⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Tiga minggu berlalu, setiap matahari terbit bukan lagi penanda hari yang baru bagi Aiko kurogawa, sebab waktu membawanya semakin dekat ke gerbang takdir yang tidak bisa ia hindari. Pernikahan politik dengan Ren Tachibana, pria yang dijuluki Sang Serigala Putih, kini sudah di depan mata.
Sejak malam di mana arwah ibunya memberikan isyarat lewat tusuk konde, Aiko tidak lagi menangis. Kesedihan dan penolakan yang sempat bergemuruh di dadanya, berubah menjadi ketetapan hati. Jika pusaran kegelapan dunia bawah adalah tempat yang harus ia lalui untuk mencari jawaban atas kutukan darah klan Kurogawa dan kematian sang ibu yang misterius maka ia akan melangkah masuk dengan suka rela.
Pagi itu, hawa musim gugur yang mulai terasa, menemani Aiko di dalam kamarnya yang luas. Ia duduk bersimpuh di atas lantai, menghadap ke arah cermin rias miliknya.
Di atas meja rias, tusuk konde itu tergeletak diam. Aiko mengulurkan tangannya, jemarinya mengusap permukaan logam yang terasa dingin tersebut. Benda ini bukan sekadar perhiasan, melainkan sebuah jimat pelindung, yang akan menjaga kewarasannya di tengah dunia yang dipenuhi oleh jeritan orang mati.
"Nona Aiko," sebuah ketukan pelan di pintu geser membubarkan lamunan Aiko. Suara pelayan paruh baya kepercayaannya, Kasumi, terdengar dari luar. "Dokter pribadi Kumicho baru saja keluar dari ruang kerja. Beliau meminta Anda untuk segera datang."
Aiko menarik napas dalam-dalam, menyelipkan tusuk konde itu ke dalam laci meja rias, lalu berdiri. "Aku segera ke sana, Kasumi."
Langkah kaki Aiko menyusuri koridor rumah utama yang terasa sunyi. Kediaman Kurogawa yang megah ini kian hari kian terasa mencekam. Seiring memburuknya kesehatan Hiroshi Kurogawa, energi kehidupan di rumah ini seperti ikut terkuras habis, terganti oleh hawa kematian dari para korban yang mengantui. Di beberapa sudut koridor yang gelap, Aiko bisa melihat siluet-siluet hitam arwah leluhur yang berdiri diam, mengawasinya dengan tatapan kaku yang menguarkan rasa permusuhan.
Dulu, Aiko akan mempercepat langkahnya atau membuang muka dengan ketakutan setiap kali melihat intensitas gaib seperti itu. Namun selama tiga minggu terakhir, ia memaksa dirinya untuk berbeda. Ia melatih fokus matanya, menatap lurus ke depan seolah makhluk-makhluk tak kasat mata itu tidak pernah ada. Ia tahu, di kediaman Tachibana-gumi nanti, ia akan menghadapi lingkungan yang jauh lebih keras. Jika ia tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya sendiri di rumahnya, ia akan menjadi santapan empuk bagi serigala-serigala yang menantinya di luar sana.
Begitu sampai di depan pintu ruang kerja ayahnya, aroma obat-obatan yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya. Aiko menggeser pintu kayu itu perlahan.
Hiroshi Kurogawa sedang duduk bersandar di kursi kebesarnya, napasnya terdengar berat dan putus-putus. Wajah pria yang dulunya ditakuti di seluruh Kyoto itu kini tampak luar biasa pucat, dengan lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya. Di atas meja kerja, terdapat beberapa botol obat dosis tinggi dan saputangan yang menyembunyikan noda darah yang sengaja ditutupi oleh tumpukan kertas berkas klan.
"Duduklah, Aiko," ucap Hiroshi parau.
Aiko melangkah masuk, melipat kakinya dengan anggun di atas bantal duduk di hadapan ayahnya. "Bagaimana kondisi Ayah hari ini?"
Hiroshi hanya mengibaskan tangannya lemah, enggan membahas kesehatannya yang sudah berada di tepi jurang. "Tiga hari lagi, Ren Tachibana akan datang ke rumah ini bersama tangan kanannya untuk melakukan pertemuan formal sekaligus upacara lamaran. Aku sudah mengatur agar pertemuan ini berjalan tertutup dan dijaga ketat oleh pasukan inti kita."
Pria tua itu menatap putri tunggalnya dengan tatapan batin yang rumit. Rasa bersalah yang tampak melintas di matanya selama satu detik sebelum ia berhasil menguasai diri kembali.
"Ren Tachibana bukan pria biasa, Aiko," lanjut Hiroshi, suaranya mendadak berubah menjadi serius. "Dia membangun kembali klannya dari puing-puing kehancuran dengan tangannya sendiri yang berlumuran darah. Dia kejam, dan tidak akan ragu mengeksekusi siapa pun yang menghalangi jalannya. Tapi, dia adalah pria yang memegang teguh kata-katanya. Pernikahan ini akan memberinya wilayah selatan Kyoto yang sangat berharga untuk bisnisnya, dan sebagai gantinya, dia harus menjadi perisaimu."
