NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ausilir Rahmi

Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.

Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Beberapa hari kemudian, suara burung berkicau di pohon menyejukkan suasana pagi hari ini.

Maureen yang baru bangun dan beranjak dari tempat tidur nya ia menggeliatkan kedua tangan nya. Lalu keluar kamar untuk memastikan keadaan ayah nya yang sudah pulang dari rumah sakit beharap keadaan nya semakin membaik.

Baru saja dia berjalan menuruni tangga, terlihat Papa dan Mama nya sedang bersama sang kakak berbicara santai, namun terlihat sangat serius.

"Jaga diri mu baik-baik selama di Prancis nanti nak, Mama ingin melihat mu menang di acara penghargaan aktris terbaik nanti," Imbuh nyonya Susan menatap lembut penuh kebanggaan pada Maura.

Maura yang sedang mengemas beberapa barang ke koper nya, hanya mengangguk patuh. "Papa dan mama tenang saja, pokok nya aku akan membawa kabar baik untuk kalian, oleh-oleh apa yang kalian inginkan setelah nanti aku pulang?" Tanya Maura terdengar begitu manja.

"Papa tidak ingin apa-apa, pulang lah dengan selamat nanti," sambung Tuan Herman tersenyum, kata-kata nya penuh restu saat mendukung karier putri sulung nya.

Maureen masih mematung di sudut tangga, pupil mata indah nya terlihat memerah menahan tangis, sesekali ia mengigit bibir nya menahan rasa sakit hati. Karena melihat sikap kedua orang tua nya yang tampak jelas berbeda pada nya dan sang Kakak.

Sekilas Maureen menerawang jauh, di mana saat kecil mereka dulu. Maura yang lebih cantik dan lebih pintar dari nya yang selalu mengambil perhatian besar.

Bahkan selalu di bangga-banggakan oleh orang tua mereka, sempat ada satu moment di mana dia memperlihatkan hasil wisuda nya tidak pernah di gubris sekali pun. Malah memprioritaskan memilih satu agency terbaik untuk Maura.

"Apakah karena kakak lebih cantik, lebih pintar dan lebih membanggakan? Sampai mereka tidak pernah mengganggap ku ada?" Beberapa pertanyaan menyeruak dalam batin Maureen.

Perih dan sakit menyelimuti hati Maureen, namun apalah daya sebagai putri terkecil dia tidak mempunyai kemampuan untuk merubah semua keadaan yang membelenggu nya saat ini.

"Tuan tidak usah khawatir. Putri saya sudah setuju dengan pernikahan ini jadi kami akan menyiapkan pesta pernikahan yang mewah dan megah untuk kedua anak kita."

Suara bariton sang ayah membuyarkan lamunan Maureen. Jantung nya berdegup sangat kencang. Perasaan gelisah ketika ayah nya begitu bersemangat untuk membahas pernikahan itu.

Membuat nya semakin sedih, lalu memutuskan untuk kembali ke kamar nya dengan langkah kaki yang pelan hampir tak terdengar.

Namun Maura yang sudah melihat nya segera memanggil. "Adik, kamu sudah bangun?" sapa Maura.

Langkah Maureen terhenti, ia menarik napas dalam-dalam lalu perlahan memutar badan dan memancarkan senyum manis, untuk menutupi rasa sedih saat melihat momen hangat mereka.

"Kakak, iya aku baru bangun. Bagaimana kondisi ayah apa sudah membaik?" Tanya Maureen berusaha melupakan apa yang telah dia lihat tadi lalu mendekat dan ikut bergabung di ruang keluarga.

Tuan Herman yang baru saja selesai menutupi pertengkaran dengan calon besan nya, ia perlahan membalik badan menatap serius pada Maureen.

"Papa sudah membaik, ingat Maureen. Kamu harus bersiap karena pesta pernikahan akan dilangsungkan beberapa hari lagi." ucap Herman.

"Setelah resmi menikah, jadilah istri dan menantu yang baik di sana. Jangan membuat keluarga kita malu." ujar Susan menimpali.

Maureen mengangguk, wajah manis nya terlihat pasrah saat kedua orang nya mewanti-wanti, karena percuma juga beradu argumen apa lagi jika sampai membahayakan kondisi penyakit jantung ayah nya.

"I-iya Pa, ma. Aku tahu..." sahut Maureen tersenyum getir, mata indah nya berkaca-kaca. Berusaha menerima apa yang sudah di putuskan demi kebaikan keluarga.

"Bagus! Mama pegang kata-kata mu." ujar Mama Susan.

"Jika dia berani merubah keputusan, lebih baik Papa dan Mama usir saja dari rumah," Usul Maura memutar kedua bola mata malas, seraya mengukir senyum sinis di wajah oval-nya.

