandangan itu membuat wajah Tuan Besar semakin suram.

"Dewangga! Kemarilah!"

Dewangga tidak menurut, dia tetap menundukkan kepalanya.

"Lihat Ayah."

Perlahan, Dewangga mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan Tuan Besar yang sejak tadi memperhatikannya dalam diam. Wajah pria tua itu sulit dibaca, keheningan yang tercipta justru terasa lebih menegangkan.

Liora langsung waspada. Tanpa sadar ia melangkah maju, siap berdiri di depan Dewangga jika keadaan kembali memburuk. Namun sebelum perempuan itu sempat bergerak, sesuatu yang sama sekali tidak diduga terjadi. Tuan Besar perlahan mengangkat tangannya, pria tua itu mengusap kepala Dewangga dengan lembut.

Semua orang menahan napas, gerakan sederhana itu membuat seluruh ruangan tertegun. Karena selama ini, tak seorang pun pernah melihat Tuan Besar menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan kepada Dewangga.

"Kamu tidak memalukan." Suara Tuan Besar terdengar berat, mata Dewangga berkedip beberapa kali. "Kamu tetap anak Ayah."

Dewangga tampak bingung, tapi kemudian ia tersenyum. Lalu seperti anak kecil yang baru dipuji guru di sekolah, senyumannya semakin lebar.

Sementara beberapa anggota keluarga terlihat tidak nyaman. Sebab selama Tuan Besar masih berdiri di belakang Dewangga dan Keivan, posisi keduanya tidak akan mudah diganggu.

Tatapan pria tua itu kemudian menyapu seluruh ruangan. "Mulai hari ini, siapa pun yang berani menghina Dewangga lagi tidak perlu datang ke rumah utama."

Tidak ada yang berani membantah, bahkan Marissa hanya bisa menundukkan kepala.

"Jamuan makan malam dimulai sekarang." Tuan Besar berbalik dan berjalan menuju ruang makan, semua orang ikut bergerak.

Namun sebelum melangkah pergi, Dewangga tiba-tiba menarik ujung baju Liora. "Liora."

"Hm?"

"Kakek baik... tidak galak lagi." Sesederhana itulah hati Dewangga sekarang. Dia dibela dan diakui sebagai anak, itu sudah cukup membuatnya bahagia.

Dada Liora menghangat, ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak terlihat. Tuan Besar mungkin keras, mungkin terlalu sering menyembunyikan perasaannya di balik kemarahan dan kritik. Namun kasih sayangnya kepada Dewangga nyata adanya, bahkan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

"Lihat? Tuan Besar peduli padamu. Ayahmu hanya tidak pernah mengatakannya dengan jelas. Meski sering terlihat galak, Tuan Besar sebenarnya sangat sayang padamu."

Dewangga mengangguk pelan, seolah benar-benar memahami apa yang baru saja dikatakan kepadanya.

Beberapa menit kemudian seluruh keluarga sudah duduk di meja makan panjang. Suasana memang lebih tenang, tetapi ketegangan masih terasa, terutama di sisi meja tempat Marissa duduk. Bekas tamparan Liora masih terlihat jelas di pipi sebelah kiri wanita itu.

Dewangga baru saja mengambil salah satu hidangan di depannya ketika Liora tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

"Tunggu."

Semua orang menoleh, Dewangga berkedip bingung. "Kenapa?"

Liora menatap makanan itu beberapa detik. Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat drama perebutan warisan yang sengaja ditontonnya beberapa waktu lalu untuk berjaga-jaga. Dalam drama itu, para anggota keluarga saling menjatuhkan dengan cara paling kejam, termasuk meracuni makanan.

"Aku akan coba makanan ini lebih dulu." Liora mengambil sendok.

Dewangga masih tampak semakin bingung. "Kenapa harus coba dulu?"

"Untuk memastikan tidak ada racun."

Seketika beberapa pasang mata membelalak, suara dentingan alat makan langsung berhenti.

Seorang wanita paruh baya yang sedang mengangkat gelasnya bahkan sampai tersentak, membuat minuman di dalam gelas bergoyang dan hampir tumpah ke taplak meja. Di ujung meja, seorang pria yang sedang mengunyah mendadak tersedak hingga terbatuk-batuk. Beberapa orang saling melirik, yang lain buru-buru menundukkan kepala pura-pura sibuk dengan makanan mereka.

Namun ekspresi kaku di wajah mereka sudah cukup menunjukkan betapa terkejutnya mereka. Tak seorang pun menyangka, jika Liora akan mengucapkan hal seperti itu secara terang-terangan di meja makan keluarga Salendra.

Keheningan yang muncul sesudahnya terasa aneh, seolah semua orang sedang menunggu siapa yang akan bereaksi lebih dulu. Tatapan mereka semua tanpa sadar beralih ke Liora.

Marissa bahkan hampir berdiri dari kursinya. "Kau menuduh kami meracuni makanan?!"

"Aku tidak menyebut nama siapa pun." Liora mengangkat bahu santai.

"Tapi—"

"Kalau memang tidak ada yang berniat jahat, kenapa harus marah?"

