Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Api Phoenix
Kemenangan kecil tidak pernah terasa seperti kemenangan di Alam Bawah. Gerbang Tulang Barat masih berdiri, tetapi lantainya penuh bekas racun, darah, dan cahaya langit yang membeku menjadi pecahan putih. Prajurit iblis yang terluka dibawa ke ruang penyembuhan. Beberapa prajurit langit yang tertinggal tidak dibunuh. Perintah Lin Xiurong jelas: tawan, obati secukupnya, lalu tukar dengan informasi jika perlu.
Perintah itu membuat banyak iblis bingung.
Di zaman Juan Ling, musuh yang jatuh akan dimakan, dijual, atau dipajang sebagai peringatan. Lin Xiurong tidak melarang kekejaman karena ia tiba-tiba menjadi suci. Ia hanya melihat kegunaan. Musuh mati memberi kepuasan sebentar. Musuh hidup bisa membuka pintu lebih banyak.
Yao Tian duduk di ruang batu, membiarkan Song Xiaolian membalut luka bahunya. Tombak Mei Lian meninggalkan bekas cahaya yang sulit ditutup. Setiap kali obat menyentuh luka, ia menahan napas.
“Jangan sok kuat,” kata Song Xiaolian. “Kalau sakit, bilang sakit.”
“Sakit,” jawab Yao Tian datar.
Song Xiaolian berhenti, lalu menatapnya. “Aku tidak menyangka kau akan menurut.”
“Aku sedang belajar tidak menyulitkan orang yang menolongku.”
Qi An yang berdiri di dekat pintu mendengus. “Perkembangan kecil. Jangan terlalu bangga.”
Yao Tian menoleh. “Kau membawa obat?”
“Aku membawa racun. Obatnya di tangan Xiaolian.”
Song Xiaolian memijat pelipis. “Qi An.”
“Apa? Aku jujur.”
Di tengah percakapan aneh itu, Lin Xiurong masuk. Semua orang langsung menegakkan tubuh. Ia masih pucat, tetapi berjalan dengan langkah stabil. Luka di telapak tangannya akibat menahan tombak langit ditutup kain merah. Yao Tian melihat kain itu dan merasa tanda di pergelangan tangannya ikut berdenyut.
Lin Xiurong memerintahkan agar salah satu tawanan langit dibawa. Prajurit muda itu masih sadar, meski tubuhnya terikat rantai roh. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang berusaha disembunyikan di balik kebanggaan.
“Namamu?” tanya Lin Xiurong.
Prajurit itu diam.
Qi An tersenyum. “Aku bisa membuatnya bicara.”
“Aku tahu. Itu sebabnya kau diam dulu.”
Qi An tampak kecewa.
Lin Xiurong menatap prajurit itu. “Aku tidak akan mengulang pertanyaan tiga kali. Namamu?”
“Chen Rui,” jawab prajurit itu akhirnya.
“Siapa yang memberi perintah menyerang Gerbang Tulang Barat?”
“Jenderal Mei Lian.”
“Siapa yang memberi Mei Lian perintah?”
Chen Rui ragu. Rantai roh di tubuhnya bergetar. Tampaknya ada segel larangan bicara.
Yao Tian mengenali segel itu. “Jangan paksa. Jika dia menyebut nama pemberi perintah, lidahnya terbakar.”
Qi An menatapnya. “Kau tahu cara membukanya?”
“Tahu.”
“Lakukan.”
Yao Tian melangkah mendekat. Chen Rui menatapnya dengan mata merah. “Pengkhianat.”
Yao Tian berhenti sebentar, lalu berkata, “Mungkin. Tapi jika aku membuka segel ini, kau tetap hidup.”
“Lebih baik mati daripada ditolong orang yang jatuh.”
Lin Xiurong tertawa pelan. “Kalian dari langit benar-benar diajari kalimat indah untuk mati sia-sia.”
Ia mendekat dan menekan jari ke dahi Chen Rui. Api Phoenix kecil menyala. Bukan untuk menyiksa, tetapi untuk membakar sisi luar segel tanpa menyentuh lidahnya. Yao Tian menyalurkan cahaya dewa dari sisi lain. Untuk beberapa detik, tenaga mereka bertemu di tubuh tawanan itu. Chen Rui berteriak, lalu segel pecah menjadi asap putih.
“Sekarang,” kata Lin Xiurong. “Siapa?”
Chen Rui menggigil. “Bukan Kaisar. Perintah datang dari Dewa Kekejian.”
