NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diantara dunia yang berbeda

Aku hanya mampu mengangguk pelan, seolah ada sesuatu yang berat menahan lidahku hingga tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Yamal pun segera melangkah di depan sambil memberi isyarat tangan yang sopan. “Mari silakan, Nyonya Fara. Kamar yang telah disiapkan untuk Nyonya ada di arah sini.”

Sesampainya di lantai dua, Yamal membukakan pintu salah satu kamar yang letaknya berhadapan sedikit dengan lorong utama, lalu menjelaskan dengan nada yang tetap tenang dan sopan: “Ini adalah kamar khusus yang disiapkan untuk Nyonya Fara. Sedangkan kamar Nyonya Zara berada di sebelah kanan lorong ini. Mohon dimaklumi, seluruh staf pelayan sedang diberikan cuti panjang untuk sementara waktu, jadi Nyonya berdua berkenan mengatur segala keperluan masing-masing sendiri. Jika tidak ada lagi yang diperlukan dari saya saat ini, saya pamit kembali ke kantor untuk melanjutkan tugas Tuan Adrian.”

Namun sebelum benar-benar turun, Yamal kembali menghampiriku yang masih berdiri terpaku di tempat. Ia mengambilkan bungkusan tas belanjaan itu dari tanganku dengan sangat sopan. “Izinkan saya membantu membawanya masuk ke dalam kamar, Nyonya Zara.”

Ia mengantar semua barang itu hingga tertata rapi di sudut kamarku, lalu berpamitan sekali lagi dan menutup pintu perlahan saat ia pergi. Aku berdiri diam sejenak di ambang pintu, mataku tanpa sadar menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ditempati Fara, lalu bergumam sangat pelan hanya untuk diriku sendiri: “Jadi… di sanalah tempat tinggalnya mulai sekarang.”

Dengan perasaan yang campur aduk antara kaget, bingung, dan ada rasa nyeri yang samar di dada, aku akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarku sendiri dan menutup pintu itu perlahan dari balik kunci.

Sementara itu, di lantai paling atas gedung pencakar langit yang menjulang paling tinggi di tengah kota, ruang kerja Adrian terasa begitu luas, rapi, dan sunyi senyap. Ruangan itu bergaya klasik yang sederhana namun memancarkan kemewahan yang tak perlu dipamerkan berlebihan. Dinding-dindingnya dipenuhi deretan rak buku dari kayu hitam yang permukaannya mengkilap, berisi koleksi karya berharga yang meski tidak selalu tersusun lurus sempurna, tetap terlihat memiliki nilai yang tak terhitung harganya. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja yang kokoh dan kokoh, diberi sedikit sentuhan ukiran emas yang halus, dipadukan dengan kursi kulit berwarna hitam yang sangat empuk dan nyaman diduduki. Langit-langit yang menjulang tinggi dihiasi lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut yang menenangkan mata, sementara jendela kaca yang sangat besar dan tinggi membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan bebas, sekaligus memamerkan pemandangan seluruh kota yang terlihat membentang luas jauh di bawah sana. Segala sesuatu yang ada di ruangan ini sungguh mencerminkan siapa pemiliknya — Adrian Romanov.

Saat ini ia sedang berdiri membelakangi pintu masuk, menatap lurus ke arah luar jendela dengan pandangan yang tampak kosong namun menyimpan banyak pikiran yang mendalam. Pikirannya melayang jauh, menelusuri kembali setiap kejadian yang telah berlalu sejak pagi hari tadi. Ia teringat saat baru saja melangkah masuk ke lobi gedung ini, mengenakan setelan jas hitam yang pas sekali menutupi setiap lekuk tubuhnya, membuatnya terlihat semakin gagah, berwibawa, dan berkarisma. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya seketika menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat, mereka semua sangat paham siapa yang memegang kendali penuh atas perusahaan raksasa ini.

