Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN DI SORE YANG LEMBAB
Hari Senin berikutnya, langit Jakarta diselimuti awan kelabu tebal yang menggantung rendah. Kirana memilih sebuah kedai kopi tua di kawasan Menteng yang memiliki arsitektur kolonial. Tempat ini tidak populer di kalangan ekspatriat atau pebisnis muda; pelanggannya mayoritas adalah kolektor buku tua dan orang-orang yang mencari ketenangan. Suasananya remang-remang dengan aroma kayu jati yang lembap dan bubuk kopi yang diseduh manual. Tempat yang sempurna untuk sebuah konspirasi.
Kirana duduk di meja paling sudut, dekat jendela kaca besar yang buram oleh rintik gerimis pertama. Ia mengenakan blus rajut berwarna krem longgar yang memberikan kesan rapuh namun tetap elegan. Rambutnya sengaja dibiarkan jatuh sedikit berantakan di bahunya. Tidak ada riasan tebal, hanya gincu berwarna pucat yang mempertegas gurat kesedihan yang terkontrol di wajahnya.
Tepat pukul empat sore, lonceng di atas pintu kedai berdenting. Bimo melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, membawa tas kerja kulit yang tampak berat. Matanya mengitari ruangan sebelum akhirnya menangkap sosok Kirana. Ada kerutan samar di dahinya, pertanda bingung sekaligus cemas karena Kirana mengiriminya pesan singkat yang sangat tidak biasa tiga jam lalu: “Bim, ada hal penting yang menyangkut Aris yang perlu kudiskusikan. Tolong, jangan beri tahu dia kalau kita bertemu.”
"Kirana?" Bimo menarik kursi di hadapan Kirana, meletakkan tas kerjanya dengan hati-hati. "Maaf membuatmu menunggu. Jalanan Sudirman macet total karena hujan."
"Tidak apa-apa, Bim. Aku juga baru sampai," suara Kirana terdengar lirih, hampir tertelan oleh suara rintik hujan di luar.
Seorang pelayan datang, dan Bimo memesan kopi hitam tanpa gula—kebiasaannya yang tidak pernah berubah sejak kuliah. Setelah pelayan pergi, keheningan yang canggung sempat merebak di antara mereka. Bimo menatap Kirana dengan saksama, menyadari ada yang berbeda dari wanita di depannya. Kirana yang biasanya memancarkan energi positif dan tawa yang renyah, sore ini tampak seperti sebuah lukisan cat air yang pudar tersiram air.
"Ada apa, Kirana? Pesanmu terdengar sangat mendesak. Apa ini ada hubungannya dengan proyek lanskap baru di kawasan Sentul? Aris bilang kamu tidak mau mengambil proyek itu karena ingin istirahat," tanya Bimo, mencoba mencairkan suasana dengan nada bersahabat.
Kirana menatap cangkir tehnya yang masih mengepulkan uap tipis. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sengaja diatur agar terdengar seperti seseorang yang sedang menahan beban dunia di pundaknya.
"Aris berbohong padamu, Bim. Sama seperti dia membohongiku selama enam bulan ini," ucap Kirana pelan, namun setiap kata ketukan itu jatuh dengan presisi yang mematikan di telinga Bimo.
Bimo menghentikan gerakannya yang hendak mengambil sendok kecil. "Maksudmu? Berbohong tentang apa?"
Kirana tidak menjawab dengan kalimat panjang. Dengan gerakan yang lambat dan dramatis, ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tegar, lalu mendorongnya ke atas meja kayu di hadapan Bimo.
"Buka saja. Aku tidak sanggup menjelaskannya dengan kata-kata," bisik Kirana, memalingkan wajahnya ke arah jendela, berpura-pura menyembunyikan genangan air mata yang sebenarnya tidak ada.
Kirana benar benar sudah memantapkan hatinya untuk ini semua.Dia menatap bimo yang sedang memegang amplop coklat yang disodorkan kirana dengan kebingungan entah apa yang sedang terjadi pada kirana batinnya