Nama itu membuat ruangan sunyi. Yao Tian menegang. Dewa Kekejian memang sering menuntut hukuman keras, tetapi mengirim pasukan tanpa titah langsung Kaisar berarti pelanggaran besar. Jika benar, maka langit sendiri sedang terbelah.
Lin Xiurong tampak tidak terkejut. “Tentu saja. Orang yang paling senang menyebut dirinya penjaga hukum biasanya yang pertama mencari celah.”
Yao Tian bertanya kepada Chen Rui, “Mei Lian tahu?”
Chen Rui menggeleng. “Jenderal Mei Lian menerima perintah sebagai operasi pengawasan. Ia tidak tahu segel kami berasal dari Dewa Kekejian.”
Song Xiaolian berkata pelan, “Mereka juga dimanfaatkan.”
Qi An menyilangkan tangan. “Bukan berarti mereka jadi lucu.”
Lin Xiurong memerintahkan Chen Rui dibawa keluar dan dijaga. Setelah pintu tertutup, ia menatap Yao Tian.
“Langitmu bermasalah.”
Yao Tian tidak membantah. “Ya.”
“Jawabanmu pendek. Biasanya orang langit suka pidato.”
“Aku sedang kehabisan pembelaan.”
Lin Xiurong memandangnya lebih lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin menikmati kejatuhan pria itu. Yao Tian yang dulu datang dengan keyakinan mutlak kini berdiri di hadapannya dengan keraguan yang nyata. Seharusnya itu memuaskan. Tetapi anehnya, ia tidak merasa puas. Ia hanya merasa lelah.
“Kita pergi ke Sumur Janji,” katanya.
Qi An langsung protes. “Itu jelas jebakan Mo Yan.”
“Tentu.”
“Kalau tahu jebakan, kenapa datang?”
“Karena orang yang memasang jebakan biasanya menyimpan sesuatu yang tidak ingin kita temukan. Aku ingin sesuatu itu.”
Yao Tian berkata, “Aku ikut.”
Qi An menjawab cepat, “Tidak ada yang mengundangmu.”
Lin Xiurong menatap tanda kutukan di tangan Yao Tian. “Sayangnya, jika jaraknya terlalu jauh, lukaku bisa terbuka lagi. Dia ikut.”
Qi An tampak seperti baru menelan bara.
Mereka berkumpul di altar kecil di belakang istana sebelum berangkat. Altar itu bukan tempat suci. Di Alam Bawah, kesucian hanya kata yang dipakai makhluk lemah untuk menipu diri. Namun altar itu tua, lebih tua daripada Juan Ling, dan api di tengahnya disebut Api Saksi. Setiap sumpah yang diucapkan di hadapannya akan meninggalkan bekas pada roh.
Lin Xiurong berdiri di depan api. Yao Tian berdiri di seberangnya. Qi An dan Song Xiaolian menjadi saksi, meski Qi An melakukannya dengan wajah seperti orang dipaksa menghadiri pernikahan musuh.
“Ini bukan sumpah cinta,” kata Lin Xiurong lebih dulu.
Yao Tian mengangguk. “Aku mengerti.”
“Ini bukan pengampunan.”
“Aku juga mengerti.”
“Ini perjanjian sementara. Sampai Mo Yan ditemukan dan kutukan dipahami, kau tidak boleh mengkhianatiku, tidak boleh menerima perintah langit yang merugikan Alam Bawah, dan tidak boleh mati tanpa izinku.”
Qi An berbisik kepada Song Xiaolian, “Bagian terakhir terdengar posesif.”
Song Xiaolian menyikutnya.
Yao Tian meletakkan dua jari di atas api. Nyala merah menyentuh kulitnya, tetapi ia tidak menarik tangan. “Aku bersumpah. Sampai kebenaran ditemukan, pedangku tidak akan mengarah padamu karena kebohongan orang lain. Jika aku harus melawan langit untuk menepati sumpah ini, aku akan melawan.”
Api Saksi membesar. Tanda merah di tangan Yao Tian menyala, lalu menjalar ke pergelangan Lin Xiurong seperti benang kecil. Lin Xiurong menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.
“Giliranmu,” kata Yao Tian pelan.
Lin Xiurong menyentuh api. “Aku bersumpah tidak akan membunuhmu sebelum kebenaran selesai, kecuali kau benar-benar meminta dibunuh dengan tindakan bodoh.”
Qi An mengangguk. “Sumpah yang adil.”
