Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Setelah malam itu, semuanya berubah pelan.
Bukan berubah besar.
Bukan tiba-tiba jadi dekat.
Tapi ada sesuatu yang bergeser.
Aska tetap datang ke Geprek Cinta seperti biasa.
Bedanya sekarang dia tidak cuma datang makan.
Kadang bawa laptop.
Kadang datang sama dua atau tiga orang kantor.
Kadang masuk, duduk, pesan, lalu kerja.
Dan entah sejak kapan, Joko sudah hafal.
"Koh Aska biasa ya?"
Aska mengangguk tanpa lihat menu.
"Geprek. Sambal matah. Level dua." diucapkan bersama.
Joko tertawa. Aska juga.
"Koko nggak mau nyoba menu lain nih?"
Aska santai. "Enggak! Kalau udah cocok kenapa diganti. Ini yang paling favorit soalnya."
Celsi yang sedang menata pesanan hanya melirik sekilas. lalu tersenyum kecil. Ia pikir, pesanan Aska memang tak pernah berubah. Pasti sambal matah. Kalau pas kebetulan habis, baru dia pilih menu lain. Karena itu, kadang Celsi meminta Joko untuk menyisihkan seporsi sambal matah untuk Aska. Kalau pria itu datang.
Bahkan sekarang pun, teman-teman Aska mulai ikut pesan sambal matah. Lalu ujung-ujungnya kepedasan sendiri.
Suatu siang, saat suasana tidak terlalu ramai, Aska selesai makan lalu berdiri di dekat kasir.
"Free enggak?"
Celsi mengangkat kepala. "Hah?"
"Free. Ada jadwal nggak?"
"Enggak sih, Ko. Kenapa emang?"
"Ikut aku yuk."
Celsi melongo. "Hah? Ikut kemana?"
Aska memasukkan tangan ke saku.
"Temenin aku beli kado."
Celsi diam sebentar. "Beli kado? Buat siapa?"
"Mama."
Celsi masih meloding. "Mama?"
"Ya mamaku lah. Masa mamanya A' Joko?"
Celsi tertawa kecil.
"Minggu depan Mama ulang tahun. Aku bingung milih kado."
"Oh ulang tahun. Tapi, masih minggu depan, napa belinya sekarang?" Celsi langsung menatap.
"Minggu ini aku agak sibuk. Ini mumpung longgar, takut kelupaan."
Celsi manggut-manggut, seolah menerima alasan Aska.
"Aku nggak tau selera perempuan gimana. Nanti malah salah beli. Mama karakternya kayak kamu. Jadi... Pasti kalau kamu yang pilih, sesuai sama Mama."
Akhirnya Celsi ikut. Perjalanan awalnya biasa.
Aska muter-muter toko seperti orang tidak punya tujuan.
Masuk.
Keluar.
Masuk lagi.
Mereka masuk ke toko peralatan rumah.
Aska mulai asal pilih.
"Ini?"
Celsi lihat.
"Usia Mama berapa?"
"Mmmm, lima puluh lima."
"Itu nggak cocok. Terlalu muda."
"Kalau ini?"
"Terlalu ramai. Kalau Mama karakternya seperti aku, mama Koko enggak akan suka yang begini."
Aska menggaruk belakang kepalanya.
"Boleh nggak aku tanya tentang Mama. Misalnya, apa warna yang mama Ko Aska suka. Biasanya pakai barang apa? Terus konsep hadiah yang pengen Koko kasih ke Mama?"
Aska tersenyum, ada sesuatu yang lain di binar matanya.
"Koh?" Celsi mengerutkan keningnya. "Ditanyain malah senyum-senyum sendiri."
"Ini lagi mikir. Kamu emang mirip mama."
Celsi berjalan ke rak lain.
Tangannya berhenti di satu set teko keramik warna putih dengan detail bunga kecil.
Sederhana.
Hangat.
Ia melihat sebentar lalu berkata.
"Kalau Mama suka minum teh atau nerima tamu, ini bagus."
Aska tidak langsung jawab. Ia cuma melihat barang itu. Lalu melihat Celsi.
"Ambil."
Celsi menoleh.
"Yakin?"
Aska mengangguk.
"Soalnya waktu milih kamu mikir lama."
Celsi bingung. Aska memasukkan ke troli.
"Berarti kamu enggak asal."
Celsi diam.
Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa aneh. Sampai saat keluar toko. Ponsel Aska berbunyi. Nama di layar membuat wajahnya langsung berubah. Senyumnya hilang. Ia cepat mengangkat.
"Halo?"
Diam.
Celsi melihat bahunya menegang.
"Iya."
"Iya sekarang."
Telepon ditutup. Aska langsung jalan cepat. Celsi ikut. "Ko?"
"Mama masuk rumah sakit."
Langkah Celsi ikut berhenti.
"Apa? Sakit apa?"
Aska membuka pintu mobil.
"Pneumonia."
Sepanjang perjalanan suasana berubah. Tidak ada cerita. Tidak ada candaan. Aska menggenggam setir kuat. Rahangnya kaku. Lampu merah terasa lama. Jalan terasa sangat panjang. Celsi diam, saat ini ia bahkan tak tau harus mengatakan apa. Ia tau, ada ketakutan di dada pria di sampingnya ini.
"Mama pasti akan baik-baik saja, Ko."
Kalimat itu yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Aska tak menjawab, tapi dia mengangguk.
Sampai mereka tiba di rumah sakit. Begitu mobil berhenti, Aska langsung turun. Bahkan lupa hadiah yang tadi dibeli. Celsi melirik paper bag di kursi. Rasanya miris, baru saja Aska membeli hadiah, justru mendapat kabar mamanya masuk rumah sakit.
Aska jalan cepat melewati koridor. Sampai di depan lift. Belok. Menuju ruang rawat.
Celsi mengikuti dari belakang. Lalu langkahnya melambat.
Matanya menangkap sosok yang sangat dikenal.
Seorang pria berdiri di depan ruangan.
Kemeja kusut.
Rambut berantakan.
Wajah jauh lebih tua dari yang ia ingat.
Sedang bicara dengan dokter.
"Mas Rangga."