Belum sempat ia melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruang kerjanya, terdengar suara langkah kaki yang terdengar santai namun mantap mendekat dari arah belakang. Muncul sesosok pria lain yang tingginya hampir menyamai tinggi badan Adrian — dialah Vlad, sepupu Adrian. Tubuhnya tegap dan berisi, wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan jelas, kulitnya putih halus berkilau persis seperti porselen yang dipoles. Matanya berwarna cokelat keemasan yang terlihat tajam namun menyimpan sesuatu yang tak terduga dan sulit dibaca orang lain. Rambutnya sedikit bergelombang dan terlihat agak berantakan dengan sengaja, namun hal itu justru membuatnya tampak lebih menarik, berkarisma, dan tidak terasa kaku sama sekali. Ia mengenakan setelan pakaian berwarna hitam yang dirancang dengan gaya elegan, dilengkapi kalung rantai tipis yang melingkar di leher serta anting kecil di salah satu telinganya — hal yang memberinya kesan berani, bebas, dan memiliki pendirian sendiri yang kuat.

Vlad menyapa sepupunya itu dengan nada yang terdengar santai namun terselip nada sindiran halus yang tak tersembunyi:

“Wah, Kak Adrian! Baru saja aku mendengar kabar yang cukup menarik ini. Hari ini dijadwalkan rapat yang paling penting sepanjang tahun, tapi kau malah datang terlambat cukup lama. Apa kiranya ada urusan yang jauh lebih mendesak dan penting daripada kelangsungan perusahaan ini?” Ia pura-pura mengerutkan kening seolah sedang berpikir keras, lalu tak lama kemudian menyunggingkan senyum yang terlihat penuh arti dan sedikit licik. “Ah, ya… Sekretarismu tadi sempat menyebutkan bahwa kau sibuk mengantar istrimu pergi berbelanja cincin kawin. Benarkah kabar itu? Sampai-sampai membuatmu lupa bahwa ada waktu yang telah disepakati bersama?”

Ia melangkah semakin mendekat lalu menepuk bahu Adrian dengan gerakan yang ringan namun penuh arti, sebelum suaranya berubah menjadi lebih menggoda seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi: “Jadi siapa ya namanya… ah benar, Nyonya Zara. Ternyata istri mu itu benar-benar istimewa ya? Sampai-sampai membuat kakakku yang biasanya sedingin es dan tak peduli pada apa pun selain pekerjaan, mau meluangkan waktu sendiri untuk menemaninya berbelanja. Apakah dia benar-benar secantik itu sampai mampu memikat hatimu? Bolehkah aku melihatnya juga suatu saat nanti? Siapa tahu aku pun bisa ikut jatuh hati padanya.” Tatapan mata Vlad terlihat sangat tajam, ia sedikit menyipitkan matanya seolah sedang berusaha mencari celah atau perubahan sedikit pun pada wajah dan sikap pria yang berdiri di hadapannya itu.

Namun sebelum senyum di bibir Vlad itu makin melebar, Adrian langsung memotong ucapannya dengan suara yang rendah namun terasa sangat tajam dan menekan, tatapannya menembus lurus ke dalam pandangan sepupunya itu. “Tutup mulutmu sekarang juga sebelum aku menyesal masih membiarkanmu berdiri tegak di sini.” Tanpa menambahkan satu kata pun lagi, Adrian berjalan melewati sisi tubuhnya dengan tenang lalu langsung masuk menuju ruang rapat yang berada di sebelah ruang kerjanya.

Vlad hanya diam memandangi punggung Adrian yang menjauh, senyum di bibirnya perlahan makin melebar namun kehilangan nada bercandanya. Ia kembali menyipitkan matanya sambil bergumam pelan hanya untuk dirinya sendiri: “Wah… kau sampai marah begitu rupanya. Justru sekarang kau membuatku semakin besar rasa penasaranku terhadap gadis itu. Gadis macam apa yang mampu mengubah sikapmu sedemikian rupa?”

Tak lama setelah rapat selesai dan Adrian kembali ke ruang kerjanya, terdengar suara ketukan yang halus namun sopan di permukaan pintu kayu itu.

“Masuk,” jawab Adrian singkat namun tegas dari balik meja kerjanya.

