Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Matahari sore merendah di ufuk barat, memancarkan semburat warna jingga dan merah muda yang hangat di atas halaman belakang mansion Salvatore.
Angin sepoi-sepoi bertiup dari arah perbukitan, menggoyahkan daun-daun pohon palem raksasa dan membawa aroma harum dari kelopak mawar yang bermekaran penuh di taman.
Setelah badai emosi dan masalah medis yang menguras energi selama beberapa hari terakhir, sore ini mansion itu akhirnya mencicipi secuil kedamaian yang nyata.
Di tengah taman, di bawah naungan gazebo kayu putih yang dikelilingi oleh jajaran bunga lili, Alice duduk bersandar di kursi berbahan rotan yang empuk.
Gaun satin longgar berwarna hijau sage yang dikenakannya tampak kontras dengan kulit putihnya yang kini mulai memancarkan rona sehat.
Di pangkuannya, sebuah tablet digital menampilkan berbagai katalog furnitur premium.
Tepat di sampingnya, Elvano Salvatore duduk dengan sikap yang jauh dari kesan seorang Bos mafia yang ditakuti dunia bawah.
Kemeja linen putihnya sengaja dibuka dua kancing teratas, dan lengan bajunya digulung hingga siku.
Satu tangan besarnya bertumpu di atas perut Alice yang masih rata, sesekali mengusapnya dengan kelembutan yang luar biasa protektif, sementara mata cokelat gelapnya fokus menatap layar tablet.
"Aku lebih suka desain yang ini, Alice," cetus Elvano, jemarinya yang panjang menunjuk pada sketsa kamar bayi bernuansa klasik Eropa dengan perpaduan warna putih gading dan kayu jati premium.
"Boks bayinya harus dipesan khusus dari pengrajin terbaik di Florence. Aku tidak mau ada sudut tajam atau bahan kimia pada catnya."
Alice terkekeh pelan, sebuah suara merdu yang kini menjadi candu baru bagi Elvano.
"Tuan Elvano, kandunganku baru berjalan empat minggu. Kita bahkan belum tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Bukankah terlalu cepat untuk memesan boks bayi dari Italia?"
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk seorang Salvatore," bantah Elvano, seulas senyum tipis yang penuh akan kebanggaan terukir di wajah tampannya.
"Jika dia laki-laki, dia akan memiliki kamar dengan miniatur kapal perang klan di sudutnya. Jika dia perempuan... aku akan mengubah seluruh sayap kanan mansion ini menjadi istana merah muda untuknya. Apapun yang kau dan anak kita inginkan, akan langsung terwujud sebelum kau sempat mengedipkan mata."
Alice tersenyum hangat, hatinya menghangat mendengar keposesifan berlebihan pria di hadapannya yang kini terasa menggemaskan, bukan lagi mengintimidasi dan menakutkan.
Tangan mungilnya bergerak menangkup tangan Elvano yang berada di perutnya, mengunci jemari mereka bersama.
Di bawah siraman cahaya keemasan sore, mereka tampak seperti sepasang kekasih normal yang sedang menantikan malaikat kecil dalam hidup mereka.
Namun, kedamaian di mansion Salvatore selalu memiliki tanggal kedaluwarsa. Seolah kehangatan di sana hanya bertahan beberapa waktu saja.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa di atas jalan setapak berbatu menghancurkan keheningan taman.
Mbok Nem berjalan setengah berlari mendekati gazebo dengan wajah yang pucat pasi dan napas yang terengah-engah.
Di belakangnya, dua pengawal bertubuh kekar tampak gelisah, sesekali melirik ke arah rumah utama dengan tangan yang waspada di dekat sarung senjata mereka.
Elvano seketika menarik tangannya dari perut Alice.
Senyum di wajahnya hilang dalam sekejap, digantikan oleh rahang yang mengeras dan sepasang mata yang menyipit tajam.
Aura dingin sang Bos Mafia kembali keluar, menguar pekat memenuhi udara gazebo.
"Ada apa, Mbok Nem? Bukankah sudah kubilang jangan ada yang mengganggu kami sore ini?" tanya Elvano, suaranya baritonnya terdengar rendah dan penuh akan peringatan.
"M-Maaf, Tuan Besar... maaf," Mbok Nem membungkuk dalam dengan tubuh gemetar.
"Ada... ada seorang tamu di depan. Dia memaksa masuk dan bahkan menampar salah satu penjaga gerbang yang mencoba menahannya. Para pengawal tidak berani bertindak kasar karena... karena wanita itu membawa..."