Kedua paruh baya itu setuju, sedangkan Maureen hanya menghela nafas berat. Saat mendengar perkataan kakak nya yang selalu bersikap semena-mena.

Tak ingin membuang waktu lagi, Maura yang memiliki jadwal sebuah acara penting. kini wanita berprofesi sebagai aktris itu pun bergegas pamit.

Tuan Herman dan Nyonya Susan, mengantarkan Maureen ke depan rumah dan membantu membawa beberapa barang nya.

Namun ketika mereka membuka pintu rumah di kejutkan oleh seorang pria berjas hitam dan beberapa rekan nya yang baru saja akan menekan bel.

"Selamat siang, apakah ini rumah tuan Herman?" Sapa pria itu melontarkan satu pertanyaan dengan tubuh setengah membungkuk penuh rasa hormat.

Kedua paruh baya itu dan Maureen pun saling menatap dengan kening yang berkerut penuh keheranan, Maureen yang berada di belakang hanya bisa mendengar suara samar-samar di depan nya.

Tanpa ragu tuan Herman membenarkan dan mengklaim, jika dia memang pemilik rumah dan orang yang di cari. Lalu dia berbalik tanya pada pria itu apa maksud dan tujuan mereka.

Sebagai seorang utusan tuan Hans sekaligus asisten kepercayaan nya putra sulung sang konglomerat nomor satu, dia mulai menjelaskan jika kedatangan mereka hanya untuk mengantarkan beberapa mahar pernikahan yang sudah di janjikan untuk mempelai pengantin wanita.

Kedua bola mata Nyonya Susan dan Maura terbelalak, saat melihat para pengawal yang berjajar sangat banyak kurang lebih berjumlah dua puluh orang membawa satu kotak berwarna merah yang berisi beberapa emas berupa batang dan koin, serta barang-barang wanita tas, sepatu dan beberapa gaun mewah dari brand terkenal dunia.

Membuat ibu dan anak itu menelan ludah, sampai tatapan mereka berbinar-binar melihat semua barang berharga dan mewah yang ada di depan mata.

"Ma, barang-barang nya mewah sekali, aku mau," bisik Maura menatap iba penuh harap.

Tenang nak. Itu semua untuk mu," Kata Nyonya Susan memegang lengan Maura.

Maura bernafas lega seraya memancarkan senyum penuh kemenangan, setelah ibu nya menjamin. Jika barang-barang itu akan di simpan untuk nya.

Setelah melihat apa yang ada di kotak-kotak mewah, tuan Herman tanpa sungkan menerima semua mengingat tadi hal ini sudah di bicarakan di telepon.

“Tolong simpan semua nya di sana,” titah nya menunjuk ke arah meja.

"Baik tuan."

Para pengawal itu segera berjalan dan menata rapih semua hadiah mas kawin yang sengaja dikirim oleh bos mereka lebih awal ke kediaman tuan Herman.

Setelah mereka pergi, Maureen yang baru melihat begitu banyak kotak tersusun rapih di atas meja. Membuat ia menghampiri ibu dan kakak nya.

"Ma, mereka siapa dan barang-barang itu apa?" Celetuk Maureen dengan sikap polos dan rasa penasaran. Karena tadi ia tidak sempat melihat, dan terhalang oleh mereka.

Maura melirik dan mendengus kesal, saat adik nya bertanya. "Kamu ini kepo sekali Maureen, tidak ada urusan dengan mu sana pergi, lebih baik buatkan aku jus mangga sebelum aku berangkat," perintah nya.

Maureen tersentak, saat melihat tanggapan sang kakak. "Ma-maafkan aku kak, aku hanya bertanya saja. Kakak tidak perlu semarah itu." ujar Maureen.

"Heh, sudah jangan banyak tanya lagi, apakah kamu tuli? Buatkan aku jus sekarang!" ketus Maura menatap nyalang Maureen.

"Ba-baik kak," Ujar Maureen. Gadis itu menggelengkan kepala, sungguh terkadang dia tidak mengerti dengan sikap Maura yang selalu kasar tanpa ada alasan yang jelas.

\*

Bersambung.....................

1
Reni Anjarwani
mending sama jevan aja mauren yg benar2 cinta , buar arik bucin sama maureen thor
Ariany Sudjana
ga kebayang gimana reaksi Oma Eva kalau tahu Arik dan Maureen hanya menikah pura-pura, dan status Maureen hanya pengganti Maura
Ariany Sudjana
Brian saja tahu kalau mereka nikah pura-pura, entah gimana reaksi Oma pas tahu kejadian yang sebenarnya
Ariany Sudjana
jangan-jangan nanti calon istrinya Brian tergoda sama Arik lagi 😂😂🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!