Yao Tian hampir tersenyum. “Aku terima.”
Api Saksi menelan sumpah mereka dan berubah menjadi bentuk burung phoenix kecil. Burung itu terbang mengelilingi keduanya, lalu pecah menjadi cahaya merah. Di saat yang sama, dari arah jauh, tanah Alam Bawah bergetar.
Song Xiaolian menoleh ke utara. “Sumur Janji terbuka.”
Di langit, bulan merah kembali tampak penuh, tetapi di tengahnya muncul titik hitam kecil seperti mata yang mengawasi.
Lin Xiurong menarik tangannya dari api. “Baiklah. Mari kita temui pencuri takdir itu.”
Yao Tian berdiri di sisinya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Untuk saat ini, jarak itu cukup.
Di tempat lain, Mo Yan menyaksikan lewat gagak bermata merah. Ia tersenyum saat melihat sumpah mereka terbentuk.
“Sumpah baru,” bisiknya. “Bagus. Semakin kuat sumpahnya, semakin indah saat patah.”
Dan dengan demikian, perjalanan menuju Sumur Janji dimulai.
Persiapan menuju Sumur Janji dilakukan tanpa upacara besar. Lin Xiurong tidak suka keberangkatan yang terlalu ramai. Menurutnya, semakin banyak orang melambaikan tangan, semakin besar kemungkinan seseorang mati dan membuat adegan menjadi memalukan. Ia memilih kelompok kecil: dirinya, Yao Tian, Qi An, Song Xiaolian, Hantu Hitam sebagai pelacak bayangan, dan dua prajurit tanpa nama yang cukup kuat untuk bertahan tetapi cukup patuh untuk tidak bertanya.
Sebelum berangkat, Lin Xiurong berdiri sebentar di depan gerbang istana. Kota Hantu di bawahnya tampak berbeda dari saat ia merebut takhta. Dulu kota itu menunduk karena takut. Sekarang sebagian masih takut, tetapi ada sesuatu yang lain di antara tatapan mereka. Harapan, mungkin. Atau rasa ingin tahu apakah raja baru mereka benar-benar bisa bertahan melawan langit.
Qi An membawa kotak racun di punggungnya. Song Xiaolian membawa obat, peta, dan beberapa jimat. Yao Tian membawa pedang putih yang kini dibungkus kain merah agar cahayanya tidak terlalu mudah dilacak prajurit langit.
“Pedangmu terlihat seperti hadiah pernikahan yang buruk,” komentar Qi An.
Yao Tian menatap kain merah itu. “Aku tidak tahu hadiah pernikahan di Alam Bawah seperti apa.”
“Biasanya kepala musuh.”
“Masuk akal.”
Lin Xiurong menoleh. “Jangan membuatnya percaya semua ucapanmu.”
Qi An tersenyum. “Tapi itu benar.”
Song Xiaolian menghela napas. “Sebagian benar, tergantung klannya.”
Yao Tian tampak memikirkan itu dengan terlalu serius. Lin Xiurong memalingkan wajah sebelum sudut bibirnya terlihat bergerak.
Mereka melewati Gerbang Barat saat bulan merah turun ke balik kabut. Jalur menuju Sumur Janji tidak tercetak di peta biasa. Ia hanya muncul bagi orang yang membawa sumpah belum selesai. Karena itu, ketika Lin Xiurong dan Yao Tian berjalan berdampingan, tanah di depan mereka terbuka membentuk jalan sempit dari batu hitam mengilap.
Di sisi jalan, bisikan-bisikan muncul. Suara masa lalu. Suara janji yang patah. Suara manusia yang pernah berkata akan setia lalu memilih pergi. Lin Xiurong mendengarnya tanpa ekspresi. Yao Tian mendengarnya dengan wajah semakin pucat.
“Jangan dengarkan terlalu dalam,” kata Lin Xiurong.
“Apa yang terjadi jika kulakukan?”
“Kau akan mulai percaya bahwa semua janji memang dibuat untuk hancur.”
Yao Tian menatap jalan di depan. “Dan kau percaya itu?”
Lin Xiurong berjalan lebih dulu. “Aku sedang dalam perjalanan untuk mencari tahu apakah aku salah.”
Di kejauhan, Sumur Janji menunggu di tengah tanah mati. Dari dalamnya, Mo Yan telah menyiapkan kisah lama yang belum selesai. Dan kali ini, ia tidak hanya ingin membuat mereka saling membunuh. Ia ingin membuat mereka memilihnya dengan sadar.