Pintu pun terbuka perlahan, dan masuklah Yamal. Adrian duduk kembali di kursi kulitnya yang besar itu sambil menyapu pandangan sekilas ke tumpukan berkas yang ada di hadapannya, lalu memberi isyarat agar Yamal menyampaikan apa yang hendak dilaporkan.

“Tuan, saya sudah melaksanakan segala perintah yang Tuan sampaikan pagi tadi — saya telah menjemput Nyonya Fara dengan selamat, dan menyerahkan kotak cincin itu sebagaimana yang Tuan minta.”

Adrian hanya mengangguk pelan sebagai tanda bahwa ia telah mendengar dan merasa cukup puas dengan pelaksanaan tugas itu. Saat Yamal hendak berbalik badan untuk meninggalkan ruangan, pandangan Adrian tertuju pada selembar kartu emas yang tergeletak rapi di sudut meja kerjanya — benda yang sejak pagi tadi sempat terlewatkan untuk diserahkan kepadaku.

“Tunggu sebentar,” panggilnya pelan sambil meraih kartu itu lalu mengulurkannya ke arah Yamal. “Serahkan benda ini kepada istriku, Zara. Katakan padanya bahwa ini untuk keperluannya sendiri, dan ia boleh menggunakannya sesuka hati sesuai apa yang ia butuhkan.”

“Baik, Tuan. Segera akan saya sampaikan,” jawab Yamal dengan hormat, lalu segera bergegas keluar untuk melaksanakan tugas itu.

Sementara itu, di kediaman yang megah itu suasana terasa sangat sunyi, namun di balik keheningannya tersimpan begitu banyak perasaan yang saling bertentangan dan berkecamuk di hati setiap orang yang ada di sana. Di dalam kamarku sendiri, aku sedang berusaha menyusun pakaian yang baru saja dibelikan Adrian tadi pagi. Aku melipatnya secukupnya saja, tidak perlu terlalu rapi seperti yang biasa dilakukan pelayan, namun cukup agar terlihat teratur dan tidak berantakan. Namun meski kedua tanganku sibuk melakukan pekerjaan itu, hatiku sama sekali tidak merasa tenang — pikiranku terus saja melayang pergi meninggalkan ruangan ini, terbang menuju orang-orang yang masih sangat kusayangi.

Aku pun berhenti sejenak dari apa yang sedang kulakukan, lalu duduk termenung di tepi tempat tidur yang empuk itu. “Bagaimana kiranya keadaan Aslan sekarang? Apakah ia sudah mulai sadar dari tidurnya? Aku harus segera menjenguknya sesegera mungkin setelah ini,” gumamku pelan di dalam hati sambil menahan rasa rindu yang mulai menyakitkan dada.

Tidak lama kemudian terdengar ketukan halus di pintu kamarku. Saat aku membukanya, ternyata Yamal yang berdiri di sana. “Selamat siang, Nyonya Zara. Tuan Adrian berpesan agar saya menyerahkan benda ini kepada Nyonya — ia lupa memberikannya pagi tadi sebelum berangkat,” ucapnya dengan sangat sopan sambil menyodorkan kartu emas yang tadi disebutkan itu.

Aku menerimanya dengan hati-hati seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga, namun saat Yamal hendak berbalik badan untuk pergi, aku segera memberanikan diri memanggilnya kembali. “Yamal… tunggu sebentar, bolehkah aku memohon satu hal lagi kepadamu?” Aku menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungku, lalu melanjutkan ucapanku dengan suara yang masih terdengar ragu namun tulus. “Apakah aku diperbolehkan pergi sebentar ke rumah sakit untuk menjenguk adikku, Aslan? Sebenarnya aku sudah bermaksud meminta izin ini sejak tadi… Aku berjanji tidak akan lama, sungguh, aku akan segera kembali setelah melihat keadaannya.”

Yamal mendengarkan permohonanku dengan saksama sebelum akhirnya menjawab dengan tenang: “Jika Nyonya sudah bermaksud baik dan hanya ingin menjenguk keluarga, serta Nyonya berjanji untuk kembali dengan selamat, maka Nyonya diperbolehkan untuk berangkat.”

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!