Marissa langsung terdiam, wajahnya memburuk. Bukan hanya dia, beberapa anggota keluarga lain juga terlihat kesal, tetapi anehnya tidak ada yang benar-benar membantah.

Liora kemudian menyuapkan sedikit makanan itu ke mulutnya, dia mengunyah dan menelannya. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak terjadi apa-apa, Liora akhirnya mengembuskan napas pelan. Senyum tipis pun terukir di bibirnya.

"Sepertinya aman."

Baru setelah itu ia menggeser piring tersebut ke depan Dewangga. "Nah, sekarang boleh makan."

"Oke, Liora." Dewangga mengangguk patuh.

Melihat pemandangan itu sudut bibir Tuan Besar bergerak tipis, dan tidak ada yang menyadarinya. Pria tua itu tidak mengatakan apa-apa, tetapi kali ini ia benar-benar menilai Liora dengan cara berbeda. Liora mungkin keras kepala dan terlalu berani. Tetapi perempuan itu sungguh-sungguh melindungi Dewangga, bahkan dalam hal kecil seperti makanan.

Keivan melirik seluruh meja makan, pandangannya menyipit tajam. "Sedikit kehati-hatian tidak ada salahnya. Lagipula... nyawa Ayahku sangat mahal."

Semua orang menoleh, Keivan memperlihatkan wajah dinginnya. Kalimat anak itu terdengar ringan, tapi suasana meja makan justru menjadi semakin menegangkan. Beberapa orang langsung menundukkan kepala dan memilih fokus pada makanan mereka, dan tidak ada yang berani melanjutkan perdebatan.

Tak lama kemudian seorang pria muda yang duduk tidak jauh dari mereka bersuara.

"Kak Dewangga, masih ingat aku?"

Dewangga menatap pria muda itu cukup lama, lalu menggeleng. "Nggak."

"Aku Dimas." Pria itu tersenyum kaku.

"Oh." Dewangga mengangguk, lalu kembali makan seperti tak perduli.

"Kadang aku masih tidak percaya. Dulu Kak Dewangga begitu luar biasa, dihormati banyak orang dan mengelola begitu banyak perusahaan. Siapa sangka... sekarang hidupnya menjadi seperti ini."

Perkataan Dimas terdengar seperti rasa kasihan, padahal sebenarnya sedang merendahkan Dewangga di depan semua orang. Tentu saja, Liora tidak bodoh.

Keivan yang duduk di seberang langsung menghentikan gerakan makannya. Namun sebelum bocah itu bicara, Liora lebih dulu angkat suara.

"Tuan Dimas bekerja di perusahaan keluarga, bukan?"

"Tentu saja, saya direktur operasional di sana." Ucapnya bangga.

"Oh, begitu." Liora mengangguk pelan. "Berarti sebagian dari apa yang Anda nikmati hari ini dibangun oleh Dewangga. Mungkin bukan seluruhnya, tapi cukup besar sampai perusahaan itu bisa berkembang menjadi seperti sekarang."

Senyum di wajah Dimas perlahan memudar. "Saya tidak setuju dengan pernyataanmu."

Liora tersenyum tipis, tatapannya meremehkan pria itu. "Tapi faktanya... tetap sama. Anda bekerja di perusahaan yang dulu dibesarkan oleh Dewangga, menikmati hasil yang ia tinggalkan, duduk di kursi yang berdiri di atas kerja kerasnya. Anehnya, setelah menerima semua itu... Anda masih merasa punya hak untuk merendahkannya."

Wajah Dimas langsung mengeras. "Kau—"

"Kalau saya jadi Anda, saya akan memilih berterima kasih daripada merendahkan Dewangga dengan dalih rasa kasihan. Dan kalau itu tidak bisa dilakukan, setidaknya cukup tahu diri untuk diam!"

Dimas membuka mulut, tetapi tidak satu pun kata berhasil keluar. Karena semua yang dikatakan Liora tidak bisa dia bantah.

Dewangga yang sama sekali tidak memahami perang kata-kata itu justru menatap Liora dengan kagum. "Liora keren!"

Liora menoleh ke arah Dewangga, lalu mengusap kepala pria itu dengan lembut. “Kamu yang lebih keren, nanti aku kasih hadiah karena kamu berani duduk di sini bersama orang-orang yang ternyata tidak tahu diri!”

Meski tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi, kata hadiah berhasil menarik perhatian Dewangga.

Mata pria itu langsung berbinar. “Hadiah?”

“Iya, hadiah.”

“Beneran?”

Liora terkekeh pelan. “Beneran dong, aku nggak akan bohong.”

Dewangga langsung bertepuk tangan dengan antusias. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang sama sekali tidak dibuat-buat. Lalu tanpa aba-aba, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Liora.

Cup!

Sebuah kecupan ringan kembali mendarat di pipi wanita itu, dan itu untuk kedua kalinya.

Semua orang terkesiap, bahkan mereka sampai membelalak tidak percaya. Sementara Liora membeku di tempatnya, ia memegang pipinya sendiri sambil menatap Dewangga dengan mata melebar. Sedangkan pelaku utama hanya tersenyum puas, seolah baru saja melakukan hal yang paling normal di dunia.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!