Aiko mendengarkan dengan ekspresi datar yang tenang. "Aku tidak mengharapkan perlindungan dari seorang pembunuh, Ayah. Aku menyetujui pernikahan ini hanya karena ini adalah kewajibanku sebagai seorang Kurogawa, dan karena isyarat yang kuterima dari Ibu."
Mendengar nama mendiang istrinya disebut, tubuh Hiroshi tampak sedikit menegang. Ia terbatuk kecil, buru-buru menutupi mulutnya dengan saputangan. "Ibumu... dia selalu tahu apa yang terbaik untukmu. Percayalah pada keputusannya."
"Aku selalu percaya pada Ibu," sahut Aiko dingin, matanya melirik sekilas ke sudut ruangan kerja di mana tiga bayangan hitam arwah musuh masa lalu ayahnya sedang berdiri menyeringai mengerikan. Keberadaan makhluk-makhluk itu adalah bukti nyata betapa kotornya dunia Yakuza yang dijalani ayahnya. "Aku hanya berharap klan Tachibana tidak sekotor tempat ini."
"Dunia bawah tidak ada yang bersih, Aiko," ucap Hiroshi rendah. "Tapi setidaknya, Ren Tachibana tahu cara menghormati sebuah kontrak bisnis. Persiapkan dirimu. Saat dia datang nanti, tunjukkan bahwa kau adalah putri dari klan Kurogawa. Jangan biarkan dia meremehkanmu hanya karena kau seorang wanita."
"Ayah tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak harga diriku, termasuk Sang Serigala Putih itu," jawab Aiko tegas.
Aiko bangkit berdiri, membungkuk hormat sekilas sebelum melangkah keluar dari ruangan kerja ayahnya. Begitu pintu geser ditutup rapat, Aiko menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
Tiga hari lagi. Pertemuan pertamanya dengan Ren Tachibana akan segera terjadi.
Sisa waktu yang ada digunakan Aiko untuk mengurung diri di dalam kamarnya, mempelajari berkas-berkas mengenai faksi Tachibana-gumi yang berhasil ia dapatkan secara diam-diam. Dari informasi yang ia baca, Ren Tachibana mengambil alih kepemimpinan klan di usia yang sangat muda setelah kedua orang tuanya tewas dalam sebuah pembantaian misterius belasan tahun lalu. Klan itu sempat hancur dan menjadi faksi kecil yang tidak diperhitungkan, sebelum akhirnya Ren bangkit dan menghabisi semua pengkhianat di sekitarnya dengan metode yang teramat brutal hingga dijuluki Serigala Putih.
Pria yang hidupnya digerakkan oleh dendam, batin Aiko sembari menutup berkas dokumen tersebut.
Malam sebelum hari pertemuan, hujan deras mengguyur kota Kyoto. Udara di dalam kamar Aiko mendadak turun drastis hingga ia bisa melihat napasnya sendiri menguar tipis.
Aiko yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias mendadak menghentikan gerakannya. Aroma bunga sakura yang lembut dan hangat tiba-tiba menyeruak, mengalahkan hawa dingin yang mencekam.
Di dalam pantulan cermin, sesosok wanita bergaun putih muncul secara samar di belakang bahunya.
Arwah Yumi tidak menampilkan wajah yang menakutkan, melainkan senyuman sendu yang penuh dengan rasa bersalah sekaligus kasih sayang. Tangan transparan ibunya bergerak perlahan, menyntuh pundak Aiko secara gaib.
"Ibu..." bisik Aiko, matanya mulai berkaca-kaca. "Apakah pria yang akan datang besok benar-benar takdir yang harus kuhadapi? Mengapa aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang menantiku di sana?"
Arwah Yumi tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Namun, dari sepasang mata gaibnya, setitik cairan seperti air mata tampak menetes sebelum wujudnya perlahan memudar dan menyatu kembali dengan kegelapan malam, meninggalkan aroma sakura yang berangsur-angsur hilang digantikan oleh suara gemuruh hujan di luar.
Aiko mencengkeram sisir kayu di tangannya kuat-kuat. Isyarat dari ibunya malam ini terasa seperti sebuah salam perpisahan sekaligus peringatan bahwa badai yang sesungguhnya akan segera dimulai besok pagi.
"Mari kita lihat... seberapa tajam taringmu, Ren Tachibana," gumam Aiko lirih, menatap pantulan matanya sendiri di dalam cermin.
_______
Jika suka, jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Terimakasih 🫶🏻
(Ini versi terbaru setelah Author Revisi dengan alur yang di percepat).
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren