NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Ancaman

Langit mulai berubah jingga keunguan saat Primus melangkah keluar dari toko buku tua itu. Di luar, kehidupan distrik lama berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Para pedagang kaki lima masih berteriak menawarkan barang dagangan mereka, anak-anak kecil berlarian riang di trotoar yang sempit, dan orang-orang dewasa berjalan terburu-buru, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa beberapa menit lalu, di balik rak-rak buku yang berdebu, Primus baru saja melihat sebuah galeri rahasia yang mengerikan. Sebuah dinding yang mencatat daftar panjang akhir hidup para pewaris keluarga Aristokrat terdahulu.

Dan yang lebih ironis lagi... Namanya sendiri kini sudah terpajang di sana, siap menjadi daftar selanjutnya.

Primus membuka pintu mobil sedan hitamnya dan langsung masuk ke kabin belakang. Pintu tertutup dengan suara debuman pelan, seketika memutus segala kebisingan dari dunia luar. Paman Robert, kepala pengawal pribadi sekaligus sopir kepercayaannya yang duduk di kursi kemudi, langsung menyadari perubahan ekspresi di wajah tuannya melalui kaca spion tengah.

"Ada masalah yang mengganggu Anda, Tuan Muda?" tanya Robert dengan suara berat yang tenang.

Primus menyandarkan punggungnya, matanya menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan deretan bangunan kuno yang pelan-pelan bergerak mundur seiring mobil mulai melaju. "Sepertinya masalah yang harus saya selesaikan bertambah satu lagi, Paman."

Robert yang sudah mendampingi Primus sejak remaja hanya tertawa kecil, sebuah tawa pendek yang terdengar maklum. "Kalau di keluarga ini, itu berarti hari Anda berjalan dengan sangat normal, Tuan Muda."

Jawaban santai dari pengawal tuanya itu membuat sudut bibir Primus terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis. Mungkin ucapan Robert ada benarnya. Sejak kompetisi pencarian pewaris utama diumumkan oleh dewan tetua klan dua hari lalu, hidupnya memang tidak pernah lagi mengenal kata tenang. Setiap jengkal langkahnya kini terasa seperti berjalan di atas hamparan ranjau yang siap meledak kapan saja.

"Kita langsung ke kantor pusat Cabang Timur, Paman. Tolong agak dipercepat," perintah Primus kemudian.

"Baik, Tuan Muda." Robert mengangguk patuh, tangannya dengan cekatan memutar kemudi dan menginjak pedal gas, membawa kendaraan mewah itu membelah jalanan kota yang mulai padat oleh arus pulang kerja.

---

Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Robert memasuki area pelataran gedung pencakar langit milik Cabang Timur Aristokrat Group. Suasana di sekitar area lobi utama terlihat jauh lebih kacau dan sibuk jika dibandingkan dengan kunjungan Primus kemarin.

Beberapa unit mobil patroli petugas keamanan setempat tampak terparkir dengan lampu sirene yang berputar, meskipun suaranya sengaja dimatikan agar tidak memicu kepanikan massal. Para karyawan kantor berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di area luar, saling berbisik dengan raut wajah yang dipenuhi ketegangan dan rasa cemas.

Begitu kaki Primus melangkah turun dari mobil, Marcus Hayden sudah berdiri menyambutnya di dekat pintu kaca besar. Penampilan pria paruh baya yang biasanya selalu rapi dan klimis itu kini tampak sangat berantakan. Dasinya agak longgar, jasnya tidak dikancingkan, dan lingkaran hitam yang tebal terlihat jelas di bawah kedua matanya, menandakan tekanan mental yang luar biasa.

"Tuan Muda Primus," sapa Marcus dengan suara yang agak bergetar.

"Saya butuh laporan lengkapnya sekarang, Marcus. Jangan ada yang ditutupi," kata Primus tanpa basa-basi seraya terus berjalan memimpin langkah di koridor utama.

Marcus langsung mengangguk cepat, setengah berlari untuk menyamakan langkah kaki Primus yang lebar. "Mari ikut saya ke ruang rapat internal di lantai atas, Tuan Muda. Di sana lebih aman dari telinga-telinga yang tidak berkepentingan."

Mereka berdua memasuki lift khusus eksekutif, naik menuju lantai tertinggi gedung, dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama yang kedap suara. Begitu pintu kayu ek tebal itu tertutup rapat dan terkunci secara sistematis, Marcus langsung menyodorkan sebuah map jinjing berwarna cokelat tua ke hadapan Primus.

"Korban bernama Daniel Cross, Tuan Muda," ujar Marcus, tangannya sedikit gemetar saat meletakkan map tersebut. "Usianya baru tiga puluh dua tahun. Dia adalah salah satu staf ahli senior di tim audit internal mandiri yang saya bentuk kemarin atas perintah Anda."

Primus menerima map tersebut, membukanya dengan gerakan tenang, lalu mengamati lembar demi lembar dokumen di dalamnya. Di halaman pertama, terpampang foto potret seorang pria muda yang sedang tersenyum ramah ke arah kamera. Wajahnya tipikal karyawan biasa, tidak menonjol, dan sama sekali tidak memiliki ciri fisik yang mencolok. Jenis orang yang mungkin akan langsung Anda lupakan wajahnya jika tidak sengaja berpapasan di dalam lift.