"Siapa yang berani membuat keributan di rumahku?!" bentak Elvano, suaranya menggelegar bangkit dari kursinya, membuat Alice menegang di tempat duduknya.
Belum sempat Mbok Nem menyelesaikan kalimatnya, jawaban atas pertanyaan Elvano muncul dari arah pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan taman belakang.
Pintu itu didorong terbuka dengan kasar, memunculkan sosok seorang wanita yang melangkah masuk dengan angkuh yang luar biasa.
Wanita itu bertubuh semampai, mengenakan gaun desainer ketat berwarna merah darah yang berani dan kacamata hitam berbingkai emas yang mewah.
Rambut hitam pekatnya disanggul rapi, menampilkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian berkilau.
Di wajahnya yang dipulas riasan tebal, terukir senyum meremehkan saat matanya menyapu sekeliling halaman belakang, seolah-olah ia sedang menginspeksi properti miliknya sendiri.
Detik itu juga, Alice merasakan tubuh Elvano di sampingnya mendadak kaku bagai batu.
Napas pria itu tertahan, dan sepasang matanya berkilat antara rasa terkejut dan kemurkaan yang tertahan di dasar tenggorokan.
"Viona..." desis Elvano, nama itu lolos dari bibirnya dengan nada sedingin es.
Viona. Mantan istri Elvano Salvatore.
Wanita dari klan mafia sekutu di Milan yang telah menceraikannya tujuh tahun lalu setelah diagnosa mandul Elvano keluar, memilih pergi dan membawa sebagian aset klan karena menganggap Elvano tidak berguna sebagai seorang penerus.
Viona melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis, memamerkan sepasang mata elang yang dingin.
"Halo, Elvano. Sudah lama sekali, bukan? Kau tidak berubah, masih menyembunyikan diri di balik benteng megahmu ini."
Namun, perhatian Alice tidak tertuju pada gaun merah atau riasan angkuh wanita itu.
Tatapan mata hazel Alice perlahan turun, terkunci pada sosok yang berada di samping Viona.
Wanita itu tidak datang sendiri.
Tangan kirinya yang dihiasi manikur merah menyala tengah menggandeng erat tangan seorang anak laki-laki yang diperkirakan berusia sekitar 7 tahun.
Anak itu mengenakan setelan jas anak-anak berwarna hitam formal, berdiri dengan tegak di samping ibunya.
Alice merasa seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika.
Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang menyakitkan saat ia menatap wajah anak laki-laki tersebut.
Kemiripan fisik itu terlalu samar untuk diabaikan, namun terlalu nyata untuk dianggap sebagai kebetulan.
Anak itu memiliki garis rahang yang tegas di usianya yang masih muda, bentuk hidung yang mancung sempurna, dan yang paling mengerikan... sepasang mata cokelat gelap dengan sorot yang tajam dan dingin, persis seperti struktur wajah dan tatapan mata milik Elvano Salvatore yang setiap malam menatapnya.
Alice membeku di kursinya, tangannya perlahan naik menyentuh perutnya sendiri yang kini terasa mendadak dingin.
Sebuah sengatan kecurigaan dan ketakutan yang teramat pekat mulai merayapi dinding kesadarannya.
Jika Elvano divonis mandul... lalu siapa anak ini? Mengapa dia begitu mirip dengan Elvano?
Viona melirik ke arah Alice yang duduk mematung dengan wajah pucat, lalu kembali menatap Elvano dengan senyum kemenangan yang semakin melebar.
Ia menarik anak laki-laki itu ke depan tubuhnya, memamerkannya di hadapan Elvano.
"Aku mendengar selentingan kabar dari para tetua di Italia bahwa kau menolak suksesi Matteo karena mengklaim telah menemukan 'Keajaiban' di rahim wanita pemuas barumu ini," ucap Viona, nada suaranya penuh akan racun dan penghinaan yang tajam sembari melirik Alice dengan jijik.
"Jadi, aku datang ke sini untuk menyadarkanmu dari kegilaanmu, Elvano. Jangan tertipu oleh tipu daya wanita murahan."
Viona mencengkeram bahu anak laki-laki di sampingnya, mendorongnya satu langkah maju mendekati gazebo.
"Perkenalkan, Elvano. Ini Kenzo. Dia adalah anak kandungku... anak yang lahir dari darah dagingmu sendiri sebelum aku meninggalkan Milan tujuh tahun lalu. Dia adalah penerus sah Salvatore yang sesungguhnya yang selama ini kusembunyikan dari dunia."
Suasana sore yang tenang di taman belakang mansion itu seketika runtuh total, digantikan oleh rasa tegang yang siap mengoyak kebahagiaan yang baru saja Alice genggam.
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