Namun, orang biasa inilah yang beberapa jam lalu memegang kunci penting dari kebocoran dana masif sebesar dua belas juta dolar di sektor logistik klan. Dan sekarang, orang itu sudah berubah menjadi jasad.

"Keterangan dari pihak berwenang di lapangan menyatakan ini murni kecelakaan?" tanya Primus, matanya masih membaca detail kronologi kejadian.

Marcus mengangguk dengan raut wajah masygul. "Iya, Tuan Muda. Menurut laporan kronologi resmi yang kami terima dari petugas lalu lintas, kendaraan yang dikemudikan Daniel mendadak kehilangan kendali saat melintasi jalur tol lingkar luar. Mobilnya melesat keluar jalur dan menghantam pembatas beton dengan kecepatan tinggi."

Primus membalik halaman berikutnya, membaca bagian spesifikasi teknis insiden tersebut. Semakin dalam ia membaca, semakin banyak detail janggal yang menggelitik insting analisisnya. "Mobil yang dia kendarai adalah kendaraan dinas baru, bukan?"

"Benar, Tuan Muda. Baru berumur enam bulan dan baru saja melewati servis rutin berkala minggu lalu. Semua sistem mekanisnya dilaporkan berada dalam kondisi prima," jawab Marcus cepat.

"Kondisi cuaca saat kejadian?"

"Sangat cerah. Tidak ada kabut, tidak ada hujan, dan kondisi permukaan aspal jalanan kering sempurna."

"Apakah ada indikasi keterlibatan kendaraan lain yang memicu benturan?"

Marcus menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Berdasarkan rekaman kamera pengawas tol dari jarak jauh, tidak ada kendaraan lain di sekitar mobil Daniel saat peristiwa itu terjadi. Mobilnya mendadak berbelok tajam ke arah dinding pembatas seolah-olah fungsi kemudinya terkunci secara paksa."

Ruangan rapat itu mendadak diselimuti oleh keheningan yang berat. Bahkan tanpa perlu memiliki keahlian sebagai seorang detektif forensik pun, Primus tahu betul bahwa skenario kejadian ini terasa terlalu rapi. Terlalu bersih, terlalu presisi, dan terjadi di waktu yang terlampau tepat. Seolah-olah ada sebuah sutradara jenius yang sudah merancang setiap detail adegan musibah ini agar terlihat seperti takdir yang buruk.

---

"Tapi, ada satu hal lagi yang terjadi di area kantor ini setelah insiden itu, Tuan Muda," kata Marcus lagi, memecah kesunyian.

Primus mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas berkas kertas, menatap direktur cabangnya dengan tatapan menyelidik. "Apa itu?"

Marcus tampak ragu-ragu selama beberapa detik. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, seolah-olah kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya adalah sesuatu yang tabu. Namun, melihat sorot mata dingin Primus yang tidak menerima keraguan, ia akhirnya merosotkan tangannya ke dalam saku jas dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna perak. Sebuah *flashdisk*.

"Benda ini ditemukan oleh sekretaris saya di dalam laci meja kerja pribadi Daniel, tersembunyi di balik tumpukan map lama," jelas Marcus dengan suara rendah.

"Isinya?" Primus menerima benda kecil itu, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuknya.

"Kami... kami belum sempat membuka atau memeriksa enkripsi di dalamnya, Tuan Muda," aku Marcus dengan wajah yang tampak sedikit memucat.

Primus mengerutkan alisnya, merasa tidak puas dengan tindakan bawahannya yang lambat. "Kenapa belum dibuka? Bukankah ini bisa jadi memuat salinan data audit yang hilang di lokasi kejadian?"

Marcus menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum menjawab. "Bukan karena kami tidak mau, Tuan Muda. Tapi karena tepat dua puluh menit setelah berita kematian Daniel dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit, seseorang telah berhasil membobol sistem keamanan fisik ruang arsip digital di lantai dasar."

Mendengar hal itu, tatapan mata abu-abu Primus langsung berkilat tajam. "Ruang arsip dibobol? Di tengah pengamanan ketat gedung ini?"

"Iya, Tuan Muda," jawab Marcus dengan suara yang makin lirih akibat rasa bersalah. "Penyusup itu sangat profesional. Dia berhasil melewati pemindai biometrik tanpa memicu alarm utama, mematikan sirkuit kamera pengawas di koridor lantai dasar selama tepat empat menit, dan mengacak-acak beberapa lemari penyimpanan dokumen cadangan."

"Apa saja barang atau dokumen penting yang berhasil mereka ambil?"

"Itulah yang paling aneh, Tuan Muda. Setelah tim IT dan keamanan kami melakukan pemeriksaan total selama satu jam terakhir, tidak ada satu pun berkas fisik maupun data digital yang dilaporkan hilang. Semuanya masih utuh pada tempatnya."

Primus menyunggingkan sebuah senyum sinis yang sarat akan makna. Jika pelakunya adalah seorang spesialis papan atas, mereka memang tidak akan pernah meninggalkan jejak berupa hilangnya barang secara mencolok. Mereka hanya perlu menyalin, mengubah beberapa detail kecil, atau memastikan bahwa tidak ada dokumen lain yang bisa mengancam posisi majikan mereka. Dan fakta bahwa penyusup itu bisa bergerak se-fleksibel itu di dalam gedung Cabang Timur membuktikan satu hal: ada pengkhianat di dalam lingkaran dalam Marcus.

**Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!